Status adik angkat tak pernah membuatku aman dari mereka."
Bertransmigrasi ke tubuh figuran yang diangkat anak oleh keluarga Sterling, Ceira berniat kabur dari alur novel. Namun, jiwa barunya yang tangguh justru memicu obsesi gelap Kaiser dan King Sterling.
Satu tubuh adik angkat, dua raga kembar, dan empat jiwa penguasa yang terobsesi mengunci hidupnya. Lari bukanlah opsi saat jerat liar mereka sudah mengunci mati.
"Mampukah dia lolos dari jerat liar mereka?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tanda di Leher Sang Kucing Kecil
Fajar menyingsing di atas lanskap Kediaman Sterling yang berdiri megah di dataran Eropa, menyapu tirai beludru tebal dengan pendar cahaya keemasan yang dingin. Seharusnya, pagi hari membawa ketenangan serta keleluasaan bagi siapa saja yang menghuni istana megah tersebut. Namun, bagi Ceira—yang baru saja genap merayakan usia sembilan belas tahun—detik-detik pertama setelah ia membuka mata dari lelapnya tidur justru berubah menjadi mimpi buruk paling menyesakkan yang pernah mencengkeram saraf motoriknya.
Gadis itu bangkit perlahan dari ranjang berukuran besar, berjalan dengan langkah gontai menuju cermin dinding antik berbingkai ukiran emas yang memantulkan seluruh isi kamarnya.
Begitu pantulan tubuhnya tertangkap dengan jelas di permukaan kaca, napas Ceira mendadak tercekat di tenggorokan. Kedua matanya membelalak lebar, sementara jemarinya yang mendadak mati rasa terulur perlahan untuk menyentuh permukaan kulit di lehernya sendiri.
Deretan tanda kemerahan yang pekat—bukan sekadar lebam biasa, melainkan jejak gigitan serta isapan bibir yang begitu intens dan dalam—terpatri tanpa ampun di sepanjang leher jenjangnya hingga turun menembus garis tulang selangka. Tidak berhenti sampai di situ, ketika ia meraba bibirnya sendiri, sensasi bengkak, basah, dan perih langsung menjalar ke seluruh indra perasanya.
Jantung Ceira berdegup liar menghantam tulang rusuk, memompa darah ke seluruh tubuh dengan kecepatan penuh. Semalam, sebelum ia memejamkan mata, ia sangat yakin telah mengunci pintu kamar utamanya rapat-rapat menggunakan sistem sandi digital berlapis yang ia rancang sendiri. Tidak seorang pun di dunia ini yang mampu membobolnya tanpa meninggalkan jejak peringatan pada sistem peretasan miliknya.
"Bagaimana mungkin? Siapa yang berani masuk ke kamar ini tanpa suara saat aku tertidur pulas?" Bisiknya bingung dan cemas.
Gelombang kepanikan yang luar biasa mendadak menyerang pertahanan mentalnya. Apakah ada penyusup berbahaya dari sindikat luar yang berhasil menembus pengamanan tingkat tinggi Kediaman Sterling? Ataukah ada ancaman mematikan yang tengah mengincar nyawanya?
"Apa mungkin aku alergi makanan, nanti siang aku harus cek ke dokter." Gumamnya dengan nada ragu.
Dengan tangan yang gemetar hebat hingga sulit dikendalikan, Ceira buru-buru menyambar gaun tidur bersiluet tertutup dengan kerah tinggi yang kaku, mengenakannya tergesa-gesa demi menyembunyikan jejak-jejak kepemilikan asing tersebut dari pandangan orang lain. Ia berupaya keras menetralkan gejolak napasnya, menepis segala prasangka mengerikan yang berkecamuk di dalam benaknya, lalu melangkah keluar kamar dengan punggung tegak—berusaha menyamar di balik topeng ketenangan seolah tidak terjadi apa-apa.
Sama sekali tidak terbesit dalam benaknya bahwa tanda-tanda mengerikan di tubuhnya merupakan ulah mutlak dari Zero, alter ego Kaiser yang menyelinap masuk ke dalam kamar itu dalam gelapnya malam, meluapkan hasrat dan rindu yang tertahan selama bertahun-tahun sebelum mereka secara resmi menampakkan diri di hadapannya.
Langkah kaki Ceira menyusuri koridor lantai atas yang senyap, melewati pilar-pilar marmer putih yang memantulkan bayangannya sendiri, sebelum akhirnya menuruni tangga utama menuju ruang makan berukuran raksasa. Perutnya mendadak terasa kosong dan melilit, membuat ia berencana meneguk secangkir teh hangat serta menyantap sepotong roti panggang untuk memulihkan kesadarannya sebelum kembali bergulat dengan kode-kode digital. Pikirannya masih diliputi keyakinan bahwa benteng perlindungan di mansion ini masih utuh dan paspor pelariannya ke belahan dunia lain masih tersimpan aman di dalam laci terkunci.
Namun, begitu ia membelokkan langkahnya ke area ruang makan, seluruh saraf di tubuhnya mendadak membeku di tempat.
Suara dentingan sendok perak yang beradu lembut dengan permukaan piring porselen putih terdengar begitu ganjil, merusak kesunyian pagi yang seharusnya steril dari aktivitas manusia.
Ceira mendongak perlahan, mengerjap dibalik kacamata berbingkai tipis yang bertengger di batang hidungnya.
Di ujung meja makan panjang yang terbuat dari lempengan marmer hitam legam, dua sosok pria dewasa berusia dua puluh empat tahun tampak duduk berdampingan dengan postur tubuh yang sangat anggun dan ketampanan yang luar biasa sekaligus mengintimidasi. Mengenakan kemeja putih formal dengan lengan baju yang digulung separuh hingga memperlihatkan otot lengan yang kokoh, punggung mereka tegak sempurna, memancarkan aura dominasi mutlak yang seketika meremukkan oksigen di ruangan tersebut.
Kaiser Sterling dan King Sterling.
Dunia Ceira seolah runtuh dalam sepersekian detik. Jantungnya berhenti memompa darah. Matanya menatap nanar ke arah dua sosok yang seharusnya berada ribuan mil jauhnya di markas operasional luar negeri.
Bagiamana mungkin mereka sudah berada di sini? apa tanda merah di tubuh ku ulah mereka? Sialan! Batin Ceira kesal menyadari perbuatan Kaka angkatnya.
Seluruh kalkulasi linimasa di dalam kepala Ceira hancur berkeping-keping tanpa sisa. Semalam ia tidak mendengar deru helikopter ataupun suara pintu terbuka, dan kini... kedua predator itu sudah duduk tenang menikmati pagi, seolah tidak pernah meninggalkan tempat ini barang sedetik pun.
Ceira terpaku di ambang pintu, dilanda kebimbangan luar biasa antara harus melangkah maju mendekati jurang kehancuran atau berbalik lari sekencang-kencangnya menjauhi ruangan itu.
King, yang pendengarannya jauh lebih tajam dari manusia biasa, perlahan mengangkat wajahnya dari piring sarapan. Sudut bibir pemuda berambut pirang perak itu terangkat membentuk seulas senyuman tipis yang manis di permukaan, namun sorot mata peraknya menyimpan lapisan es yang mampu menusuk hingga ke sumsum tulang belakang.
"Pagi yang indah untuk menyambutmu, Adik Kecil," sapa King dengan nada bariton yang lembut, begitu tenang namun mengalirkan teror yang nyata. "Kenapa hanya berdiri mematung di sana? Mendekatlah, kursi dan sarapanmu sudah disiapkan khusus di sisi kami."
Dengan segenap sisa tenaga pada kedua kakaknya yang terasa lemas bukan kepalang, Ceira memaksa dirinya melangkah maju. Ia berjalan lambat bagaikan terhukum yang menuju tiang gantung, lalu menarik kursi yang letaknya berada paling jauh dari posisi si kembar. Ia mendudukkan diri dengan postur tubuh kaku menyerupai patung porselen yang sewaktu-waktu bisa pecah berkeping-keping.
Matanya bergerak liar, memindai setiap sudut ruang makan mewah berarsitektur klasik Eropa tersebut. Tidak ada satu pun pelayan yang terlihat. Tidak ada Nyonya Helena, tidak pula Tuan Edward. Ruangan seluas lapangan dansa itu terasa kosong, senyap, tertutup rapat, dan begitu menyesakkan dada.
Ceira menelan ludah dengan susah payah, merasakan tenggorokannya kering kerontang saat ia mencoba merangkai kata. "Bunda... dan Ayah pergi ke mana? Kenapa tidak ada satupun pelayan yang tampak berjaga atau melayani di sini?"
King meletakkan perangkat makan peraknya di atas piring dengan gerakan lambat yang teramat anggun. Ia menatap lekat-lekat ke arah Ceira, menikmati setiap detik perubahan warna di wajah pucat gadis itu.
"Kedua orang tua kami baru saja berangkat meninggalkan mansion ini saat fajar menyingsing tadi," jawab King santai, jemarinya mengetuk pelan tepi meja makan. "Mereka harus mengurus urusan mendesak yang berkaitan dengan aset keluarga di cabang luar kota selama dua bulan penuh ke depan."
Deg!
Dua bulan. Batin Ceira terkejut.
Waktu selama enam puluh hari penuh tanpa kehadiran pelindung formal di dalam rumah ini berarti benteng pertahanan terakhir Ceira telah runtuh tak bersisa. Ia kini berdiri seorang diri tanpa perisai, sepenuhnya berada dalam cengkeraman dua ekor monster berwajah malaikat.
Ceira mengalihkan pandangannya secara perlahan ke sisi sebelah kanan.
Kaiser sama sekali belum menyentuh makanannya sejak tadi. Pria itu bersandar sepenuhnya pada sandaran kursi, kedua tangan kekar berserta jemari panjangnya bertumpu di atas permukaan meja, mengunci seluruh atensi Ceira lewat manik mata hitam pekat yang menyimpan kegelapan mutlak.
Di usia dua puluh empat tahun ini, kehadiran fisik dan tekanan psikologis yang dipancarkan oleh Kaiser maupun King telah melampaui batas ketakutan manapun yang pernah dirasakan Ceira di masa lalu.
Ketajaman tatapan Kaiser—sumber dari entitas Zero yang mendominasi kesadarannya—membuat atmosfer di sekitar meja makan terasa kian menipis, seolah oksigen ditarik paksa dari paru-paru Ceira. Mereka bukan lagi remaja-remaja labil yang bisa dikecoh dengan tipu muslihat kekanak-kanakan; mereka adalah penguasa mutlak dunia bawah yang siap meremukkan mangsanya tanpa menyisakan ampun.
Gelombang rasa takut, ngeri, dan keputusasaan merayap naik membakar dada Ceira, memberinya kesadaran pahit bahwa seluruh rencana pelarian yang ia susun dengan cermat selama bertahun-tahun kini telah musnah tersapu badai.
Contoh visual
Visual karakter dan cuplikan adegan versi video tersedia di TikTok: tiktok.com/@ceisyafaizah... Selamat menikmati!
aku tunggu👍👍👍👍
semangat......
gak jdi tuker tempat ma kamu ah..atutt 🤣🤣🤣🤣 jiwa halu ku meronta 😩😩
aahhh...gak sabar up lgi..👏👏👏
Semangat