Semua orang menyebut Aelora anak kutukan. Ia dibuang, diburu, dan dibiarkan mati di hutan iblis. Tapi nasib berkata lain: Raja Iblis sendiri memungutnya dan menjadikannya putri kecil Nocthara. Kini Aelora harus menyembunyikan dua rahasia: ia pernah hidup di masa depan yang hancur, dan ia adalah anak malaikat yang dicari oleh Surga. Demi menyelamatkan ayah angkatnya dan mencegah perang tiga dunia, Aelora kecil harus mengubah takdir sebelum orang-orang yang ia cintai mati untuk kedua kalinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enzelynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tanda Hitam di Pergelangan
Kamar yang disiapkan untuk Aelora terlalu besar.
Itu hal pertama yang ia sadari setelah Kael membawanya masuk. Tempat tidurnya memiliki tiang-tiang tinggi dengan tirai ungu, perapian menyala di sudut ruangan, dan sebuah jendela lebar menghadap taman dalam. Bahkan lemari pakaiannya cukup besar untuk dijadikan tempat tinggal oleh dua anak seusianya.
Aelora duduk di tepi ranjang sambil memeluk Piko. Kakinya tidak menyentuh lantai.
Beberapa pelayan mondar-mandir membawa baskom air hangat, pakaian tidur, handuk, sisir, dan makanan. Mereka berusaha tidak menatap Aelora terlalu lama, tetapi rasa penasaran membuat mata mereka selalu kembali kepadanya.
Orin berdiri dekat pintu dengan buku catatan di tangan.
“Apakah ada sesuatu yang dibutuhkan?” tanyanya.
Aelora melihat nampan di meja. Ada bubur berwarna hitam, buah merah, roti kecil berbentuk tanduk, dan secangkir susu yang mengeluarkan asap ungu.
“Apakah susunya aman?”
Pelayan yang membawa nampan tampak tersinggung. “Tentu saja, Putri Kecil.”
Semua orang langsung menoleh kepadanya.
Wajah pelayan itu berubah pucat.
“Maksud saya… Anak Kecil. Tamu Kecil. Nona Kecil.”
Aelora menatap Kael yang berdiri tidak jauh dari jendela.
“Aku bukan putri.”
“Belum ada yang mengatakan kau putri,” jawab Kael.
“Pelayan itu mengatakannya.”
“Dia panik.”
Pelayan tersebut mengangguk terlalu cepat.
Orin menutup bukunya. “Kami akan meninggalkan ruangan agar Tabib Eirna dapat memeriksa Nona Aelora.”
Para pelayan membungkuk dan keluar. Pelayan yang salah menyebut Aelora sebagai putri menjadi orang pertama yang mencapai pintu.
Setelah ruangan lebih tenang, Eirna meletakkan tasnya di atas meja. Ia sudah mengganti mantel basahnya dan menggulung lengan kemeja sampai siku.
“Sekarang,” katanya, “kita mulai dari hal yang sederhana.”
“Aku sudah diperiksa di kereta.”
“Itu pemeriksaan darurat.”
“Berarti ini tidak darurat?”
“Belum.”
Jawaban itu tidak membuat Aelora merasa lebih tenang.
Eirna menarik bangku dan duduk di depannya. “Saya perlu melihat luka di punggungmu.”
Aelora memeluk Piko lebih erat.
Kael masih berada di ruangan. Sejak mereka masuk, ia belum bertanya lagi tentang panggilan Kae. Sikap diamnya justru membuat Aelora lebih gugup. Kael selalu menjadi jauh lebih berbahaya ketika menyimpan pertanyaan.
“Aku bisa sendiri,” kata Aelora.
Eirna melirik Kael. “Yang Mulia, mungkin Anda bisa menunggu di luar.”
“Aku tetap di sini.”
“Dia tidak nyaman.”
Kael memandang Aelora.
Aelora menunduk. “Aku tidak apa-apa.”
Eirna menghela napas. “Jawaban itu biasanya berarti sebaliknya.”
Kael akhirnya bergerak menuju pintu. Sebelum keluar, ia berhenti dan menatap Aelora sekali lagi.
“Aku berada di luar.”
Aelora mengangguk.
Pintu tertutup, tetapi bayangan Kael masih terlihat di celah bawahnya. Ia benar-benar tidak pergi jauh.
Eirna mengambil pakaian tidur dari atas kursi. “Kita ganti pakaianmu dulu. Gaun ini sudah basah dan penuh lumpur.”
Aelora meletakkan Piko di sampingnya, lalu mengangkat kedua tangan. Eirna membantu melepaskan gaun yang menempel di kulit.
Gerakan tabib itu melambat ketika punggung Aelora terlihat.
Ada beberapa bekas luka tipis di bawah tulang belikat. Sebagian sudah lama dan memucat, sebagian lain masih berwarna kemerahan. Bekas cambukan kecil juga terlihat di lengan atas, nyaris tertutup rambut.
Eirna tidak langsung bertanya.
Ia mengambil kain hangat, membersihkan lumpur di bahu Aelora, lalu berkata, “Siapa yang melakukan ini?”
“Orang-orang di rumah.”
“Karena apa?”
Aelora mencoba mengingat alasan terakhir kali ia dipukul. Mungkin karena lilin padam ketika ia masuk ruangan. Atau karena piring pecah, meski ia tidak menyentuhnya. Di rumah itu, alasan berubah-ubah sesuai siapa yang sedang marah.
“Mereka bilang kutukanku membuat masalah.”
“Dan mereka berpikir memukulmu akan menghilangkannya?”
“Mereka bilang rasa sakit membuat roh jahat takut.”
Eirna menekan bibirnya hingga membentuk garis tipis. “Manusia punya banyak cara aneh untuk membenarkan kekejaman.”
Aelora menatap wajahnya melalui cermin kecil di meja.
“Orang iblis tidak memukul anak?”
“Ada orang jahat di mana-mana.” Eirna membalut salah satu luka di bahunya. “Namun mereka tetap jahat. Kami tidak menyebutnya ibadah.”
Kalimat itu membuat Aelora terdiam.
Di Asteria, setiap hukuman selalu disertai doa. Para pendeta mengatakan rasa sakit membersihkan jiwa. Aelora terlalu kecil saat itu untuk menyadari bahwa doa tidak otomatis membuat tindakan seseorang menjadi benar.
Setelah mengenakan pakaian tidur, Eirna meminta Aelora duduk lebih dekat ke cahaya.
“Sekarang pergelangan tanganmu.”
Aelora menyembunyikan tangan kiri di balik punggung.
“Harus?”
“Harus.”
“Apa kau akan memotongnya?”
Eirna berhenti menyiapkan alat. “Siapa yang mengatakan saya akan memotong tanganmu?”
“Pendeta pernah bilang begitu.”
“Pendeta yang sama yang membuangmu?”
Aelora mengangguk.
Eirna meletakkan semua alat di meja, sengaja memperlihatkan bahwa tidak ada pisau di antara botol-botolnya. “Saya tidak akan memotong apa pun. Kalau ada tindakan yang menyakitkan, saya akan memberitahumu lebih dulu.”
“Benar?”
“Benar.”
Aelora menyerahkan tangannya.
Eirna membersihkan lumpur yang menutupi tanda hitam. Bentuknya lebih jelas sekarang: garis-garis tipis menyebar dari bagian dalam pergelangan, menyerupai akar pohon atau urat daun. Di tengahnya terdapat lingkaran kecil yang hampir tidak terlihat.
Tabib itu mendekatkan lampu rune.
“Tanda ini dibuat dari luar,” katanya.
Aelora mengerutkan dahi. “Maksudnya?”
“Bukan kutukan yang lahir bersama tubuhmu. Seseorang menanamnya.”
“Kapan?”
“Itu yang harus kita cari tahu.”
Eirna mengambil batu bening dari kotak kayu. Ketika batu tersebut diletakkan di atas tanda, warna di dalamnya berubah dari bening menjadi kelabu, lalu hitam.
“Rune penyegel,” gumamnya. “Tapi lapisannya terlalu banyak.”
Aelora memperhatikan wajah Eirna.
“Apakah buruk?”
“Belum tentu.”
“Itu jawaban yang sama seperti sebelumnya.”
“Karena saya belum tahu.”
Eirna mengambil selembar kertas tipis dan menekannya ke pergelangan Aelora. Salinan tanda hitam berpindah ke atas kertas, tetapi hanya bertahan beberapa detik sebelum terbakar dari tengah.
Tabib itu menarik tangannya.
Asap tipis naik ke udara.
“Apa yang terjadi?” tanya Aelora.
“Segelnya menolak disalin.”
“Apakah kutukan biasanya begitu?”
“Tidak.”
Eirna berdiri dan membuka pintu.
Kael sudah berada tepat di luar, seolah sejak tadi menunggu dengan telinga menempel pada kayu meski tentu saja ia tidak akan mengakuinya.
“Ada apa?” tanyanya.
“Saya membutuhkan ruang pemeriksaan yang memiliki lingkaran penahan.”
Kael masuk. “Kenapa?”
“Karena tanda itu bereaksi terhadap alat biasa.”
Aelora menatap mereka bergantian. “Kalian bisa bicara tanpa membuatku seperti tidak ada di sini.”
Eirna menoleh. “Benar. Maaf.”
Kael tampak tidak terbiasa meminta maaf, jadi ia hanya berjalan mendekati ranjang.
“Apakah dia dalam bahaya?”
“Saat ini tidak.”
“Jawabanmu buruk.”
“Jawabannya jujur.”
Kael melihat pergelangan tangan Aelora. Tanda hitam itu tampak lebih gelap daripada sebelumnya.
“Apa yang kau butuhkan?”
“Ruang penyembuhan kecil di sayap dalam. Jangan ruang utama. Terlalu banyak orang.”
Kael mengangguk. “Kita pergi sekarang.”
“Aku tidak mau dipindahkan lagi,” kata Aelora.
Keduanya menatapnya.
Aelora memegang ujung selimut. “Aku lelah.”
Eirna menyentuh dahinya. Demamnya belum turun. “Pemeriksaannya tidak lama.”
“Mereka juga selalu bilang begitu.”
Kata-kata itu keluar sebelum Aelora sempat menahannya.
Eirna tidak mencoba membujuk lagi. Ia hanya duduk di samping ranjang dan berkata, “Apa yang biasanya mereka lakukan?”
Aelora menatap tangannya.
“Mengikatku.”
Kael tidak bergerak, tetapi cahaya perapian mengecil tiba-tiba.
“Untuk memeriksa kutukan,” lanjut Aelora. “Kadang tanganku dipegang. Kadang mereka memasukkan jarum ke tanda ini. Kalau lampunya mati, mereka bilang aku melawan.”
Eirna menutup kotak alatnya. “Kita tidak akan mengikatmu.”
“Bagaimana kalau aku bergerak?”
“Kita berhenti.”
“Kalau lampunya mati?”
“Kita menyalakannya kembali.”
“Kalau aku membuat sesuatu meledak?”
Eirna melirik Kael. “Raja akan mengganti barangnya.”
Kael mengangkat alis. “Kenapa aku?”
“Karena istana ini milik Anda.”
Untuk pertama kalinya sejak pemeriksaan dimulai, Aelora tersenyum kecil.
Kael melihat senyum itu, lalu mengulurkan tangan. “Aku akan menggendongmu.”
“Aku bisa jalan.”
“Kakimu masih sakit.”
“Aku tidak suka digendong di depan banyak orang.”
“Lorongnya akan dikosongkan.”
Aelora mempertimbangkan tawaran tersebut. Akhirnya ia mengulurkan tangan sambil tetap membawa Piko.
Kael mengangkatnya dengan gerakan yang lebih hati-hati daripada sebelumnya. Eirna membawa tas dan berjalan di depan.
Lorong benar-benar kosong.
Kael rupanya sudah memberi perintah tanpa Aelora dengar. Hanya beberapa penjaga berada di persimpangan, dan mereka langsung memalingkan wajah agar tidak membuatnya merasa diperhatikan.
Ruang penyembuhan kecil terletak tidak jauh dari kamar. Dindingnya berwarna abu-abu, lebih sederhana daripada bagian istana lain. Di lantai terdapat lingkaran rune yang bentuknya seperti bunga dengan delapan kelopak.
Eirna menyalakan empat lampu di sudut ruangan.
“Aelora duduk di tengah,” katanya. “Kael boleh tetap di dekat pintu.”
“Kenapa aku di dekat pintu?”
“Karena sihir Umbra Anda dapat mengganggu hasil pemeriksaan.”
Kael tampak tidak senang, tetapi menurut.
Aelora duduk di atas bantal di tengah lingkaran. Piko diletakkan di pangkuannya. Eirna memasang gelang perak tipis pada tangan kanan Aelora, kemudian menaruh kristal bening di depan pergelangan kirinya.
“Ini tidak sakit,” kata Eirna. “Kristalnya hanya membaca aliran sihir.”
Aelora mengangguk.
Eirna menyentuh salah satu rune di lantai.
Cahaya biru mengalir mengelilingi lingkaran. Kristal di depan Aelora mulai bergetar, lalu perlahan berubah warna.
Merah.
Ungu.
Emas.
Kemudian hitam.
“Empat jenis reaksi?” gumam Eirna.
Kael berdiri lebih tegak. “Artinya?”
“Belum tahu.”
“Lagi-lagi.”
Eirna mengabaikannya.
Tanda di pergelangan Aelora mulai terasa panas. Ia menggeser tangan, tetapi Eirna segera menghentikan aliran rune.
“Terasa sakit?”
“Seperti digigit semut.”
“Semut sebesar apa?”
Aelora berpikir. “Sebesar kucing.”
“Jadi cukup sakit.”
Eirna menurunkan intensitas cahaya. “Kita coba sekali lagi, lebih pelan.”
Lingkaran menyala kembali.
Kali ini tanda hitam tidak hanya menghangat. Garis-garisnya bergerak di bawah kulit, berkumpul di tengah pergelangan. Aelora menahan napas ketika lingkaran kecil di pusat tanda terbuka seperti mata.
Kristal di depannya langsung retak.
Eirna mematikan rune.
Namun tanda itu tidak berhenti.
Cahaya hitam keluar dari pergelangan Aelora dan membentuk rantai tipis di udara. Ujungnya menancap pada lantai, dinding, dan langit-langit. Seluruh ruang penyembuhan mendadak terasa sempit.
“Aelora, jangan bergerak,” kata Eirna.
“Aku tidak bergerak.”
Rantai kedua muncul.
Piko terjatuh dari pangkuannya ketika tubuh Aelora tersentak. Ia memegang tangan kirinya dengan tangan kanan, tetapi panasnya semakin kuat.
“Matikan segelnya,” kata Kael.
“Saya sedang mencoba.”
Eirna menekan beberapa rune sekaligus. Tidak ada yang berubah. Rantai hitam justru semakin banyak, membentuk sangkar di sekeliling Aelora.
Napas anak itu mulai pendek.
Ruang gereja terlintas dalam ingatannya. Tali di kedua tangan. Suara pendeta membaca doa. Jarum dingin menyentuh kulit.
“Aku mau keluar,” katanya.
Eirna mengangkat kepala. “Sebentar.”
“Aku mau keluar sekarang.”
“Aelora, dengarkan saya. Segelnya sedang membuka lapisan luarnya.”
“Aku tidak peduli.”
Rantai hitam melilit pergelangan tangannya.
Aelora menariknya, tetapi rantai itu semakin kencang. Ia mendengar suara yang sangat pelan dari dalam tanda, seperti doa yang dibisikkan oleh banyak orang sekaligus.
Anak kegelapan.
Darah tercemar.
Kunci harus tidur.
“Ayah.”
Kael sudah bergerak sebelum kata itu selesai.
Eirna berdiri menghalanginya. “Jangan masuk. Umbra Anda bisa membuatnya lebih kuat.”
“Dia ketakutan.”
“Kalau Anda menyentuh lingkaran—”
Kael melangkah melewatinya.
Rune di lantai menyala hitam saat sepatu botnya masuk. Rantai-rantai itu langsung berbalik menuju tubuhnya, tetapi Kael tidak berhenti.
Ia berlutut di depan Aelora.
“Lihat aku.”
Aelora menggeleng. Matanya terpejam rapat.
“Aelora.”
“Aku tidak mau diikat.”
“Tidak ada yang mengikatmu.”
“Ada.”
Kael memegang kedua bahunya. Rantai hitam merambat ke lengannya dan membakar kain pakaiannya.
“Kau berada di Nocthara,” katanya. “Bukan di gereja.”
Suara-suara di dalam tanda semakin keras.
Aelora membuka mata sedikit.
Kael ada di depannya.
Bukan Mareth. Bukan pendeta lain.
Kael.
Ia mencoba mengatur napas.
“Aku tidak bisa melepaskan tanganku.”
“Berikan kepadaku.”
Aelora ragu.
“Percaya padaku.”
Kalimat itu membuat dadanya sakit. Dalam kehidupan lain, terlalu banyak hal terjadi karena ia mempercayai orang yang salah. Namun Kael tidak pernah memintanya percaya dengan mudah. Ia biasanya hanya berdiri di sampingnya sampai Aelora membuat keputusan sendiri.
Aelora mengulurkan tangan kiri.
Kael menggenggam pergelangannya tepat di atas tanda hitam.
Eirna berseru, “Yang Mulia, jangan—”
Cahaya meledak dari tangan mereka.
Semua rantai hitam putus bersamaan.
Kael hampir kehilangan keseimbangan, tetapi tetap memegang Aelora. Tanda di pergelangan anak itu menggeliat, warnanya berubah dari hitam menjadi abu-abu, kemudian putih terang.
Garis-garis yang sebelumnya menyerupai akar mulai menyusun bentuk baru.
Bukan kutukan.
Bukan mata.
Sepasang sayap kecil terbentuk di atas kulit Aelora, dengan sebuah lingkaran emas di tengahnya.
Cahaya yang sama muncul di belakang punggungnya.
Hanya sebentar, tetapi cukup jelas bagi semua orang di ruangan itu untuk melihat siluet sayap putih terbuka dari tubuh seorang anak manusia.
Eirna menjatuhkan kristal dari tangannya.
Kael menatap tanda tersebut tanpa berkedip.
Di tengah cahaya, muncul satu baris tulisan kuno.
Tulisan dalam bahasa Elyrion yang seharusnya tidak dapat dibaca oleh iblis.
Namun Kael membacanya.
DARAH PENJAGA LANGIT TELAH DITEMUKAN.
Cahaya padam.
Aelora jatuh ke depan dan tertangkap dalam pelukan Kael.
Sebelum kehilangan kesadaran, ia mendengar Eirna berkata dengan suara nyaris tidak terdengar,
“Itu bukan segel kutukan.”
Kael memandang tanda sayap yang masih tersisa di pergelangan Aelora.
“Tidak,” katanya.
Wajahnya menjadi jauh lebih gelap.
“Itu segel untuk menyembunyikannya.”