Nessa Ibrahim Halana, seorang gadis berjilbab yang baru menduduki bangku SMA. Dipertemukan dengan seorang guru baru yang penampilannya membuatnya selalu mendapat cemooh oleh murid-muridnya sendiri. Berbeda dengan Nessa yang tidak pernah menjelekkan gurunya itu.
Tiba-tiba suatu kejadian yang membuat mereka dinikahkan padahal status Nessa masih anak sekolahan. Berawal dengan ketidaksengajaan tidur bersama malah membuat orang tua mereka memutuskan untuk menikahkan keduanya.
"Menikah dan membina rumah tangga di usia muda bukanlah keinginan dan tujuanku." ~ Nessa Ibrahim Halana.
"Nessa, izinkan saya mencintaimu." ~Dimas Endi Rey.
Sama-sama awam persoalan cinta dan perasaan. Berusaha saling memahami. Mereka hanya mengikuti naluri hati masing-masing. Berjalan sesuai garis yang sudah ditetapkan Tuhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ¶`(₡ ฿úñgšù)ᵛⁱᵛⁱ•_•`FIIII, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MT part 8
Sudah dua hari ini Nessa masih belum juga berani untuk menampakkan mukanya di hadapan gurunya itu. Kalaupun di sekolah tidak sengaja berpapasan, Nessa hanya tersenyum lalu langsung ngacir, tidak seperti biasanya yang selalu membantu membawakan barang saat sedang repot.
Kebetulan hari ini adalah mata pelajaran agama Islam. Nessa sudah stay di bangkunya sebelum bel masuk setelah istirahat pertama berbunyi. Tiba-tiba datang seorang siswa laki-laki yang langsung duduk di bangku sebelahnya yang kebetulan kosong karena temen di sampingnya itu belum masuk ke kelas.
"Hai."
Nessa menoleh dengan memasang wajah bingung.
Seolah tau arti tatapan Nessa, pemuda itu langsung menarik kursinya agar sedikit mendekat dengan Nessa.
"Lupa ya? Gue cowok yang waktu itu lo tabrak."
"Oh." ucap Nessa hanya ber'oh sambil mengangguk.
"Cuman oh?" tanya pemuda itu tidak percaya dengan respon gadis di hadapannya itu.
"Terus gue harus bilang wow gitu? Kemarin kan gue udah ganti rugi, trus kenapa lo ke sini lagi?"
"Mmm, gimana ya bilangnya? Gue ke sini tuh bukan mau nagih ganti rugi lagi, tapi gue mau minta nomor WhatsApp lo." jawabnya sambil tersenyum lalu mengelus dagunya.
Nessa memutar bola matanya dengan sempurna. Satu masalah kelar eh malah timbul masalah lain. Emang ya tuh cowok suka banget gangguin ketenangan orang.
"Gue gak punya WhatsApp." jawab Nessa malas.
"Boong, lo pasti boong. Masa sih gak punya? Ini tuh zaman Indonesia merdeka, bukan zaman siti Nurbaya."
Lah lah itu cowok ngepantun apa ya?
"Kalo emang kenyataan mau digimanain lagi. Udah deh, balik aja sonoh! Tuh udah bunyi bel, waktunya belajar." usir Nessa dengan gayanya.
"Cakep bener calon pacar gue. Hehe, oke deh calon pacar, gue ke kelas dulu. Nanti istirahat kedua gue ke sini lagi."
Nessa memandang ilfeel.
"Ini cowok pede banget? Ganteng sih, tapi sayang, buaya. Mending sama Pak Dimas yang setia luar biasa. Meskipun tampang pas-pasan, tapi selalu bikin deg-degan."
"Eh! Gue mikirin apaan sih!?" gumam gadis itu meringis.
"Eh! Eh! Calon pacar gue kenapa? Sakit? Mending ke UKS aja ya, gue anterin deh."
Nessa tersentak, ia baru sadar kalau masih ada makhluk aneh yang satu ini. Kapan sih tuh cowok pergi? Perasaan betah amat.
"Dih!" Nessa berdecak lalu mengalihkan pandangannya.
"Ampunn, hadap sini dulu dong! Kasih senyuman kek pacarnya mau pulang? Nanti diembat jangan salahin loh ya?"
"Ekhem, kalian yang pacaran, mau saya hukum berdiri di lapangan sambil hormat?" tegur guru mapel yang baru masuk sehingga membuat mereka tidak menyadari.
"Eh! Pak Endi, hehe. Jangan atuh, Pak. Cukup saya aja yang dihukum, pacar saya mah jangan, terlalu cantik, Pak, buat dihukum." serunya semakin menjadi.
"Deca, pergi gak lo? Mau gue patahin seluruh tulang lo itu?" ancam Nessa membuat semua teman kelasnya seketika merinding. Baru kali ini mereka melihat Nessa memasang wajah psikopat seperti itu. Mungkin karena sudah lelah.
"I-iya, in-i pergi kok. N-natapnya jangan gitu, jantung gue mau copot tau." ucap Deca terbata lalu langsung keluar dari kelas Nessa.
"Nessa, udah pacarannya?" tanya gurunya membuat Nessa gugup.
"G-gak ada yang pacaran, Pak." jawab Nessa menyangkal tuduhan itu.
"Woooooo, Bapak kepooo bilang aja iri liat mereka pacaran." teriak teman laki-laki Nessa yang terkenal akan kenakalannya.
"Iya tuh, kalo mau... ya cari aja. Eh! Lupa ya, mana mau cewek sama Bapak, lha wong penampilannya aja gitu. Ups." sambung temannya lagi.
"Brisik!" ujar Nessa sambil menoleh ke belakang, membuat seisi kelas terdiam seketika.
🌼🌼🌼
"Saya gak pacaran loh, Pak." ucap Nessa yang entah sudah kesekian kalinya ia menjelaskan.
"Pak."
"Bapak."
"Pak Dimas!"
"Bapak Dimas Endi Rey."
"Iya, kenapa Nessa Ibrahim Halana?" balas Pak Endi ikut gemas memanggil nama panjang Nessa.
"Tuh liat, si Bapak aneh, harus dipanggil nama lengkapnya baru ngejawab." sindir Nessa sambil memainkan kuku tangannya.
"Astaghfirullah. Sekarang saya sudah jawab dan saya tanya kenapa, tapi kamu kenapa ngomel-ngomel?"
"Gak tau, Pak. Bawaannya sensi mulu, efek kelamaan ditinggal bestie jadinya gini deh." curhat Nessa galau seketika.
Entah kenapa setiap mengobrol dengan gurunya itu membuat Nessa adem seketika. Tidak ada yang mengganggu obrolan mereka dibandingkan kalau guru terganteng di sekolah, pasti akan dikejar-kejar dan sudah dipastikan obrolannya pun jadi ambyar.
"Astaghfirullah. Sekarang saya tanya, teman kamu siapa? Teman kamu curhat, teman kamu mengadu, teman kamu berbagi, teman kamu menangis, teman kamu tertawa. Siapa?"
"Cukup hanya dia yang menjadi temanmu, dan yang lainnya hanya perantara. Di dunia ini hanya sementara, jadi kita harus memanfaatkan waktu sebaik-baiknya."
"Maaf, Pak." ucap Nessa setelah sekian lama terdiam.
"Jangan ke saya minta maaf, tapi kepada-Nya lah tempat kamu memohon ampunan, bukan saya. Dan seperti yang tadi saya katakan, saya hanyalah perantara, untuk lawan mainnya mungkin kamu bisa request dulu."
"Lah si Bapak kok ngelawak?" tanya Nessa dengan muka tidak jadi sedih.
"Ngelawak itu bagus, Nessa. Bagus untuk imun, bagus untuk mental, bagus untuk orang-orang sekitar. Tapi, jangan terlalu berlebihan."
"Sudah, sudah, bel sudah berbunyi, sana masuk kelas!" titah Pak Endi kemudian berpura-pura sibuk dengan tugasnya. Seperti biasa saat ini mereka tengah duduk di depan koperasi.
"Iyaaaa." jawab Nessa panjang lalu bangkit dengan malas.
🌼🌼🌼
"Nessa, udah belum, Sayang?" tanya Mami Hana mengetuk pintu kamar putrinya yang masih tertutup rapat.
"Masuk, Mi." jawab Nessa berteriak dari dalam.
Mami Hana perlahan membuka pintu kamar Nessa dan masuk, kemudian menutupnya kembali.
"Loh, ini kenapa belum siap-siap, hm?" tanya Mami Hana sembari menggeleng kepala melihat tampilan putrinya yang masih belum rapi.
"Nessa bingung, Mi. Ini bukan acara kantor Papi kan?"
Mami Hana hanya menghela nafas, lalu membuka lemari pakaian anaknya dan memberikan pakaian yang pas untuk dipakai.
"Bukan, Sayang. Ini cuman acara makan malam doang." jawab Mami Hana setelah memberikan pakaian Nessa.
Sore tadi, Mami Hana dan Papi Ibra memberitahunya agar ikut ke sebuah acara. Dan ketika ditanya acara apa, Papi Ibra hanya menjawab ini acara penting. Hal itu menimbulkan banyak pertanyaan Nessa, kenapa acara penting Papinya harus dihadiri juga olehnya.
"Perfect." ucap Mami Hana melihat penampilan putrinya. Nessa begitu cantik dengan memakai jilbab pasmina plisket berwarna hitam. Sementara Maminya menggunakan jilbab yang sama namun bahannya berbeda, dan gayanya pun sudah jelas berbeda.
"Ini acara penting banget ya, Mi?" tanya Nessa sembari merapikan jilbabnya yang sebelah terjatuh bebas dengan panjang hanya setengah.
"Iya, Sayang. Sebenarnya acaranya sudah direncakan jauh hari, tapi karna sama-sama sibuk jadi diundur."
"Emangnya mau ketemu siapa sih, Mi?"
"Nanti kamu tau kok." jawab Mami Hana menuntun Nessa keluar kamar.
"Eh! Bentar. Tas sama ponsel Nessa, Mi." ujar gadis itu dengan cepat berbalik lalu menyambar keduanya yang terletak di atas nakas. Kemudian menemui Maminya kembali.
"Oh ya, Mi. Orangnya Nessa kenal gak? Atau itu sahabat Mami atau Papi?"
"Mmmm... pernah sih. Tapi, itu dulu waktu kamu masih bayi. Cuman sekali kayaknya, kamu pasti gak tau."
"Iya juga sih." lirih Nessa.