NovelToon NovelToon
Suami Malaikatku

Suami Malaikatku

Status: tamat
Genre:Romantis / Keluarga & Kasih Sayang / Romansa Modern / Rumah Tangga-Anak Genius / Tamat
Popularitas:110k
Nilai: 5
Nama Author: Marina Monalisa

Sebelum membaca di sarankan untuk membuka novel yang berjudul "Calon Istri Pengganti Tuan Abian" karena ini adalah lanjutan dari novel tersebut.

Cerita yang di angkat tentang perilaku suami yang bersosok malaikat selalu mampu membuat hati sang istri meleleh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marina Monalisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 7. Kedatangan Tamu Yang Tidak Di Undang

"Gibran, ada Mami di sini." sahut Indira menggoda adiknya.

Maureen dan Gibran segera melepaskan pelukan bahagia itu dan saling menatap dalam wajah satu sama lain. "Indira, kau ini berhenti menggoda adikmu." tutur Nyonya Ningrum.

"Mami, lagi pula dia lancang sekali melupakan sosok Kakaknya. Melamar anak orang sama sekali tidak meminta persetujuan Indira." sahut Indira memprotes Gibran.

Gibran hanya terlihat menggaruk kasar kepalanya karena kesal. "Kakak, maafkan Gibran." ucapnya dengan wajah lemasnya.

Indira yang masih belum selesai menggoda adiknya sudah terhenti saat Abian tiba-tiba bertanya. "Jadi kapan acaranya Gibran?" tanya Abian dengan tegas.

"Acara?" tanya Gibran bingung.

"Kau sudah berani meletakkan cincin di jari perempuan itu tandanya kau sudah memikirkan acara untuk hal itu." terang Abian.

"Hehehe Gibran masih menabung Kakak ipar." tutur Gibran.

Abian mengernyitkan dahinya. "Menabung untuk apa?" tanyanya.

Gibran menghitung sesuatu di tangannya. "Rumah, biaya pernikahan dan juga biaya kuliah untuk Maureen, Kakak ipar." ucap Gibran.

"Kau, yang memanggilku Om, Paman dan apa itu? katakan apa saja yang ingin kau butuhkan serahkan pada Bram semuanya. Dan biaya untuk pernikahan biarkan Bram semua yang mengurusnya." tutur Abian.

Gibran, Maureen, dan Nyonya Ningrum meneguk kasar salivahnya. Mereka tidak menyangka jika Abian akan seroyal itu pada Gibran yang sebenarnya bukan siapa-siapa istrinya.

"Bi..." ucap Indira yang ingin menolak.

"Sudah, diamlah." pintah Abian.

Indira menurut dan Maureen yang merasa malu dengan kesan tidak baiknya pada Abian hanya bisa tersenyum malu lalu menganggukkan kepalanya. "Kakak ipar, apa ini tidak berlebihan?" tanya Gibran.

"Apa yang berlebihan? itu hanya biaya kecil saja." sahut Abian.

Semua hanya terdiam tanpa ada yang berani berucap apa pun lagi. "Papah." panggil Rabian pada Abian.

"Ada apa?" tanya Abian dengan mencium wajah putranya.

Tiba-tiba suasana hening itu kini buyar saat melihat kehadiran Pak Mail yang berlari masuk menghampiri Bram. Ia tampak membisikkan sesuatu ada Bram.

Bram terlihat menyunggingkan senyuman tipis di wajahnya mendengar kedatangan seseorang di depan gerbang sana yang sejak tadi memaksa untuk masuk.

Pak Mail kembali berlari saat mendapat perintah oleh Bram. "Ada apa?" tanya Gia penasaran dengan suara setengah berbisik.

"Lihatlah saja." sahut Bram.

Tak lama setelah itu, kini nampak sosok wanita cantik yang memakai heels dengan ukuran begitu tinggi mengenakan drees sedikit memperlihatkan paha mulus dan kaki jenjangnya. Mata Indira membulat menyadari siapa wanita itu.

"Afrah," Tuan Kriss begitu terkejutnya saat menangkap sosok wanita yang tidak lain adalah wanita yang pernah menjadi tunangan putranya dulu.

"Halo semua, Tuan dan Nyonya Malik selamat atas hari perayaan kedatangan anda kembali dan selamat ulangtahun juga untuk mu tampan." Afrah tersenyum dengan ramahnya tanpa memperdulikan ekspresi serumah itu yang menatap dengan tatapan berbagai macam padanya.

Kayra dan Queensya menatap bingung, begitu juga dengan Nyonya Ningrum, Maureen dan juga Gia. Sedangkan Bram yang tersenyum menyeringai di balik tatapan marahnya itu. Abian yang tetap berwajah dingin tanpa membalas ucapan dari Afrah, Indira yang mulai menatap tajam pada Afrah seolah begitu geram.

"Pergi kau dari sini." pekik Tuan Kriss yang begitu tidak terima dengan kehadiran Afrah.

Wanita itu berakting tidak mengenali wajah Tuan Kriss. "Maaf, anda siapa yah?" tanyanya dengan mengejek.

"Abian, untuk apa wanita ini ada di sini?" tanya Tuan Kriss tanpa mau berkata apa pun lagi dengan Afrah.

"Dia rekan bisnis saya dulu, Ayah." jawab Abian dengan memalingkan wajahnya dari Afrah.

"Bawa Ayah dan Ibu ke kamar saja." pintah Abian berbisik dengan Indira.

Indira tersenyum, ia percaya dengan suaminya jika mengenai wanita. Kayra dan Queensya juga tidak lupa mengedipkan matanya memberi isyarat pada Indira untuk tenang karena ada mereka.

"Ayah, Ibu ayo temani Indira ke kamar saja." ajak Indira.

Namun sayangnya Tuan Kriss sepertinya tidak tenang jika berada satu rumah dengan wanita ular itu. "Indira, Ayah dan Ibu sebaiknya pulang saja. Hati-hati di rumah, Ayah gerah jika berada di rumah ini." Tuan Kriss segera bergegas pergi dari rumah itu.

Di dalam mobil Nyonya Veren terus mencemaskan Indira. "Ayah, mengapa kita pulang? bagaimana kalau wanita itu melakukan sesuatu pada Indira?" tanya Nyonya Veren.

"Tidak, Ayah percaya. Lagi pula di rumah itu banyak sekali yang sayang dengan Indira termasuk Abian. Pasti dia bisa menghadapi wanita itu." tutur Tuan Kriss.

Nyonya Veren hanya menghela nafasnya berusaha menenangkan dirinya karena ia juga tidak akan bisa berbuat apa-apa.

Sedangkan di kediaman Malik, Afrah masih saja belum di persilahkan duduk dengan mereka. "Ini bunga untuk anda Nyonya Malik." Afrah menyodorkan bunga pada Indira dengan senyuman begitu lebarnya.

"Oh terimakasih." jawab Indira.

"Bi...aku jadi mengingatmu yang pernah membelikanku bunga waktu itu." tutur Indira.

Abian tersenyum dan mendaratkan satu ciuman di kening istrinya. "Apa kau sangat suka jika aku terus memberikanmu bunga, Sayang?" tanya Abian.

Indira menganggukkkan kepalanya senang. "Oh iya duduklah." ucap Indira mempersilahkan Afrah untuk duduk dan menerima kedatangannya dengan baik.

"Kay, apa wanita ini yang di katakan Indira saat di rumah sakit?" tanya Queensya.

"Sepertinya begitu, tapi mengapa Tuan Kriss bisa semarah itu padanya?" tanya Kayra penasaran.

"Aku juga tidak tahu." jawab Queensya lagi.

Keduanya saling berbisik tanpa terdengar siapa pun. "Oh iya bagaimana keadaan mu?" tanya Indira dengan berusaha mendekatkan diri pada Afrah.

"Saya sangat baik, Nyonya Malik. Hanya saja saya merasa cuaca di sini cukup dingin hingga saya kurang cocok jika hidup seorang diri sepertinya." tutur Afrah dengan mengusap lengan mulusnya.

"Oh benarkah? sepertinya memang begitu. Benar yang kau katakan. Bi...lihatlah temanmu ini kedinginan sampai kulitnya saja kering seperti kurang terawat begitu." Indira berbicara dengan lembut namun benar-benar memancing kemarahan Afrah karena telah menghina kulit mulusnya.

"Aku tidak tahu, Sayang. Hanya kau yang paling mengerti tentang kulit, karena kulitmu benar-benar membuatku candu." ucap Abian begitu memancing gairah.

Bram yang saat itu memperhatikan percakapan mereka seketika meneguk kasar salivahnya. "Apa yang kau lihat?" Gia setengah berbisik dengan mencubit kecil pinggang Bram.

"Ada apa? aku tidak melihat apa pun." sahut Bram.

"Ini seperti ini, kulitku sangat terawat bukan? jadi walau pun cuaca begitu dingin kulitku tetap sehat. Tidak seperti kulitmu sungguh seperti umur kepala empat saja."

Semua terkekeh mendengar perkataan Indira yang dengan sengaja mengejek Afrah yang berniat ingin menggoda Abian di depan Indira.

"Sialan, berani sekali dia menghina kulitku." gumam Afrah semakin kesal namun ia tetap berusaha terlihat tersenyum.

"Apa kau jarang berolah raga?" tanya Indira.

Afrah menggelengkan kepalanya. "Sayang sekali aku habis melahirkan. Kalau tidak aku akan mengajari mu berolahraga yang baik untuk kulit." tutur Gia.

"Mamah..." rengek Rabian yang terlihat gelisah di pangkuan Abian.

"Ada apa, Rabian?" tanya Indira.

"Main tama Aunty." ucapnya menunjuk Afrah.

Afrah merasa senang saat Rabian ingin bermain dengannya wajahnya terlihat tersenyum. "Ini kesempatanku untuk mengambil hati anaknya." gumamnya.

"Ayo sini main sama aunty." ajak Afrah yang meraih tangan Rabian.

Keduanya berjalan keluar dari lingkaran sofa itu. "Bi..." ucap Indira yang takut jika terjadi apa-apa dengan Rabian.

Tenang saja." sahut Abian tenang.

"Aunty duduk." pintah Rabian meminta Afrah agar duduk di lantai.

"Duduk, sayang?" tanya Afrah bingung ia khawatir dengan heels yang ia pakain bagaimana cara ia bisa duduk sedangkan heelsnya sangat tinggi.

Alhasil Afrah memilih dengan berlutut saja. "Sudah aunty duduknya seperti ini yah?" tanya Afrah.

Rabian melangkah ke arah belakang Afrah yang tengah berlutut dan ia melingkarkan kedua tangannya tepat di leher Afrah.

"Aunty ayo lalan." pintah Rabian.

"Apa itu lalan?" tanya Afrah.

"Pokoknya lalan." pekik Rabian.

"Artinya jalan, Nona." terang Bi Qila yang sudah terkekeh dalam hatinya. "Sepertinya anda di minta Tuan muda Rabian untuk jadi kuda, Nona." sahut Bi Qila lagi.

Mau tidak mau Afrah pun menuruti perintah bocah kecil itu, ia berjalan seperti kuda yang tengah di tunggangi oleh Rabian.

Indira hanya tertawa puas dalam hatinya. "Anak Mamah pintar." gumamnya.

"Bi, aku lelah." ucap Indira.

"Kita istirahat di kamar yah?" tanya Abian dan Indira segera menganggukkan kepalanya.

"Bram, antar istrimu istirahat dan setelah itu awasi Rabian." pintah Abian tanpa bisa di dengan oleh Afrah yang tengah sibuk ke sana kemari bersama Rabian.

Abian menggendong Indira ke dalam lift mereka menuju kamar dengan bercanda yang mesra. Sesekali Abian kembali menghujani ciuman di wajah istrinya.

1
Heliati Mamonto
lanjut
bundan@ furqan
ika widya
lucky ma dita ja,, sprtiny lucky org yg baik
nhiena Ali
💖💖💖💖💖💖💖💝💝💝💝💝💝❤❤❤❤❤❤❤😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍
sarianum manurung
bakalan kangen SM keluarga malik...Abian i love u
Retno Marsudi
sukses selalu thorrrr
Retno Marsudi
waduhhhh tamat deh,, padahal aku suka novelnya nih,,
Retno Marsudi
bucinnya dikau tuan abiannnnnn
Retno Marsudi
Bayiku,, bukan bayi kami 🤣🤣🤣🤣
Retno Marsudi
Baper akut diriku sama kamu tuan abian malik
Yuni Ati
Jauh-jauhin tuh si ular cobra afrah Thor
Lutfiati Puzz
ak gk bisa mve on dari Abian Malik😭😭😭
ig: monalisa_n28: Hehehe Terimakasih kak🙏🙏
total 1 replies
harap_tenang😌
bi qila mulai lagi deh 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
may Saka
kak bikin versi mauren sama gibran don kepo kelanjutan cerita cita mereka berdu nihhh plissssssssssssss.....................
Aris Mamae Rakha
extra part nya dong kak thor...😁😁😘😘
ig: monalisa_n28: Hehehe udah mentok selesainya kak
total 1 replies
Ghea_yuni_Aprinsa
yg berikut'y pa thor.....?
semoga lbh seru y....😘
ig: monalisa_n28: amin kak terimakasih yah kak
total 1 replies
Sri Hendrayani
up lgi donk thor
Sri Hendrayani: buat bonus upnya kak..
cerita bagus banget... 😍😘🥰
total 2 replies
Aris Mamae Rakha
Indira wanita yang lembut, anggun bisa berubah menjadi wanita jadi2an 🤣🤣 bahkan seperti monster kata Bram, 🤭🤭🤭🤭
Aris Mamae Rakha
bener2 cari mati berurusan dengan Abian
ajiu jiu
tamat sdh cerita ringan yg tdk bkin stress , ap akhirnya kita "pisah" di sni Thor 🤔🤔 rasa ny ngk mau novel in tamat 😢😢😢
ig: monalisa_n28: hehehe terimakasih kak sudah setia sampai akhir
total 1 replies
Erna Watie AZ
buat kisah si rabian thorr,,,
ig: monalisa_n28: hehehe masih di pikir dulu yah kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!