Aruna tak menyangka kematiannya justru membawanya bertransmigrasi ke dalam novel kerajaan Eropa sebagai Lady Evelyne Ashcroft, villain yang ditakdirkan berakhir tragis.
Berbekal ingatan akan alur cerita, ia bertekad mengubah nasibnya dan menghindari semua bendera kematian. Namun, rencananya langsung berantakan ketika seluruh keluarganya dan sang tunangan tiba-tiba dapat mendengar isi pikirannya.
Rahasia masa depan yang terus terungkap membuat jalan cerita berubah. Keluarga yang semula membencinya mulai melindunginya, sementara tunangan yang seharusnya meninggalkannya justru semakin tergila-gila padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
"Jika Lady Evelyne terlihat lelah, tidak perlu dipaksa," ucap Cedric akhirnya, nadanya datar namun menyisakan nada lembut yang samar.
Aruna hampir saja ingin bertepuk tangan kegirangan dalam hati. [Benar sekali! Itu jawaban yang paling tepat! Tolaklah perintah itu!]
Namun Duke Arthur hanya menggeleng pelan. "Tidak sebaiknya begitu. Kalian sudah terikat janji. Tidak pantas jika jarang bersua dan terlihat renggang."
Aruna akhirnya menunduk pasrah, menghela napas kecil. [Baiklah... anggap saja ini satu ujian yang harus kulalui demi keselamatan masa depanku,] batinnya ikhlas meski berat hati.
Tak lama kemudian, di taman luas yang indah permai itu. Barisan bunga mawar berwarna-warni bermekaran indah mengharumkan udara pagi, sementara air mancur di tengah halaman memancarkan percikan bening yang berkilau terkena sinar matahari, menciptakan pelangi kecil yang lembut. Suasana begitu damai, namun hati Aruna terasa sesak dan canggung luar biasa.
Ia berjalan beberapa langkah di belakang punggung tegap Cedric, membiarkan jarak tercipta di antara mereka. Tak ada suara yang terucap, hening yang panjang terasa menyesakkan dada.
[Sungguh canggung sekali berjalan seperti ini... Jika terus diam begini, kapan aku bisa mencapai tujuanku menjauh tanpa menyinggung perasaan siapa pun?]
Tiba-tiba langkah pria itu terhenti tepat di bawah pohon rindang yang teduh. Ia membalikkan badan perlahan.
"Lady Evelyne..." panggilnya pelan namun tegas.
"Ya?" jawab Aruna sedikit terkejut, jantungnya berpacu lebih cepat. [Jangan-jangan ia mulai curiga bahwa aku bukanlah Evelyne yang ia kenal dulu?]
"Akhir-akhir ini... kau terlihat sangat berbeda," ucapnya menatap tajam namun jeli, seolah ingin membaca setiap kebenaran yang tersembunyi di balik manik mata itu.
Aruna menyunggingkan senyum sederhana. "Mungkin karena aku mulai banyak berpikir dan menyadari banyak hal," jawabnya hati-hati.
[Tentu saja berbeda jauh... bagaimana mungkin aku sama persis? Aku bukanlah Evelyne yang sombong dan keras kepala itu, melainkan jiwa orang lain yang terperangkap di sini,] batinnya jujur.
Kata-kata itu kembali terdengar nyata bagi Cedric. Meski belum paham sepenuhnya makna tersembunyi di baliknya, ia semakin yakin bahwa perubahan ini bukanlah sandiwara murahan semata.
"Kau tak lagi mengejarku seperti dulu," tambahnya lagi, suaranya sedikit berat.
Aruna mengangguk tanpa ragu. "Benar."
Jawaban singkat itu justru membuat keningnya berkerut heran. Biasanya Evelyne akan segera membantah, bersikeras, dan mencari seribu alasan agar tetap diperhatikan. Namun hari ini? Ia mengakuinya begitu saja dengan tenang.
[Karena memang tak ada gunanya terus mengejarmu. Pada akhirnya kamu pasti jatuh cinta pada gadis lain yang menjadi tokoh utama. Aku tak mau membuang waktu hanya untuk menjadi penghalang kisah bahagia kalian.]
Tangan Cedric mengepal perlahan di sisi tubuhnya. Sekali lagi kalimat itu terngiang di telinganya. Dan anehnya, mendengar hal itu justru membuat rasa tidak suka dan cemburu yang tak terduga merayap di dadanya.
"Lady Evelyne..." panggilnya lagi dengan nada yang lebih serius.
"Hm?"
"Apakah benar... kau memiliki keinginan kuat untuk membatalkan pertunangan kita?"
Aruna seketika membatu di tempatnya. Pertanyaan itu datang jauh lebih cepat dari dugaan yang ia siapkan!
Namun jauh di dalam lubuk hatinya, sorak kegembiraan meledak hebat, [Tentu saja aku mau! Jika ikatan ini berakhir sekarang juga, peluangku untuk selamat dan hidup bahagia hingga tua akan seratus persen terjamin!]
Meski hati berteriak begitu keras, mulutnya tetap mengucapkan kata-kata yang bijaksana, "Aku... akan selalu menuruti keputusan terbaik yang disepakati oleh kedua keluarga besar kita."
Cedric diam menatapnya lama sekali. Ia mendengar jelas betapa gadis itu begitu ingin melepaskan diri, namun tetap menahan diri demi menjaga kehormatan dan nama baik keluarga Ashcroft. Untuk pertama kalinya, ia melihat sisi kedewasaan, kesabaran, dan kebijaksanaan yang tak pernah ia sadari sebelumnya dalam diri gadis ini.
Tanpa disadari, sudut bibirnya yang dingin perlahan melengkung indah membentuk senyum tipis yang menakjubkan.
Aruna tertegun terpaku tak mampu berkedip. Matanya membelalak tak percaya. [Eh? Dia... dia tersenyum?! Bukankah dalam cerita aslinya, Cedric yang dingin ini hampir tak pernah tersenyum manis sebelum bertemu dengan gadis pujaan hatinya? Lalu mengapa sekarang ia tersenyum padaku?]
Cedric segera berdeham pelan, berusaha menyembunyikan senyum yang mulai memudar itu agar kembali pada wajah tenangnya. "Ada apa?" tanyanya pelan.
"Ti-tidak ada apa-apa..." jawab Aruna tergagap, pikirannya masih kacau. [Aneh sekali... sepertinya jalan cerita yang kubaca mulai bergeser dan berubah arah dari yang seharusnya.]