Hanan mendekat perlahan ke arah istrinya. Senyum tipis namun tulus di wajahnya tak pernah hilang. “Alhamdulillah… sekarang kamu adalah istriku sepenuhnya, sah secara agama dan negara.” Kanza melirik suaminya itu dengan mata menyipit, berusaha menutupi rasa salting-nya yang luar biasa. “Iya, sudah sah secara dokumen, tapi kan belum sah secara dompet. Kado mana kadooo? Manaaa? Katanya dosen sukses!” Bella menepuk jidatnya sendiri. “Ya Allah, Kanza… baru semenit jadi istri sudah malak suami.” Hanan tertawa pelan, tawa yang jarang sekali ia tunjukkan di depan umum. Ia kemudian menyodorkan sebuah kotak kecil mungil yang manis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Fey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Hari kedua perkuliahan belum juga dimulai, namun Kanza Arumi dan Tasya sudah terlihat duduk santai di kantin kampus yang mulai ramai.
Dua sahabat absurd ini sudah seperti kawan lama yang terpisah ribuan tahun, tertawa keras sampai tersedak, berbicara cepat tanpa titik koma, dan saling melempar komentar nyeleneh layaknya duo komedian papan atas.
Tasya menyeruput es tehnya dan menyenggol lengan Kanza.
“Kanza, hari ini kita harus fokus, ya. Jangan sampai kejadian kemarin terulang. Pas dosen masuk, kamu malah bisik-bisik bilang dia mirip vampire Arab yang baru bangun tidur tapi tetap glow up.”
Kanza mendengus, tangannya sibuk mengaduk bakso.
“Lah, memang kenyataannya begitu. Dingin sekali auranya, sedingin es krim yang lupa ditaruh di freezer. Tapi ya... harus kuakui, kerennya memang tidak manusiawi.”
Tiba-tiba, suara riuh dari meja di sebelah mereka mulai terdengar menusuk telinga.
Empat orang mahasiswi baru sedang berceloteh sambil tertawa geli, tak sadar bahwa mereka sedang menyiram bensin ke api kecil yang sedang berusaha tidur di dalam dada Kanza.
“Dosen itu tuh siapa namanya? Arkan... Hanam Arfan?” tanya salah satu mahasiswi dengan mata berbinar.
“Hanan Arkan!” jawab yang lain dengan semangat membara.
“Ya ampun, menurutku dia bukan dosen, lebih cocok jadi model jas almamater atau aktor film religi yang diculik ke dunia nyata!”
“Aku rela deh ikut remedial seumur hidup kalau dibimbing langsung sama beliau. Sumpah, dosen seperti itu bikin aku ingin langsung minta disidang skripsi besok pagi!”
“Mau lah aku kejar sampai dapat! Gantengnya kebangetan, tatapannya itu... bikin jantung copot dan rahim goyang, sis!”
Tasya menoleh pelan ke arah Kanza yang kini sudah terdiam membeku.
Matanya menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong, lalu bibirnya melengkung pelan, sebuah senyum mengerikan yang biasanya hanya dimiliki tokoh antagonis saat akan memusnahkan dunia.
Kanza berdiri dengan gerakan lambat diikuti Tasya yang mulai gemetar, lalu ia berjalan mendekat ke arah meja mereka dengan langkah yang mantap.
BRAKK!!
Kanza meninju meja kayu itu dengan tenaga dalam yang luar biasa, membuat es teh di meja itu meloncat dan seluruh penghuni kantin mendadak senyap, menatap mereka dengan wajah heran sekaligus ngeri.
"Astaga, Kanza!" teriak Tasya histeris.
“Kalau meja ini bisa bicara, dia pasti sudah menjerit-jerit bilang ‘Stop! Kupingku panas!’ Serius, kalian bisa tidak sih membicarakan dosen seperti orang waras sedikit? Dia itu pengajar, bukan boyband Korea! Atau... kalian lupa kalau dunia nyata itu tidak seluas delusi murah kalian?” sentak Kanza dengan nada yang sanggup membekukan atmosfer seketika.
“MURAHAN TAHU TIDAK?! Gosip modal seribu saja belagunya minta ampun, lihat itu muka sudah seperti kodok gatal-gatal!”
Beberapa orang yang menyaksikan kejadian itu sampai syok, apalagi Tasya.
Gadis itu kini merasa seolah jiwanya sedang terbang terbawa puting beliung; ia malu setengah mati dan ingin segera menghilang ditelan bumi atau pura-pura menjadi pot bunga di pojok kantin.
Salah satu dari mereka yang tidak terima dilabrak begitu saja, langsung berdiri dengan mata menyala.
Ia mengambil segelas es jeruk yang masih penuh dan menyiramkannya tepat ke wajah Kanza.
Hal itu membuat Tasya berteriak dan ibu kantin buru-buru berlari melapor ke satpam.
"Aaa! ya ampun, Kanza!"
Napas Kanza memburu, air jeruk menetes dari ujung jilbabnya, dan matanya mulai memerah karena emosi yang meluap.
"KAMU SIAPA SIH HAH?! IKUT CAMPUR URUSAN ORANG?! Merasa senior di sini? Aku lihat kamu seperti maba, tapi kenapa kelakuanmu seburuk ini? Kamu yang murahan, ya! Sok suci pakai jilbab segala tapi otaknya kosong melompong!" teriak mahasiswi itu tanpa takut.
Mendengar ucapan panas yang menghina prinsip hidupnya itu, Kanza dengan kecepatan cahaya menarik rambut perempuan yang berani nyolot padanya.
Teman-teman mahasiswi itu panik dan berusaha menolong, menciptakan kekacauan luar biasa di tengah kantin.
"KAMU YANG CARI GARA-GARA YA, SETAN! MENDING AKU PAKAI JILBAB, LAH KAMU? LIHAT INI RAMBUTMU SUDAH MIRIP SABUT CUCI PIRING BEGINI BANGGA?! Bagusan juga pencuci wajan emakku di rumah!" Kanza mendorong kuat bahu gadis itu hingga terhuyung.
Setelah itu, beberapa satpam pun datang mengamankan keributan yang sudah tidak terkendali.
Orang-orang di sekitar mulai berbisik-bisik dan menjadikan kejadian itu gosip hangat.
Bagaimana dengan keadaan Tasya? Jangan ditanya. Gadis itu berdiri mematung seperti patung selamat datang yang kehilangan akal sehatnya, meratapi nasib hari keduanya yang sudah se-ekstrem ini karena bersahabat dengan seorang Kanza Arumi.
“Kanza... lo yakin kita nggak bakal langsung di-DO dari kampus gara-gara keributan di kantin tadi?” Tasya berbisik dengan nada setengah panik, kakinya gemetar saat mereka berdiri kaku di depan pintu kayu jati ruang dosen yang tertutup rapat.
Kanza Arumi melirik Tasya dengan tatapan malas, meski sebenarnya dalam hati ia sedang merapalkan seribu doa.
“Elah, lebay banget sih lo. Itu cuma keributan kecil antarmuka, bukan tawuran antar warga. Lagian salah sendiri, siapa suruh mereka ngoceh soal suami orang tepat di depan lubang telinga gue.”
Tasya mendecak frustrasi.
“Yaaa tapi lo juga bar-bar banget, Kanza! Gue kira lo cuma mau lemparin sendok, eh malah jambak rambut orang sampai hampir copot! Gue berasa lagi syuting film aksi tapi versi pesantren!”
Sebelum Kanza sempat membalas dengan pembelaan yang lebih ajaib, pintu ruang dosen terbuka perlahan.
Seorang staf TU keluar dengan wajah datar tanpa ekspresi dan berkata pelan.
“Kanza Arumi dan Tasya? Silakan masuk. Bapak sudah menunggu.”
Mereka melangkah masuk dengan perasaan was-was.
Ruangan itu terasa dingin karena AC dan tertata sangat rapi, dengan rak buku penuh jurnal tebal serta aroma kopi yang maskulin.
Tapi bukan interior ruangan itu yang membuat jantung Kanza berdebar kencang sampai ke ubun-ubun.
Sebab, yang duduk dengan wibawa di balik meja dosen besar itu adalah suaminya sendiri.
Hanan Arkan mengangkat pandangannya perlahan dari lembar laporan insiden kantin.
Ia menatap mereka dengan mata tenangnya yang kini terlihat sangat tidak tenang, ada kilat kekecewaan sekaligus keheranan di sana.
Tasya langsung menyikut lengan Kanza dan berbisik heboh.
“Buset... itu dosen yang lo bilang vampire Arab kemarin? Gila, aslinya jauh lebih keren daripada di kelas! Kanza, gue deg-degan parah. Gue harus jaga image biar nggak malu-maluin di depan calon imam—”
“Duduk.”
Suara Hanan terdengar sangat tenang, namun memiliki tekanan otoritas yang begitu kuat.
Kanza dan Tasya otomatis langsung duduk tegak seperti dua anak SD yang baru saja ketahuan mencoret-coret meja guru menggunakan spidol permanen.
Hanan melipat tangannya di atas meja, menatap lurus ke arah istrinya. Tatapannya tajam dan menyelidik, seolah sedang melakukan interogasi tingkat tinggi.
“Jadi... kalian berdua membuat kegaduhan luar biasa di kantin tadi. Menegur mahasiswa lain dengan bahasa yang sangat tidak pantas untuk ukuran mahasiswi terpelajar.”
Tasya langsung mengangkat tangan dengan panik.
“Pak, itu bukan... itu bukan sepenuhnya salah Kanza saja, Pak. Maksud saya, mereka itu bicaranya sudah keterlaluan dan—”
“Tidak perlu saling menyalahkan atau mencari pembelaan. Saya sudah membaca laporan ini,” Hanan menepuk pelan kertas di mejanya dengan nada dingin.
“Dan... saya tahu persis gaya bicara seseorang jika sedang emosi dengan sangat baik.”
Kanza memalingkan wajah ke arah jendela, menghindari kontak mata.
“Iya deh... salah gue. Puas?” gumamnya lirih yang untungnya tidak terlalu terdengar oleh Tasya.
Tasya berbisik heran, “Eh... lo kenapa sih? Kok lo mendadak ciut begini? Biasanya lo paling nyolot sedunia!”
Kanza buru-buru menyahut dengan suara tertahan.
“Biasa... aura dosen killer. Gila lo, siapa yang nggak takut lihat muka datar begitu!”
Hanan berdiri dari kursinya, berjalan perlahan ke sisi meja, lalu bersandar dengan tangan menyilang di dada.
Postur tubuhnya yang tinggi membuat ruangan itu terasa semakin sempit bagi Kanza.
“Baik. Karena ini baru peringatan pertama dan kalian mahasiswa baru, saya tidak akan membuat laporan resmi ke bagian kemahasiswaan. Tapi... saya harap kalian menjaga sikap dan lisan kalian di area kampus. Terutama kamu, Kanza.”
Tasya melongo lebar, matanya berkedip tidak percaya.
“Lho... kok Bapak manggil lo 'kamu' doang? Lah tadi ke gue bilangnya 'kalian'... Kanza... lo kenal dia ya? Ada hubungan gelap apa lo sama dosen ini?”
Kanza langsung berdiri dengan gerakan secepat kilat.
“Yuk, Tasya, kita keluar sekarang! Sudah beres, urusan selesai, ayo kabur!”
“Lah... lah... kenapa lo malah kabur? Gue masih mau lihat mukanya yang estetik itu!”
Tasya nyaris terseret-seret keluar ruangan karena ditarik paksa oleh Kanza.
Sementara itu, di dalam ruangan, Hanan Arkan hanya bisa menghela napas panjang dan berat.
Begitu pintu tertutup rapat, ia memejamkan mata dan mengusap wajahnya dengan telapak tangan, mencoba menahan tawa sekaligus pusing.
“Kanza... sifat bar-bar kamu kumat lagi di tempat yang paling tidak tepat, ya?” gumamnya pelan sambil menatap pintu, menyadari bahwa kehidupan kampusnya tidak akan pernah tenang selama ada istrinya di sana.
Sesampainya di rumah, Hanan mendapati sang istri tengah asyik bergelung di sofa ruang tengah.
Kanza tampak begitu khusyuk memangku semangkuk camilan penuh bumbu micin, sementara matanya terpaku pada layar televisi yang sedang menayangkan drama favoritnya.
"Kanza," panggil Hanan lembut seraya melangkah mendekat.
"Hm?" sahut Kanza singkat, disusul tawa kecil yang lolos begitu saja karena adegan lucu di depannya. Ia bahkan tidak menoleh sedikit pun.
Hanan menghela napas pendek, meletakkan ranselnya di sudut sofa sebelum akhirnya ikut duduk di samping sang istri.
"Mas mau bicara sebentar."
"Ya sudah, bicara saja. Telingaku masih berfungsi baik, kok," jawab Kanza tanpa mengalihkan pandangannya dari layar TV, tangannya sibuk memasukkan keripik ke dalam mulut.
"Lain kali... tolong jangan terlibat keributan seperti tadi di kampus lagi," pinta Hanan dengan nada rendah namun penuh penekanan.
Seketika, atmosfer di ruangan itu berubah. Tawa Kanza lenyap.
Ia meletakkan mangkuk camilannya dengan dentang pelan, lalu memalingkan wajah menatap Hanan dengan raut ketus yang kentara.
"Kenapa?" tanyanya dingin.
"Mas hanya tidak ingin kamu terbelit masalah. Mas mau kamu kuliah dengan tenang, fokus belajar, tanpa harus membuang energi untuk urusan yang tidak perlu seperti tadi," jelas Hanan sabar, mencoba memberi pengertian.
"Oh," ucap Kanza singkat, senyum sinis tipis tersungging di bibirnya.
Ia kembali membuang muka, menatap layar TV seolah-olah nasihat suaminya itu hanyalah angin lalu yang mengganggu pendengarannya.
Melihat reaksi cuek istrinya, Hanan tidak menyerah. Ia bergeser lebih dekat, lalu dengan gerakan lembut namun pasti, ia meraih dagu Kanza memaksa gadis itu untuk kembali menatap langsung ke dalam manik matanya.
"Mas serius, Sayang. Ini bukan soal melarang kamu membela diri, tapi soal bagaimana kamu menjaga diri," ucap Hanan dengan suara serak yang tenang, mengunci pandangan Kanza agar tidak bisa lagi menghindar.
Kanza menepis tangan Hanan dengan gerakan kasar, matanya menyala penuh kilatan emosi yang selama ini ia tahan sejak di kantin tadi.
Ia berdiri dari sofa, membuat bantal di sampingnya terjatuh ke lantai.
"Menjaga diri kata Mas?" suara Kanza meninggi, bergetar karena amarah yang meluap.
"Mas pikir aku ini anak kecil yang suka cari keributan cuma karena kurang kerjaan? Aku melakukan itu karena mereka sudah keterlaluan, Mas!"
Hanan menghela napas, mencoba tetap tenang.
"Kanza, Mas tahu mereka salah, tapi cara kamu—"
"Cara aku kenapa? Kasar? Bar-bar?" potong Kanza cepat, dadanya naik turun menahan sesak.
"Mas nggak dengar apa yang mereka omongkan! Mereka membicarakan Mas seolah-olah Mas itu barang pajangan yang bisa mereka tawar. Mereka bilang Mas ganteng, Mas mempesona, bahkan ada yang bilang ingin mengejar Mas sampai dapat!"
Kanza melangkah maju, menunjuk dada Hanan dengan jari telunjuknya yang gemetar.
"Mas mungkin merasa itu cuma pujian mahasiswa biasa, tapi buat aku itu penghinaan! Aku istrinya, Mas! Api di sini rasanya mau meledak setiap kali dengar perempuan lain membayangkan suamiku yang bukan-bukan. Dan Mas dengan gampangnya minta aku diam dan belajar dengan tenang?"
Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Kanza, bukan karena sedih, tapi karena rasa cemburu yang membakar hebat.
"Mas mau aku jadi istri sholehah yang cuma bisa senyum manis saat suaminya jadi bahan fantasi satu kampus? Maaf, aku nggak selembut Zahira yang mungkin cuma bakal istighfar kalau digituin. Aku Kanza! Aku nggak rela satu inci pun dari Mas jadi bahan obrolan murahan mereka!"
Hanan tertegun. Ia terdiam menatap istrinya yang kini napasnya memburu dengan wajah memerah.
Ia baru menyadari bahwa di balik sikap bar-bar Kanza hari ini, mulai ada rasa cinta yang begitu protektif dan rasa takut kehilangan yang sangat besar yang sedang berteriak minta pengakuan.
"Kanza..." Hanan mencoba meraih tangan istrinya lagi, kali ini dengan tatapan yang jauh lebih lembut dan penuh rasa bersalah.
Hanan tertegun melihat pertahanan istrinya yang hancur dalam bentuk kemarahan yang meledak-ledak.
Ia bangkit dari sofa, mencoba meraih bahu Kanza yang masih gemetar karena emosi.
"Sayang, dengar dulu..." suara Hanan lembut, mencoba menjadi air bagi api yang berkobar.
"Mas mengerti kamu cemburu, dan Mas sangat menghargai itu. Tapi Mas tidak mau kamu dapat masalah di kampus. Kalau kamu kena sanksi atau dipanggil dekan, Mas yang paling sedih."
"Sedih?" Kanza tertawa sinis, air mata yang tadi menggenang akhirnya jatuh membasahi pipinya.
"Mas sedih karena aku bikin malu nama baik Mas sebagai dosen? Itu kan yang Mas khawatirkan? Mas lebih peduli citra Mas daripada perasaan aku yang harus dengerin mereka bilang 'ingin minta disidang skripsi besok pagi' cuma biar bisa berduaan sama Mas!"
Kanza memalingkan wajah, menyeka air matanya dengan kasar.
"Mas nggak tahu rasanya jadi aku. Mas itu milik aku, tapi di kampus seolah-olah Mas itu milik umum yang boleh dikomentari fisiknya sembarangan. Aku nggak terima, Mas! Aku nggak akan pernah terima!"
Hanan menatap wajah istrinya yang penuh keras kepala dan cinta yang membara secara bersamaan.
Ia sadar, kata-kata bijak atau nasihat logis tidak akan bisa menembus dinding cemburu yang sudah mengeras itu.
Kanza tidak butuh penjelasan; dia butuh bukti bahwa dia adalah satu-satunya pemilik takhta di hati Hanan.
Tanpa sepatah kata pun, Hanan menarik tubuh Kanza ke dalam pelukannya.
Sebelum Kanza sempat protes atau memberontak, Hanan menangkup kedua pipi istrinya dengan telapak tangan yang hangat, lalu sedetik kemudian, ia mendaratkan sebuah kecupan lembut tepat di bibir Kanza.
Seketika, dunia seolah berhenti berputar bagi Kanza.
Oksigen di sekitarnya terasa menghilang. Matanya yang tadi menyala penuh amarah kini membelalak kaget. Ini adalah tindakan yang sangat tidak terduga dari seorang Hanan Arkan yang biasanya kaku, formal, dan penuh tata krama.
Sentuhan lembut itu terasa begitu dalam, menyalurkan ketenangan yang asing namun sangat ia butuhkan.
Hanan melepaskan tautan bibir mereka perlahan, namun tetap membiarkan kening mereka bersentuhan. Ia menatap lekat ke dalam mata Kanza yang kini tampak linglung.
"Sudah padam apinya?" bisik Hanan dengan suara serak yang sangat maskulin, napasnya terasa hangat di wajah Kanza.
"Jangan pernah ragu. Mau seribu mahasiswi bicara apa pun di luar sana, pemilik rumah ini cuma kamu. Mas cuma pulang ke kamu, Kanza."
Kanza terdiam seribu bahasa. Amarah yang tadi setinggi langit mendadak padam total, berganti dengan debaran jantung yang menggila dan rona merah yang menjalar hingga ke telinganya.
Si dosen vampire Arab-nya ini benar-benar tahu cara paling ampuh untuk membuat istrinya bungkam tanpa kata.
Sentuhan lembut yang hanya berlangsung beberapa detik itu sanggup melumpuhkan seluruh saraf di tubuh Kanza.
Amarah yang tadinya meluap-luap layaknya lahar panas, kini membeku seketika, digantikan oleh sensasi aneh yang menggelitik hingga ke ujung jari kaki.
Kanza mematung. Tangannya yang tadi siap memukul dada Hanan kini terkulai lemas, meremas ujung kemeja suaminya dengan sisa tenaga yang ada.
Jantungnya berdentum begitu keras, seolah ingin melompat keluar dan memprotes tindakan tiba-tiba sang dosen vampire Arab tersebut.
"Mas..." gumam Kanza nyaris tak terdengar. Suaranya hilang, tertelan oleh rasa kaget yang luar biasa.
Ini adalah ciuman pertamanya. Sesuatu yang selama ini hanya ia baca dalam barisan kalimat di novel-novel romansa atau ia tonton dalam drama Korea yang sering membuatnya berteriak gemas.
Namun, merasakannya secara langsung dan dilakukan oleh suaminya sendiri dengan cara se-otoriter itu membuat logika Kanza korsleting total.
Hanan perlahan menjauhkan wajahnya, namun tangannya masih betah melingkar di pinggang sang istri.
Ia menatap lekat wajah Kanza yang kini sudah berubah warna menjadi merah padam, jauh lebih merah daripada sambal cilok maut milik Aisah tadi siang.
"Kenapa? Tadi galak sekali, sekarang kok mendadak jadi patung?" goda Hanan dengan senyum tipis yang tampak begitu menyebalkan sekaligus mempesona di mata Kanza.
Kanza mengerjapkan matanya berkali-kali, berusaha mengumpulkan kembali kesadarannya yang berantakan.
Ia segera mendorong dada Hanan, meski kali ini tanpa tenaga dan memalingkan wajahnya ke arah lain.
Ia tidak sanggup menatap mata suaminya yang terlihat begitu tenang, seolah tidak baru saja melakukan 'pencurian' besar-besaran terhadap aset berharga istrinya.
"Mas... Mas main curang!" ketus Kanza dengan suara yang bergetar karena malu.
"Tiba-tiba banget... itu kan ciuman pertama Kanza!"
Hanan terkekeh rendah, suara tawanya terdengar begitu renyah dan penuh kemenangan.
Ia kembali mendekat, membisikkan sesuatu tepat di telinga Kanza yang kini terasa panas.
"Kalau tidak begitu, kamu tidak akan berhenti jadi singa, Sayang. Lagipula, Mas kan suamimu. Memangnya mau dikasih ke siapa lagi kalau bukan ke Mas?"
Kanza semakin menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangannya. Rasa canggung yang luar biasa menyelimutinya.
Ia yang biasanya paling berisik dan nyolot, kini benar-benar kehilangan kata-kata.
Ternyata, pesona Hanan Arkan saat sedang mode "suami posesif" jauh lebih berbahaya daripada saat ia sedang memberikan kuliah di depan kelas.
~~~NEXT~~~
Salam Hangat Dari Penuliss....