Di kehidupan yang hanya sekali ini, tentu menikahi orang yang dicintai dan mencintai diri kita juga adalah impian semua orang. Laila pun begitu, gadis manja dan ceria itu selalu menyematkan do'a terbaik untuk kehidupan cintanya. Namun, wasiat Ibunya dan permintaan Ayah yang tak bisa ia tolak memaksa Laila untuk menikah dengan laki-laki yang bahkan jauh dari tipenya.
Siapakah sosok lelaki yang dijodohkan dengan Laila?
Apakah bisa Laila melewati perjodohan dan menjalani kehidupan pernikahan tanpa cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelarian Tengah Malam
Tiga minggu.
Bagi sebagian orang, tiga minggu mungkin hanya hitungan dia puluh satu hari yang berlalu begitu saja. Namun bagi Laila, tiga minggu terasa seperti bertahun-tahun. Hari-harinya berjalan lambat, dipenuhi rasa bersalah, kebingungan, dan kerinduan yang terus menggerogoti hatinya. Sejak menerima keputusan perjodohan dengan Arjuna, ia dan Devan memutuskan berhubungan secara backstreet.
Tetapi malam ini, benteng pertahanan itu runtuh. Dua minggu tanpa tatap mata, tanpa genggaman tangan, dan hanya mengandalkan pesan-pesan singkat. Rindu telah menjelma menjadi rasa sakit fisik yang nyata di dadanya. Ia tidak bisa lagi hanya menatap foto Devan di layar ponsel yang terkunci. Ia butuh Devan. Ia butuh pelukan hangat pria itu untuk meyakinkan dirinya bahwa ia masih hidup.
Laila meraih ponselnya dari atas nakas. Ia membuka galeri foto yang tersembunyi di balik folder rahasia. Begitu layar menampilkan foto Devan yang sedang tersenyum lebar ke arah kamera saat mereka merayakan kelulusan kuliah di Bali beberapa minggu lalu, air mata Laila langsung tumpah tak terbendung.
Ia memeluk ponselnya erat-erat di atas dada, meringkuk di atas kasurnya yang empuk sembari terisak pelan agar suaranya tidak menembus dinding kamar.
Laila melirik jam dinding kayu di kamarnya yang berdetak konstan. Pukul 23.40 WIB.
"Duh gak bisa gue gini terus, gue bisa mati. Pokoknya saat ini juga gue harus ketemu Devan," gumam Laila.
Laila kemudian membuka ruang obrolan mereka di aplikasi pesan singkat. Jari-jarinya menari di atas layar, mengetikkan untaian kata yang mengekspresikan betapa tersiksanya ia terpisah dari Devan.
"Devan sayang, aku gak bisa tahan lagi. Aku kangen kamu, ayok kita ketemuan sekarang." -Laila.
"Aku juga kangen sayang sama kamu, aku jemput kamu di depan gerbang komplek." -Devan.
Pesan dari Devan itu seperti hembusan angin segar di tengah ruang pengap yang membakar dada Laila. Jantungnya seketika berdegup kencang, bukan karena takut, melainkan karena dorongan nekat yang tiba-tiba menguasai logikanya.
Dengan tangan yang sedikit bergetar karena adrenalin yang mulai terpompa, Laila bangkit dari ranjang. Ia melangkah cepat menuju lemari pakaian. Piyama sutra merah mudanya segera dilapisi dengan jaket hoodie hitam longgar. Ia mengganti celana tidurnya dengan celana jins gelap yang melekat pas. Rambut panjangnya yang biasa digerai kini diikat kuda dengan kencang, lalu disembunyikan seluruhnya di balik kupluk hoodie.
Ia menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan lewat mulut. Tantangan pertama dimulai dari detik ini.
Laila mendekati pintu kamarnya. Tangan kanannya mencengkeram gagang pintu kuningan yang dingin. Mengingat ayahnya adalah seorang mantan tentara, naluri dan pendengaran pria tua itu masih sangat tajam meskipun kondisi fisiknya sedang menurun akibat penyakit jantung. Ditambah lagi, kamar sang ayah terletak tepat di ujung lorong lantai dua ini, hanya berjarak beberapa meter dari kamarnya.
Cklek.
Suara kunci yang bergeser terdengar bagai dentuman meriam di telinga Laila yang dirundung kepanikan. Ia langsung mematung. Matanya terpejam rapat, menahan napas hingga dadanya terasa nyeri.
Ia mendengarkan dengan seksama selama hampir satu menit, memastikan tidak ada suara langkah kaki atau deheman dari kamar ayahnya. Setelah dirasa aman, ia membuka pintu sedikit, menyelinap keluar, dan menutupnya kembali dengan kehati-hatian yang luar biasa.
Lorong lantai dua itu gelap gulita, hanya diterangi seberkas cahaya lampu jalan yang menembus kaca jendela atas. Laila melangkah tanpa alas kaki, membiarkan telapak kakinya yang mulai dingin bersentuhan langsung dengan lantai marmer yang beku. Setiap langkah dilakukannya dengan pelan-pelan.
Tangga yang menghubungkan lantai dua dan lantai satu ini dilapisi karpet beludru tebal. Laila mengembuskan napas lega berkat keberadaan karpet itu. Ia mulai menuruni anak tangga satu demi satu dengan tubuh membungkuk, menempel pada dinding, berusaha meminimalkan siluet tubuhnya jika tiba-tiba ada orang yang melihat dari bawah.
Setibanya di lantai satu, ketegangan semakin memuncak. Ruang tamu dan ruang keluarga yang luas tampak menyeramkan di bawah temaram malam. Laila mengarahkan pandangannya ke pintu utama. Mustahil keluar dari sana. Pintu kayu jati kembar itu dilengkapi dengan tiga slot kunci pengaman besar yang jika dibuka akan menimbulkan suara gemerincing logam yang nyaring. Satu-satunya jalan keluar yang paling aman adalah melalui pintu kaca geser di ruang keluarga yang menghadap langsung ke arah kolam renang dan taman belakang rumah.
Laila berjalan berjinjit melewati sofa ruang tamu. Tiba-tiba, ujung jempol kakinya menyenggol kaki meja sudut. Buk. Suara benturan fisik yang pelan, namun cukup membuat vas bunga kecil di atasnya bergetar.
"Sialan," ucap Laila dengan suara yang ia tahan. Laila mematung dan melihat sekeliling untuk memastikan suara benturan kecil tadi tidak mengundang ayahnya datang.
"Tolong, jangan bangun. Papi, tolong jangan bangun," doanya dalam hati dengan mata berkaca-kaca. Ketakutan terbesar Laila bukan hanya tertangkap basah, melainkan bayangan wajah ayahnya yang kecewa dan bisa saja memicu serangan jantung fatal lainnya.
Setelah tiga menit berada dalam posisi mematung dan memastikan rumah tetap dalam keadaan aman, Laila bangkit kembali. Ia melanjutkan langkahnya dengan tingkat kewaspadaan yang berlipat ganda hingga mencapai pintu kaca geser.
Kedua telapak tangannya yang basah menempel pada handle pintu. Dengan gerakan sedikit demi sedikit, ia mendorong pintu kaca itu ke samping. Sreeek... Suara gesekan halus antara rel logam dan roda pintu terdengar begitu nyaring di keheningan malam bagi telinga Laila. Begitu celah pintu dirasa cukup untuk ukuran tubuhnya yang ramping, ia segera menyelinap keluar ke area kolam renang.
Udara malam yang menusuk tulang langsung menerpa wajahnya, memberikan sensasi dingin yang sedikit meredakan kepanikan di kepalanya. Laila bergerak cepat, berjalan setengah membungkuk di bawah bayang-bayang pohon palem dan tanaman hias yang tertata rapi di tepi kolam.
Tujuannya adalah gerbang kecil di sudut paling belakang halaman, tempat yang biasanya digunakan untuk menaruh tempat sampah atau menerima pengiriman barang. Gerbang besi tempa itu tidak setinggi pagar utama, dan yang terpenting, kuncinya hanya berupa selot besi manual.
Laila meraba selot besi tersebut dalam kegelapan. Dengan sangat hati-hati, ia mengangkat selot itu agar tidak menimbulkan suara decitan besi berkarat. Klik. Gerbang terbuka. Laila melangkah keluar, lalu merapatkannya kembali.
Ia berhasil keluar dari area rumahnya. Namun, ketegangan belum berakhir. Ia kini berada di jalanan beraspal perumahan yang sepi dan diterangi oleh lampu-lampu jalan bercahaya kekuningan.
Laila menarik kupluk hoodie-nya lebih rendah hingga menutupi sebagian wajahnya. Ia mulai berjalan cepat menyusuri trotoar. Di kawasan seperti ini, seorang gadis yang berjalan sendirian di tengah malam dengan pakaian serbahitam pasti akan mengundang kecurigaan besar jika berpapasan dengan mobil patroli keamanan perumahan.
Dua kali Laila harus melompat dan bersembunyi di balik rimbunnya tanaman pagar rumah tetangga yang megah ketika mendengar suara deru mesin mobil dari kejauhan. Dadanya sesak oleh ketakutan bahwa mobil itu adalah mobil keamanan.
Setelah sepuluh menit berjalan dalam tekanan psikologis yang hebat, Laila akhirnya melihat siluet taman komplek di luar gerbang perumahannya. Di bawah pohon beringin yang rindang, seorang pria dengan jaket kulit cokelat duduk di atas motor dengan kepala tertunduk gelisah.
"Devan..." panggil Laila lirih, nyaris seperti bisikan angin malam.
Devan mendongak dengan cepat. Begitu matanya menangkap sosok Laila, ia langsung turun dari motor dan melangkah lebar. Tanpa memedulikan sekitar, Devan langsung menarik tubuh Laila ke dalam dekapannya yang erat dan hangat.
Pertahanan Laila runtuh seketika. Di dalam pelukan pria yang sangat dirindukannya itu, segala ketegangan yang menguras energinya sepanjang jalan tadi berubah menjadi isak tangis yang tertahan. Ia membenamkan wajahnya di dada Devan, meremas jaket kulit pria itu dengan sisa-sisa tenaganya.
"Aku kangen banget, Aku tersiksa di rumah," bisik Laila dengan suara parau bercampur tangis, melepaskan seluruh beban yang selama ini harus ia tanggung sendirian demi senyuman ayahnya.
Devan melepas pelukan Laila, ditatapnya lekat wajah pacarnya itu. "Kita cari tempat aman buat ngobrol ya." Devan menggandeng tangan Laila dan mengajak Laila pergi dari sana menggunakan motor.
beberapa menit berjalan menembus malam membuat Devan merasa bersalah karena membawa Laila tengah malam keluar menggunakan motor.
"Sayang, maafin aku ya malah bawa kamu pake motor gini malem-malem. Tadinya aku mau bawa mobil, tapi aku pikir akan lebih cepat kalo aku bawa motor," jelas Devan.
Laila yang berada di belakang justru menikmati angin malam ini. "Gak papa sayang, malah romantis tau malem-malem gini motoran," ujar Laila. Ia mengeratkan tangannya yang melingkar di pinggang Devan.
Setelah beberapa menit mencari tempat, motor Devan akhirnya berhenti di sebuah warung kopi (warkop) 24 jam di pinggir jalan raya, beberapa ratus meter dari batas kompleks. Di bawah temaram lampu neon warkop yang berkedip pelan dan aroma mi instan rebus bercampur asap rokok yang tipis, Devan dan Laila duduk di sudut paling pojok, berusaha menyembunyikan diri dari dunia luar.
Dua cangkir teh manis hangat yang mengepul diletakkan di atas meja kayu yang dilapisi spanduk bekas.
Devan menggenggam tangan Laila yang terasa dingin di atas meja. "Tangan kamu dingin banget, sayang. Masih gemetaran? Gara-gara nekat keluar tadi, ya?"
Laila tersenyum tipis, matanya menatap Devan lekat-lekat seolah ingin merekam setiap jengkal wajah kekasihnya. "Sedikit. Tapi setelah lihat kamu di sini, rasa takutnya agak hilang. Aku cuma... masih nggak percaya kita bisa duduk berdua kayak gini lagi, sayang," ujar Laila lembut.
"Tiga minggu ini rasanya kayak setahun buat aku, sayang. Tiap kali aku lewat depan jalan komplek rumah kamu, aku cuma bisa mandang dari jauh. Aku benci situasi ini. Aku benci harus ngeliat kamu disiapin buat jadi istri orang lain." ucap Devan sembari mengembuskan napas berat, ibu jarinya mengusap punggung tangan Laila.
"Aku juga benci, sayang. Kamu nggak tahu gimana rasanya fitting baju pengantin tapi otak dan hatiku cuma mikirin kamu. Aku harus pura-pura senyum di depan Papi, pura-pura dengerin semua nasihat pernikahan, padahal rasanya mau teriak," lirih Laila, tatapan matanya meredup, ada kesedihan yang tergambar jelas di sana.
Devan mendekatkan duduknya ke arah Laila. "Kapten itu... Arjuna. Dia sering ke rumah kamu? Dia ada hubungin kamu?" tanya Devan.
"Dia beberapa kali dateng, tapi cuma buat bicara sama Papi atau bahas dokumen pernikahan. Sumpah orangnya ngeselin parah, selalu memanfaatkan Papi buat bisa ketemu aku," cetus Laila, entahlah saat membicarakan Arjuna emosinya selalu naik.
Devan terdiam sejenak, menatap cangkir tehnya yang mulai mendingin. "Satu tahun, sayang kamu beneran yakin rencana satu tahun itu bakal berhasil? Menikah dengan perwira TNI AU itu nggak gampang. Lingkungannya ketat. Gimana kalau setelah nikah, dia batasin ruang gerak kamu dan kita nggak bisa ketemu lagi?" tanya Devan, sekaligus memastikan lagi rencana gila Laila ini.
Laila yang menggenggam erat tangan Devan, mencoba menyalurkan keyakinannya. "Aku yakin, sayang. Aku terpaksa melangkah sampai pelaminan demi kesehatan Papi. Tapi setelah setahun, begitu kondisi Papi benar-benar stabil dan dia sudah terbiasa melihatku mandiri, aku akan cari celah. Aku akan buat alasan ketidakcocokan yang logis biar kami bisa cerai baik-baik. Selama satu tahun itu, kita harus sabar. Kita backstreet dulu, ya? Tolong jangan menyerah sama aku."
"Aku nggak akan pernah menyerah, sayang. Aku bakal tunggu kamu. Tapi janji sama aku untuk jaga diri kamu baik-baik nanti. Jangan biarkan dia menyentuh hati kamu," ujar Devan.
"Aku janji, sayang. Di hati aku cuma ada kamu. Selamanya." Laila memeluk Devan erat.
Laila melirik jam dinding warkop yang sudah menunjukkan pukul 01.20 dini hari. Ketegangan itu kembali merayap di dadanya. Ia tahu, waktu bebasnya malam ini sudah habis dan ia harus segera kembali ke kamarnya sebelum sang ayah menyadari ketiadaannya. Laila segera melepas pelukannya dengan Devan, lalu cepat mengajak Devan kembali ke rumah.
Saat kembali ke rumah Laila dengan hati-hati seperti saat keluar tadi, namun karena terlalu gugup ia tak sengaja menyenggol pajangan kapal kayu yang berada di ruang keluarga. Matanya melirik ke atas, tubuhnya mematung. Namun semua masih aman terkendali, suara gaduh tadi tidak membangun sang ayah.
Saat Laila hendak menaiki anak tangga, ia dikejutkan dengan suara langkah kaki dari lantai atas...
...Bersambung......