baru saja bertemu dengan seorang wanita asing tiba-tiba saja Firman diajak untuk menikah.
wanita itu bernama Laila Maharani, seorang gadis yang terus diteror oleh mantan pacarnya setelah mantanacarnya tersebut ketahuan berselingkuh.
bagaimanakah kisah cinta mereka selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alya aziz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.8
Malam ini, tepatnya di pukul setengah delapan malam. Laila masuk kedalam kamar dan mendapati Firman sudah duduk di atas ranjang sambil fokus melihat layar laptopnya.
Ya, Firman baru saja membangun perusahaannya sendiri. Untuk itu ia selalu manfaatkan waktu sebaik mungkin di mana pun dan kapan pun, meski ini adalah malam pengantinnya.
"Bagaimana ini, aku mau tidur tapi sepertinya ada yang mengambil alih tempat tidur ku," sahut Laila sambil berpangku tangan.
Mendengar suara Laila, sontak Firman segera melihat ke depan, di mana Laila sedang berdiri tak jauh darinya. "Mau tidur, tinggal tidur saja. Apa kamu takut dengan ku? Kalau tidak mau tidur di samping ku kamu boleh tidur di lantai."
Laila mendekat dan langsung duduk di tepi ranjang. "Hey kisana, ini adalah rumah nenek ku dan ini adalah kamar ku. Kamu bilang apa tadi? Aku tidur di lantai, tidak mau."
Merasa tidak bisa lagi berkonsentrasi, Firman menutup laptopnya lalu mendekatkan wajahnya ke arah Laila. "Hey Kisana, aku sekarang suami mu, tidurlah aku juga sudah mengantuk."
Laila menghela napas panjang saat melihat Firman tidur dengan santainya. "Baiklah suamiku yang sedingin es." Ia segera bergerak naik dan langsung berbaring di samping Firman.
Tatapan mata Laila fokus ke arah langit-langit kamar yang hanya di terangi cahaya remang-remang lampu tidur. "Bang Firman, apa aku boleh bertanya?"
Mata Firman yang sudah tertutup kini kembali terbuka, ia menoleh menatap Laila dengan kening mengkerut. "Bertanya apa, apa kamu mulai penasaran, siapa suami mu ini?"
"Haisss bukan begitu. Tadi Mama abang cerita, dulu Abang juga pernah sangat mencintai seorang wanita, tapi di tinggal nikah, apa benar?"
Firman memejamkan matanya sejenak seraya menggerutu dalam hati. Ia terlihat kesal kenapa Ibunya malah menceritakan hal memalukan seperti itu. Ya, Firman saja malu mengingat kejadian di mana ia begitu egois ingin mendapatkan cinta dari seorang wanita yang sudah ia sakiti hatinya.
"Sejauh apa Mama cerita ke kamu, apa Mama juga bilang kalau aku terus mengejarnya setelah menjadi istri orang?"
"Hm, jadi benar? Wah apa dulu cita-cita Abang mau menjadi Pebinor, akhir-akhir ini istilah pelakor dan pebinor sedang viral-viralnya di televisi."
Firman tidak menyangka, selain bar-bar wanita yang ia nikahi juga banyak tanya. Ia seperti sedang berhadapan dengan sang Mama yang mempunyai sifat yang sama.
"Aku berpisah dengannya karena kesalahan ku sendiri. Dia adalah seorang wanita yang baik, Soleha, dan lembut. Aku mungkin menyesal tapi suatu hari aku sadar, cinta tak harus memiliki. Aku bersyukur dia jatuh ke tangan pria yang tepat."
"Oh jadi masih cinta? Hah, sudah ku duga. Laki-laki memang tidak ada yang benar. Padahal sudah menikah tapi masih mencintai wanita dari masalalunya."
Firman terlihat semakin bingung mendengar ucapan Laila. "Hey Kisana, apa sekarang kamu bertanya dan aku hanya menjawab. Aku memang pernah mencintainya tapi sekarang tidak lagi. Kamu sendiri bagaimana, masih mencintai Rehan kan?"
Seketika Laila tersentak ketika mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Firman. Ia pun tidak tahu bagaimana kondisi hatinya saat ini.
Karena kenangan yang terajut selama dua tahun pacaran memang tidaklah mudah dilupakan. "Sungguh aku ingin sembuh seperti itu juga. Bagi ku sakit itu saat hati ku ingin melupakannya, raga ku ingin menjauh tapi pikiran ku malah berkhianat."
Rapuh, begitulah kondisi hati Laila saat ini. Ia tiba-tiba saja menangis sesenggukan saat mengingat saat-saat di mana ia memergoki Rehan tidur dengan sepupunya sendiri. "Hiks, aku menangis bukan karena sedih tapi aku sangat marah atas semua yang dia lakukan."
Firman berusaha menahan tawanya saat melihat Laila yang masih saja berusaha menyembunyikan sisi rapuhnya. "Ck, kamu yakin hati mu baik-baik saja? Rasulullah pernah berkata, ada hal yang tidak bisa memilih, apa itu? Jawabannya adalah cinta. Jangan salahkan dirimu sendiri karena pernah jatuh cinta kepada seseorang yang ternyata tidak baik, karena itu menyalahkan Allah.'
Dengan mata berkaca-kaca, Laila mengubah posisi berbaringnya menghadap kearah Firman. "Apa aku baru saja menikah dengan ustadz? Aku bisa sedikit lebih tenang sekarang. Dia pasti sudah mendekam di penjara, dan seharusnya aku bisa memulai hidup ku kembali."
"Nah itu, kamu pasti bisa. Aku pernah ada di posisi mu, jadi aku tau bagaimana rasanya. Jangan dipikirkan lagi, kamu sekarang aman bersama ku."
Laila tak lagi bersuara, ia hanya diam seraya menatap wajah sang suami yang sudah mulai terlelap. Dari dalam diri Firman ia benar-benar merasakan ketenangan itu, ketenangan yang selama ini tidak ia temukan di dalam diri pria lain.
Pria ini sangat misterius dan asing tapi setiap aku bicara, dia berhasil membuatku tenang. Sampai ke tahap mana kami akan terus bersama, akankah kelak aku bisa menerima keberadaannya dan apa dia bisa melakukan hal yang sama, batin Laila.
~~
Keesokan harinya, Firman bangun terlebih dulu dari Laila. Suasana pedesaan yang begitu asri membuat Firman betah berada di luar meski jaket yang ia pakai tak mampu melindunginya dari kedinginan.
Sesekali ia tersenyum kepada orang-orang yang berlalu-lalang di jalanan depan rumah. Tak lama Ibu Laila pun datang, sepertinya baru saja pergi ke suatu tempat.
"Assalamualaikum, Firman bangun pagi sekali ya, tidak lelah haha," ucap Ibu Laila lalu tekekeh sendiri. Mungkin beliau mengira Laila dan Firman melalui malam pertama yang panjang.
"Waalaikumsalam, Bu. Ibu dari mana?"
"Oh ini dari pasar. Mau masak untuk sarapan. Kamu tolong bangunkan Laila ya, Nenek sepertinya kelelahan selepas acara kemarin, tidak ada yang membantu Ibu masak ini."
"Oh iya, Bu. Kalau begitu saya masuk dulu." Firman berbalik, masuk kedalam kembali ke dalam kamar.
Sesampainya di depan pintu kamar, tanpa mengetuk ia langsung masuk. "Astaghfirullah." Ia membalik tubuhnya saat melihat Laila hanya mengenakan baju tanpa lengan dan juga celana pendek."
Dengan santainya Laila mendekati sang suami sambil mengeringkan rambutnya. "Bang Firman dari mana?"
"Oh itu, dari depan. Ehm, Ibu meminta kamu untuk ke dapur sekarang."
"Oh baiklah," ucap Laila lalu hendak melangkah keluar dari kamar namun tiba-tiba Firman menarik tangannya. "Ada apa lagi?"
"Kamu mau kemana?" tanya Firman.
"Keluar lah, katanya aku di panggil Ibu," jawab Laila dengan santainya.
"Dengan pakaian seperti ini? Astaghfirullah, Laila majnun, aurat." Firman beranjak beberapa langkah, mengambil sesuatu dari dalam kopernya. "Ganti celana kamu. Aku tahu kamu belum siap menutup aurat sepenuhnya, tapi belajarlah dari sekarang, gunakan syal ini untuk menutupi kepala mu. Maaf jika aku lancang, tapi sekarang kamu adalah tanggung jawab ku."
Perlahan tangan Laila bergerak, mengambil alih syal itu dari tangan Firman. Lagi-lagi hatinya tersentak. "Sebagai seorang suami, Abang bertanggung jawab dengan tulus demi kebaikan ku, tapi bagaimana dengan tanggung jawab yang lain, apa Abang juga menginginkan aku menjadi istri yang seutuhnya?"
Firman terdiam sebentar, menatap wajah cantik Laila dengan tatapan nanar. "Aku tidak ingin memaksakan kehendak ku terhadap mu. Terlebih kita juga masih sama-sama asing. Sekarang aku hanya minta belajarlah menjadi muslimah yang sesungguhnya. Shalat lah, bertasbihlah, dan tutup aurat mu di depan semua orang kecuali aku."
"Ajari aku. Jika kamu merasa bertanggung jawab atas semua itu."
"Insyallah aku bisa, kamu bisa bergantung segalanya kepada ku."
Firman tersenyum tipis, begitu juga dengan Laila yang juga ikut tersenyum. Mata mereka saling bicara, bukan tentang cinta tetapi rasa nyaman dan tanggung jawab yang mulai mendominasi keadaan.
Bersambung 💕🙏🥰