NovelToon NovelToon
Telapak Tangan Ranaa

Telapak Tangan Ranaa

Status: tamat
Genre:Supernatural / Patahhati / Spiritual / Tamat
Popularitas:807.5k
Nilai: 5
Nama Author: Kuni Umdatun

KISAH SANTRI PESANTREN MANBAUS SALAM. NO PROMO!
✍️ NASKAH DALAM PROSES REVISI. Please jika ada kesalahan tulisan, mohon tulis di kolom komentar, ya. Atau, apa pun segala yang berhubungan dengan cerita.

Kesedihan, tawa, romantisme hubungan pernikahan, kemarahan, mawas diri, muhasabah, cinta dan akhlak seorang santri.

⚠️⚠️ Plagiat? Langsung sy serahkan urusan itu antara Anda dg Tuhan.🙏 Cerita ini tidak terinspirasi dr satu pun novel di platform ini.

Novel pembangun jiwa yang dilatarbelakangi pesantren salaf milik seorang Yai Makrus dan Bu Nyai Hindun.

Kisah kasih perjuangan santri yang ingin menggapai surga dengan jalan menghafalkan Alquran. Penuh tirakat, ujian, berlomba-lomba ngalap berkah.

Ranaa ialah putri kesayangan aba yg bercita-cita menjadi hafizah mutqin. Sayangnya, harapan tak semanis dengan realitanya.

Melalui ujian dan seluruh keluh kesah yang dialaminya, bagaimana caranya dia memperjuangkan Alquran? Caranya menjaga hati sahabat-sahabatnya? Teguh di atas kaki sendiri hingga dia dipertemukan dengan kekasih hati yang sebenarnya.

Wahai Merpati Putihku, jika suatu saat kamu terbang jauh, ingatlah bahwa Tuanmu ada di sini yang setia menunggu." Begitu kata sang kekasih di suatu malam penuh bintang gemintang, tapi disertai ratapan tak biasa.

Bagaimana kelanjutannya? Check it out.

👉 Tempat dan nama tidak berhubungan dengan siapa pun.

Selamat membaca. Semoga dapat diambil manfaat dan ibrahnya. 🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kuni Umdatun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Fastabiqul Khairat

⚠️⚠️Demi memudahkan pembaca, bagi yang tidak memahami bahasa jawa, langsung pergi ke kata yang bertanda kurung (terjemahannya). Abaikan cetak miring. Setiap pengulangan bahasa jawa, tetap saya berikan terjemahan meskipun kata tersebut telah diulang sebelumnya.

🌹🌹🌹

Jika ada yg ditanyakan bisa tulis di kolom komentar. 😊🙏

🌷(Masuk cerita) 🌷

Seminggu terasa sejumat. Kegiatan pondok sudah mulai aktif sejak tadi pagi. Peraturan pondok yang kudengar sebegitu banyaknya kembali wajib ditaati semua santri yang sudah kembali. Rentetan peraturan yang jumlahnya mungkin sekitar dua puluhan di-dhawuh-kan (dikatakan) langsung Ning Naina dan selebihnya diperjelas semua pengurus saat sosialisasi tadi malam. Dan, agar memudahkan santri-santri baru mengingatnya lembar peraturan ditempel di tembok di depan kamar.

“Ada berapa Mbak santri barunya? Aku lupa?” Dia juga santri baru sepertiku. Sekamar denganku. Namanya Ambar. Nama yang kejawen (kejawa-jawaan). Jadi, jelas dia orang jawa. Tepatnya Banyuwangi. Usianya lebih muda dua tahun dariku.

“Ada tiga puluh enam kata Mbak Suhaa tadi malam,” kataku sambil kembali membaca peraturan—komat-kamit menghafalkannya.

Tidak ada penyeleksian santri yang masuk. Namun, ada kelas intensif lancar membaca Alquran bagi santri yang masih terbata-bata atau belum bisa membaca Alquran. Santri-santri ini nantinya akan dipegang oleh semua pengurus devisi pendidikan yang jumlahnya ada enam orang. Tidak ada minimal usia yang ditentukan. Remaja dan dewasa berbaur mencari ilmu dan ngalap (mencari) barakah bersama-sama. Berlomba-lomba dalam kebaikan setiap langkah menuju tujuan yang sama kenapa ada di pesantren ini. Dan, wajib memberikan panggilan mbak atau sejenisnya kepada santri, baik lama atau baru; tua atau muda. Dilarang langsung memanggil nama—demi menjalin kerukunan antar santri.

Sembilan puluh lima persen santri kembali. Sebagian santri lama boyong menyandang sebutan hafizah mutqin. Ditambah santri baru yang jumlahnya sepuluh persen lebih banyak dari penerimaan santri baru (PSB) tahun kemarin. Santri lama kembali dengan wajah beraneka ragam. Masih digerayangi kenyaman suasana di rumah—serba kecukupan dan tidak kekurangan. Wajah-wajah menjadi semrawut—kembali tidak kembali tidak. Namun, tuntutan peraturanlah yang memaksa mereka wajib ‘ain kembali kemarin siang tepat pukul dua siang. Telat kembali lebih dari lima belas menit rentan terkena ancaman maut. Ro’an (menguras) tandon, semen satu sak, bersih-bersih ndalem satu minggu, dan ngaji satu juz dengan tartil ba’da subuh di aula. Maka, telat setengah jam berlaku kelipatannya. Tapi bagi wajah penuh semangat, pasti mereka rindu. Cepat-cepat ingin kembali. Mereka mencintai keluarganya di pesantren sini. Tidak ada bedanya tingga di rumah ataupun di pondok. Contohnya mbak-mbak yang lebih kerasan, tidak ingin pulang meski santri lainnya rewel pulang ketika liburan tiba.

Tergantung bagaimana sudut pandang pemikiran setiap santri. Bagiku, ini hanya masalah soal tirakat dan bukan. Yang membuat kita sering malas kembali ke pondok adalah soal kebebasan. Di rumah: bebas makan, tidur, mandi, ngobrol, ngaji, tanggung jawab, bermain gadget, dan lain-lain. Sedagkan, di pondok: haram gadget, makan tidak bisa sepuasnya, tidur tidak bisa sembarang waktu, disuruh ini itu, wajib jamaah lima waktu, ngaji terjadwal, dan semuanya penuh dengan tanggung jawab dan penuh risiko hukuman. Itu wajar karena jika tidak ada perbedaan antara rumah dengan pondok, mana mungkin pesantren disebut sebagai tempat tirakat.

“Kita saling membantu, Mbak, ya. Aku ngaleman (manja). Aku hafalan disuruh Ibuku. Ke sini itu modal manut saja."

Aku menatapnya. “Insyaallah lancar pokok manut. Kita gunakan jargon fastabiqul khairat. Berlomba-lombalah dalam kebaikan! Kalau ingat itu, insyaallah nanti semangat terus. Aku akan menggenggammu dengan telapak tanganku. Kita saling menguatkan, ya."

Mbak Ambar sedikit melongo.

“Kenapa lo, Mbak Ambar? Wajahmu lucu.” Aku menyentuh pipinya sambil tertawa kecil.

“Kamu itu....."

“Itu?"

Pukul tujuh lebih lima belas menit. Bel yang sangat nyaring diiringi peringatan dari sound sedangkan berbunyi. Bagaikan suara sangkakala. Mengagetkan. Menghamburkan seluruh santri. Suara berdebum langkah kaki mengiringi perubahan warna langit—matahari meninggi.

“Yuk, duha! Wudu dulu.”

“Kamu aja, Mbak. Aku belum batal."

“Ya tidak apa-apa to. Daimul (menjaga) wudu biar wajahmu tambah kinclong, Mbak Mbar.” Aku menyisir pipinya yang menul-menul banget sambil tersenyum. Lalu, beringsut pergi tanpa menunggu dia bergerak.

“Tunggu, Mbak. Aku tidak mau disuruh baca istigfar ping seribu kalau masbuk.” Dia berseru lantang sambil berlarian membututiku. Sejak kemarin dia yang paling nempel denganku.

Santri-santri berhamburan seperti semut. Yang di atas berduyun-duyun turun. Tergesa-gesa memakai jilbabnya di tengah pintu. Ada yang malah kelupaan saat sudah keluar kamar, lalu menyerbot seadanya entah jilbab siapa. Lalu, berebut sandal. Tapi, jangan sampai ada yang gaṣab. Tulisan itu tertempel di setiap tiang teras. Ning Naina dhawuh yen gaṣab iku ngrugekne wong liyo (berkata kalau gasab itu merugikan orang lain) Santri-santri yang mendapatkan antrean wudu pertama akan selamat dari hukuman. Makanya, yang belakang menggerutu bilang menyuruh cepat-cepat.

“Aku, mah, nyantai saja.” Santri belakang sendiri menyedekapkan tangan saat aku berdoa di depannya.

“Iya, Mbak. Penting lillahi ta’ala.

“Cocok."

Dia kembali menyandarkan punggungnya di tiang besi.

Kesempatan wudu hanya diberikan waktu lima belas menit.

Tepat pukul setengah delapan duha dimulai. Bu Nyai Hindun dan Ning Naina akan bergiliran mengimami. Hari ini jadwal bu nyai.

“Assalamu’alaikum warahmatullah.” Dua kali. Salam kanan kiri.

Rentetan wirid dan doa dibaca sampai setengah jam kemudian. Aurat istigasah dibaca runtut oleh suara pelan bu nyai. Maka, semua santri pun dianjurkan dengan keras menirukan. Pengurus yang uzur masih turut andil mengawasi dari belakang santri-santri yang mengantuk. Mereka membawa semprotan air.

Aku mencoba menengok pelan ke belakang. Jumlah santri yang menjelma seperti burung pelatuk tidak sebanyak ketika saat tahajud. Aku bisa tertawa terpingkal-pingkal jika ingat tadi pagi. Barang siapa yang bisa melawan ngantuk saat beribadah dialah yang menang dalam kebaikan. Fastabiqul khairat.

Pukul delapan.

Musala berubah sepi. Penghuninya pindah ke aula untuk kegiatan selanjutnya yaitu ngaos (ngaji/ membaca) nambah ayat. Sama sewaktu ba’da subuh tadi. Ngaos (membaca) nambah ayat dijadwal dua kali ba’da subuh dan ba’da duha. Ngaos tanpa pendampingan bu nyai dan Ning Naina. Sedangkan, ba’da zuhur setoran nambah dengan bu nyai dan Ning Naina. Lalu, ba’da asar ngaos kitab kuning bersama yai, Gus Alba, atau Gus Adnan. Gus Asyam tidak terjadwal. Ba’da magrib dan isya lanjut setoran nambah dan muraja’ah. Santri yang masih belajar membaca Alquran dijadwal tiga kali ngaos saja, subuh, duha, dan zuhur. Ba’da magrib dan isya digunakan enam devisi pendidikan tersebut untuk muraja’ah kembali bolak-balik tiga puluh juz. Mereka pun tetap diberikan kesempatan meskipun mereka sebetulnya adalah santri ngabdi.

Kapan jadwal tidur siang? Sebelum zuhur. Atau, disela sewaktu ngaos bagi yang tidak kuat menahan kantuk. Rasa kantuk itu tak ubahnya jailangkung. Datang tak dijemput. Baru membaca taawuz mata sudah terasa berat dan pedas. Bangun-bangun setelah wallahu a'lamu bis sawab. Dulu aku lumayan sering seperti itu di MAN. Dan, yang paling memalukan kepergok ngiler di bangku. Diam-diam diusap dengan jilbab sambil celingukan. []

1
Khusnul Khotimah
tidak ada karya lg kak..?
Dicha Humairah Assalafy
karyamu bner² gk bsa d ucap kta² kak, ini bukan sekedar novel tp jga pembelajaran. jrg ada penulis sperti kak kuni. smga sehat trus kak agar bsa berkarya lebih bnyak lgi tentunya aq ska yg genre islami sperti telapak tangan rana. barakallah slam dri rembang.
🇮🇩كون كوني🇮🇩: aamiin aamiin. makasih banyak kak sudah berkenan membaca karya ini. semoga Allah balas dg kebaikan.. ☺☺🙏
total 1 replies
Maura
kasih visual thor makasih
🇮🇩كون كوني🇮🇩: visual sesuai dengan bayangan masih2 kak. biar kreatip dan solutip😁
total 1 replies
❤muslimah❤
ya rabb.. degdegan.. kalau aku jadi ning rana... pasti langsung pulang saja
❤muslimah❤
ya Allah.. pangling thor.. bener2 kaget. soalnya ini daerah aku. kok bisa ya hamil gede berani maen kesini.. ya Allah.. takut ama janin. tp
❤muslimah❤
astaghfirullah.. lagi hamil mau pergi jauh tanpa mahram pula😭
❤muslimah❤
lembang, jalanannya terjal. bahaya lho buat bumil
❤muslimah❤
maasyaaAllah.. aku asli pinrang lho author. apa jangan-jangan ini kisah nyata?
❤muslimah❤
males sama salma. hafidzah tp hatinya dan niat ngajinya gak lurus.
❤muslimah❤
kalau aku jadi rana, malah menciut. makin nd percaya diri mendampingi gus asyam
❤muslimah❤
yang berhak atas raanaa, abahnya dan ranaa sendiri. bukan yai lah. masa gak berani ngomong pendapat
🇮🇩كون كوني🇮🇩: saking ta'dzimnya..dan terdukung oleh hal lain, yg nanti bisa terbaca saat episodenya sudah banyak🙏
total 1 replies
Rahmadina
Wah cobaan menjelang pernikahan
dengan datangnya mantan☺️
Runa💖💓
Karya yg luar biasa penulisannya, penuh inspirasi
Rahmadina
trimakasih ilmunya kak Kuni
akan kucoba
Rahmadina
Abah yai Makrus sosok yg salih
menjodohkan Rana dan Asyam sejak kecil ya....
Rahmadina
berarti Gus Asyam sudah suka ya Sama Rana🤔🤔🤔
Rahmadina
Ceritanya asyik kak
penuh dengan pelajaran
dan sisi religi kita memang sekali2. kadang merindukan ketenangan dalam hidup , novel yg pas untuk selalu ingat akan Sang Maha Pencipta
Rahmadina
ceritanya asyik kak
meskipun disela2 waktu kita harus tetap lihat Akhirat ya😊😊
Fastabiqul Khoirot
terimakasih sudah membuat novel sebagus dan bermanfaat
Rahmadina
Novel yg penuh pelajaran berharga, sangat berbeda dengan yg lainnya
May86
MashaAllah..
maturswn sanget thor..
karya nya begitu luar biasa..
di bab bab tertentu cmn bs komen MashaAllah sambil berderai,meresapi karya panjenengan..
🇮🇩كون كوني🇮🇩: aamiin ya mujib.. 😊😊🙏🙏
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!