Zahira Aulia Utami menikah dengan Galang Putra Hadian. Mereke sudah menikah selama delapan tahun dan di karuniai seorang putri cantik bernama Cantika Alya Putri Hadian, berusia enam tahun. Namun putri mereka memiliki hal yang berbeda dengan putri orang lain pada umumnya. Dia memiliki sesuatu yang spesial.
Rumah tangga mereka sebeanrnya baik-baik saja. Hanya memang satu tahun terakhir Aulia dan Galang sering bertengkar. Dan inti dari masalahnya adalah Cantika, Galang merasa malu memiliki anak yang dia pikir ga-gu. Dan itu semua karena Aulia. Dia menyalahkan Aulia sehingga membuatnya malu saat membawa mereka dalam pertemuan keluarga atau saat acara di kantor.
Semenjak itu, hubungan mereka terasa hambar, Galang seing pulang telat ke rumah.
pertengkaran terus berlanjut, apalagi keluarga Galang juga ikut campur hingga akhirnya Aulia dan Cantika melihat Galang bersama dengan seorang wanita bergandengan mesra. Hati Aulia rasanya semakin membeku. Tak ada lagi alasan untuk bertahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aulia 10
Suasana di halaman yayasan pagi itu begitu riuh. Balon-balon berwarna-warni sudah terpasang rapi, dan suara musik percobaan terdengar samar-samar dari dalam aula. Aulia turun dari mobil sambil menggandeng erat tangan Cantika yang tampak begitu bersemangat. Gadis kecil itu sesekali melompat kecil, tidak sabar untuk menunjukkan gaun indahnya kepada teman-temannya.
Galang baru saja mematikan mesin mobil dan hendak untuk membukakan bagasi, tiba-tiba ponsel di saku celananya bergetar hebat.
Nama Belinda berkedip di layar.
Galang tertegun di balik kemudi. Jantungnya mendadak berdegup kencang. Dia melirik ke luar jendela, melihat Aulia yang sedang merapikan poni rambut Cantika dengan penuh kasih sayang. Namun, getaran ponsel itu terasa begitu mendesak, seolah membawa ancaman bahwa jika diaa tidak mengangkatnya sekarang, kemewahan ego yang selama ini ia agungkan akan hancur.
Dengan tangan sedikit gemetar, Galang menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel ke telinganya, masih duduk di kursi kemudi.
"Halo, Bel?" bisik Galang lirih.
"Galang! Kamu di mana sih?!" suara Belinda melengking dari seberang telepon, terdengar sangat kesal.
"Aku sudah menelepon butik dan mereka bilang gaunku sudah siap. Kamu janji mau menjemput dan bayar sisa pelunasannya pagi ini, kan? Jangan bilang kamu telat karena urusan anakmu itu ya!"
"Bel, tapi hari ini Cantika..."
"Aku nggak mau tahu, Galang! Kalau dalam tiga puluh menit kamu nggak sampai di sini, kita selesai. Aku nggak butuh laki-laki yang nggak bisa dipegang omongannya!"
Klik.
Telepon diputus sepihak.
Galang menatap layar ponselnya yang menggelap dengan napas memburu. Kata-kata "kita selesai" dan ancaman kehilangan Belinda seketika membakar harga diri dan egonya yang rapuh. Bayangan restoran bintang lima, lingkaran sosial kelas atas, dan pujian Belinda seolah melenyapkan rasa bersalah yang sempat menggerogotinya semalam. Galang segera masuk lagi ke balik kemudi.
Aulia berjalan ke arah bagasi untuk mengambil tas perlengkapan Cantika. Namun, sebelum jemari Aulia menyentuh pintu bagasi, mesin mobil tiba-tiba menderu keras.
Aulia tersentak dan melangkah mundur. Melalui kaca spion, diaa bisa melihat sekilas wajah Galang yang tegang dan membuang muka, tak berani menatapnya. Tanpa turun, tanpa pamit, dan tanpa memikirkan perasaan anak kandungnya yang sebentar lagi akan naik panggung, Galang menginjak pedal gas dalam-dalam. Mobil itu bergerak mundur dengan cepat, memutar arah, lalu melesat keluar dari gerbang yayasan, meninggalkan kepulan asap tipis di udara.
Aulia berdiri terpaku di tempatnya. Angin pagi berembus, menerbangkan beberapa helai rambutnya yang lolos dari ikatan. Dia melihat mobil suaminya semakin menjauh hingga hilang di tikungan jalan. Di sampingnya, Cantika mendongak, menatap ibunya dengan tatapan bingung.
"Paa.. pa.. ma..?" tanya Cantika terbata, tangannya yang mungil menunjuk ke arah gerbang, mencari sosok ayahnya yang baru saja pergi.
Aulia tidak menjawab. Detik itu, dadanya terasa seperti dihantam godam yang sangat besar. Rasa sakit, kecewa, dan penghinaan yang bertumpuk selama enam bulan terakhir seolah mencapai puncaknya pagi ini.
Kedua tangan Aulia turun ke sisi tubuhnya. Perlahan, jemarinya menekuk, mengepal dengan sangat erat hingga buku-buku jarinya memutih. Kuku-kukunya memendam dalam ke telapak tangan, menyalurkan seluruh rasa sesak, amarah, dan harga diri seorang istri yang baru saja diinjak-injak demi wanita lain.
Cukup. Ini adalah batas terakhir kesabarannya.
Aulia memejamkan mata sejenak, menarik napas dalam-dalam, mengubur paksa badai emosi yang berkecamuk di dalam dadanya. Ketika dia membuka mata kembali, tatapan matanya telah berubah. Tidak ada lagi kesedihan, yang tersisa hanyalah tekad yang mengeras bagai baja.
Dia melonggarkan kepalan tangannya, lalu berlutut di hadapan Cantika. Dengan senyum paling tulus dan hangat yang bisa dia ciptakan, Aulia mengusap pipi putrinya.
"Papa ada urusan sebentar, Sayang. Tapi nggak apa-apa, kan ada Mama di sini," ujar Aulia, suaranya bergetar namun penuh penekanan.
"Hari ini, dunia cuma butuh melihat Cantika menari. Yuk, kita masuk dan bersiap. Mama akan jadi penonton paling depan untuk anak Mama yang paling hebat."
Cantika tersenyum lebar dan mengangguk ceria, kembali menggandeng tangan ibunya. Aulia bangkit berdiri, menegakkan punggungnya, dan melangkah masuk ke dalam yayasan dengan kepala tegak. Di dalam hatinya, sebuah keputusan besar telah bulat terpatri: setelah hari ini, tidak akan ada lagi tempat untuk Galang di hidup mereka. Walau Aulia tahu jika Cantika juga menyembunyikan kekecewaannya kepada sang ayah yang telah memberikan harapan palsu.
"Cantikaaaaaa.... Princeeeeesssss..." teriak Farrel yang baru saja tiba di sekolah bersama dengan sang papa. Senyum lebar terbit di bibir mungil Cantika.
"Aeeeeeeellll...."
"Wah... Benar ternyata Cantika sangat cantik seperti Princess..." Puji Pak Ghani, bahkan ayahnya sendiri sedari tadi tak memujinya.
"Aaaccciiihh..." Jawab Camtika tersenyum bahagia dan mencium punggung tangan Ayah Farrel.
Aulia memalingkan wajahnya menahan air mata jatuh di kedua matanya menahan rasa kecewa mendalam kepada sang suami. Bahkan dia memilih pergi di banding dengan melihat penampilan anaknya sendiri. Dan dia yakin jika suaminya menemui wanita yang sama, dengan wanita pemilik aroma parfum yang menempel dengan jelas di kemeja Galang. Namun dia tak punya bukti perselingkuhan Galang, karena pria itu pasti akan menggunakan alasan keluarganya.
Aulia juga tahu persis jika Galang tak memberikan sebagian uang gajinya untuk membantu sang keponakan di rumah sakit, karena Bu Ratna sendiri yang mengatakannya dan bahkan memakinya karena hal itu. Hal yang bhakan dia tak tahu, lelu kemana perginya uang gaji sang suami yang nilainya cukup banyak?
Kedua bocah itu berpegangan tangan dan masuk dengan riang ke dalam aula. Sedangkan Aulia masih mematung di sana, kakinya terasa berat untuk melangkah karena hatinya yang sedang tak baik-baik saja.
"Bu Aulia... Maaf sepertinya kita juga harus segera menyusul mereka ke dalam..." ajak Pak Gahani membuat Aulia tersentak mendengar suara bariton ayah Farrel itu.
"Ah iya... Maaf saya melamun," jawab Aulia yang di balas anggukan oleh Ghani.
Ghani tahu dan melihat sendiri bagaimana suami Aulia pergi begitu saja bahkan tanpa pamit kepada anak dan istrinya. Galang pergi setelah Aulia benar-benar menurunkan semua barangnya dan menutup bagasi. Hanya saja dia tahu batasan, dan memilih untuk diam dan pura-pura tidak tahu. Di dalam aula, Aulia berusaha memberikan senyumannya kepada sang anak sebelum duduk di kursi paling depan sesuai janjinya. Di sebelahnya juga duduk Ghani.
"Ini, minumlah..." Ghani menyodorkan sebuah cup coffe hangat kepada Aulia.
"Ah iya, terima kasih Pak Ghani..."
"Sama-sama... Karena hari ini kita harus menjadi support system untuk anak-anak hebat kita, Bu Aulia... Jadi kita orang tuanya juga harus memiliki tenaga dan yang besar, jangan sampai kita ngantuk saat mereka tampil.." ujar Ghani membuat Aulia terkekeh.