NovelToon NovelToon
Logika Diatas Cinta

Logika Diatas Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Seeula

Nadine Lavena membatalkan pernikahannya tiga minggu sebelum hari H setelah membongkar perselingkuhan tunangannya, Heyden Ames, di depan diskusi formal dua keluarga besar. Pengkhianatan itu membangkitkan trauma masa kecil saat dibuang ibu kandungnya, membuat Nadine skeptis pada cinta dan hanya memercayai uang.
Seminggu kemudian, di sebuah restoran industrial, Nadine menyaksikan Kyle Ernest pewaris bisnis sedingin es disiram air oleh teman kencan butanya akibat klausul pernikahan kontrak yang teramat kaku. Senyum sinis Nadine memicu harga diri Kyle yang angkuh hingga melayangkan tantangan gila: pernikahan kontrak tiga tahun dengan gaji 100 juta per bulan dan denda pembatalan 30 miliar.
Nadine menerima tantangan itu demi uang, murni sebagai mitra kerja. Namun, Kyle tidak menduga bahwa di balik sikap acuh tak acuh Nadine, wanita itu menyimpan kecerdikan tajam untuk menghadapi badai fitnah dari Kinara Inka, masa lalu Kyle yang licik yang tiba-tiba kembali untuk merebut segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seeula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23: Strategi Perlindungan dan Detak Jantung yang Mengkhianati

​Nadine terengah pelan, merasakan sentuhan jemari Kyle yang terasa dingin namun mencengkeram pergelangan tangan lentiknya dengan kekuatan yang tidak bisa didebat di dalam kegelapan kamar tidur sayap barat yang sunyi.

​"Lepaskan tangan saya sekarang juga, atau saya akan mengenakan biaya tambahan atas pelanggaran privasi malam hari sebesar sepuluh juta rupiah per detik."

​"Simpan dulu kalkulator di kepala Anda itu, Nadine, karena panik hanya akan membuat Anda mengambil keputusan finansial yang salah."

​Kyle menarik ponsel dari genggaman lentik Nadine dengan gerakan yang sangat tenang, lalu meletakkannya di atas pangkuannya sendiri agar sang istri tidak bisa mengaksesnya secara gegabah.

​(Pria ini benar-benar sangat menyebalkan, berani-beraninya dia menyita alat kerja utama saya yang bernilai miliaran rupiah saat situasi sedang kritis seperti ini!)

​Nadine mencoba merebut kembali benda pipih itu dengan gerakan maju yang terburu-buru, namun kecerobohan alaminya justru membuat tubuhnya condong ke depan hingga menabrak dada bidang Kyle sekali lagi.

​Kyle tidak mundur sedikit pun, justru menggunakan lengan kirinya untuk menahan pinggang Nadine agar wanita itu tidak terjatuh dari tepi ranjang akibat ketidakseimbangan posisinya.

​Napas hangat Kyle berembus tepat di puncak kepala Nadine, menciptakan getaran halus yang anehnya langsung merambat turun ke sepanjang tulang belakang wanita itu.

​Jantung Nadine mendadak berdegup dua kali lebih cepat, bukan lagi karena ancaman peretas asing yang sedang mengincar akun bisnisnya, melainkan karena keintiman fisik yang terlampau mendadak ini.

​"Tindakan peretasan dari Singapura itu sudah diantisipasi oleh tim teknologi informasi internal saya sejak dua jam yang lalu."

​Kyle menunjukkan layar ponselnya sendiri yang menampilkan grafik pertahanan siber yang stabil dan laporan penanganan ancaman siber yang telah berhasil dikunci.

​@Sistem keamanan siber: Status aman, upaya peretasan berhasil diblokir sepenuhnya.@

​Nadine menatap layar tersebut dengan napas yang masih sedikit memburu, merasa lega karena asetnya aman sekaligus kesal karena telah dikelabui oleh kepanikannya sendiri di depan suaminya.

​"Jika semuanya sudah aman, lalu untuk apa Anda menahan tangan saya dengan cara seketat ini?"

​"Saya hanya memastikan istri kontrak saya yang ceroboh ini tidak mengacaukan sistem pertahanan yang sudah saya bayar mahal dengan tindakan impulsifnya."

​Kyle melepaskan genggaman tangannya perlahan dari pergelangan tangan Nadine, namun matanya tetap menatap lekat wajah cantik sang istri yang berada sangat dekat dengannya.

​(Dia selalu saja mencari alasan logis untuk bisa menyentuhku, apa dia pikir kulitku ini adalah barang sampel gratisan di supermarket?)

​Nadine segera menjauhkan tubuhnya, merapatkan selimut tebalnya dengan gerakan protektif yang sangat tegas untuk memulihkan jarak profesional mereka.

​"Silakan kembali ke sofa Anda, Pak Kyle, jam kerja darurat kita malam ini sudah berakhir sepenuhnya."

​Kyle mendengus pelan, lalu membalikkan tubuh tegapnya untuk kembali ke sofa beludrunya tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi untuk mendebat pernyataan istrinya.

​Sikap cuek dan sedingin es yang ditunjukkannya kembali mengental di udara kamar, seolah-olah ketegangan intim yang baru saja terjadi di antara mereka hanyalah angin lalu yang tidak berarti.

​Namun, bagi pembaca yang jeli, bukankah sangat terlihat bahwa Kyle sengaja memanfaatkan momen kepanikan peretasan itu hanya untuk bisa memeluk Nadine lebih lama?

​Tentu saja, sang miliarder sombong itu tidak akan pernah mengakui motif tersembunyinya, bahkan jika dunia ini runtuh sekalipun.

​Nadine membenamkan separuh wajahnya di balik bantal besar, mencoba menenangkan debaran dadanya yang masih belum mau berkompromi dengan logika bisnisnya yang dingin.

​Kegelapan malam kembali merajai kamar tidur mewah itu, hanya menyisakan deru napas halus dari dua manusia yang saling memunggungi dengan pikiran yang bertolak belakang.

​||||

​Keesokan paginya, sinar mentari yang menembus celah gorden mewah sayap barat langsung menyapa kelopak mata Nadine yang masih terasa agak berat karena kurang tidur.

​Nadine segera bangkit dari tempat tidur, memeriksa area sofa beludru yang kini sudah kosong melompong dan tertata rapi tanpa meninggalkan jejak keberadaan Kyle sedikit pun.

​(Pria itu benar-benar bergerak seperti hantu kantoran, selalu menghilang sebelum jam operasional harian dimulai.)

​Setelah menyelesaikan ritual mandi paginya yang kilat, Nadine melangkah turun menuju ruang makan utama dengan langkah kaki yang sengaja dibuat terdengar sangat profesional.

​Di ujung meja makan yang panjang, Kyle sudah duduk dengan setelan jas abu-abu gelapnya yang sempurna, sedang menyesap kopi hitam tanpa gula sambil membaca laporan keuangan mingguan.

​Pelayan meletakkan sepiring roti panggang gandum dengan selai stroberi dan segelas jus jeruk segar di hadapan Nadine tanpa perlu diminta terlebih dahulu.

​"Saya sudah meninjau ulang kerugian potensial dari percobaan peretasan semalam, dan saya rasa tim Anda berhak mendapatkan bonus kerja lembur dari saya."

​"Simpan uang Anda, Nadine, karena memberi bonus kepada karyawan saya tanpa persetujuan tertulis dari saya adalah pelanggaran klausul kemitraan nomor empat belas."

​"Pelit sekali, padahal mereka sudah menyelamatkan portofolio investasi kita yang bernilai ratusan miliar rupiah."

​"Ini bukan masalah pelit, melainkan tentang kedisiplinan hierarki perusahaan yang tidak boleh diganggu gugat oleh pihak luar, termasuk istri kontrak."

​Nadine memutar bola matanya dengan jengah, mengunyah roti panggangnya dengan sedikit penekanan emosional yang sengaja diperlihatkan kepada pria kaku di hadapannya.

​(Lihat saja, suatu hari nanti aku akan membuat aturan baru yang memaksa pria ini membayar denda setiap kali dia bersikap terlalu kaku seperti papan jemuran!)

​Tiba-tiba, ponsel milik Nadine yang tergeletak di samping piringnya bergetar kuat, menampilkan sebuah notifikasi panggilan masuk dari nomor yang sangat tidak asing baginya.

​@Panggilan Masuk: Ibu Tiri Kejam - Menolak Panggilan?@

​Nadine menghentikan gerakan mengunyahnya seketika, matanya menyipit menatap layar ponsel yang terus berkedip dengan ritme yang seolah mendesak penolakannya.

​Kyle yang menyadari perubahan ekspresi di wajah Nadine langsung menurunkan cangkir kopinya, menatap sang istri dengan tatapan menyelidik yang sangat tajam.

​"Angkat saja, Nadine, melarikan diri dari konfrontasi keluarga hanya akan menurunkan nilai tawar Anda dalam negosiasi bisnis berikutnya."

​"Saya tidak sedang melarikan diri, saya hanya sedang menghitung biaya emosional yang harus saya keluarkan untuk melayani drama pagi hari dari wanita itu."

​Nadine akhirnya menggeser tombol hijau di layar ponselnya, lalu menempelkan benda itu ke telinga kirinya dengan senyum kepalsuan yang langsung terpasang sempurna.

​"Halo Ibu, sungguh sebuah kejutan yang sangat menguras energi di pagi hari yang cerah ini."

​Suara melengking bernada tinggi langsung terdengar dari seberang sambungan telepon, cukup keras hingga membuat Kyle yang berada di ujung meja bisa mendengarnya dengan jelas.

​@Ibu Tiri: Nadine! Berani-beraninya kamu memblokir rekening dana darurat keluarga kita di Singapura! Apa kamu ingin melihat adikmu kelaparan di luar negeri?!@

​Nadine menjauhkan ponselnya beberapa sentimeter dari telinganya, menghela napas panjang sebelum memberikan tanggapan yang sangat menusuk.

​"Pertama, rekening itu adalah aset pribadi atas nama saya yang sengaja saya pinjamkan untuk kebutuhan mendesak, bukan fasilitas warisan cuma-cuma."

​"Kedua, jika adik tiri saya yang manja itu kelaparan di Singapura dengan uang saku seratus juta rupiah per bulan, maka dia harus segera mendaftar ke kelas manajemen keuangan dasar."

​Kyle yang mendengar jawaban dingin istrinya itu hanya menaikkan satu alisnya, tampak sedikit terhibur oleh cara Nadine menangani parasit di keluarganya.

​@Ibu Tiri: Kamu anak tidak tahu diri! Jika ayahmu masih hidup, dia pasti akan sangat menyesal telah menyerahkan hak pengelolaan bisnis ini kepadamu!@

​(Ah, jurus klasik menggunakan nama mendiang Ayah untuk memeras emosiku, sungguh formula manipulasi yang sangat membosankan dan tidak kreatif.)

​"Sayangnya, Ayah sudah tiada dan dokumen legalitas hukum saat ini sepenuhnya berpihak pada tanda tangan saya, Ibu."

​Nadine langsung memutus panggilan telepon tersebut sepihak tanpa menunggu makian lanjutan, lalu meletakkan ponselnya kembali ke atas meja dengan gerakan yang sangat anggun.

​Napas Nadine tampak sedikit tidak teratur, matanya menatap kosong ke arah piring sarapannya yang kini mendadak kehilangan selera makannya yang sempat membubung tinggi.

​Sebuah tangan besar dengan jemari kokoh tiba-tiba terulur, meletakkan secangkir teh kamomil hangat yang aromanya sangat menenangkan tepat di samping gelas jus jeruk milik Nadine.

​"Minum ini, emosi yang tidak stabil di pagi hari akan menurunkan efisiensi kerja Anda hingga empat puluh persen untuk sisa hari ini."

​Nadine menatap cangkir teh itu, lalu beralih menatap wajah Kyle yang masih saja menampilkan ekspresi datar tanpa emosi seperti biasa.

​(Bagaimana bisa pria sedingin es ini selalu tahu cara memberikan perhatian kecil di saat yang paling tepat, tanpa harus merusak citra kejamnya?)

​"Terima kasih, Pak Kyle, tapi perhatian medis tanpa resep dokter ini tidak akan mengurangi tagihan sewa bulanan saya kepada Anda."

​"Tentu saja tidak, karena saya sudah memasukkan biaya teh kamomil premium ini ke dalam nota tagihan utilitas rumah tangga Anda untuk bulan depan."

​Nadine mendengus geli, rasa sesak di dadanya akibat panggilan telepon tadi mendadak menguap begitu saja digantikan oleh rasa gemas yang membuncah terhadap suaminya.

​Hubungan pernikahan kontrak ini mungkin memang berlandaskan angka dan hukum tertulis, namun dinamika aneh di antara mereka tampaknya mulai melanggar batas-batas logika yang paling dasar.

​Apakah Nadine akan mampu mempertahankan benteng profesionalismenya jika Kyle terus-menerus memberikan perlindungan terselubung seperti ini di setiap kesempatan?

​Hanya waktu, dan mungkin sisa saldo rekening mereka, yang bisa menjawab akhir dari permainan hati yang sangat berisiko tinggi ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!