Aku bertahan di rumah ini karena aku mencintaimu, Ardi. Tapi mulai malam ini, demi harga diriku, jangan harap aku akan diam saja saat keluargamu menginjak-injakku lagi."
Selama lima tahun, Sarah adalah menantu yang tak dianggap. Dia penurut, pendiam, dan selalu mengalah. Namun, ketika cinta dibalas dengan pengkhianatan ego, Sarah memutuskan untuk melawan. Ini bukan cerita tentang istri lemah yang menangis meratapi nasib, melainkan kisah Sarah yang mulai menuntut balik harga dirinya di dalam rumah tangga yang penuh tekanan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irmayani Mursid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 Harapan Palsu di ujung tanduk
Ardi masuk kembali ke dalam rumah dengan langkah yang sempoyongan. Surat pemberitahuan dari kurator bank yang baru saja diterimanya buru-buru dia lipat kecil dan diselipkan ke dalam saku celana terdalam. Wajahnya yang pucat pasi tidak bisa berbohong, membuat Ibu Widya dan Rika yang masih mengomel di meja makan sempat terdiam melihat kondisinya.
"Kamu kenapa, Di? Kok mukanya seperti orang mau pingsan begitu?" tanya Ibu Widya, sedikit menurunkan nada suaranya yang tadi melengking.
"Tidak apa-apa, Ma. Cuma kurang tidur saja karena masalah kantor," jawab Ardi bohong, suaranya terdengar sangat serak. Dia bahkan tidak sanggup lagi menatap piring nasi gorengnya. "Ardi berangkat kantor dulu."
Tanpa pamit dengan benar, Ardi menyambar tas kerjanya dan setengah berlari keluar rumah. Dia butuh menjauh dari rumah itu sebelum akal sehatnya benar-benar hilang.
Di meja makan, Sarah menatap kepergian Ardi dengan pandangan yang sulit diartikan. Di dalam kepalanya, sebuah rencana baru yang jauh lebih kejam baru saja matang.
“Kalau kamu hancur sekarang, Mas... rasanya terlalu cepat dan tidak seru,” batin Sarah dengan senyum dingin. “Aku ingin kamu terbang tinggi dulu, merasa menang, baru setelah itu aku hempaskan ke dasar jurang yang paling dalam.”
Siang harinya di kantor, Ardi duduk di kursinya dengan pandangan kosong. Heru baru saja keluar dari ruangannya setelah melaporkan bahwa semua operasional proyek resmi berhenti total karena tidak ada alat berat. Di saat Ardi sedang meratapi nasibnya, ponselnya tiba-tiba berdering.
Bukan dari Heru, bukan pula dari Tyas. Melainkan dari nomor tidak dikenal.
Ardi mengangkatnya dengan malas. "Halo?"
"Selamat siang, Pak Ardi dari PT Reksa Tama?" suara seorang pria di seberang telepon terdengar sangat profesional dan formal. "Saya Doni, perwakilan direksi dari PT Cahaya Abadi Investama. Kami mendapatkan informasi bahwa proyek Jakarta Anda sedang membutuhkan suntikan dana talangan darurat."
Ardi langsung menegakkan posisi duduknya. Jantungnya mendadak berdegup kencang karena harapan baru. "I-iya, benar, Pak. Perusahaan kami memang sedang membuka peluang kerja sama untuk investor baru. Bagaimana mekanismenya?"
"Kami sudah meninjau draf proyek Anda. Kami bersedia mengucurkan dana segar sebesar lima belas miliar rupiah sore ini juga untuk menutup jaminan di bank, dengan syarat Anda menandatangani klausul agunan balik yang sudah kami siapkan. Tim kami akan segera ke kantor Anda dalam satu jam."
Ardi hampir tidak mempercayai pendengarannya. Lima belas miliar? Sore ini? Ini adalah keajaiban yang dia butuhkan! Dengan uang itu, SP 1 dari bank akan otomatis dibatalkan, pembekuan aset dilepas, dan proyek Jakartanya bisa berjalan lagi. Dia akan kembali menjadi pengusaha sukses yang disegani.
Ardi tidak tahu—dan tidak akan pernah tahu—bahwa PT Cahaya Abadi Investama adalah salah satu perusahaan bayangan yang seluruh sahamnya dimiliki oleh Sarah di bawah bendera Mega Group.
Dua jam kemudian, proses penandatanganan selesai. Uang belasan miliar itu benar-benar masuk ke rekening penampungan perusahaan Ardi. Pihak bank yang tadinya garang mendadak menelepon Ardi dengan nada sangat sopan, mengabarkan bahwa status pembekuan asetnya telah resmi dicabut karena utang jaminannya sudah lunas.
Ardi berteriak kegirangan di dalam ruang kerjanya. Dia merasa menjadi orang paling beruntung di dunia. "Aku selamat! Perusahaanku selamat!" serunya penuh kemenangan.
Malam harinya, Ardi pulang ke rumah dengan senyum yang mengembang lebar di wajahnya. Langkah kakinya kembali tegap dan angkuh, persis seperti Ardi yang dulu.
Begitu masuk ke rumah, dia langsung disambut oleh Ibu Widya dan Rika yang sedang asyik memakan martabak telur premium hasil pesanan online. Di dekat mereka, Sarah sedang sibuk merapikan buku-buku di rak ruang tamu.
"Wah, anak Mama sudah pulang! Mukanya sudah segar lagi, berarti masalah kantor sudah beres ya?" tanya Ibu Widya dengan binar mata matre yang kembali menyala.
"Sudah, Ma! Semuanya beres!" ucap Ardi dengan nada sombong, sengaja mengeraskan suaranya agar didengar oleh Sarah. Dia berjalan mendekati Sarah, lalu merangkul pundak istrinya itu dengan perasaan menang yang meluap-luap. "Kamu lihat kan, Sarah? Suamimu ini pengusaha hebat. Masalah sebesar apa pun di kantor, pasti bisa aku selesaikan dengan mudah. Jadi, kamu tidak perlu khawatir lagi soal uang belanja."
Sarah mendongak, menatap wajah Ardi yang kembali dipenuhi kesombongan yang menjijikkan. Topeng kepolosannya terpasang sempurna saat dia tersenyum sangat manis dan tampak sangat lega.
"Wah, hebat sekali, Mas. Aku memang tidak pernah meragukan kemampuanmu," ucap Sarah dengan suara yang teramat lembut, menepuk dada dada Ardi dengan manja. "Aku senang sekali mendengarnya. Semoga semuanya lancar terus ya, Mas."
"Pasti lancar, Sarah! Malah sepertinya bulan depan kita bisa beli mobil baru lagi," sahut Ardi penuh percaya diri, lalu melangkah ke lantai atas dengan tawa kecil yang puas.
Ibu Widya dan Rika langsung ikut tersenyum lebar mendengar ucapan Ardi, kembali membayangkan kemewahan yang akan mereka nikmati.
Begitu punggung Ardi menghilang di belokan tangga, senyuman manis di wajah Sarah seketika lenyap tanpa sisa. Dia mengambil ponselnya, lalu mengirimkan pesan singkat kepada tim hukum PT Cahaya Abadi Investama.
“Dia sudah menandatangani surat perjanjian itu, kan? Bagus. Masukkan poin denda keterlambatan tersembunyi yang akan jatuh tempo dalam waktu tiga minggu lagi. Biarkan dia menikmati masa-masa 'sukses' palsunya ini. Aku ingin dia merasakan bagaimana rasanya terbang setinggi langit, sebelum akhirnya jatuh terempas tanpa punya apa-apa lagi untuk diselamatkan.”