Tiga tahun Davira bertahan dalam pernikahan perjodohan yang dingin dengan Arka. Baginya, Arka adalah satu-satunya tempat bersandar setelah ayahnya meninggal karena bangkrut dan adik laki-lakinya hilang tanpa kabar di luar negeri. Davira terus bertahan, berharap kehadiran seorang anak kelak bisa melunakkan hati suaminya.
Namun, takdir justru merenggut segalanya dalam semalam. Di saat dokter memvonisnya menderita kanker rahim stadium 3 dan harus mengangkat rahimnya.
Bukannya mendapat perlindungan, Davira malah dihujat mandul oleh ibu mertua dan adik iparnya. Arka yang tega bahkan memberinya ultimatum: menerima Sheila sebagai istri kedua, atau pergi dari rumah tanpa membawa sepeser pun uang.
Di titik terendah hidupnya, hati Davira mati. Dia memilih pergi membawa luka dan penyakitnya. Davira bersumpah akan sembuh, bangkit, dan kembali untuk membuat Arka beserta keluarganya membayar mahal setiap tetes air mata dan penghianatan keji ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Almesha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Badai Skandal di Pagi Hari
Sinar matahari pagi yang menembus jendela kamar utama mansion keluarga Narendra tidak membawa kehangatan, melainkan ketakutan yang nyata. Tepat pukul enam pagi, ponsel Arka Narendra tidak berhenti berdering. Puluhan panggilan dari dewan direksi, manajer humas, hingga relasi bisnis masuk secara beruntun bagai berondongan peluru.
Dengan kepala yang masih pening akibat pertengkaran hebat semalam, Arka meraih ponselnya. Begitu dia membuka salah satu aplikasi berita daring terbesar, matanya membelalak sempurna. Jantungnya seolah berhenti berdetak.
Di halaman utama, sebuah video amatir berdurasi dua menit menjadi berita teratas yang paling banyak dibagikan. Judulnya terpampang nyata dengan huruf tebal yang sangat provokatif:
"Skandal Restoran Mewah: CEO Narendra Group Tertangkap Basah Mengemis Cinta pada Mantan Istri, Istri Kedua Histeris di Depan Publik!"
Di dalam video tersebut, rekaman suara Arka yang memelas cinta pada Vira terdengar sangat jernih. Ditambah lagi, adegan Sheila yang berteriak histeris menuduh Vira mandul dan pertengkaran fisik pasutri itu di akhir video terekam dengan sudut pandang yang sangat jelas. Kolom komentar dipenuhi oleh puluhan ribu hujatan netizen yang mengutuk tabiat Arka yang tidak tahu malu serta tabiat Sheila yang dicap sebagai perusak rumah tangga orang.
"Arka! Bagaimana ini bisa terjadi?!"
Pintu kamar digebrak dengan keras. Siska masuk dengan wajah yang sudah memerah padam, memegang tablet digitalnya yang juga menampilkan berita yang sama. Di belakangnya, Maya tampak menangis panik.
"Ma... Arka juga tidak tahu siapa yang merekam kejadian itu," ucap Arka, suaranya bergetar hebat. Dia buru-buru turun dari ranjang, mencoba mencari pakaian kerjanya dengan tangan yang gemetar.
"Ini pasti ulah wanita mandul itu! Davira sengaja menjebak kita!" pekik Siska histeris. "Lihat ini! Saham Narendra Group yang tadinya mulai stabil karena isu investasi, pagi ini langsung anjlok lagi hingga menyentuh batas bawah! Sentimen publik sangat negatif, Arka!"
Belum sempat Arka menjawab, Sheila keluar dari kamar mandi dengan mata yang bengkak karena menangis semalaman. Wajahnya tidak lagi secantik dulu, melainkan dipenuhi gurat kecemasan yang amat sangat. "Mas... tolong bilang kalau video ini bisa dihapus. Aku tidak mau keluar rumah kalau semua orang menatapku seperti ini!"
"Diam kamu, Sheila! Ini semua karena kebodohanmu yang melabrakku di tempat umum!" bentak Arka, meluapkan seluruh kekesalannya pada wanita yang kini dia anggap sebagai pembawa sial. "Kalau saja kamu tidak datang berteriak seperti orang gila, Davira tidak akan punya alasan untuk mempermalukan kita!"
"Kamu menyalahkan aku, Mas?!" jerit Sheila tidak terima. "Kamu sendiri yang bilang di rekaman itu mau menceraikan aku! Kamu yang mengemis pada wanita cacat itu!"
"Cukup! Jangan bertengkar di depan Ibu!" Siska menimpali dengan suara melengking. "Arka, sekarang fokusmu adalah pergi ke kantor V-Tech. Kontrak 500 miliar itu harus ditandatangani hari ini juga. Tidak peduli Davira mau menghina kita seperti apa, ambil uangnya dulu untuk menyelamatkan saham kita yang terjun bebas!"
Arka menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan sisa-sisa harga dirinya yang sudah hancur berantakan. Ibunya benar. Skandal ini hanya bisa diredam jika Narendra Group mengumumkan secara resmi kerja sama raksasa mereka dengan V-Tech Investment. Uang adalah satu-satunya obat untuk memulihkan nama baik mereka saat ini.
Satu jam kemudian, Arka tiba di gedung perkantoran V-Tech Investment. Tidak seperti kedatangannya yang lalu dengan kepala tegak, kali ini Arka melangkah masuk dengan menundukkan kepala, menghindari tatapan para karyawan dan awak media yang mulai mengendus keberadaannya.
Di dalam ruang kerja Direktur Utama, Vira Mahendra sedang menikmati secangkir kopi hitam tanpa gula sembari membaca koran bisnis pagi. Di sampingnya, Reno sedang memeriksa laporan pergerakan saham Narendra Group yang terus memerah di layar laptop.
Tok! Tok!
Sekretaris Vira masuk dengan ekspresi formal. "Ibu Vira, Tuan Arka Narendra sudah tiba di depan dan memohon untuk bertemu dengan Anda segera tanpa janji temu."
Vira meletakkan cangkir kopinya perlahan, menimbulkan dentingan halus di atas meja kaca. "Biarkan dia masuk."
Pintu terbuka, dan Arka melangkah masuk dengan langkah yang teramat berat. Wajah pria itu tampak sangat kuyu, kontras dengan Vira yang terlihat begitu segar, anggun, dan berkuasa dalam balutan blazer formal berwarna putih gading.
Arka tidak langsung duduk. Dia berdiri di depan meja Vira, lalu meletakkan dokumen kontrak kerja sama yang sudah dia tanda tangani di atas meja dengan tangan yang sedikit bergetar.
"Aku sudah menandatanganinya, Vira," ucap Arka dengan nada suara yang sangat rendah, hampir seperti berbisik. "Seluruh syarat gila yang kamu ajukan... hak kendali 45% saham, pengawasan keuangan sepihak, semuanya sudah aku setujui. Sekarang, tolong cairkan dananya hari ini juga. Saham perusahaanku sedang hancur akibat... akibat kejadian semalam."
Vira tidak langsung menyentuh dokumen tersebut. Dia hanya meliriknya sekilas, lalu menatap Arka dengan senyuman tipis yang teramat dingin—senyuman seorang predator yang melihat mangsanya masuk ke dalam perangkap dengan sukarela.
"Tuan Arka, Anda sepertinya salah paham," ucap Vira, nadanya terdengar begitu santai namun menusuk hingga ke tulang. "Kontrak yang Anda tanda tangani itu adalah draf kesepakatan dua hari yang lalu. Sebelum nama baik perusahaan Anda hancur total karena skandal moral yang Anda buat sendiri semalam."
Arka tersentak, firasat buruk langsung menghantam dadanya. "Apa maksudmu, Vira?"
Reno berdiri dari kursinya, mengambil dokumen dari meja lalu melemparkannya kembali ke arah dada Arka hingga kertas-kertas itu berserakan di lantai. "Maksud dari kakakku adalah, nilai Narendra Group pagi ini sudah tidak berharga 500 miliar lagi, Tuan Arka! Dengan adanya skandal menjijikkan itu, risiko investasi kami meningkat berkali-kali lipat!"
Vira memajukan tubuhnya, menatap Arka dengan pandangan mata elang yang tak kenal ampun. "Jika Anda masih menginginkan uang itu mengalir ke rekening perusahaan Anda sebelum bursa saham ditutup sore ini, syaratnya harus diubah. Aku menuntut 55% saham kepemilikan Narendra Group. Itu artinya... hak kepemilikan mayoritas dan kendali mutlak atas perusahaan warisan ayahmu akan beralih sepenuhnya ke tanganku."
"Nggak! Kamu keterlaluan, Davira!" teriak Arka, wajahnya memerah padam menahan amarah yang meledak. "55% saham?! Itu sama saja kamu merampok perusahaanku! Papa membangun perusahaan itu dengan darah dan air mata, aku tidak akan membiarkanmu merebutnya begitu saja!"
"Kalau begitu, silakan keluar dari ruanganku," sahut Vira dengan nada acuh tak acuh, kembali bersandar di kursi kebesarannya. "Silakan tunggu sampai jam empat sore ini ketika bursa saham ditutup, dan lihat bagaimana Narendra Group dinyatakan pailit secara hukum. Aku akan dengan senang hati membeli sisa aset perusahaanmu yang bangkrut itu di meja lelang dengan harga seperseratus dari nilai aslinya."
Arka mematung di tempatnya berdiri. Napasnya memburu, memandang Vira dengan kombinasi rasa benci, takut, dan tak berdaya. Wanita di hadapannya ini benar-benar telah menjelma menjadi iblis yang siap mencabut nyawanya perlahan-lahan. Dia tidak punya pilihan lain. Menolak berarti hancur seketika, menerima berarti menjadi budak di perusahaannya sendiri.
Dengan air mata frustrasi yang mengalir di sudut matanya, Arka berlutut di lantai, memungut lembar demi lembar kontrak yang berserakan, lalu mengambil pulpen di kantong jasnya. Di bawah tatapan dingin Vira dan senyum kemenangan Reno, Arka menorehkan tanda tangannya di atas draf kontrak baru yang telah direvisi.
"Pilihan yang sangat bijak, Tuan Arka," ucap Vira lirih seraya mengambil kontrak yang baru ditandatangani tersebut. "Sekarang, kembalilah ke kantormu dan bersiaplah untuk menerima perintah pertamaku sebagai pemilik saham mayoritas barumu."
Di belahan sudut kota yang lain, di dalam sebuah ruang konferensi bernuansa minimalis modern milik Atmadja Group, Adrian Atmadja sedang mendengarkan laporan dari Yuda mengenai perkembangan terbaru akuisisi saham Narendra Group oleh V-Tech.
Begitu mendengar bahwa Vira berhasil merenggut 55% saham mayoritas dari tangan Arka hanya dalam waktu satu pagi, Adrian tidak bisa menahan tawa rendahnya. Ada rasa bangga yang luar biasa besar membuncah di dalam dadanya.
"Wanita yang cerdas," gumam Adrian seraya memutar-mutar gelas berisi kopi hangat di tangannya. "Dia menggunakan kebodohan mantan suaminya sendiri untuk memotong harga perusahaan mereka sampai ke dasar."
"Benar, Pak Adrian. Pergerakan Ibu Vira sangat taktis," sahut Yuda sopan. "Lalu, bagaimana dengan rencana Anda untuk akhir pekan ini? Saya sudah menjadwalkan kunjungan ke taman bermain pribadi atas permintaan Den Elvano."
Adrian melirik ke arah Elvano yang sedang asyik menggambar di meja kecil sudut ruangan. Bocah itu menggambar tiga sosok manusia yang saling bergandengan tangan: seorang pria tinggi, seorang anak kecil, dan seorang wanita berambut pendek dengan tulisan polos di bawahnya: “Papa, El, Tante Cantik.”
Adrian tersenyum lembut, lalu kembali menatap Yuda dengan pandangan penuh tekad. "Kirimkan undangan resmi dari Atmadja Group ke kediaman Vira Mahendra malam ini. Katakan padanya bahwa ini adalah undangan makan siang bisnis sekaligus... janji pertemuan dengan Elvano. Pastikan dia tidak punya alasan untuk menolaknya."