NovelToon NovelToon
Sumpah Yang Terlupakan Dari Sang Penjahat Wanita

Sumpah Yang Terlupakan Dari Sang Penjahat Wanita

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Romansa Fantasi / Fantasi Isekai
Popularitas:11.1k
Nilai: 5
Nama Author: nadnote

Seorang wanita pekerja kantoran yang rasional bertransmigrasi ke dalam novel romansa tragis sebagai Geneviève de Montmirail, seorang putri Duke yang ditakdirkan dieksekusi karena cintanya yang gila dan obsesif kepada Duke muda, Lucien de Vaudémont.
​Bertekad untuk mematahkan bendera kematiannya (death flag), Geneviève memutuskan untuk menarik diri sepenuhnya dari kehidupan Lucien dan lingkungan istana yang beracun. Alih-alih mengejar cinta fana, ia menggunakan kecerdasannya dalam administrasi keuangan untuk memajukan wilayahnya dan membuka bisnis perhiasan yang mendobrak tren kekaisaran.
​Namun, sikap dingin Geneviève justru memicu retaknya "Sihir Putih" milik Putri Mahkota Camille, sang protagonis asli novel yang tampak suci namun bermuka dua. Saat Lucien mulai mengalami kilasan ingatan yang menyiksa tentang masa lalu yang tak pernah ia ketahui, Geneviève menemukan sebuah perhiasan rahasia peninggalan tubuh aslinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nadnote, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia Si Pelayan dan Ksatria Bayangan

"Istana musim panas ini lebih mirip sarang ular kobra yang dibungkus dengan kain sutra daripada tempat peristirahatan."

​Odette bergumam pelan pada dirinya sendiri sambil mengelilingi bagian dalam tenda mewah milik keluarga Montmirail. Tangan kecilnya bergerak lincah meniup mati tiga dari lima lilin besar yang menerangi ruangan berbahan kanvas tebal tersebut. Suasana di dalam tenda seketika menjadi temaram.

​Insting bertahan hidup pelayan barbar itu sedang berada pada tingkat kewaspadaan tertinggi. Ia tahu betul tabiat Putri Mahkota Camille. Faksi kerajaan pasti akan menggunakan segala cara kotor saat Geneviève sedang berada jauh dari pandangan publik di arena perburuan. Mematikan sebagian lilin adalah taktik sederhana agar siluet tubuh dari luar tenda tidak terlihat jelas, sekaligus memberikan sudut gelap yang sempurna untuk bersembunyi.

​Odette baru saja hendak merapikan gaun tidur majikannya ketika telinganya yang tajam menangkap suara langkah kaki yang sangat pelan mendekati pintu masuk tenda.

​Langkah itu tidak berirama tegas seperti langkah ksatria patroli. Itu adalah langkah kaki yang diseret dengan penuh kehati hatian.

​Odette segera menahan napasnya. Ia menyambar sebuah nampan perak tebal dan padat yang terletak di atas meja rias, lalu menyelinap cepat ke balik partisi ruang ganti berbahan kayu berukir. Matanya mengintip melalui celah ukiran daun pada partisi tersebut.

​Kain pintu tenda disingkap perlahan. Seorang pelayan wanita berseragam putih dan emas, seragam resmi pelayan pribadi Keluarga Kerajaan, menyelinap masuk. Tangan pelayan istana itu membawa sebuah nampan kecil berisi satu kendi kristal yang dipenuhi anggur merah, lengkap dengan sebuah gelas emas.

​Pelayan musuh itu mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru tenda yang temaram. Merasa yakin ruangan itu kosong, ia melangkah cepat menuju meja utama. Ia meletakkan nampan tersebut, lalu memutar batu cincin besar di jari telunjuknya.

​Sebuah kompartemen kecil di balik cincin itu terbuka. Pelayan istana tersebut menaburkan bubuk putih yang tidak berbau ke dalam gelas anggur Geneviève, lalu menuangkan anggur merah ke dalamnya untuk melarutkan bubuk beracun tersebut. Senyum licik dan puas mengembang di wajah pelayan itu.

​Di balik partisi, darah Odette mendidih.

​Rasa frustrasi Odette terhadap kelicikan istana sudah mencapai puncaknya. Ia tidak berniat menjerit meminta tolong kepada prajurit penjaga di luar sana. Memanggil penjaga istana sama saja dengan memanggil bala bantuan untuk musuh, karena mereka semua pasti berada di bawah kendali Putri Mahkota Camille. Masalah ini harus diselesaikan dengan cara orang jalanan.

​Sebagai pelayan yang tidak pernah memedulikan etiket kebangsawanan, Odette mencengkeram nampan perak tebal di tangannya dengan sangat erat. Ia melangkah keluar dari balik partisi tanpa menimbulkan suara sekecil apa pun.

​Dengan gerakan mengendap endap yang luar biasa lincah, Odette mendekati pelayan musuh itu dari arah titik butanya.

​Saat pelayan istana itu hendak berbalik untuk meninggalkan tenda, Odette mengangkat nampan perak itu tinggi tinggi dan mengayunkannya sekuat tenaga langsung ke bagian tengkuk lawannya.

​TENG!

​Bunyi logam berbenturan dengan tulang terdengar sangat nyaring namun tertahan di dalam tenda. Mata pelayan istana itu terbelalak ke atas sebelum tubuhnya ambruk ke atas karpet persia tanpa sempat mengeluarkan satu pun suara jeritan.

​"Beraninya kau mencoba meracuni majikanku dengan trik cincin murahan seperti ini!" omel Odette dengan suara berbisik yang sarat akan amarah. Ia menendang pelan pinggul pelayan yang pingsan itu untuk memastikan musuhnya benar benar tidak sadarkan diri. "Kalian orang istana benar benar tidak memiliki kreativitas sama sekali."

​Odette tidak membuang waktu. Ia menatap ke sekeliling tenda untuk mencari tali. Karena tidak menemukan tali tambang, matanya tertuju pada taplak meja berbahan sutra merah yang sangat mahal. Tanpa ragu sedikit pun, Odette menarik taplak itu, menjatuhkan beberapa buah buahan ke lantai, lalu merobek kain sutra premium tersebut menjadi beberapa bagian panjang.

​Dengan keahlian yang patut dipertanyakan dari mana asalnya, Odette mengikat tangan dan kaki pelayan istana itu ke arah belakang tubuhnya. Ikatan itu sangat ketat, melengkungkan tubuh sang pelayan menyerupai babi guling yang siap dipanggang di atas perapian.

​Sebagai sentuhan akhir, Odette mengambil selembar kain lap kotor yang baru saja ia gunakan untuk membersihkan debu dari sepatu bot Geneviève. Ia menggumpalkan kain kotor berwarna kehitaman itu dan menyumpalkannya dengan paksa ke dalam mulut sang pelayan malang agar tidak bisa berteriak meminta tolong saat ia sadar nanti.

​BRAK!

​Pintu tenda tiba tiba disingkap dengan sangat kasar dari arah luar.

​Gaspard, ksatria bayangan yang ditugaskan oleh Lucien untuk mengawasi area perkemahan selama sang Duke pergi mengejar Geneviève, menerobos masuk bagaikan badai.

​Telinga Gaspard yang sangat terlatih telah mendengar bunyi debuk keras dari arah tenda keluarga Montmirail. Insting militernya langsung menyimpulkan bahwa ada penyusup yang sedang menyerang gadis pelayan yang tidak berdaya. Gaspard masuk dengan pedang baja yang sudah terhunus siap menebas musuh, wajah kakunya memancarkan aura ancaman yang sangat mematikan.

​Namun, pemandangan yang tersaji di depan matanya membuat seluruh sistem saraf di otak Gaspard mengalami kerusakan total.

​Tidak ada gadis yang menangis ketakutan di sudut ruangan. Tidak ada penyusup besar yang sedang mengancam nyawa.

​Alih alih ketakutan, Odette justru sedang duduk dengan sangat santai di atas punggung pelayan musuh yang terikat seperti babi guling tersebut. Tangan kecil Odette sedang sibuk menepuk nepuk debu khayalan dari gaun pelayannya, sementara nampan perak yang sedikit penyok tergeletak di samping kakinya.

​Melihat ksatria berpedang itu mendobrak masuk, Odette mengangkat sebelah alisnya dengan tatapan galak yang sangat menghakimi. Bukannya berterima kasih karena ksatria itu datang untuk menyelamatkannya, Odette justru melotot marah.

​"Apa Anda tidak diajarkan cara mengetuk pintu di barak militer, Tuan Ksatria Kaku?" omel Odette tanpa basa basi, menunjuk lurus ke arah kaki Gaspard. "Lihat apa yang baru saja Anda lakukan! Sepatu bot Anda yang penuh lumpur kotor itu baru saja menodai karpet persia majikan hamba! Hamba baru saja menyapunya pagi tadi!"

​Gaspard terpaku di ambang pintu masuk. Pedang panjang di tangannya perlahan turun hingga ujungnya menyentuh lantai kanvas.

​Selama hidupnya, Gaspard hanya melihat wanita bangsawan yang rapuh, manja, dan akan menjerit pingsan jika melihat sebatang pedang. Ia tidak pernah membayangkan ada seorang wanita yang baru saja melumpuhkan penyusup istana seorang diri, mendudukinya layaknya kursi santai, dan hal pertama yang dikeluhkan wanita itu adalah karpet yang kotor.

​Wajah Gaspard yang biasanya sedingin pahatan es batu kini membeku karena alasan yang sama sekali berbeda. Matanya menatap lekat lekat ke arah Odette. Ketegasan, kebrutalan murni, dan omelan tajam pelayan kecil itu menembus pertahanan baja di dadanya dengan cara yang sangat tidak masuk akal.

​Ujung telinga ksatria bertubuh besar itu perlahan berubah menjadi merah terang yang sangat kontras dengan rambut hitamnya. Ia menelan ludah dengan susah payah.

​"Pukulan yang... pukulan yang sangat efisien, Nona Odette," puji Gaspard dengan suara datar mekanisnya yang tiba tiba terdengar sedikit gugup. Ksatria yang hanya hidup untuk berperang itu tanpa sadar telah jatuh cinta pada pandangan pertama kepada seorang pelayan yang bersenjatakan nampan perak.

​Sementara benih benih asmara yang absurd itu mekar di perkemahan, situasi yang berbanding terbalik sedang terjadi di tebing berbatu di tengah Hutan Fontainebleau.

​Suasana di tepi jurang itu dipenuhi oleh bau anyir darah dan suara gesekan baja yang mematikan.

​Lucien de Vaudémont benar benar menunjukkan mengapa dirinya ditakuti sebagai ksatria terkuat di seluruh Kekaisaran Valerand. Pria itu bukan sekadar menebas, ia membantai musuhnya. Gerakan pedangnya sangat efisien, brutal, dan tidak menyisakan ruang sedikit pun untuk belas kasihan. Tiga dari sisa pembunuh bayaran itu tumbang dalam waktu kurang dari satu menit, tubuh mereka bergelimpangan di atas bebatuan kapur dengan luka sayatan yang sangat dalam.

​Geneviève masih berdiri menyender pada dinding tebing. Napasnya tersengal sengal karena kelelahan ekstrim yang mendera fisiknya. Mata cokelatnya menatap punggung tegap Lucien yang terus bergerak maju melindunginya.

​Setiap kali pedang perak Lucien berayun mencabut nyawa musuh, logika rasional Geneviève kembali diuji. Di kehidupan sebelumnya, Geneviève selalu menyelesaikan masalah dengan kontrak kertas dan angka angka di atas meja rapat. Namun di dunia ini, pria di depannya menyelesaikan masalah dengan mengorbankan darah demi melindunginya. Ada perasaan aman yang luar biasa pekat menyelimuti hati Geneviève, perasaan yang perlahan meruntuhkan seluruh dinding penolakan di dalam dadanya.

​Hanya tersisa satu pembunuh bayaran yang masih bernapas. Pria berpakaian kulit usang itu terkapar di tanah berdebu, kakinya terluka parah akibat tebasan pedang Lucien. Ia merangkak mundur dengan wajah pucat pasi yang dipenuhi keputusasaan.

​Melihat kematian sudah berada tepat di depan matanya, pembunuh bayaran itu menyadari bahwa ia tidak akan pernah bisa mengalahkan Lucien. Matanya yang liar mencari target lain yang lebih lemah.

​Rasa panik dan keputusasaan merubah siasatnya. Pembunuh itu tidak mengayunkan pedangnya ke arah sang Duke. Alih alih melakukan serangan frontal, ia memanfaatkan sisa sisa tenaga terakhirnya untuk melakukan satu tindakan pengecut.

​Pria itu menggerakkan pergelangan tangan kirinya secara tiba tiba. Dari balik lengan baju kulitnya yang usang, sebuah belati lempar kecil yang permukaannya berkilau hijau kehitaman melesat keluar.

​Belati beracun itu tidak diarahkan kepada Lucien. Senjata mematikan itu melesat membelah udara dengan kecepatan luar biasa, membidik lurus tepat ke arah dada Geneviève yang sedang bersandar kelelahan di dekat batu.

​Itu adalah titik buta sang pelindung.

​Lucien yang sedang mengangkat pedangnya untuk memberikan serangan penyelesaian kepada si pembunuh, melihat kilatan belati tersebut dari sudut matanya. Mata hijau tua ksatria itu terbelalak memancarkan kengerian yang sangat absolut.

​Otak Lucien menghitung jarak dengan sangat cepat. Tubuhnya berjarak tiga langkah dari jalur terbang belati tersebut. Waktunya tidak akan cukup untuk menangkis proyektil kecil itu menggunakan ayunan pedang yang panjang. Terlebih lagi, Geneviève dalam kondisi terlalu lelah untuk menyadari datangnya ancaman fatal tersebut.

​Logika ksatria mana pun akan mengatakan bahwa terlambat untuk menyelamatkan target di luar jangkauan pedang. Namun, Lucien tidak menggunakan logikanya. Keselamatan Geneviève adalah naluri primal yang melampaui segala perhitungan masuk akal.

​Dalam satu tindakan paling impulsif yang pernah ia lakukan seumur hidupnya, Lucien melepaskan gagang pedang peraknya begitu saja. Senjata kebanggaannya itu jatuh berdenting ke atas batu.

​Dengan kekuatan tolakan kaki yang luar biasa dahsyat, Lucien melompat menerjang udara, melemparkan tubuh besarnya sendiri menyeberangi jalur tembak belati beracun itu. Ia menjadikan punggung dan bahunya sebagai perisai daging untuk wanita yang sangat ia cintai.

​JCRAS!

​Suara tajam logam menembus daging terdengar sangat mengerikan di tepi tebing tersebut.

​Belati beracun itu menancap dalam tepat di bagian belakang bahu kanan Lucien. Pria itu mengerang tertahan, suaranya dipenuhi rasa sakit yang langsung menyebar ke seluruh sistem sarafnya. Tubuh besarnya terhuyung ke depan akibat momentum lompatan, mendarat dengan keras di hadapan Geneviève.

​Geneviève membelalakkan matanya ngeri. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat melihat sosok ksatria kuat itu berlutut di depannya.

​"Lucien!" jerit Geneviève, suaranya pecah kehilangan seluruh ketenangannya. Wanita rasional itu menjatuhkan dirinya ke tanah, menangkap tubuh Lucien sebelum pria itu jatuh mencium debu.

​Tangan Geneviève yang gemetar menyentuh bahu Lucien. Kemeja putih pria itu seketika berubah warna. Namun bukan darah merah segar yang keluar dari luka tersebut. Darah yang merembes membasahi kain kemeja Lucien berwarna hitam pekat yang menjijikkan, menandakan bahwa belati kecil itu telah dilumuri racun mematikan yang sangat kuat.

​Pembunuh bayaran yang melempar belati itu tertawa serak di tengah batuk darahnya. "Sumpah darah istana... telah terpenuhi," bisiknya sebelum tubuhnya benar benar ambruk kehilangan nyawa, tewas akibat kehabisan darah dari luka tebasan Lucien sebelumnya.

​Napas Lucien terdengar sangat berat dan terputus putus. Otot otot di rahangnya mengeras menahan rasa sakit dari racun yang mulai menjalar melalui pembuluh darahnya. Ia mendongak, menatap wajah Geneviève yang kini sepucat kertas dan dipenuhi ketakutan.

​Bibir Lucien yang perlahan membiru memaksakan sebuah senyum tipis yang sangat menenangkan. Tangan kirinya yang masih bersih terangkat pelan, mengusap rahang Geneviève.

​"Jangan menangis, Geneviève," bisik Lucien dengan suara parau yang nyaris tidak terdengar. "Aku berjanji... aku tidak akan membiarkan siapa pun melukaimu lagi."

​Kata kata itu meruntuhkan seluruh sisa benteng penyangkalan yang selama ini dibangun dengan susah payah oleh Geneviève. Pria yang di dalam alur novel ditakdirkan untuk mengeksekusinya, kini justru rela mengorbankan nyawanya sendiri, membiarkan tubuhnya diracuni hanya untuk memastikan Geneviève tetap bernapas.

​Air mata yang tidak bisa lagi ditahan akhirnya menetes dari sudut mata Geneviève, jatuh mengenai punggung tangan Lucien. Keringat dingin mulai membasahi dahi ksatria tersebut seiring efek racun yang bekerja cepat merusak organ dalamnya.

​Di tengah tebing jurang yang dikelilingi mayat dan bau darah, Geneviève memeluk erat tubuh ksatria yang sekarat itu. Frustrasi, kemarahan, dan rasa cinta yang selama ini terkubur meledak menjadi satu, sementara racun hitam terus merenggut nyawa Lucien detik demi detik.

1
tenny
makin seru ceritanya
Cty Badria
good
Pa Muhsid
lagi kenceng kenceng nya tarik gas eh bensin habis😩😩😩
tenny
lagi seru serunya eeh abis 🤣🤣nunggu update lagi..
🅿🅴🆂🅾🅽🅰 GₐDᵢₛ ĐĘŠĄ
Sindrom penyelamat dunia atau dikenal sebagai savior complex atau hero complex adalah kondisi psikologis di mana seseorang merasa terdorong secara berlebihan untuk membantu, memperbaiki, atau menyelamatkan hidup orang lain.
Selalu ingin menjadi pahlawan, mencari atau mendekati orang-orang yang punya masalah besar agar bisa dijadikan "proyek" perbaikan.
Memaksa memberi solusi:, suka memengaruhi dan memaksa mengubah kehidupan orang lain agar menjadi lebih baik sesuai anggapannya atau mendikte hidup orang lain bahkan saat tidak diminta atau tidak dibutuhkan.
Membantu dan menolong orang lain memang perbuatan yang terpuji.
Namun, ketika Anda memiliki perilaku savior complex, bantuan yang Anda lakukan justru membuat orang lain merasa terganggu dan tidak nyaman...🤔🫣🤨
🅿🅴🆂🅾🅽🅰 GₐDᵢₛ ĐĘŠĄ
Puisimu sangat indah dan penuh semangat, Genevieve...😅😂🤣
Baris-baris itu melukiskan rasa cinta yang kuat dan hangat di tengah cuaca yang sangat dingin.
Makna dari Puisimu adalah
Cinta yang hangat:
Rasa sayang digambarkan seperti tungku besi panas yang melawan dinginnya badai.
Perjuangan:
Kayu bakar yang dibakar menunjukkan usaha keras untuk menjaga api cinta tetap menyala.
Berikut adalah kelanjutan bait puisi untuk melengkapi ungkapan perasaanmu.
Oh Lucien, cintaku padamu sepanas tungku besi, membakar kayu bakar di tengah badai salju.
Biar angin menderu menghantam dinding sunyi, hangatnya dekapku takkan pernah jadi abu.
Ketukan rintik es kian mencerca jendela, namun bara di dada enggan untuk mereda.
Dunia boleh membeku dalam balutan lara, kita tetap menyala, berdua tanpa jeda.
lin sya
genevieve jgn krn marah , gaun semahal itu mnding jual buat nambah kekayaan dripd dibakar, buang2 energi krn amarah
tenny
ceritanya seru banget,kere keren 🥰🥰🥰👏👏
tenny
baru baca bab bab awal udah seru banget 👍👍👍👏👏
nadnote: makasih ka, semoga suka ama ceritanya🫶
total 1 replies
netizen nyinyir
double up dong thorrrr😍
nadnote: nanti aku bakal up 3 bab🤭
total 1 replies
Tio Buki
Hadiah untukmu dek🙏👍
Tio Buki
Semangat ya🙏🙏👍
Tio Buki
Mampir dek👍👍👍
Tio Buki
Oh, ternya Dewi cahaya toh
Tio Buki
Apa, jangan jangan
Tio Buki
Main suruh aja
Tio Buki
Cuma satu gentong kok
Tio Buki
Teringat akan
Tio Buki
Ada orang lain rupanya
Tio Buki
Apa yang terjadi??
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!