Rizky Pratama adalah lambang kegagalan; hidup miskin, sering dipecat, dan selalu sial, sampai sebuah kecelakaan tragis merenggut segalanya. Namun, maut justru membawakannya keajaiban berupa Liontin Dewi yang menyatu dengan tubuhnya, memulihkan lukanya secara instan dan melambungkan kecerdasannya di atas rata-rata manusia. Lebih gila lagi, liontin itu memberinya kemampuan mengendalikan tanaman, dari mempercepat pertumbuhan, menemukan herba langka, hingga menciptakan varietas obat ajaib yang belum pernah ada sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Begitu pintu ruangan kaca itu tertutup rapat, senyum ramah di wajah Rizky langsung menghilang tak berbekas digantikan tatapan tajam.
Ia berjalan cepat mendekati meja Indah dan mencondongkan tubuhnya ke depan mendekati wajah apoteker itu.
"Indah, wanita bernama Maya itu bukan asisten apoteker biasa, dia adalah agen mata-mata kiriman perusahaan pesaing," bisik Rizky dengan suara sangat pelan namun tegas.
Indah yang sedang minum air dari botol mineralnya nyaris menyemburkan air itu langsung ke wajah Rizky saking kagetnya.
"Kau ini bicara apa sih Rizky? Jangan asal menuduh orang sembarangan tanpa ada bukti yang jelas begitu," bantah Indah berbisik panik sambil mengelap mulutnya.
"Kau tidak mencium bau senyawa pengawet sintetis di kemeja bajunya tadi? Itu adalah bahan khusus yang hanya dipakai oleh laboratorium raksasa."
Rizky menarik kursi kosong dan duduk berhadapan dengan Indah yang masih menatapnya dengan raut wajah kebingungan.
"Dan coba kau perhatikan baik-baik tangan kanannya nanti siang, ada bekas kapalan senjata di jarinya, dia ini terlatih secara militer atau semacamnya."
Mata Indah membelalak lebar mendengar penjelasan rinci dari Rizky yang terdengar sangat masuk akal dan sulit dibantah itu.
"Astaga naga, jangan-jangan dia adalah orang suruhan dari PT Medika Raya yang ingin membalas dendam karena kejadian rebutan izin edar kemarin?" tebak Indah mulai ketakutan.
"Tepat sekali analisamu, Medika Raya pasti sudah menyadari bahwa produk kita akan segera menghancurkan dominasi pasar suplemen mereka di kota ini," jawab Rizky tenang.
"Lalu kenapa kau malah menyuruhku menerimanya bekerja tadi bodoh? Kita harus mengejar dan memecatnya sekarang juga," omel Indah bersiap berdiri dari kursinya dengan emosi.
Rizky segera menahan lengan Indah dengan kuat dan memaksanya untuk duduk kembali di kursinya.
"Kalau kita memecatnya hari ini juga, Medika Raya hanya akan mengirim mata-mata lain yang mungkin lebih pintar menyamar dari dia."
"Lebih baik kita pelihara saja ular berbisa ini di depan mata kita sendiri agar kita tahu kapan pastinya dia akan mematuk," lanjut Rizky tersenyum penuh perhitungan.
Indah mengusap wajah cantiknya dengan kasar karena merasa kepalanya mulai berdenyut sakit harus menghadapi drama kotor dunia bisnis ini.
"Lalu apa rencana hebatmu sekarang Tuan Jenius? Dia pasti akan mencoba menyusup dan mencuri resep asli Pil Pemulih Vitalitas kita."
"Biarkan saja dia mencuri resepnya Indah, malah kita sendiri yang akan membantunya menemukan resep itu dengan mudah," kekeh Rizky misterius.
"Apa kau sudah gila dan bosan kaya? Resep itu adalah urat nadi bisnis kita satu-satunya saat ini," teriak Indah tertahan berusaha menjaga suaranya.
"Resep asli pil kita mengandalkan bahan baku yang sudah dimutasi oleh keajaiban tanah spiritual di kebunku, kau lupa soal itu?"
Rizky menjelaskan dengan sabar agar rekan bisnisnya yang sedang panik itu tidak mati berdiri terkena serangan jantung.
"Meskipun dia berhasil mencuri daftar bahannya seratus persen akurat, mereka tidak akan pernah bisa membuat khasiat pil yang sama tanpa bahan mentah dari kebunku."
Indah terdiam sejenak mencerna rentetan kata-kata Rizky, lalu senyum licik perlahan mulai muncul di sudut bibirnya.
"Ah aku paham maksudmu sekarang, kau sengaja ingin membuat PT Medika Raya membuang-buang uang miliaran untuk memproduksi resep gagal kan?"
"Tepat sekali Nona Indah yang cerdas, kita akan menulis resep palsu yang terlihat sangat asli dan meletakkannya di dalam brankas ruanganmu ini."
Rizky mengambil secarik kertas kosong dan sebuah pena bertinta hitam dari tempat pensil di meja Indah.
"Tulis daftar bahan jahe merah, kunyit putih, dan temulawak biasa, tapi tambahkan rasio suhu pemanasan yang sangat rumit dan panjang agar mereka percaya sepenuhnya."
Indah tertawa pelan merasa rencananya sangat brilian dan mulai menuliskan resep jebakan itu sesuai dengan arahan detail dari Rizky.
"Kau ini benar-benar licik dan kejam Rizky, Medika Raya pasti akan bangkrut sendiri kalau nekat mencoba memproduksi ini secara massal."
"Ini namanya strategi bisnis bertahan Nona Indah, mereka yang memutuskan untuk menabuh genderang perang duluan, kita hanya membalasnya dengan elegan."
Setelah selesai menulis lembar resep palsu itu, Indah melipatnya rapi dan memasukkannya ke dalam sebuah map berwarna merah mencolok.
Ia lalu membuka brankas besi kecil di sudut ruangan dan menyimpan map itu di dalamnya dengan sengaja tidak mengunci kode putarnya sampai penuh berbunyi.
KLEK.
"Sempurna sekali, brankas ini sekarang terlihat terkunci rapat dari luar padahal bisa dibuka hanya dengan menarik tuasnya sedikit kuat ke bawah," lapor Indah bangga dengan hasil kerjanya.
"Sangat bagus, sekarang tugas utamamu adalah bersikap sangat ketat pada Maya seolah-olah brankas tua itu berisi nyawamu sendiri."
Rizky berdiri dan merapikan kerah jaketnya bersiap untuk kembali memantau pekerjaan para preman di kebun.
"Buat dia merasa sangat yakin bahwa mencuri dokumen dari brankas itu adalah pencapaian terbesar yang paling sulit di dunia ini," pesan Rizky sebelum berjalan menuju pintu keluar.
"Serahkan saja urusan drama ini padaku Rizky, aku ini mantan artis teater saat kuliah dulu, akting marah-marah menjaga rahasia adalah keahlian utamaku," balas Indah mengedipkan sebelah matanya genit.
Rizky keluar dari ruangan laboratorium itu dengan perasaan yang sangat puas karena permainannya sudah dimulai.
Ia berjalan santai menyusuri lorong klinik dan berpapasan dengan Maya yang sudah berganti memakai seragam asisten apoteker berwarna hijau muda.
"Selamat bekerja keras Nona Maya, semoga kau betah berlama-lama di klinik kami yang kecil dan sederhana ini," sapa Rizky ramah sambil tersenyum saat mereka berpapasan.
"Terima kasih banyak atas kesempatannya Tuan Rizky, saya pasti akan betah bekerja keras membantu di sini," jawab Maya sambil tersenyum manis dan menundukkan kepalanya.
Namun saat Rizky sudah berjalan menjauh melewati pintu keluar, Maya mengangkat kepalanya perlahan dan menatap punggung pemuda itu dengan tatapan mata yang sangat tajam dan dingin.
"Pemuda udik dari kampung ini ternyata bodoh sekali, tidak butuh waktu lama bagiku untuk menguras semua rahasia berharga di tempat ini," batin Maya meremehkan musuhnya.
Maya merogoh saku dalam seragamnya dan menekan sebuah tombol kecil di alat komunikasi rahasia seukuran kancing yang tersembunyi di sana.
TIT.
"Lapor Direktur, saya sudah berhasil menyusup masuk ke dalam area laboratorium utama, target sangat naif dan mudah dikelabui," bisik Maya sangat pelan menutupi mulutnya.
Rizky yang sudah berada di luar gedung klinik tiba-tiba menghentikan langkahnya di trotoar jalan dan tersenyum miring.
Pendengarannya yang sudah ditingkatkan batasnya oleh sistem mampu menangkap bisikan pelan Maya dari jarak puluhan meter menembus dinding kaca.
"Bermainlah sepuasnya Nona Maya, karena pada akhirnya bos besar kalian di gedung mewah itu yang akan menangis darah," gumam Rizky sambil berjalan maju menuju pangkalan taksi terdekat.
Pertempuran bisnis yang kotor antara Klinik Bintang Abadi dan raksasa farmasi PT Medika Raya kini benar-benar telah dimulai secara diam-diam dari balik layar.