NovelToon NovelToon
Takdir Sang Pembantai Abadi

Takdir Sang Pembantai Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Epik Petualangan / Action
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Restu Agung Nirwana

Lin Tian lahir dengan seluruh meridian tertutup rapat. Di mata dunia kultivasi, ia tak lebih dari sampah—mustahil menyerap qi, mustahil berdiri sejajar dengan siapa pun. Namun di balik tubuh "cacat" itu, tersimpan sebuah segel kuno yang justru menjadi alasan keluarganya dibantai hingga tak bersisa.

Ketika seorang pengembara tua bernama Mo Cang membuka segel tersebut, Lin Tian akhirnya mengenal qi untuk pertama kali. Sayang, kebahagiaannya hanya bertahan sebentar. Musuh lama sang guru datang, dan Mo Cang tewas di hadapannya.

Kehilangan keluarga. Kehilangan harga diri. Kini kehilangan satu-satunya orang yang menganggapnya anak.

Dari abu tragedi itu, bangkitlah seorang kultivator yang tak kenal ampun. Ia tidak membunuh demi kesenangan—tapi siapa pun yang menghalangi jalannya, tak akan pernah melihat matahari esok hari.

Istana Langit Hitam telah memilih mangsa yang salah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Menelan Jiwa Naga dan Jantung Emas

Air danau merah pekat menelan Lin Tian bulat-bulat.

Cakar bersisik hitam itu mencengkeram pergelangan kakinya dengan kekuatan yang meremukkan tulang.

Lin Tian tidak berteriak. Air masuk ke hidungnya, membawa rasa amis besi yang membakar paru-paru.

Ia memutar tubuhnya di dalam air yang pekat, menghunus pedang hijau bergerigi dengan kedua tangan dan menebaskan sekuat tenaga ke buku jari cakar tersebut.

Klang!

Bilah pedang memantul, hanya meninggalkan goresan putih tipis di atas sisik hitam itu.

Makhluk di bawah sana menariknya lebih dalam. Cahaya dari jamur ungu di permukaan perlahan memudar, digantikan oleh kegelapan absolut yang mencekik.

Lin Tian menahan napas, memusatkan qi hitam di dantiannya.

Jika pedang tidak mempan, ia akan menggunakan racun dari tubuhnya sendiri.

Ia membiarkan qi hitam mengalir ke kaki kirinya, menembus pori-pori kulit dan menyelimuti cakar yang menahannya.

Energi iblis pemakan qi langsung bereaksi.

Sisik hitam yang sekeras baja itu mulai mendesis, mengeluarkan gelembung udara busuk. Cakar itu sedikit melonggar karena rasa sakit, dan Lin Tian langsung menendang wajah makhluk itu dengan kaki kanannya, melepaskan diri dari cengkeraman.

Ia berenang sekuat tenaga menuju celah cahaya redup di dasar danau.

Paru-parunya terasa seperti akan meledak. Pandangannya mulai menyempit, diwarnai bintik-bintik hitam.

Tepat sebelum ia kehilangan kesadaran, tangan Lin Tian menyentuh tepian batu.

Ia menarik tubuhnya keluar dari air, terbatuk-batuk memuntahkan cairan merah yang masuk ke perutnya.

Lin Tian berada di dalam rongga udara tersembunyi di bawah altar.

Di hadapannya, terikat oleh sembilan rantai rune yang menancap ke dinding gua, adalah sesosok kerangka naga raksasa.

Tulang-belulangnya berwarna hitam legam, tertutup oleh lumut darah yang berdenyut mengikuti irama jantung. Namun di rongga dadanya, sebuah jantung seukuran batu besar masih berdenyut pelan, memancarkan cahaya emas yang menyilaukan.

"Segel Dewa Penelan Langit..."

Suara itu tidak terdengar melalui udara, melainkan bergema langsung di dalam tengkorak Lin Tian, membuatnya nyaris pingsan.

Mata vertikal emas yang ia lihat tadi ternyata berasal dari tengkorak naga yang kini menatapnya.

"Ribuan tahun... dan yang datang hanyalah bocah ingusan yang membawa kutukan itu," suara naga itu penuh dengan kebencian dan keputusasaan.

"Serahkan tubuhmu. Biar jiwa tua ini meminjam dagingmu untuk keluar dari penjara sialan ini."

Tekanan spiritual yang jauh lebih berat dari Tetua Emas langsung menekan Lin Tian hingga berlutut.

Tulang-tulang lututnya berbunyi keras, menabrak lantai batu yang dingin. Darah segar mengalir dari hidung dan telinganya.

Naga itu tidak meminta izin. Roh emas tipis merayap keluar dari tulang tengkorak, menyusup paksa ke dalam dahi Lin Tian melalui pori-pori kulitnya.

Rasa sakitnya melebihi saat Mo Cang merobek segelnya dulu. Lin Tian merasa otaknya sedang diparut hidup-hidup oleh ribuan jarum panas yang dibakar di atas perapian.

"Keluar dari kepalaku," geram Lin Tian, matanya merah padam oleh amarah.

Ia tidak mencoba mengusir roh itu dengan meditasi. Itu adalah cara kultivator ortodoks yang lemah dan bodoh.

Lin Tian justru membuka lebar-lebar segel Dewa Penelan Langit di dantiannya. Jika kau ingin masuk ke dalam tubuhku, maka jadilah makananku.

Pusaran qi hitam terbentuk di pusar Lin Tian, berputar dengan kecepatan yang merobek otot perutnya.

Roh emas yang sedang mencoba mengambil alih otak Lin Tian tiba-tiba tersedot mundur secara paksa.

"Apa yang kau lakukan?! Hentikan! Kau akan menghancurkan jiwaku!" teriak suara naga itu, kini dipenuhi kepanikan murni.

"Kau yang memulainya," bisik Lin Tian dengan suara parau.

Ia memaksa qi hitamnya berputar lebih cepat, mencabik-cabik esensi jiwa naga tersebut dan menyerapnya langsung ke dalam aliran darahnya yang mendidih.

Jantung naga di rongga dada kerangka itu berdenyut kencang, memompa darah emas murni ke udara.

Lin Tian tidak menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Ia melompat ke atas tulang rusuk naga, menempelkan kedua tangannya langsung ke jantung yang berdenyut panas itu.

Darah emas itu terasa seperti lahar cair yang mendidih.

Kulit telapak tangan Lin Tian langsung melepuh dan mengelupas, namun ia sama sekali tidak melepaskan cengkeramannya.

Teknik Tulang Iblis dari lapisan pertama segelnya aktif secara otomatis, merespons darah murni makhluk purba ini.

Tulang-tulang di tubuh Lin Tian mulai retak dan menyusun ulang dirinya dengan suara yang mengerikan. Rasa sakit yang luar biasa membuatnya menggigit lidahnya sendiri, namun ia tetap memaksa jantung itu terus memompa.

Batas pertama dantiannya hancur, melepaskan gelombang kejut yang meretakkan tulang rusuknya sendiri.

Qi di dantiannya kini tidak lagi berwarna hitam pekat, melainkan hitam dengan urat-urat emas yang berkilauan.

Jantung naga itu akhirnya mengempis, berubah menjadi debu abu-abu yang berhamburan di udara gua.

Rantai rune di dinding kehilangan sumber energinya, retak dan hancur berkeping-keping menjadi serbuk besi. Kerangka naga raksasa itu runtuh, menimbun dirinya sendiri di dasar gua yang gelap.

Lin Tian mendarat dengan kedua kakinya di atas tumpukan tulang belulang.

Napasnya berat, namun setiap tarikan napas kini membawa kekuatan yang membuatnya merasa bisa meremukkan batu dengan jari telanjang.

Ia telah menembus Pengumpulan Qi tingkat tiga, dan fisiknya telah ditempa ulang oleh darah jantung naga.

Namun, kehancuran rantai rune memicu reaksi berantai yang fatal. Dinding gua mulai runtuh.

Batu-batu sebesar rumah berjatuhan dari langit-langit, menabrak permukaan danau merah dan menciptakan gelombang raksasa yang menghantam tebing hingga retak. Lin Tian harus keluar dari sini sebelum ia dikubur hidup-hidup bersama bangkai naga tersebut.

Ia menyelam kembali ke dalam danau, berenang ke atas dengan kecepatan yang jauh lebih cepat dari sebelumnya.

Otot kakinya menendang air, menciptakan ledakan kavitas yang mendorongnya melesat ke atas seperti torpedo hidup.

Tepat saat ia menembus permukaan air danau, sebuah ledakan dahsyat mengguncang seluruh Lembah Naga Jatuh.

Langit-langit gua di atas danau hancur berantakan oleh tebasan pedang raksasa. Cahaya matahari yang menyilaukan langsung menusuk mata Lin Tian yang terbiasa dengan kegelapan.

Debu dan puing-puing batu menghujam ke dalam danau, mengubah air merah itu menjadi lumpur coklat yang pekat.

Lin Tian berpegangan pada akar pohon raksasa yang menjuntai, menatap ke atas melalui lubang menganga yang baru saja tercipta.

Di tepi tebing yang hancur, berdiri sesosok figur berjubah emas yang memancarkan aura membunuh yang membuat udara di sekitarnya berdistorsi.

Tetua Emas Sekte Pedang Perak.

Pria tua itu memegang pedang besar yang masih memancarkan sisa cahaya tebasan qi yang memotong awan dan membelah angin. Di sekelilingnya, puluhan murid inti dan penjaga sekte mengepung tepi lubang dengan senjata terhunus.

Tetua Emas menatap ke dasar lembah, matanya menyapu permukaan danau yang bergejolak dengan tatapan dingin.

"Formasi Lembah Naga Jatuh sudah hancur," suara Tetua Emas bergema, menggelegar dan menekan telinga.

"Turunkan jaring penangkap jiwa. Jika bocah iblis itu masih bernapas, seret dia ke atas dalam keadaan hidup."

Puluhan rantai besi berukir rune dijatuhkan dari atas, mencebur ke dalam danau dan mulai menyapu dasar air seperti jaring nelayan raksasa yang lapar.

Mata rantai itu memancarkan cahaya biru yang mendesis saat menyentuh air danau, mengunci segala pergerakan qi di sekitarnya dan menarik segala materi hidup.

Lin Tian menatap rantai-rantai yang semakin mendekat ke aranya dengan kecepatan tinggi.

Ia perlahan melepaskan pegangannya pada akar pohon, membiarkan tubuhnya tenggelam kembali ke dalam bayangan air yang gelap.

Qi hitam keemasan mulai menyelimuti pedang hijaunya, menunggu mangsa pertama yang turun ke dalam air.

1
Alia Chans
semangat thor nulisnya💪
Restu Agung Nirwana: hehe.. iya.. makasih dukungannya 👍
total 1 replies
B. Toon
Wah, seru. Suka MC nya, sadis, kejam, tanpa ampun, tapi masih punya batasan. Cuma musuh-musuhnya saja yang di bantai habis, orang yang tidak bersalah aman. Yang baik sama MC di balas 10x lipat kebaikannya, yang jahat sama MC di balas 100x lipat kejahatannya. Lanjut Thor 🔥🔥🔥
Restu Agung Nirwana: Hehehe... makasih bro. Ikuti trs ceritanya, jgn loncat-loncat bab. Biar gak bingung sama alurnya, slmt membaca 🙂🙂
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!