NovelToon NovelToon
Kecanduan Sentuhan Suami Posesifku

Kecanduan Sentuhan Suami Posesifku

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Nikah Kontrak / Penyesalan Suami
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ratna Purnama

Vivian Winata mengidap sindrom lapar sentuhan. Saat kambuh, tubuhnya terbakar oleh hasrat menyiksa yang hanya bisa dipadamkan oleh satu pria: Sebastian Gunawan, suami kontraknya sekaligus taipan paling dingin di Jakarta.
Setiap malam, Vivian harus memohon dalam pelukannya. Sentuhan Sebastian membuatnya gemetar, basah, dan ketagihan. Namun pria itu selalu berhenti sebelum batas terakhir, seolah menginginkannya sekaligus membencinya.
Tak tahan lagi, Vivian berniat meminta cerai. Tiba-tiba ia teringat kehidupan pertamanya.
Dahulu, kata “cerai” membuat Sebastian kehilangan kendali. Ia mengurung Vivian, memisahkannya dari keluarga, lalu menguasai tubuhnya malam demi malam sampai kematian menjemputnya.
Kini Vivian kembali ke malam yang sama.
Ia ingin melarikan diri, tetapi tubuhnya tetap membutuhkan sentuhan Sebastian untuk bertahan hidup. Semakin ia menjauh, semakin posesif pria itu mengejarnya.
Barulah Vivian menyadari kebenaran yang mengerikan.
Sebastian tidak pernah jijik menyentuhnya. Selama ini, ia hanya menahan diri agar tidak melahap Vivian sampai habis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11

Bab 11

Kenapa Dia Belum Balas?

Sepanjang perjalanan pulang, tas Vivi tetap sunyi.

Ia memeriksanya tiga kali di mobil. Bukan karena berharap Sebastian membalas. Tentu saja bukan. Ia hanya memastikan ponselnya tidak kehabisan baterai, tidak kehilangan sinyal, dan tidak tiba-tiba rusak tepat setelah ia mempermalukan diri sendiri.

Ketika mobil berhenti di rumah Gunawan, tak ada satu pun alasan teknis yang bisa disalahkan.

Sebastian memang belum membalas.

Vivi membawa ketiga kotak pakaian renang sendiri ke lantai dua. Ia menolak bantuan staf, masuk ke kamar, lalu menyelipkan kotak-kotak itu di bagian terdalam lemari. Luaran putih diletakkan paling atas seperti kain penutup barang bukti.

Panggilan WA dari Jocelyn masuk sebelum pintu lemari tertutup.

“Lokasimu sudah di rumah,” kata sahabatnya tanpa salam. “Bagus. Ada balasan?”

“Tidak.”

“Jangan hapus pesannya.”

“Aku tidak akan menghapus.”

“Dan jangan mematikan berbagi lokasi hanya karena malu.”

Vivi melirik ikon kecil yang masih aktif di layar. “Aku sudah berjanji.”

Nada Jocelyn melunak. “Kalau Sebastian membuatmu tidak nyaman malam ini, kirim bulan hitam. Aku serius.”

“Dia bahkan tidak membalas. Mana mungkin membuatku tidak nyaman?”

“Diam juga bisa berarti dia sedang merencanakan sesuatu.”

Vivi menutup pintu lemari. Ia tak ingin mengakui bahwa kalimat itu justru membuat jantungnya bergerak aneh. “Pulang dan tidur, Joce. Kamu masih jet lag.”

“Aku tidur setelah kamu bilang semuanya aman.”

“Semuanya aman.”

“Bagus. Kabari aku besok.”

Sambungan berakhir, tetapi ikon lokasi tetap menyala. Untuk pertama kalinya sejak mengingat pintu besi, Vivi merasa ada seseorang di luar rumah ini yang akan tahu jika ia menghilang.

Ponselnya ditaruh di meja rias dengan layar menghadap bawah.

Lima detik kemudian, Vivi membaliknya lagi.

Tidak ada pesan.

Yang muncul justru berita lanjutan tentang Wijaya Group. Pernyataan maaf kepada Bu Vivian Gunawan sudah dibagikan ratusan akun. Celine dicopot dari jabatannya dan, menurut sumber keluarga, berangkat ke luar negeri untuk waktu yang tidak ditentukan.

Semua terjadi kurang dari satu hari.

Vivi seharusnya lega. Celine tidak akan mengganggu Papa atau Mama seperti yang ia ingat. Namun, kecepatan Sebastian menutup seluruh jalan perempuan itu membuat rasa hangat dan dingin muncul bersamaan di punggungnya.

Ia mengetik pertanyaan kepada Sebastian.

Apa kamu yang mengurus semuanya?

Sebelum dikirim, kalimat itu dihapus. Ia masih menunggu jawaban untuk pertanyaan yang jauh lebih memalukan.

“Memalukan,” gumamnya kepada boneka beruang di ranjang. “Aku pasti sedang tidak waras.”

Boneka itu menatapnya dengan wajah jahitan yang sama sekali tidak membantu.

Vivi membawa pakaian tidur ke kamar mandi. Air hangat memenuhi bak, disusul aroma sabun lembut. Ia berharap mandi bisa menenangkan pikiran.

Ternyata tidak.

Foto biru muncul di kepalanya.

Apakah Sebastian menyukai yang biru?

Mungkin ia lebih suka putih. Atau hijau. Atau tidak satu pun karena menganggap semua terlalu terbuka.

Vivi membenamkan wajah sampai hidung ke dalam air, lalu segera muncul lagi saat sadar dirinya sedang berdebat dengan pendapat pria yang bahkan tidak dikirimkan.

“Sudah,” katanya kepada pantulan air. “Tidak usah dipikirkan.”

Ponsel di luar kamar mandi berbunyi.

Vivi bangkit terlalu cepat hingga air tumpah ke lantai. Ia meraih jubah, hampir terpeleset, lalu berlari keluar dengan rambut menetes.

Hanya notifikasi promosi dari butik.

Terima kasih atas kunjungan Anda, Bu Vivian.

Vivi menatap pesan itu dengan perasaan dikhianati dunia perdagangan.

Setelah mengeringkan rambut, ia mengenakan piyama lengan panjang dan memasukkan ponsel ke saku. Sudah lewat pukul enam. Perutnya mulai lapar karena ia hanya menghabiskan setengah lemon tea sejak siang.

Di lorong lantai dua, ia berpapasan dengan Pak Yanto yang membawa nampan kopi kosong.

“Bu Vivian sudah merasa lebih baik?” tanyanya.

“Sudah, Pak Yanto. Kopi untuk siapa?”

“Pak Sebastian.”

Vivi berhenti. “Dia sudah pulang?”

“Sejak sebelum pukul enam.” Pak Yanto tersenyum kecil. “Tumben sekali. Biasanya kalau tidak ada acara keluarga, Pak Sebastian baru kembali setelah pukul sembilan.”

“Apa dia sakit?”

“Tidak kelihatan sakit. Hanya...” Pak Yanto ragu memilih kata. “Agak tidak tenang.”

“Sebastian?”

“Beliau sudah memindahkan laptop dari ruang kerja ke ruang keluarga, kembali ke ruang kerja, lalu membawanya ke ruang keluarga lagi.”

Gambaran Sebastian berjalan bolak-balik membawa laptop nyaris membuat Vivi tertawa. Pria itu selalu bergerak seolah setiap langkah sudah dimasukkan ke kalender. Sulit membayangkannya tidak tahu ingin duduk di mana.

“Kenapa dia pulang cepat?”

“Saya tidak tahu, Bu. Rapat sore dibatalkan, lalu beliau meminta mobil tanpa menjelaskan.”

Rapat dibatalkan.

Vivi menyentuh ponsel di saku.

Tidak mungkin karena tiga foto itu.

Namun, waktu keduanya terlalu berdekatan untuk diabaikan.

“Makan malam siap dalam dua puluh menit,” kata Pak Yanto. “Apakah disajikan di kamar?”

“Tidak. Aku turun.”

Vivi berjalan menuju tangga dengan langkah pelan. Dari belokan lantai dua, ia bisa melihat ruang keluarga di bawah.

Sebastian duduk di sofa yang sama tempat ia memeluk Vivi saat penyakitnya kambuh. Laptop terbuka di meja, dua dokumen tersebar di sampingnya, tetapi tatapan pria itu tidak tertuju pada satu pun.

Ponselnya berada di tangan.

Layar menyala.

Dari kejauhan, Vivi tidak bisa melihat isinya. Namun, ibu jari Sebastian diam di atas layar seperti sudah terlalu lama berada dalam posisi itu.

Ia mengenakan kemeja hitam baru. Dua kancing teratas terbuka. Rambutnya sedikit berantakan, dan ada warna merah tipis di ujung telinga yang biasanya pucat.

Vivi menahan napas.

Apakah pria itu sedang melihat fotonya?

Sebastian tiba-tiba mengunci layar.

Kepalanya terangkat.

Tatapan mereka bertemu di antara pagar tangga dan ruang keluarga, menangkap Vivi tepat saat ia sedang mengintip.

1
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!