"Kalau bukan karena Ayah, aku tidak akan pernah menikah dengan pria sepertimu."
Ayla Pradana terpaksa menerima perjodohan demi menyelamatkan perusahaan keluarganya yang hampir bangkrut. Masalahnya, pria yang harus ia nikahi adalah Arsen Wijaya—musuh bebuyutan kakaknya, Gavin.
Selama bertahun-tahun, Gavin selalu mengatakan bahwa Arsen adalah pria licik yang menghancurkan hidupnya. Ayla pun membencinya tanpa pernah mengenalnya lebih dalam.
Namun, setelah menikah, Ayla justru menemukan sisi Arsen yang sama sekali berbeda. Di balik sikap dingin dan tatapannya yang tajam, ada rahasia besar yang sengaja disembunyikan dari keluarganya.
Semakin dekat dengannya, semakin Ayla sadar...
Mungkin selama ini orang yang ia percaya bukanlah pihak yang benar.
Dan ketika kebenaran terungkap, ia harus memilih:
keluarganya... atau pria yang kini menjadi suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nourayl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 | Potongan Kenangan
Malam itu, hujan turun perlahan membasahi halaman rumah keluarga Mahendra.
Suasana rumah yang biasanya tenang justru terasa semakin sunyi.
Di dalam kamar, Ayla duduk di tepi ranjang sambil memandangi amplop cokelat yang sejak sore tadi belum berani ia buka lagi.
Entah sudah berapa kali ia menarik napas panjang.
Namun setiap kali mengingat tulisan di balik foto itu, jantungnya kembali berdebar.
"Kau juga ada di sana malam itu, Ayla."
"Kenapa harus aku...?"
gumamnya lirih.
Perlahan ia mengeluarkan kembali foto yang sudah mulai kusut karena terlalu sering digenggam.
Tatapannya berhenti pada mobil yang ringsek di pinggir jalan.
Semakin lama ia memperhatikan foto itu, semakin aneh perasaannya.
Seolah-olah...
Ia pernah melihat tempat itu.
Bahkan pernah berada di sana.
"Apa aku benar-benar lupa sesuatu...?"
Tok.
Tok.
Tok.
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya.
Dengan cepat Ayla memasukkan kembali foto itu ke dalam amplop.
"Masuk."
Pintu terbuka perlahan.
Arsen berdiri di ambang pintu dengan wajah yang masih sama datarnya.
"Aku mengganggu?"
Ayla menggeleng pelan.
"Nggak."
Arsen melangkah masuk.
Pandangannya sekilas menangkap amplop cokelat yang belum sepenuhnya masuk ke dalam laci.
Namun ia memilih tidak bertanya.
"Aku dengar kamu belum makan malam."
"Aku belum lapar."
"Kalau begitu temani aku."
Ayla mengernyit.
"Temani makan?"
Arsen mengangguk singkat.
"Aku juga belum makan."
Untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, Arsen mengajaknya makan tanpa alasan pekerjaan.
Meski sedikit canggung, Ayla akhirnya mengangguk.
__________________________________________
Di ruang makan...
Suasana kembali dipenuhi keheningan.
Hanya suara sendok yang sesekali beradu dengan piring.
Ayla beberapa kali mencuri pandang.
Wajah Arsen tampak lebih lelah dibanding biasanya.
Lingkar hitam tipis mulai terlihat di bawah matanya.
"Pak..."
Arsen mengangkat kepala.
"Boleh aku bertanya sesuatu?"
"Tergantung pertanyaannya."
Ayla menggigit bibir bawahnya.
"Tahun 2019..."
Sendok di tangan Arsen berhenti bergerak.
"...apa benar pernah terjadi kecelakaan besar yang berhubungan dengan keluarga Mahendra?"
Ruangan seketika menjadi sunyi.
Tatapan Arsen berubah sulit ditebak.
"Dari mana kamu mendengar itu?"
Ayla langsung gugup.
"Aku... cuma tidak sengaja mendengarnya."
Arsen tidak langsung menjawab.
Ia meletakkan sendoknya perlahan.
"Lupakan."
"Hah?"
"Semakin sedikit yang kamu tahu..."
"...semakin aman untukmu."
Kalimat itu justru membuat rasa penasaran Ayla semakin besar.
__________________________________________
Keesokan paginya...
Raka memasuki ruang kerja Arsen sambil membawa sebuah map berwarna merah.
"Pak."
"Silakan."
"Kami berhasil menemukan identitas asli teknisi vendor itu."
Arsen langsung menutup laptopnya.
"Siapa dia?"
Raka membuka map tersebut.
"Namanya palsu."
"Tapi wajahnya pernah terekam dalam sebuah kasus tujuh tahun lalu."
Raka menyodorkan selembar foto.
Sorot mata Arsen langsung menajam.
Pria dalam foto itu berdiri di depan sebuah gudang tua.
Di belakangnya...
Terlihat seseorang yang wajahnya hanya tampak setengah karena tertutup bayangan.
Arsen mengepalkan tangannya.
"Lagi..."
"Orang yang sama."
"Pak mengenalnya?"
Arsen menggeleng pelan.
"Bukan."
"Aku belum mengenalnya."
"Tapi..."
"Dia selalu muncul di setiap kejadian."
_________________________________________
Di tempat yang berbeda...
Pria bertopeng sedang berdiri menghadap jendela besar.
Salah seorang bawahannya datang tergesa.
"Tuan."
"Ada kabar."
Pria bertopeng tidak menoleh.
"Arsen sudah menemukan jejak berikutnya."
"Itu memang tujuan kita."
"Tapi ada masalah."
Pria bertopeng akhirnya berbalik.
"Apa?"
Bawahannya menelan ludah.
"Nona Ayla mulai mencari tahu sendiri tentang kejadian tahun 2019."
Beberapa detik...
Ruangan dipenuhi keheningan.
Lalu...
Pria bertopeng tersenyum tipis.
"Bahkan lebih cepat dari perkiraanku."
"Apakah kita harus menghentikannya?"
"Tidak."
Suara pria itu terdengar tenang.
"Biarkan dia mencari."
"Karena semakin banyak yang dia temukan..."
"...semakin dekat dia pada kebenaran."
Ia mengambil sebuah kotak kayu tua dari dalam lemari.
Kotak itu dibuka perlahan.
Di dalamnya hanya ada satu benda.
Sebuah kalung berbentuk bulan sabit.
Pria bertopeng menggenggam kalung itu erat.
Tatapannya berubah sendu.
"Aku sudah menunggu hari ini..."
"...selama tujuh tahun."
Bersambung...