Sìang itu pesawat Bomber Martin B-10 Belanda terbang rendah di langit RANCAGAOK
BOOOOM!!!
Cahaya putih menyilaukan membelah malam. Tanah terlempar ke udara. Atap rumah Pak Lurah terangkat lalu hancur berkeping-keping.
"Turun!" teriak Bayu.
Semua menjatuhkan diri ke tanah. Debu dan pecahan bambu menghujani punggung mereka. Bau mesiu dan kayu terbakar memenuhi udara.
*TAT... TAT... TAT...*
Suara tembakan dari udara menyisir tanah. Peluru menancap ke batang pisang dan pematang sawah. Bayu menarik Astri ke bawah parit.
Bayu, Karta, Ningsih, Astri bertekad untuk merebut kampung halaman mereka dari tangan belanda hanya bermodal tekad berjuang dan senjata seadanya.
Kisah perjuangan anak muda melawan penjajah, semoga jadi pengibar semangat anak muda Indonesia" MERDEKA"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galuh pravitasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33 : BERSEMBUNYI
Hujan deras turun tanpa henti, menyapu rimbunan hutan hingga air terlihat meluncur deras dari setiap permukaan daun. Di balik celah sempit dinding batu yang tersembunyi di balik tebing curam, Bayu berbaring diam. Tubuhnya tersandar dingin di permukaan batu yang lembap. Lengan kanannya yang dibalut kain robek tadi kini terasa panas berdenyut hebat, setiap detak jantung seakan membawa rasa perih yang menjalar hingga ke bahu dan dada.
Karta berjongkok di sampingnya, tubuhnya merapat agar tidak menempati ruang sempit yang tersisa. Matanya terus menatap mulut gua kecil di depan mereka, telinganya menangkap setiap suara yang terbawa hujan.
Jarum jam seakan berhenti berputar. Satu jam terasa seperti satu hari. Dua jam terasa seperti satu tahun.
Bayu menggigit bibir bawahnya. Rasa panas dan nyeri di lengan terus menekan kesadarannya. Keringat dingin membasahi keningnya, bercampur dengan air hujan yang sesekali menerpa masuk ke celah batu itu. Namun ia tak bergerak sedikit pun. Tak bersuara. Tak mengeluh.
Sesekali Karta menoleh sekilas, matanya menyiratkan pertanyaan. Bertahan? Masih kuat?
Bayu hanya mengangguk pelan. Matanya kembali menatap celah di depan. Tetap diam.
Dari arah bawah tebing terdengar suara langkah kaki melangkah berat di atas tanah becek. Suara teriakan samar terbawa deru hujan.
"Ze moeten hier ergens zijn! Vind hun spoor!" (Mereka pasti ada di sekitar sini! Cari jejak mereka!)
"De bloedsporen lopen deze kant op! Ze zijn niet ver!" (Jejak darah mengarah ke sini! Mereka belum jauh!)
Karta menegang. Tangan kirinya mencengkeram lengan kiri Bayu pelan, memberi isyarat agar tetap tenang. Bayu menghela napas panjang dan menghembuskannya sangat pelan, seakan napas itu pun bisa terdengar oleh mereka yang mencari di bawah sana.
Suara sepatu bot yang menginjak batu semakin dekat. Semakin jelas. Seseorang berhenti tepat di bawah celah batu tempat mereka bersembunyi.
Bayu menahan napas. Jantungnya berpacu cepat, namun ia memaksanya tetap tenang. Di luar sana hujan turun sangat deras. Air mengalir deras dari atas tebing. Jika mereka tetap diam, jika napas tak terdengar, jika tak ada satu pun batu yang bergerak... mereka tak akan ditemukan.
"Kijk goed! Elke opening controleren!" (Periksa dengan teliti! Periksa setiap celah!)
Suara itu begitu dekat. Tepat di bawah mereka. Karta menahan napas begitu lama hingga dadanya terasa sesak. Matanya menatap ujung senapan yang terlihat samar di celah sempit itu. Jarak mereka tak sampai sepuluh langkah. Satu gerakan saja, satu suara sedikit saja... mereka berdua tamat.
Bayu merasakan luka di lengannya semakin perih. Ada sesuatu yang melata di pergelangan tangannya yang terbuka. Halus. Kecil. Nyeri setiap kali kakinya menyentuh kulit. Nyamuk. Banyak sekali. Mereka hinggap di wajah, di leher, di luka yang terbuka. Menggigit tanpa ampun.
Bayu tak berkedip. Tak mengusir. Tak bergerak. Ia membiarkan mereka menggigit. Rasa gatal dan perih itu jauh lebih ringan dibandingkan nyawa mereka berdua.
Karta merasakan hal yang sama. Serangga hutan yang keluar karena lembap mulai merayap di punggungnya, di bawah pakaiannya yang basah kuyup. Gatal yang luar biasa. Keinginan untuk menggaruk sekuat tenaga hampir membuatnya melompat. Namun ia menggigit bibirnya sendiri hingga terasa asin darah. Tetap diam. Tetap diam.
Detik demi detik berlalu bagai siksaan.
Di bawah sana terdengar suara lain. Lebih keras. Lebih berwibawa.
"Ze zijn verdwenen! Het spoor eindigt hier!" (Mereka hilang! Jejak berakhir di sini!)
"Ze kunnen niet in de lucht verdwijnen! Zoek verder!" (Mereka tak mungkin lenyap ke udara! Cari terus!)
"Het regent te hard! Alle sporen zijn weggespoeld! We moeten terugkeren!" (Hujan terlalu deras! Semua jejak sudah hanyut! Kita harus kembali!)
Hening sejenak. Lalu terdengar perintah singkat.
"Terug naar het kamp! Morgen opnieuw zoeken!" (Kembali ke kemah! Besok cari lagi!)
Suara langkah kaki perlahan menjauh. Satu per satu. Perlahan menghilang terbawa suara hujan yang terus mengguntur deras.
Namun Bayu dan Karta tetap diam. Mereka tak bergerak. Tak bersuara. Mereka tahu betul trik itu. Kadang mereka berpura-pura pergi, lalu kembali diam-diam untuk melihat siapa yang keluar dari persembunyian.
Lima belas menit lagi berlalu. Setengah jam. Satu jam penuh.
Hujan mulai mereda perlahan. Air yang mengalir dari atas tebing tak lagi deras. Hanya rintik halus yang sesekali menerpa masuk.
Baru ketika langit mulai gelap pekat dan suara apa pun di bawah sana sudah hilang sepenuhnya, Bayu perlahan menghembuskan napas panjang yang tertahan sejak tadi. Tubuhnya terasa lemas seketika. Keringat dingin membasahi seluruh punggungnya.
Karta ikut menghela napas, bahunya turun perlahan. Ia mengusap wajahnya yang penuh air hujan dan keringat. Matanya masih menatap celah di depan dengan waspada.
"Mereka pergi..." bisik Karta nyaris tak bersuara.
"Sudah lama sekali."
Bayu mengangguk pelan. Matanya masih terpejam sejenak, menahan rasa sakit yang kini kembali terasa menyengat di seluruh tubuh.
"Jangan keluar dulu..." bisik Bayu lemah.
"Tunggu sampai gelap sepenuhnya. Hingga tak ada satu pun mata yang bisa melihat ke sini."
Karta menatap sahabatnya. Luka di lengan Bayu terlihat kembali menembus balutan kain yang sudah basah kuyup. Wajah Bayu semakin pucat, bibirnya terlihat kering dan pucat.
"Darahmu..." bisik Karta cemas.
"Balutannya basah lagi. Darah kembali keluar."
Bayu menunduk sekilas, menatap kain merah yang melilit lengannya. Ia menggeleng pelan.
"Tahan sebentar lagi. Di sini aman. Di luar... belum tentu."
Karta mengangguk pelan. Ia kembali duduk diam di samping Bayu. Tangannya yang gemulat perlahan menepuk-nepuk pelan wajah dan leher Bayu, mengusir nyamuk-nyamuk yang masih berkerumun di sana. Pelan sekali. Agar tak menimbulkan suara.
"Mereka tak pergi begitu saja..." bisik Karta pelan sambil terus menatap celah mulut gua.
"Mereka akan kembali besok. Dengan lebih banyak orang."
Bayu mengangguk pelan. Napasnya masih terasa berat setiap kali menghela udara.
"Iya. Mereka akan kembali. Tapi jejak darah kita sudah hanyut terbawa hujan. Mereka tak akan tahu di mana persis kita bersembunyi." Bayu menatap ke arah gelap di luar celah batu.
"Selama kita tetap diam... selama kita tak memberi tanda apa pun... mereka tak akan pernah menemukan kita."
Karta terdiam. Ia menatap sahabatnya yang berbaring lemah di sampingnya. Di dalam gua sempit dan lembap itu, di tengah rasa gatal, perih, lapar, dan takut yang menumpuk menjadi satu... Bayu tetap tenang. Tetap sabar. Tetap berpikir jernih.
"Berapa lama lagi kita harus diam di sini?" tanya Karta pelan. Suaranya terdengar lelah.
"Sampai bulan terbenam dan gelap pekat sepenuhnya," jawab Bayu pelan namun tegas.
"Sampai mereka yakin kita sudah lari jauh ke arah lain. Saat itulah kita pergi."
Karta menghela napas panjang, lalu kembali merapat ke dinding batu yang dingin. Matanya menatap ke luar celah dengan pandangan yang mulai terbiasa dengan kegelapan.
"Baiklah..." bisik Karta pelan.
"Aku tunggu. Selama apa pun."
Malam pun semakin larut. Angin malam mulai bertiup dingin menerpa masuk ke celah batu itu. Tubuh mereka yang basah kuyup menggigil kedinginan. Namun tak satu pun dari mereka yang bergerak mencari tempat lebih hangat. Tak satu pun yang mengeluh. Mereka hanya diam. Menunggu. Bertahan.
Di luar sana, pasukan Belanda mungkin sedang bersiap mencari mereka lagi saat fajar menyingsing. Namun di dalam celah batu yang tak terlihat siapa pun itu... dua sahabat itu tetap berdiri teguh dalam diam. Karena mereka paham: kekuatan terbesar mereka bukanlah senjata di tangan. Bukan pula jumlah orang yang banyak. Melainkan kesabaran untuk tetap diam ketika musuh sedang mencari. Dan keteguhan hati untuk tetap bertahan ketika semua terasa mustahil.
Bayu menatap langit yang mulai bersih dari awan hujan. Bintang-bintang mulai tampak samar di kejauhan. Ia menggenggam tangan kiri Karta erat-erat. Karta membalas genggaman itu dengan lembut namun kuat.
Mereka tak perlu bicara. Diam mereka sudah menjadi janji yang tak terucapkan. Kita bertahan bersama. Kita pergi bersama. Dan kita pulang... bersama.