Hamida, 25 tahun, kehilangan putra semata wayangnya, Harapan, yang meninggal pada usia delapan tahun.
Konon, tidak ada sebutan bagi orang tua yang kehilangan anaknya. Sebab duka itu begitu besar hingga tak mampu diwakili oleh satu kata pun. Bagi Hamida, kepergian Harapan meninggalkan kehampaan yang tak pernah bisa diisi kembali.
Namun, luka itu menjadi semakin dalam ketika kematian Harapan yang penuh kejanggalan justru dinyatakan sebagai kecelakaan. Kebenaran diputarbalikkan karena pelaku adalah anak dari seorang tokoh berpengaruh yang memiliki kekuasaan dan mampu membungkam banyak orang.
Di tengah tekanan, ancaman, dan berbagai upaya untuk menghentikannya, Hamida memilih untuk tidak menyerah. Dengan didampingi seorang pengacara muda idealis bernama Afandi Harahap, ia berjuang mengungkap kebenaran dan menuntut keadilan bagi putranya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2
Tubuh Hamida bergetar hebat. Ia meraih brankar itu, mengusap wajah Harapan yang samar terlihat di balik balutan kain kafan. Tangisnya pecah tanpa mampu lagi dibendung. "Harapan... maafkan Ibu, Nak... Ibu bahkan tidak sempat memandikanmu untuk terakhir kalinya...." Tak seorang pun berani menyela.
Kak Dewi hanya memeluk Hamida dari belakang, sementara matanya perlahan tertuju pada kain kafan yang membungkus tubuh Harapan. Keningnya berkerut. Di bagian pinggang sebelah kiri, kain putih itu mulai berubah warna. Merah. Seperti ada darah yang perlahan merembes dari dalam. Kak Dewi mendekat beberapa langkah. Tatapannya semakin tajam. "Mida" bisiknya pelan. "Ada yang tidak beres."
Hamida mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata.
"Kamu lihat itu?"
Hamida mengikuti arah telunjuk Kak Dewi. Napasnya seketika tercekat. Darah masih merembes dari balik kain kafan, membasahi kain putih yang seharusnya tetap bersih. Dengan tangan gemetar ia menyentuh bagian yang basah itu. Ketika telapak tangannya diangkat, jari-jarinya dipenuhi darah yang belum mengering.
Kak Dewi menatap tubuh Harapan dengan wajah penuh tanda tanya. "Mi... apa benar Harapan meninggal karena tenggelam?"
Pertanyaan sederhana itu membuat Hamida terdiam. Pikirannya kembali pada saat pertama kali melihat putranya di tepi bendungan. Wajah Harapan lebam. Pelipisnya membiru. Siku dan lututnya penuh lecet. Ada luka tapi pastinya Mida tidak tahu, luka yang masih mengeluarkan darah.
Kalau benar tenggelam Kenapa tubuhnya babak belur seperti habis dipukuli?
Hamida menggigit bibirnya kuat-kuat. Harapan bukan anak yang takut air. Sejak kecil, putranya sering bermain di sungai bersama teman-temannya. Bahkan ia sudah pandai berenang sebelum duduk di bangku sekolah dasar. Lagi pula, sungai itu bukan sungai yang dalam. Sudah berbulan-bulan hujan tak turun. Musim kemarau membuat air bendungan menyusut hingga hanya setinggi dada orang dewasa.
Lalu Bagaimana mungkin anak yang pandai berenang bisa tenggelam di sungai yang bahkan tidak terlalu dalam? Semakin dipikirkan, semakin banyak pertanyaan yang tak menemukan jawaban.
Kak Dewi mendekat, lalu membisikkan sesuatu yang mengubah arah perjuangan Hamida. "Mi... jangan langsung dimakamkan."
Hamida menoleh.
"Mintalah anakmu diotopsi. Kalau memang ini kecelakaan, hasil otopsi akan membuktikannya. Tapi kalau bukan..." Kak Dewi menghentikan ucapannya sejenak. "Kita harus tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Harapan."
Ucapan Kak Dewi terus terngiang di kepala Hamida. Tatapannya tak pernah lepas dari tubuh Harapan yang telah dibalut kain kafan. Air mata kembali jatuh tanpa henti. Ada sesuatu yang tidak masuk akal. Luka-luka di tubuh putranya, darah yang masih merembes dari balik kain kafan, dan sungai yang bahkan tidak terlalu dalam.
Dengan langkah tergesa, Hamida mencari petugas rumah sakit. "Pak..." suaranya bergetar. "Saya minta anak saya jangan dimakamkan dulu."
Petugas itu menoleh.
"Saya ingin Harapan diotopsi."
"Otopsi?" ulang petugas tersebut.
"Iya. Saya ingin tahu penyebab kematian anak saya yang sebenarnya."
Petugas itu tampak ragu. "Kalau memang keluarga menghendaki, nanti harus ada persetujuan tertulis."
Hamida mengangguk cepat. "Saya ibunya. Saya yang bertanggung jawab. Tolong... jangan serahkan jenazah anak saya dulu sebelum dilakukan otopsi."
Untuk pertama kalinya sejak Harapan ditemukan tak bernyawa, Hamida merasa ia harus melakukan sesuatu. Ia tak lagi hanya menangis. Seorang ibu yang kehilangan anaknya mungkin tak mampu menghidupkan kembali putranya, tetapi ia masih bisa memperjuangkan kebenaran tentang kematiannya.
Belum sempat petugas menyiapkan berkas persetujuan otopsi, lorong rumah sakit mendadak ramai. Keluarga besar dari pihak mantan suami Hamida datang berbondong-bondong. Begitu mendengar Hamida meminta otopsi, wajah mereka berubah.
"Mida!" bentak seorang paman Harapan. "Apa-apaan kamu?"
Hamida menoleh dengan mata sembab. "Saya cuma ingin tahu kenapa anak saya meninggal."
"Bukan begitu caranya!" sahut seorang bibi sambil menunjuk wajah Hamida. "Kamu tahu nggak apa itu otopsi?"
Hamida terdiam.
"Anakmu bakal dibelah! Dadanya dibuka! Tubuhnya dipotong-potong! Sudah meninggal masih mau kamu siksa?"
Tangis Hamida pecah lagi. "Saya cuma..."
"Jangan cuma! Kamu ini ibu macam apa?" hardik yang lain. "Mayat harus segera dimakamkan. Menunda pemakaman itu menyiksa jenazah."
"Kalau memang takdirnya tenggelam, ya terima saja! Jangan bikin ribut."
"Tapi tubuh Harapan banyak luka..." suara Hamida lirih.
"Itu karena hanyut!" potong seseorang.
"Masih ngeyel juga."
"Kamu mau seluruh kampung menganggap keluarga kita macam-macam?"
"Sudahlah, Mida. Ikhlaskan."
Hamida menggeleng pelan. Air matanya tak berhenti mengalir. "Kalau memang ini kecelakaan... kenapa semua orang takut diotopsi?"
Kalimat itu membuat suasana seketika hening. Tak ada yang menjawab. Namun beberapa detik kemudian, suara-suara itu kembali menyerangnya, lebih keras dari sebelumnya.
"Kamu sudah stres!"
"Gila!"
"Ibu macam apa membiarkan anaknya dibedah?"
"Harapan sudah cukup menderita. Jangan tambah penderitaannya."
Ucapan demi ucapan menghantam hati Hamida. Ia berdiri sendirian di tengah lorong rumah sakit, dikepung oleh orang-orang yang seharusnya menguatkannya.
Kak Dewi berusaha membela. "Otopsi bukan untuk menyiksa jenazah. Itu untuk mencari penyebab kematian."
"Tidak usah ikut campur! Ini urusan keluarga kami!" bentak salah seorang kerabat.
Hamida menundukkan kepala. Tangannya mengepal erat hingga kuku-kukunya menusuk telapak sendiri. Di hadapannya, petugas rumah sakit hanya bisa menunggu keputusan keluarga. Akhirnya Dengan suara yang nyaris tak terdengar, Hamida berkata, "Kalau memang kalian semua menolak..." Ia menatap tubuh Harapan untuk terakhir kalinya. "...makamkan saja anakku." Kalimat itu keluar dari bibirnya, tetapi seumur hidup ia tak pernah memaafkan dirinya karena telah mengucapkannya.
***
Mobil jenazah berjalan perlahan menuju pemakaman umum di ujung kampung. Di belakangnya, beberapa sepeda motor dan mobil keluarga mengikuti tanpa banyak percakapan. Hamida duduk diam di dalam mobil, memeluk foto kecil Harapan yang selalu ia simpan di dompet. Air matanya tak pernah berhenti mengalir sejak tadi. Berkali-kali ia menoleh ke arah mobil jenazah di depan, berharap semua ini hanyalah mimpi buruk yang sebentar lagi berakhir. Namun setiap meter perjalanan justru semakin membawa putra semata wayangnya menjauh darinya.
Dadanya dipenuhi penyesalan. Apa keputusannya tadi sudah benar? Haruskah ia mempertahankan permintaan otopsi itu, meski seluruh keluarga menentangnya? Atau memang mereka yang benar? Hamida tak tahu. Ia benar-benar tak tahu.
Seumur hidupnya, tak pernah ada yang mengajarinya bagaimana mengambil keputusan sebesar ini. Kedua orang tuanya telah meninggal ketika ia masih belasan tahun. Setelah itu, ia dibesarkan seadanya oleh kerabat yang lebih sibuk memikirkan beban hidup mereka sendiri. Begitu lulus SMA, bukannya diberi kesempatan kuliah atau bekerja, ia justru dinikahkan. Katanya, perempuan tak perlu sekolah tinggi. Tugasnya hanya mengurus rumah, melayani suami, lalu membesarkan anak. Dan Hamida menjalani semuanya.
Dunianya perlahan mengecil. Ia tak punya teman. Tak punya tempat bercerita. Tak mengerti hukum. Tak mengenal siapa pun di luar kampungnya. Hidupnya hanya berputar di antara rumah, pabrik tahu, dan seorang anak laki-laki bernama Harapan.