Lin Mo adalah seorang penjual angkringan dengan bakat tersembunyi yang amat sangat luar biasa, yaitu kendali api tingkat mistik untuk memanggag sate kikil dan usus hingga sempurna. Sayangnya, sebuah ledakan tabung gas nyasar mengakhiri hidupnya dan melempar jiwanya ke dunia fantasi sebagai Dewa Api Pengelana bersama Sistem Angkringan Ilahi. Kini berbekal gerobak terbang dan jurus sate ajaib, Lin Mo harus menjelajahi Kerajaan Aethelgard yang penuh intrik politik demi mengumpulkan Poin Arang, membuka cabang angkringan baru, dan menyelesaikan konflik kuno di negeri tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sugesti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bumbu Rahasia dan Poin Arang Pertama
"Siapa yang berani membuat kegaduhan dan menyebarkan bau asap di dalam Istana Aethelgard?!" gertak Kaisar Penjaga Lin Fan dengan suara menggelegar bagaikan petir di siang bolong.
Gema suara Lin Fan membuat tiang-tiang pualam aula bergetar pelan. Suasana pesta yang tadinya riuh rendah oleh antrean para bangsawan mendadak senyap bagaikan kuburan.
Para adipati dan putri kerajaan yang tadi melompat-lompat menantikan sate Lin Mo langsung tiarap berlutut di atas lantai. Wajah mereka pucat pasi menahan napas.
Kaisar Penjaga Lin Fan melangkah turun dari tangga mahkota dengan aura intimidasi yang membekukan udara sekitar. Setiap langkah kakinya meninggalkan bekas embun es tipis di atas pualam, meski tubuhnya sendiri memancarkan aura naga api pelindung.
"Hutang darah dan kehormatan kerajaan bergantung pada ketertiban tempat ini!" bentak Lin Fan lagi, matanya yang menyala merah menatap lurus ke arah gerobak kayu Lin Mo.
Di tengah ketakutan massal itu, Lin Mo justru terlihat sibuk mengais-ngais bagian bawah gerobaknya.
"Aduh, mana ya bumbu rahasia yang tadi ditaruh di sini..." gumam Lin Mo santai tanpa memedulikan Lin Fan yang melangkah makin dekat.
Lin Fan mengepalkan tangannya. Beralih pandang pada Chef Lu Yan yang masih bersujud di lantai, ia mendesis dingin. "Lu Yan! Kamu Koki Kepala Istana! Kenapa kamu malah berlutut di depan pedagang jalanan ini?!"
Chef Lu Yan mengadahkan wajahnya yang basah oleh air mata penyesalan. "A-Ampunkan hamba, Yang Mulia Lin Fan... Pemuda ini... Makanan pemuda ini bukanlah masakan biasa! Ini adalah ilmu kuliner tingkat Dewa!"
"Omong kosong!" gertak Lin Fan. "Seorang pedagang kaki lima membawa sampah kayu berasap ke dalam Aula Agung dan kalian semua berlutut bagaikan orang bodoh?!"
Lin Fan mengangkat tangan kanannya. Energi sihir berwarna merah tua berpusar pesat di telapak tangannya, membentuk cakar naga api transparan yang siap menghancurkan gerobak Lin Mo dalam hitungan detik.
"Hari ini, aku sendiri yang akan memusnahkan benda pengacau ini!" seru Lin Fan.
"Tunggu dulu, Paman Garang," potong Lin Mo sambil menegakkan tubuhnya.
Ia akhirnya muncul dari balik gerobak sambil memegang seikat usus berukuran lebih lebar yang terpancar pendaran aura ungu kemerahan—bahan baku dari resep barunya, *Sate Usus Naga Ilusi*.
Lin Mo menatap Lin Fan tanpa rasa takut sedikit pun. Ia bahkan tersenyum lebar hingga matanya menyipit.
"Paman punya aura naga api yang kuat, tapi napas Paman baunya agak sangit dan emosinya tidak stabil. Itu tanda kalau alur mana di usus dan lambung Paman sedang tersumbat total," kata Lin Mo berteori layaknya tabib berpengalaman.
Mendengar ucapan polos itu, para bangsawan yang berlutut di lantai hampir saja pingsan karena jantungan. Berani-beraninya seorang penjual sate mengkritik organ dalam sang Kaisar Penjaga!
"Bocah kurang ajar! Kamu berani mengomentari kondisi fisikku?!" geram Lin Fan, aura naganya makin meledak-ledak hingga memicu angin kencang di dalam aula.
"Aku tidak mengomentari, aku cuma menawarkan solusi," sahut Lin Mo kalem. "Gimana kalau sebelum Paman menghancurkan gerobakku, Paman coba dulu satu tusuk sate resep baruku ini?"
"Kalau setelah makan sate ini Paman masih mau menghancurkan gerobakku, silakan saja. Tapi kalau Paman malah nambah, Paman harus bayar seribu koin emas per tusuknya. Bagaimana?" tantang Lin Mo mengedipkan sebelah matanya.
Lin Fan tertawa dingin, sebuah tawa yang penuh dengan penghinaan. "Seribu koin emas?! Kamu pikir masakan sampahmu bernilai seharga benteng pertahanan?!"
"Kenapa? Paman takut ketagihan ya?" goda Lin Mo sambil mengibaskan kipas bambunya pelan.
"Baik!" gertak Lin Fan terprovokasi oleh ejekan Lin Mo. "Sajikan daging itu! Jika rasanya tidak sanggup membuatku terkesan, kepala dan gerobakmu akan kubakar jadi abu detik ini juga!"
Lin Mo menyeringai puas. "Itu baru pria sejati."
PING!
[Sistem Angkringan Ilahi: Mengaktifkan Resep Mistik Baru]
[Menyiapkan: Sate Usus Naga Ilusi]
[Karakteristik: Menggunakan Api Murni Pemanggang Arang + Ekstrak Bumbu Pedas Pahit Mistik + Energi Vitalitas Naga]
Lin Mo meletakkan lima tusuk usus naga ilusi itu di atas panggangan arang kayu gerobaknya.
Sssttt... Sssttt...
Begitu usus tersebut menyentuh jeruji panggangan, percikan *Api Murni Pemanggang Arang* langsung menyambar hebat. Bukannya terbakar menjadi hitam, usus itu justru berubah transparan memancarkan kilau ungu keemasan.
Lin Mo meraih botol bumbu rahasia hasil ekstraksi dari racun Du Chen tadi siang dan menyiramkannya ke atas sate.
Cusss! Cusss!
Aroma gila meledak dari panggangan!
Aroma ini sepuluh kali lebih dahsyat daripada aroma sate kikil sebelumnya. Ia tidak hanya menusuk hidung, tetapi seolah-olah menciptakan ilusi visual di udara.
Asap keemasan yang membumbung tinggi membentuk wujud seekor naga api kecil yang menari-nari menembus langit-langit aula sebelum akhirnya meluncur turun merasuk ke dalam lima tusukan sate tersebut.
Keharuman gurih, pedas, manis, dan sedikit sentuhan aroma pahit yang elegan menyapu seluruh ruangan.
Lin Fan yang berdiri paling dekat dengan gerobak mendadak tertegun. Cakar naga sihir di tangan kanannya mendadak padam begitu saja akibat fokus mentalnya terpecah oleh aroma luar biasa tersebut.
Air liur berkumpul hebat di dalam mulut sang Kaisar Penjaga yang terkenal tidak pernah tertarik pada makanan mewah istana.
"A-Aroma apa ini... Kenapa Jiwa Pelindung Naga di dalam tubuhku mendadak bergejolak gembira?!" batin Lin Fan syok berat.
Lin Mo mengangkat lima tusuk *Sate Usus Naga Ilusi* yang telah matang sempurna dengan lelehan bumbu karamel keemasan yang menetes-netes menggoda.
"Ini Paman Garang, Sate Usus Naga Ilusi. Silakan dinikmati selagi hangat," tawar Lin Mo menyodorkan sate tersebut.
Lin Fan menelan ludahnya secara kasar. Berusaha mempertahankan harga diri dan ekspresi garangnya, ia menyambar satu tusuk sate itu kasar.
"Awas kalau ini cuma bualan..." gumam Lin Fan seraya memasukkan potongan usus naga pertama ke dalam mulutnya.
Nyuttt! Krikkk!
Kerenyahan di bagian luar bercampur dengan kelembutan yang kenyal di bagian dalam meremukkan seluruh pertahanan mental Lin Fan secara instan.
Rasa pedas manis yang kaya meledak membasahi setiap jengkal lidahnya. Namun yang paling gila adalah reaksi energi di dalamnya!
Bumbu racikan Lin Mo bekerja bagaikan air bah yang menyapu bersih seluruh sumbatan mana dan racun endapan dari pertarungan masa lalu di dalam saluran darah Lin Fan.
"Uwooooogh!"
Kaisar Penjaga Lin Fan meraung keras! Bukan raungan murka, melainkan raungan kenikmatan yang begitu intens hingga seluruh zirah peraknya memancarkan pendaran cahaya keemasan yang sangat menyilaukan!
Bummm!
Aura naga raksasa berwarna merah emas tercipta di belakang tubuh Lin Fan, mengaum megah memenuhi aula perjamuan!
"Luar biasa! Luar biasa sekali!" jerit Lin Fan dengan mata terbelalak lebar dan napas memburu.
"Sumbatan mana di saluran jantungku yang tertahan selama sepuluh tahun... hancur lebur dalam satu gigitan?!" teriak Lin Fan histeris bagaikan orang kesetanan.
Tanpa memedulikan tatapan melotot dari puluhan bangsawan yang masih berlutut di tanah, sang Kaisar Penjaga yang ditakuti seluruh kerajaan itu langsung melahap empat tusuk sate sisanya dalam sekali suap!
Nyam! Nyam! Nyam!
"Enak sekali! Ini bukan makanan mortal! Ini adalah makanan para Dewa!" jerit Lin Fan sambil mengunyah dengan wajah penuh lelehan bumbu di sekitar bibirnya.
Begitu sate di tangannya habis, Lin Fan menatap lurus ke arah Lin Mo dengan pandangan haus yang sangat menakutkan.
"Bocah! Maksudku, Master Lin Mo! Buatkan aku seratus tusuk lagi sekarang juga!" teriak Lin Fan sambil mencengkeram tepi gerobak kayu Lin Mo.
Lin Mo tersenyum tipis lalu mengetuk-ngetuk meja gerobaknya menggunakan kipas bambu.
"Ets, tunggu dulu Paman Garang. Ingat janji kita tadi?" kata Lin Mo menagih.
"Satu tusuk harganya seribu koin emas. Paman baru saja makan lima tusuk, jadi totalnya lima ribu koin emas!" tegas Lin Mo sambil menadahkan tangannya.
Seluruh bangsawan di dalam aula menahan napas. Mereka mengira Lin Fan akan mengamuk karena ditagih harga yang sangat tidak masuk akal itu.
Namun hal tak terduga justru terjadi.
Lin Fan tanpa ragu sedikit pun merogoh cincin penyimpanannya dan mengeluarkan sebuah gumpalan kristal emas berukuran sebesar genggaman tangan.
"Ini Kristal Emas Murni senilai sepuluh ribu koin emas!" seru Lin Fan meletakkan batu bercahaya itu di atas gerobak Lin Mo.
"Ambil kembaliannya dan bakar seratus tusuk sate usus naga itu sekarang juga!" perintah Lin Fan antusias.
PING!
[Transaksi Fantastis Berhasil!]
[Menerima: Kristal Emas Murni (Setara 10.000 Koin Emas)]
[Misi Sampingan: Menaklukkan Kaisar Penjaga Lin Fan - SELESAI!]
[Hadiah Diterima: 2.000 Poin Arang & Fitur Baru: 'Panggilan Gerobak Otomatis']
[Total Poin Arang Saat Ini: 5.450 Poin]
Lin Mo tersenyum puas melihat angka Poin Arang miliknya yang melonjak drastis dalam sekejap.
"Siap Paman Garang! Pesanan seratus tusuk sate usus naga segera diproses!" jawab Lin Mo penuh semangat pelayan angkringan.
Melihat Kaisar Penjaga Lin Fan yang begitu memuja sate buatan Lin Mo, para bangsawan yang tadinya ketakutan langsung bangkit berdiri dan berlari saling sikut menuju ke depan gerobak.
"Master Lin Mo! Aku mau beli sate usus naga itu juga! Aku bayar dua ribu koin emas per tusuk!" teriak seorang adipati kaya.
"Jangan serakah! Aku mau lima puluh tusuk untuk keluargaku!" jerit bangsawan lainnya mengibaskan kantong perhiasan mereka.
"Antre! Semuanya antre!" gertak Lin Fan berbalik badan menghadap para bangsawan dengan wajah garangnya.
"Siapa pun yang berani menyerobot antrean dan mengganggu Master Lin Mo memasak, akan kuhancurkan rumahnya!" ancam Lin Fan bertindak menjadi 'satpam angkringan' secara sukarela.
Para bangsawan langsung berbaris rapi bagaikan anak sekolah yang manis di bawah ancaman Lin Fan.
Lin Mo tert terkekeh menggelengkan kepala melihat tingkah sang Kaisar Penjaga yang mendadak berubah menjadi penjaga kedai makanan.
Sssttt... Sssttt...
Asap keemasan kembali membumbung tinggi di dalam Aula Agung Istana Kerajaan Aethelgard. Malam itu, Pesta Perjamuan Agung yang tadinya formal dan kaku berubah total menjadi Festival Angkringan Raksasa.
Di tengah kehebohan perjamuan tersebut, Pengawal Tua Zhao bersama seorang wanita paruh baya berpakaian mahkota perak berjalan mendekati Lin Mo secara perlahan.
Wanita paruh baya itu memancarkan aura keagungan yang sangat lembut namun dipenuhi kekuatan waktu yang kuno—ia adalah Ibu Ratu Kerajaan Aethelgard.
"Master Lin Mo..." sapa Ibu Ratu dengan suara yang sangat lembut dan penuh rasa hormat.
Lin Mo membalikkan beberapa tusuk sate di panggangan lalu menoleh. "Iya Bibi Ratu, mau pesan sate juga?"
Ibu Ratu tersenyum lembut, matanya menatap dalam-dalam ke arah garis wajah Lin Mo dan cara Lin Mo memegang kipas bambunya.
"Gaya memasakmu... aroma asap arang ini... dan senyuman santaimu itu..." bisik Ibu Ratu dengan suara yang agak bergetar.
"Sangat mirip dengan Kaisar Waktu Lin Dan yang menghilang seratus tahun lalu," lanjut Ibu Ratu mengejutkan.
Lin Mo menghentikan kibasan kipas bambunya sejenak. Nama 'Lin Dan' kembali disebut, sebuah nama yang tampaknya punya keterkaitan erat dengan asal-usul sistem dan garis keturunannya di dunia ini.
"Lin Dan? Paman Waktu yang sering dibicarakan orang-orang itu ya?" tanya Lin Mo penasaran.
"Benar..." jawab Ibu Ratu pelan. "Kaisar Waktu Lin Dan adalah pendiri keselamatan kerajaan ini. Dan sebelum beliau menghilang, beliau meninggalkan sebuah ramalan."
"Ramalan bahwa suatu hari nanti, seorang pemuda pengelana yang membawa Api Pemurni dan Gerobak Ajaib akan datang untuk menyelamatkan Kerajaan Aethelgard dari bahaya besar yang tersembunyi," ungkap Ibu Ratu serius.
Lin Fan yang mendengar percakapan itu ikut mendekat dengan wajah mengkerut. "Bahaya tersembunyi? Maksud Ibu Ratu... tentang pergerakan Sekte Bintang Gelap di batas perbatasan?"
"Benar Lin Fan," angguk Ibu Ratu tegar. "Sihir racun dan benalu kegelapan mulai merayap di dalam struktur kerajaan kita. Dan hanya api murni milik Master Lin Mo yang sanggup membersihkannya tanpa merusak jiwa manusia."
Lin Mo mendesah panjang sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Aduh Bibi Ratu, kedengarannya kok rumit sekali ya," keluh Lin Mo jujur. "Saya ini cuma penjual angkringan sederhana. Mana paham soal urusan politik atau menyelamatkan dunia."
"Tapi jika Anda bersedia membantu kerajaan ini, kami akan memberikan Lahan Permanen Utama di Pusat Kota dan akses bahan baku langka dari seluruh benua untuk Angkringan Anda," tawar Ibu Ratu memberikan penawaran yang sangat sulit ditolak.
Mata Lin Mo langsung berbinar-binar hijau begitu mendengar kata 'Lahan Permanen Utama' dan 'Bahan Baku Langka'.
"Lahan permanen di pusat kota?! Tanpa bayar sewa bulanan?!" tanya Lin Mo memastikan.
"Gratis seumur hidup dan dilindungi langsung oleh pasukan Istana!" tegas Lin Fan menyahut bersemangat.
PING!
[Misi Utama Arc 1 Diperbarui!]
[Misi: Membuka Cabang Permanen Angkringan Dewa Mo di Kota Utama Aethelgard]
[Syarat: Bersihkan Pengaruh Sekte Bintang Gelap di Perbatasan Kota]
[Hadiah: Unlocked Fitur 'Dapur Sihir Otomatis' & 5.000 Poin Arang]
Lin Mo tersenyum lebar sambil memutar kipas bambunya lincah di udara.
"Baiklah! Kalau ada lahan gratis dan bahan baku langka, urusan Sekte Bintang Gelap itu gampang! Nanti sekalian kubakar mereka jadi sate racun pedas!" seru Lin Mo penuh rasa percaya diri.
Malam perjamuan itu pun berakhir dengan kemenangan mutlak bagi Lin Mo.
Bukan hanya mengantongi belasan ribu koin emas dan ribuan Poin Arang, ia kini telah mendapatkan dukungan penuh dari Kaisar Penjaga Lin Fan serta jajaran tertinggi Istana Kerajaan Aethelgard.
Saat fajar mulai menyingsing di ufuk timur, gerobak kayu melayang milik Lin Mo perlahan keluar dari pintu gerbang utama istana, siap menyambut petualangan baru menuju batas perbatasan kota.