Hanya karena jatuh miskin, pertunangannya dibatalkan dan nama baik orang tuanya dihina di depan mata. Zhao Gou tidak lagi sudi menunduk. Di malam yang gelap, ia lenyap meninggalkan desa pengasingan, melangkah masuk ke Lembah Kematian yang ditakuti para kultivator. Tempat di mana warisan kuno dan ilmu terlarang menunggunya.
Ketika ia kembali dengan topeng misterius dan pedang berdarah, dunia persilatan terperanjat—siapakah sosok mengerikan yang siap meratakan klan-klan besar ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanzT0k3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cahaya di Tengah Kehancuran
Hujan gerimis membungkus kawasan pinggiran Kota Awan Biru dalam kedukaan yang dingin. Di sebuah pondok kayu sederhana yang berdiri di antara semak belukar, aroma tanah basah bercampur dengan keheningan yang amat sangat mencekam. Kediaman ini jauh berbeda dari istana pualam berukir emas yang dulu ditempati oleh Klan Xie.
Di dalam sebuah kamar kecil berdinding papan, Xie Yanfeng duduk kaku di tepi pembaringan bambu. Gaun putih yang dikenakannya tampak kusam, tak lagi memancarkan pendaran benang sutra bermutu tinggi. Wajah cantiknya tirus, dengan lingkaran hitam samar di bawah mata yang biasa dipuja-puja bagaikan dewi tanpa cela.
Sudah seminggu sejak Pesta Hari Jadi Sekte Awan Langit berakhir dengan sungai darah. Selama seminggu itu pula, Xie Yanfeng mengurung diri di dalam kamar.
Setiap kali memejamkan mata, ingatan akan kejatuhan klannya terus membayang bagaikan mimpi buruk yang tak ada akhirnya. Ayahnya yang kini menjadi orang cacat tanpa kultivasi, ibunya yang menangis saban malam, serta rasa bersalah yang amat sangat pekat menusuk-nusuk dadanya. Ia merasa bahwa dirinya adalah pembawa sial—seorang dewi gadungan yang kesombongannya telah memancing naga murka hingga meruntuhkan seluruh martabat keluarganya.
"Mengapa aku tidak mati saja malam itu...?" bisik Xie Yanfeng pelan, suaranya parau terisak di tengah keheningan kamar.
Ia meremas jemarinya yang gemetaran, menatap kosong ke arah lantai kayu yang dingin. Jiwanya telah hancur total, terperangkap dalam labirin penyesalan dan kegelapan tanpa ujung.
Kep Kep Kep
Tiba-tiba, suara kepakan sayap lembut memecah ketenangan hujan di luar jendela.
Xie Yanfeng mendongakkan kepalanya perlahan dengan pandangan redup. Di atas ambang jendela kayu yang terbuka sedikit, seekor burung merpati spiritual berukuran kecil sedang hinggap tenang. Bulu-bulunya memancarkan pendaran cahaya ungu keemasan yang amat sangat murni—sebuah pendaran aura yang teramat dikenal oleh jiwa Xie Yanfeng.
Jantung gadis itu mendadak berdegup kencang secara tak teratur.
Di kaki burung merpati tersebut, terikat selembar perkamen tipis berstempel segel energi Qi Naga Kuno.
Dengan tangan yang gemetaran hebat, Xie Yanfeng melangkah mendekati jendela. Jari-jemarinya yang halus menyentuh perkamen tersebut. Begitu ikatan tali terlepas, burung merpati bercahaya ungu itu melebur menjadi percikan bunga api emas yang menguap hangat di udara malam.
Xie Yanfeng menggigit lipatan bibirnya rapat-rapat. Dengan dada yang bergemuruh gila oleh rasa cemas dan ketakutan, ia membuka gulungan perkamen tersebut.
Goresan tinta hitam berkarakter tegas dan jujur menyapa inderanya:
Kepada Xie Yanfeng,
Gertakan dan tindakanku di Aula Utama telah melampaui batas yang seharusnya. Untuk itu, aku menyampaikan permintaan maafku yang tulus padamu.
Aku menyadari bahwa tanpa keberanianmu mempertaruhkan nyawa demi menyerahkan informasi rahasia Faksi Utama denganku, pembalasan dendam ini tidak mungkin bisa berjalan sejauh ini. Bantuanmu adalah kunci yang menyelamatkan banyak hal.
Dendam di antara kita telah usai. Aku tidak lagi membencimu atau klanmu. Hiduplah dengan tenang dan bimbinglah keluargamu di jalan yang baru.
— Zhao Gou
TES
Setetes air mata hangat jatuh menembus permukaan perkamen, membasahi tulisan nama Zhao Gou di bagian bawah surat.
Tubuh Xie Yanfeng bergetar hebat. Ia meremas kertas tersebut dan menempelkannya tepat di atas dadanya yang sesak. Isakan tangis yang selama seminggu ini tertahan mendadak pecah menggema di seluruh penjuru kamar kecil itu!
Namun, kali ini bukan tangisan keputusasaan atau rasa takut... melainkan tangisan keharuan yang amat sangat dalam, melelehkan seluruh beban batu raksasa yang selama ini meremukkan jiwanya!
"Dia... dia tidak membenciku..." tangis Xie Yanfeng terisak-isak, air matanya membasahi pipinya yang kusam. "Keberadaanku... keberadaanku ternyata tidak sia-sia..."
Pengakuan tulus dari pria yang paling ditakuti sekaligus dikaguminya itu bagaikan seberkas sinar matahari pertama yang menembus badai salju abadi di dalam jiwanya. Zhao Gou—sang naga yang sanggup meratakan pakar Core Formation—tidak menganggapnya sebagai musuh atau serangga tak berguna. Pria itu menghargai pengorbanannya dan memaafkan seluruh kesalahan masa lalunya!
Rasa bersalah yang menggerogoti pikiran Xie Yanfeng seketika sirna tanpa sisa, berganti menjadi sebuah getaran kehangatan dan ketetapan hati yang baru.
Ia menyapu air mata di pipinya menggunakan ujung lengan gaunnya.
Xie Yanfeng melangkah menuju cermin perunggu usang di sudut ruangan. Ia menatap pantulan dirinya. Meskipun wajahnya tampak lelah, binar mata berwarna biru es yang dulu membuatnya dijuluki sebagai dewi paling indah kini telah kembali menyala—jauh lebih murni, lebih matang, dan lebih tangguh dari sebelumnya.
Ia bukan lagi dewi manja yang mengandalkan kemewahan klan. Ia telah dilahirkan kembali dari dalam api penderitaan.
Xie Yanfeng melipat surat dari Zhao Gou secara amat sangat hati-hati, memasukkannya ke dalam saku kain yang terletak paling dekat dengan detak jantungnya. Surat itu kini menjadi jimat paling berharga di dalam hidupnya.
Kreeek...
Xie Yanfeng mendorong pintu kayu kamarnya hingga terbuka lebar.
Di ruang tengah, orang tua Xie Yanfeng sedang duduk melamun di atas tikar pandan. Melihat putri mereka keluar dari dalam kamar setelah seminggu mengurung diri, keduanya tersentak kaku dengan raut wajah kaget bercampur cemas.
"Yanfeng... kau..." gagap ibunya dengan mata berkaca-kaca.
Xie Yanfeng mengumbar sebuah senyuman—sebuah senyuman manis dan ceria yang sudah bertahun-tahun tidak pernah terlihat di wajah cantiknya. Kehangatan yang terpancar dari dirinya seketika mengusir hawa dingin di dalam rumah kayu tersebut.
"Ibu, Ayah," panggil Xie Yanfeng dengan suara merdu yang mantap, tanpa ada lagi getaran ketakutan. "Mulai hari ini, aku yang akan memimpin pemulihan keluarga kita."
Ia melangkah mendekati ayahnya, berlutut pelan dan memegang tangan tua yang kini tak berdaya itu. "Klan Xie mungkin telah kehilangan kemewahan dan status kebangsawanannya, tapi kita masih memiliki tanah dan kehidupan ini. Aku akan membuka usaha perdagangan bahan obat herbal di kota ini dan membimbing sepupu-sepupuku."
Ayah dan ibu Xie Yanfeng terpaku kaku, tak percaya pada perubahan drastis putrinya. Binar keputusasaan di mata mereka perlahan-lahan runtuh, berganti menjadi rasa haru yang amat sangat pekat.
"Yanfeng... terima kasih, Nak..." bisik ayahnya dengan mata memerah menahan tangis.
Xie Yanfeng berdiri tegak, melangkah menuju teras rumah kayu. Hujan gerimis di luar perlahan-lahan telah mereda, menyingkapkan pendaran cahaya matahari sore yang menembus celah-celah awan hitam.
Ia menatap jauh ke arah barat—ke arah kapal terbang raksasa yang membawa Zhao Gou menuju Kota Megah.
Jari-jemarinya memegang erat kain di dadanya, tempat surat dari Zhao Gou tersimpan aman.
"Zhao Gou..." bisik Xie Yanfeng pelan dengan senyuman anggun yang terukir indah di bibirnya. "Terima kasih telah membebaskanku dari kegelapan ini."
Di dalam hatinya, sang dewi es telah mengukir sebuah janji abadi. Ia akan bekerja keras memulihkan keluarganya dan meningkatkan kultivasinya dari nol. Ia tahu jurang pemisah antara dirinya dan Zhao Gou saat ini bagaikan bumi dan langit, namun ia tidak lagi berniat untuk mengejar sang naga sebagai musuh atau korban penyesalan.
Ia ingin tumbuh menjadi wanita yang cukup kuat dan pantas... agar suatu hari nanti, saat nama Zhao Gou mengguncang seluruh Benua Pusat, ia bisa tersenyum dari jauh sebagai sosok yang pernah membantunya melangkah.
Cahaya senja menyirami paras cantik Xie Yanfeng, menyapu bersih sisa-sisa jejak kejatuhan masa lalu, dan membuka lembaran baru bagi sang dewi yang telah bangkit kembali.
jgn ada campuran kata sombong...
"jika aq menjadi penerus sekte, kdepannya musuh²ku akan menargetkan kalian, dan aq tidak ingin hal itu'terjadi"... gitu aja udh ngeh....
klo g mati... cerita ini akan terus berulang² layaknya sinetron...
sedang othor perbaiki bab ini
selamat membaca 🥳🥳
ini wajib djelaskan...
apakah darah naganya bisa mendeteksi racun skecil apapun...??
ttp semangt...💪💪💪
dikotori oleh keserakahan klan...
pada ahirnya, yg terjadi KORBAN PERASAAN.🤣🤣🤣
disaat seseorg kesusahan, terjepit...
jgn pojokkan dia.
krna ktika dia bangkit .. semua sdh terlambat.
adu taktik...bikan tiktok...