Lucien Scott, pengusaha muda yang menggawangi raksasa bisnis di bawah naungan GS Company, tak sadar telah jatuh cinta pada seorang gadis bernama Andrea. Sosok menggemaskan dengan sikap tegas dan terang-terangan, hadir memberikan warna baru di hidupnya yang terkontrol rapi tanpa cacat. Mencintai dengan bengis, menjadi perjalanan cinta cukup menggelitik di mata orang-orang sekitar mereka. Intrik sederhana menjadi pemanis saat keduanya mulai saling menyadari perasaan masing-masing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. ( Pujian )
Ditemani tetangga, Nenek Erwita melangkah tergesa-gesa masuk ke rumah sakit guna menjenguk cucunya yang sedang dirawat. Sejak mengetahui kabar ini, dirinya terus dilanda perasaan gelisah. Andai tak dicegah oleh para tetangga, sudah sejak siang tadi dia datang kemari.
"Permisi. Pasien dengan nama Andrea dirawat di ruangan mana ya?"
"Sebentar, Nyonya. Saya cek dulu," sahut perawat. "Pasien atas nama Nona Andrea dirawat di ruangan VVIP."
"Baiklah. Terima kasih banyak."
"Sama-sama, Nyonya."
VVIP? Itu adalah ruangan yang harga permalamnya mahal sekali. Nenek Erwita cemas, darimana dia mendapatkan uang untuk membayar tagihan rumah sakit?
"Nenek Erwita, kita sudah sampai. Aku tunggu di luar dulu ya. Nanti kita gantian membesuknya."
"Iya. Kalau begitu aku masuk dulu."
Di dalam kamar, Andrea yang masih tidur sama sekali tak menyadari apa yang sedang diperbuat oleh Lucien. Sejak satu jam yang lalu pria ini terus saja menatap wajahnya dari dekat. Entah apa yang dipikirkan. Yang jelas, posisi mereka seperti orang yang hendak berciuman.
Ceklek
"Berisik. Cepat pergi, jangan ganggu!" usir Lucien tanpa melihat siapa yang datang. Kalau bukan dokter pasti Veroz yang muncul.
"Ekhmmm!"
"Aku bilang jangan berisik. Bebal sekali sih."
Jengkel, Lucien segera melayangkan tatapan tajam pada orang yang berani mengganggu kesenangannya. Akan tetapi kemarahannya musnah seketika begitu tahu siapa yang berdiri di sana.
"Nenek?"
"Apa aku mengganggu?" tanya Nenek Erwita sungkan. Sudah dua kali dia dibentak oleh bosnya Andrea. Orang ini mudah sekali emosi. Seram.
"Iya." Lucein menggigit bibir. Dia salah bicara. "Tidak. Aku pikir yang datang adalah pengganggu, ternyata bukan. Hehehe."
"Bagaimana keadaan cucuku sekarang? Apa kata dokter? Dia sakit apa?"
Dicecar pertanyaan beruntun, Lucien bergegas menghampiri neneknya Andrea lalu mengingatkan agar tidak berisik. Setelah itu dia membimbingnya duduk di sofa.
"Andrea kenapa?" tanya Nenek Erwita setengah berbisik.
"Dokter bilang dia anemia dan kurang istirahat," jawab Lucien jujur. "Karena takut Andrea mati sia-sia, jadi aku memaksanya untuk dirawat di sini."
"T-takut dia mati?"
(Astaga, Lucien. Mulutmu benar-benar tak bisa di filter ya. Kau sedang bicara dengan orang tua. Lembutlah sedikit)
Orang tua mana yang tidak syok mendengar jawaban sedemikian rupa. Sama halnya dengan yang dirasakan oleh Nenek Erwita. Bagaimana mungkin ada manusia yang tega bicara seperti itu? Nenek Erwita jadi merasa iba akan nasib cucunya ketika sedang berada di kantor. Pasti pria jahat ini membullynya habis-habisan.
"Emm Nenek, tolong jangan salah paham. Gaya bicaraku memang seperti ini. Sebenarnya aku khawatir, takut Andrea kenapa-napa. Makanya aku tak mengizinkan dia pulang dan menempatkannya di ruangan paling mahal agar dokter bisa terus memantau kondisinya dengan teliti," jelas Lucien agak canggung. Rasanya aneh memberi penjelasan pada orang tua.
"Tuan, aku ....
"Panggil Lucien saja, Nek. Kalau Andrea tahu kau memanggilku Tuan, bisa-bisanya dia menceramahiku dari subuh ke subuh."
"Oh begitu ya?" Nenek Erwita menurut. "Lucien, jujur saja kami tidak punya banyak uang yang tersimpan di bank. Dirawat di kamar semahal ini takutnya kami tak mampu membayar. Bisakah kau membantu memindahkannya ke ruangan biasa?"
Wajah Lucien seketika berubah masam mendengar permintaan Nenek Erwita. Yang benar saja ingin memindahkan Andrea ke ruangan biasa. Apa di mata orang tua ini dia terlihat seperti orang miskin?
"Bisa atau tidak?"
"Begini ya Nek, aku bukannya sombong. Apa penampilanku terlihat seperti orang susah? Mirip kalian misalnya?" seloroh Lucien menahan dongkol. "Andrea dirawat di ruangan ini atas keinginanku yang artinya akulah yang akan menanggung biayanya. Kalian ini kenapa sih kompak sekali takut tak mampu membayar. Padahal di sini ada orang yang jelas-jelas tampan dan kaya raya siap menggelontorkan dana sebanyak apapun itu. Apa yang perlu dirisaukan, hm?"
Nenek Erwita cengo. Walaupun sudah tua tapi telinganya masih bisa mendengar dengan baik. Sungguh, ini adalah kali pertama Nenek Erwita bertemu orang yang kadar tak tahu malunya sudah melampaui batas. Siapa sangka ternyata bosnya Andrea mengidap penyakit narsistik.
"Apa kau tidak malu bicara seperti itu di depan orang tua, bos?"
Terusik oleh suara, Andrea akhirnya terbangun dari tidur. Dan betapa muaknya dia mendengar ucapan Lucien saat menyombongkan diri di depan neneknya. Sayang jarak mereka agak jauh. Andai dekat, Andrea pasti sudah menjambak rambutnya.
"Ck, Nenek sih. Jadi bangunkan dia?" omel Lucien kemudian berjalan ke arah Andrea. Tak menghiraukan keberadaan Nenek Erwita, dia sigap menempelkan tangan mengecek suhu. "Panasnya sudah turun. Kau selamat dari maut, An."
"Bicara sembarangan sekali lagi jarum infus ini akan langsung berpindah ke mulutmu. Mau?"
"An, kau itu baru saja bangun dan sudah langsung mengomel. Dapat tenaga dari mana?"
Diam-diam Nenek Erwita tersenyum melihat interaksi kedua orang itu. Sungguh percakapan yang terdengar kasar, tapi terlihat manis di mata. Cucunya sudah bisa mengomel, itu tandanya tak ada lagi yang perlu dikhawatirkan.
"Nenek datang dengan siapa?" tanya Andrea mengalihkan percakapan. Neneknya sudah tua, pasti panik saat tahu kalau dirinya dibawa ke rumah sakit. "Maaf ya membuat Nenek khawatir."
"Makanya lain kali jangan berlebihan saat main ponsel. Untung saja cuma masuk angin dan kurang darah. Coba bayangkan kalau biji matamu yang keluar. Wajahmu pasti jelek sekali," ledek Lucien ikut menimbrung obrolan. Iseng, dia mencubit kaki Andrea yang keluar dari selimut. "Bulu kakimu banyak sekali. Jangan-jangan kau adalah ratu di kerajaan monyet ya?"
Pletakk
Lucien meringis sambil mengusap kepalanya yang baru saja dijitak. Saat ingin protes, dia cepat-cepat menutup mulutnya melihat Andrea menunjuk jarum infus.
"Benar-benar ya kau ini. Asal bicara sembarangan. Segala ratu kerajaan monyet di sebut. Memangnya aku binatang?" amuk Andrea tak habis pikir. Muak, dia melayangkan ekpresi memelas pada sang nenek. "Tolong usir orang gila ini dari sini, Nek. Aku tak tahan mendengar ocehannya."
"Haihh kalian ini ya. Sudah sama-sama besar tapi masih saja bertengkar. Apa setiap hari seperti ini kejadiannya?" sahut Nenek Erwita sembari menggelengkan kepala. Lucu, tapi juga kasihan pada cucunya.
Andrea dan Lucien kompak mengangguk. Bertengkar dan adu mulut sudah menjadi keseharian mereka di kantor.
"Kau sedang sakit, An. Jangan marah-marah dulu. Nanti lama sembuhnya."
"Bagaimana aku tidak marah. Nenek tadi lihat sendirikan seperti apa kelakuannya?" sahut Andrea bersungut-sungut. Bibirnya lalu berkomat kamit tanpa suara saat Lucien menatapnya sambil menyeringai.
"Memang agak menyebalkan, tapi Lucien baik. Dia menempatkanmu di ruangan yang paling bagus. Menanggung biayanya pula. Jadi jangan terlalu galak padanya ya?"
Ruh Lucien seketika melayang keluar setelah dipuji oleh neneknya Andrea. Dadanya membusung, sombong. Tak disangka orang tua ini bisa melihat kelebihannya, jauh lebih peka dari cucunya malah. Hahaha.
"Aihh, reaksimu menggelikan sekali."
"Biar saja. Hehe,"
"Jangan tertawa. Itu membuatku semakin kesal."
Andrea memejamkan mata, berusaha meredam emosi saat Lucien dengan sengaja tertawa di depan wajahnya.
"Kalau mau tertawa ya tertawa saja, An. Jangan ditahan. Aku tahu kok di dalam hatimu sebenarnya kau juga sedang memuji kebaikanku," ucap Lucien penuh percaya diri.
(Dia jelek sekali saat sedang merajuk begini. Jadi ingin menciumnya. Hehehe)
"Oke. Karena hari ini kau begitu baik mau merawat, menjaga dan membayar tagihan rumah sakitku, aku tulus berterima kasih padamu. Kali ini ku akui kau tampan dan baik hati, bos," ucap Andrea sambil tersenyum lebar. Jujur pujian ini tulus dari dasar hati. Hanya saja saat mengucapkan kalimat tampan dan baik hati, itu agak sedikit terpaksa.
"Hah?"
Bukannya merespon, Lucien malah memasang ekspresi seperti orang bodoh. Ini telinganya tak salah dengarkan? Andrea baru saja memujinya tampan dan baik hati. Ya ampun.
"Eh, kau mau ke mana?"
"Bicara dengan langit." Lucien menatap Andrea sebelum menutup pintu. Dia bergumam licik. "Sering-seringlah kau masuk rumah sakit. Dengan begini aku akan terus dipuji olehmu. Hehehe,"
***
Sudah lama juga, nggk pernah baca novel dari penulis ini. 😂😂😂 Terakir tahun 2022 yang lalu dah. Waktu Di Novel "Love Story Eleanor dan Gabriele... 😂😂😂