NovelToon NovelToon
ISTRI RAHASIA PANGERAN KAMPUS

ISTRI RAHASIA PANGERAN KAMPUS

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rizky Mutha

Raymond dikenal di seluruh kampus sebagai Pangeran Kampus. Wajahnya tampan dengan sorot mata dingin yang sulit ditebak. Ia jarang berbicara, tetapi sekali bertindak, tak seorang pun berani membantah. Latar belakang keluarganya yang kaya dan berpengaruh membuat namanya selalu menjadi pusat perhatian. Namun, di balik sikapnya yang tenang dan dingin, Raymond memiliki sisi yang sangat posesif terhadap satu orang—istri rahasianya.
Angela adalah kebalikan dari Raymond. Gadis berusia delapan belas tahun itu berpenampilan tomboy, lebih nyaman mengenakan jaket dan sepatu kets daripada gaun. Rambut hitamnya selalu dikuncir satu sederhana, membuat wajah manisnya terlihat segar. Meski terlihat ceria dan mandiri, Angela tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah terikat dalam pernikahan rahasia dengan pria yang paling populer di kampus.

Di tengah halaman kampus yang dipenuhi sinar matahari dan pepohonan rindang, Raymond berdiri di belakang Angela. Tanpa memedulikan tatapan orang-orang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizky Mutha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 29

Selesai sarapan, suasana rumah kembali dipenuhi kesibukan pagi. Beberapa pelayan sibuk membereskan meja makan, sementara Pak Darto, sopir pribadi kelurga wijaya sudah menunggu di halaman depan untuk menyiapkan mobil.

Angela berpamitan kepada Bu Sulastri terlebih dahulu sebelum naik ke lantai dua untuk berganti pakaian.

---

Beberapa belas menit kemudian, pintu kamar Angela perlahan terbuka. Angela keluar dengan penampilan khasnya. Ia mengenakan hoodie putih yang dipadukan dengan celana jeans biru muda dan sepatu kanvas putih. Rambut panjangnya diikat menjadi ekor kuda sederhana. Wajahnya memang masih sedikit pucat, tetapi jauh lebih segar dibandingkan tadi pagi. Ia menuruni tangga sambil membawa tas ransel di bahu.

"Bu, Angela berangkat dulu." Bu Sulastri yang sedang duduk di ruang keluarga langsung berdiri.

"Yakin kuat kuliah, Nduk? Kalau masih sakit, nggak usah dipaksain." Angela tersenyum menenangkan.

"Udah jauh lebih enakan, Bu. Lagian, udah terlalu banyak mata kuliah yang ketinggalan. hari ini ada presentasi juga, nggak mungkin Angela bolos." Bu Sulastri menghela napas pelan.

"Ya sudah. Tapi kalau badanmu mulai nggak enak, langsung pulang. Jangan dipaksakan."

"Iya, Bu."

Tak lama kemudian, suara langkah kaki terdengar dari arah tangga. Semua orang yang ada di ruang keluarga spontan menoleh.

Raymond turun dengan penampilannya yang langsung mencuri perhatian. Ia mengenakan kemeja putih bersih yang dipadukan dengan celana bahan hitam serta jas bomber hitam favoritnya. Jam tangan mewah melingkar di pergelangan tangan kirinya, sementara tas selempang kulit menggantung santai di bahunya. Begitu melihat Raymond, Richard langsung menyenggol pelan lengan Raina.

"Datang nih, aktor utamanya," bisik Richard sambil menyenggol lengan Raina.

"Ssst!" bisik Raina sambil menahan tawa.

Raymond menghampiri ruang keluarga.

"Dad, Ma... saya berangkat." Raymond dan Angela menyalami para orang tua itu.

"Hati-hati," jawab Edward.

"Jangan ngebut," tambah Diana. Raymond mengangguk singkat.

"Iya." Baru saja ia hendak melangkah keluar, Diana tiba-tiba memanggil.

"Raymond." Raymond berhenti.

"Iya, Ma?"

"Angela masih kurang enak badan." Raymond menoleh ke arah Angela, tatapan mereka bertemu sesaat.

"Lalu?"

"Pastikan dia nggak kecapekan." Angela langsung melambaikan kedua tangannya.

"Tante, Angela nggak apa-apa kok." Diana pura-pura tidak mendengar.

"Kalau perlu, jangan biarin dia jalan jauh."

"Iya."

"Kalau dia pusing..."

"Iya."

"Kalau dia—"

"Ma." Raymond memotong pelan.

"Nanti Angela malu." Angela yang berdiri di samping Bu Sulastri langsung menundukkan kepala sambil tersenyum canggung.

"Iya, Tante. Teman-teman kampus nanti malah salah paham." Diana malah tersenyum jahil.

"Memangnya salah paham kenapa?" Angela langsung salah tingkah.

"Ya... ya..." Richard menyahut sambil terkekeh.

"Dikira lagi pacaran."

"Richard!" seru Raina sambil mencubit pinggang adiknya.

"Aduh! Sakit!" Ruangan pun dipenuhi gelak tawa. Angela sampai menutupi wajahnya karena malu.

"Richard, ih..."

"Apa? Aku kan cuma ngomong kemungkinan."

Raymond melirik adiknya dengan tatapan datar.

"Richard."

"Iya, Kak?"

"Kalau mulutmu masih susah dikontrol..." Ucapan Raymond langsung di piring oleh Richard, Richard langsung mengangkat kedua tangan.

"Udah, udah. Aku diem." Melihat ekspresi ketakutan Richard, semua orang kembali tertawa.

---

Di halaman depan. Sebuah mobil sport hitam mewah sudah terparkir rapi. Pak Darto berdiri di samping mobil sambil membukakan pintu belakang.

"Silakan, Tuan Muda." Raymond menggeleng.

"Nggak usah." Pak Darto tampak bingung.

"Ada apa, Tuan Muda?"

"Saya yang nyetir."

"Baik, Tuan." Raymond mengambil alih kunci mobil. Ia kemudian membuka pintu kursi penumpang depan. Angela yang berdiri beberapa langkah di belakang tampak sedikit terkejut.

"Masuk."

Angela menunjuk dirinya sendiri.

"Aku?"

"Iya."

"Eh, nggak apa-apa aku di belakang aja." Angela menggaruk pipinya yang mulai memanas. Raymond menatapnya tanpa berkedip.

"Kenapa?"

"Ya... nggak enak aja."

"Kenapa nggak enak?" Angela kehabisan alasan.

Soalnya... kalau duduk di depan, rasanya terlalu dekat dengan Raymond. Melihat Angela hanya diam, Raymond mengembuskan napas kecil.

"Apa aku harus ngangkat kamu dulu baru mau masuk?"

"Hah?" Mata Angela langsung membulat.

Raymond memang memasang wajah datar, tetapi nada bicaranya terdengar seperti ancaman yang sangat serius.

"Nggak usah! Aku masuk sendiri." Angela buru-buru menggeleng. Dengan wajah memerah, Angela cepat-cepat masuk ke kursi penumpang.

Dari teras rumah...

Raina yang menyaksikan semuanya langsung memegang lengan Richard.

"Richard..."

"Hm?"

"Tadi aku nggak salah dengar, kan?" Richard menyeringai lebar.

"Kak Raymond baru aja ngancem mau gendong kak Angela." Raina langsung menutup mulutnya agar tidak menjerit kegirangan.

"Ya ampun... dinginnya cuma di wajah." Richard mengangguk penuh keyakinan.

"Hatinya mah udah anget." Sementara itu, di dalam mobil, Angela masih menatap lurus ke depan, berusaha menyembunyikan wajahnya yang memerah. Raymond memasang sabuk pengaman, lalu melirik sekilas ke arahnya.

"Kamu kenapa?" Angela buru-buru menggeleng.

"Nggak kenapa-kenapa."

"Yakin?"

"Iya." Raymond memperhatikan wajah Angela beberapa detik.

"Pipimu merah." Angela spontan menutup kedua pipinya.

"Ini... ini kepanasan." Raymond melirik ke arah AC mobil yang sejak tadi sudah menyala.

"AC-nya dua puluh derajat." Angela langsung terdiam. Raymond memalingkan wajah ke depan. Sudut bibirnya terangkat sangat tipis, nyaris tak terlihat.

"Ternyata, Kamu gampang malu juga," gumamnya pelan.

"Raymond!" Angela refleks memukul pelan lengan Raymond. Begitu sadar dengan apa yang baru saja dilakukannya, Angela langsung membeku.

Raymond menoleh perlahan, tatapan mereka kembali bertemu. Angela buru-buru menarik tangannya sambil tersenyum canggung.

"Maaf... refleks."

Raymond tidak marah. Sebaliknya, ia hanya tersenyum tipis sebelum menyalakan mesin mobil.

"Nggak apa-apa."

Mobil sport hitam itu pun perlahan meninggalkan kediaman Wijaya, membawa keduanya menuju kampus, sementara sepasang mata milik Raina dan Richard masih memperhatikan dari teras rumah dengan senyum penuh arti.

"Fix," bisik Richard.

"Kita bakal sering lihat adegan kayak gini."

Raina terkekeh pelan.

"Dan aku siap jadi penonton baris paling depan."

Mobil sport hitam itu melaju mulus meninggalkan kawasan elite tempat keluarga Wijaya tinggal. Suasana di dalam mobil terasa begitu tenang.

Hanya terdengar alunan musik instrumental lembut yang mengalun pelan dari speaker mobil, berpadu dengan suara mesin yang nyaris tak terdengar.

Angela duduk tegak di kursi penumpang sambil memangku tas ranselnya. Entah mengapa, sejak kejadian barusan, ia menjadi salah tingkah. Sesekali ia mencuri pandang ke arah Raymond yang sedang fokus menyetir.

Tangannya mantap menggenggam kemudi, sementara pandangannya lurus ke depan. Cahaya matahari pagi yang menembus kaca depan membuat garis wajah tegas pria itu terlihat semakin tampan.

Angela buru-buru mengalihkan pandangannya.

"Astaga... kenapa malah merhatiin dia sih?" gumamnya pelan. Raymond yang mendengar suara gumaman pelan itu melirik sekilas.

"Kamu ngomong apa?" Angela langsung tersentak.

"Hah? Nggak... nggak ngomong apa-apa."

"Yakin?"

"Iya." Raymond tidak bertanya lagi. Beberapa menit kemudian, mobil berhenti di lampu merah.

Raymond melirik ke samping.

"Kondisimu gimana?" Angela menoleh.

"Hm?"

"Masih sakit?" Angela tersenyum tipis.

"Masih sedikit. Tapi udah jauh lebih mendingan." Raymond mengangguk pelan.

"Kalau nanti di kampus sakit lagi..."

Ia berhenti sejenak, memastikan Angela memperhatikannya.

"...telepon gue."

Angela berkedip.

"Lo?"

"Iya."

"Tapi kita beda fakultas."

"Nggak masalah." Angela terkekeh pelan.

"Emangnya Lo mau ninggalin kelas cuma gara-gara gue?" Raymond menjawab tanpa ragu.

"Kalau perlu." Jawaban singkat itu membuat Angela kehilangan senyumnya sesaat.

Jantungnya kembali berdetak sedikit lebih cepat. Ia buru-buru memalingkan wajah ke arah jendela agar Raymond tidak melihat pipinya yang kembali memerah.

Beberapa detik berlalu. Tiba-tiba, Perut Angela berbunyi pelan, seketika Angela langsung membeku.

"Ya ampun..."cicitnya. Ia memejamkan mata rapat-rapat karena malu.

Raymond menoleh.

"Lapar?" Angela tertawa canggung.

"Kayaknya... buburnya tadi kurang banyak."

Sudut bibir Raymond terangkat tipis.

"Baru juga lima belas menit selesai sarapan."

Angela menggaruk pelan tengkuknya.

"Hehe... mungkin efek datang bulan."

Raymond mengangguk seolah memahami.

Tanpa banyak bicara, ia membelokkan mobil ke sebuah minimarket yang berada di pinggir jalan.

"Lho?" Angela langsung bingung.

"Kita berhenti sebentar."

"Kenapa?"

"Kamu bilang lapar." Angela buru-buru menggeleng.

"Nggak usah. Nanti kita telat." Raymond mematikan mesin mobil.

"Kelas pertama jam delapan."

"Iya."

"Sekarang masih jam tujuh lewat sepuluh."

Angela langsung terdiam.

"Masih ada waktu." Raymond membuka sabuk pengamannya. "Kamu tunggu di sini," sambungnya

"Hah?" Belum sempat Angela menjawab, Raymond sudah turun dari mobil.

Dari balik kaca, Angela memperhatikan pria itu berjalan masuk ke minimarket.

Beberapa menit kemudian, Raymond keluar sambil membawa sebuah kantong belanja kecil. Ia kembali masuk ke mobil dan meletakkan kantong itu di pangkuan Angela.

"Nih." Angela membuka kantong tersebut.

Di dalamnya terdapat sebotol air mineral hangat, roti isi gandum, cokelat, dan sebungkus permen jahe.

"Ini semua buat gue?" Angela menatap Raymond dengan mata membulat.

"Iya."

"Kebanyakan."

"Disimpan buat nanti." Angela menggigit bibir bawahnya pelan.

"Raymond..."

"Hm?"

"Kenapa baik banget sama gue?" Pertanyaan itu membuat Raymond terdiam beberapa detik.

Tangannya masih berada di atas kemudi, sementara pandangannya lurus menatap jalan di depan.

"Gue..." Ia mengembuskan napas pelan.

"...nggak suka lihat orang yang sedang kesakitan," sambungnya.

Angela tersenyum kecil.

"Jadi kalau Raina sakit, kamu juga begini?"

"Iya."

"Kalau Richard?"

"Iya."

"Kalau Pak Darto?"

"Iya." Angela mengangguk-angguk.

"Lalu kalau Clarissa?" Raymond spontan menoleh.

"Ngapain bahas dia?" Angela tersenyum usil.

"Nggak apa-apa. Cuma nanya."

"Nggak sama." Angela menaikkan sebelah alis.

"Nggak sama?" Raymond kembali fokus menyetir.

"Nggak."

"Kenapa?"

"Kamu terlalu banyak tanya." Angela terkekeh pelan.

"Nggak dijawab berarti ada alasannya."

Raymond tidak membantah. Diamnya justru membuat Angela semakin penasaran.

Di balik wajah dingin dan sikapnya yang sering kali sulit ditebak, pria itu ternyata memiliki cara sendiri untuk menunjukkan perhatian.

Dan tanpa disadari oleh keduanya...

Perlahan, jarak yang selama ini terasa begitu jauh mulai menyusut, digantikan oleh kenyamanan yang tumbuh sedikit demi sedikit di setiap percakapan sederhana mereka.

Mobil kembali melaju membelah jalanan ibu kota yang mulai dipadati kendaraan para pekerja dan mahasiswa. Di dalam mobil, suasana kembali hening.

Angela memandangi kantong makanan di pangkuannya. Senyum kecil masih tersungging di bibirnya setelah menerima perhatian-perhatian sederhana dari Raymond.

Tanpa sadar, jemarinya memainkan cincin perak yang melingkar di jari manisnya.

Cincin peninggalan mendiang ayahnya.

Seketika, ingatannya kembali pada kejadian aneh beberapa hari lalu. Entah bagaimana caranya, cincin itu justru ikut mengikat jari mereka berdua dan sampai sekarang belum ada satu pun cara yang berhasil melepaskannya.

Angela mengembuskan napas pelan.

"Ah..."

Raymond melirik sekilas.

"Kenapa?"

Angela mengangkat tangan kirinya, memperlihatkan cincin yang berkilau diterpa cahaya matahari.

"Oh iya, Ray."

"Hm?"

"Udah nemuin cara gimana buat ngelepas cincin ini?"

Raymond melirik cincin di jari manisnya sendiri, lalu kembali mengalihkan pandangan ke jalan.

"Belum."

Jawabannya singkat, membuat Angela kembali menghela napas panjang.

"Terus gimana?" gerutunya sambil memutar-mutarkan cincin itu pelan. "Kalau teman-teman kampus lihat gue sama lo pakai cincin pasangan begini, mereka pasti ngiranya kita udah tunangan." Raymond terdiam beberapa saat. Bukannya terlihat panik, wajahnya justru tetap tenang.

Beberapa detik kemudian, sudut bibirnya terangkat tipis.

"Emang kenapa kalau tunangan?"

Angela masih sibuk memperhatikan cincinnya. Detik kemudian ia pun tersadar dengan ucapannya barusan.

"Hah?"

Raymond melanjutkan dengan nada santai, seolah hanya sedang membahas cuaca.

"Lo nggak mau nikah sama gue ?" Angela sontak mendongakkan kepala.

"Hah?!" Matanya membulat sempurna.

Mulutnya sampai sedikit terbuka karena terlalu terkejut.

"Raymond... lo ngomong apa, sih?"

Raymond tetap fokus menyetir. Ekspresinya nyaris tidak berubah, membuat Angela semakin sulit menebak apakah pria itu sedang bercanda atau serius.

Beberapa detik berlalu tanpa jawaban.

Angela masih menatap Raymond dengan wajah yang dipenuhi tanda tanya.

"Ray..."

"Hm?"

"Tadi serius?" Raymond meliriknya sekilas.

"Nggak apa-apa."

"Lho?"

"Anggap aja aku lagi iseng.". Angela langsung mengembuskan napas panjang.

"Ih... jangan becanda begitu, dong."

"Kenapa?"

"Bikin jantung gue hampir copot."

Raymond terkekeh pelan. Sangat pelan, tetapi cukup jelas hingga membuat Angela menoleh dengan ekspresi tidak percaya.

"Lo..." Angela menunjuk wajah Raymond. "Barusan ketawa?"

"Nggak."

"Jelas-jelas gue denger."

"Salah denger." Angela mendecak pelan.

"Dasar keras kepala."

Ia kembali menyandarkan tubuhnya ke kursi, tetapi kini wajahnya justru terasa semakin panas.

Sementara itu, Raymond melirik sekilas ke arah Angela yang sedang menatap keluar jendela. Senyum tipis kembali muncul di sudut bibirnya.

Kalimat yang tadi ia ucapkan memang terdengar seperti candaan. Namun, hanya Raymond sendiri yang tahu. Di balik nada santainya, tersimpan setitik harapan yang bahkan belum berani ia akui kepada dirinya sendiri.

Angela yang masih menenangkan detak jantungnya tiba-tiba bergumam pelan sambil memandangi cincin di jarinya.

"Pokoknya cincin ini harus segera dilepas."

Raymond mengangguk kecil.

"Iya."

"Nanti kalau ada yang nanya, gue capek jelasinnya."

"Kita cari caranya."

"Kapan?"

"Secepatnya."

Meski begitu, tanpa mereka sadari, jemari keduanya sama-sama menggenggam kemudi dan tas dengan cincin yang berkilau di jari manis masing-masing. Seolah cincin itu belum ingin melepaskan ikatan takdir yang perlahan sedang tumbuh di antara mereka.

1
Lyvia
suwun thor crazy upnya
Rizky Mutha: sama-sama kak
total 1 replies
Miasell Tea
bagus banget menghibur para pem baca,,,
kalau bisa up nya di tambahin
Miasell Tea
lah kapan nikah nya thor,,,harus ada penjelasan nya ini mah, makin penasaran aj,, 💪💪💪
Rizky Mutha: aduh.. typo
total 1 replies
Lenny Utami
so sweet banget..
Lenny Utami
ihhh bisa ae ahh
Lenny Utami
ahhh masaa...
Lenny Utami
lucu bangett
Lyvia
thor km bikinQ senyum2 sendiri, jadi ingat masa2 sekolah dulu, suwun thor upnya, ttp semangat 💪💪💪😄
yaya
lucuu ih...😍
Lenny Utami
kode sekeras itu masa enggak ngeh sih Anggela
Lenny Utami
gemes🤭
Lenny Utami
Reymond kyk piyik ngintilin Angela Mulu...😌
Lenny Utami
kalo aku kabur. GK pede di liatin GT...😭
Lenny Utami
so sweettt nya.... bikin aku senyum² sendiri
Miasell Tea
di tunggu lanjutan nya
awal yang seru😍
Miasell Tea
manis banget,,,,,
padahal seru kenapa sepi komen nan y
Miasell Tea: oh pantesan,,, sama2 ka jangan lama2 y up ny penasaran di tunggu lanjutan ny
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!