Tahun 2042.
Manusia hidup seperti biasa dengan teknologi modern. Tidak ada yang tahu bahwa energi spiritual di Bumi mulai bangkit kembali setelah menghilang selama ribuan tahun.
Arkana Wijaya, mahasiswa berusia 20 tahun, menjalani hidup biasa hingga menemukan cincin kuno peninggalan kakeknya. Saat darahnya menyentuh cincin itu, jiwa seorang kultivator legendaris dari ribuan tahun lalu terbangun.
Namun, alih-alih mengambil alih tubuh Arkana, jiwa itu justru menghilang setelah mewariskan seluruh ingatan dan teknik kultivasinya.
Arkana menjadi satu-satunya orang yang mengetahui cara kultivasi sejati.
Sementara dunia mulai berubah, organisasi rahasia, keluarga kuno, dan makhluk yang selama ini bersembunyi juga mulai bergerak.
Bumi ternyata hanyalah dunia tingkat terendah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagus Dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Merajut Jaring Rahasia
Aroma tebal dari sisa pembakaran herbal spiritual masih menggantung rendah di langit-langit aula bawah tanah Kota Tua. Cahaya dari lampu pijar kuno berkedip-kedip ritmis, berbaur dengan pendaran keperakan yang dipancarkan secara konstan oleh cincin kuno di jari manis kanan Arkana Wijaya. Pemuda berusia dua puluh tahun itu duduk bersila di atas altar batu oktagon, mengatur aliran napasnya yang teratur. Di dalam rongga dadanya, tepatnya di dalam pusat spiritual Dantian, tiga tetes cairan Qi Primordial berputar dengan kecepatan konstan, memurnikan setiap untai energi alam yang masuk melalui pori-pori kulitnya.
Arkana membuka kelopak matanya, menatap lurus ke depan. Di hadapannya, lembaran-lembaran dari Catatan Alkimia Purba terbentang terbuka. Aksara kuno yang terukir di atas kulit hewan mistis itu berkilau samar, seolah-olah merespons energi spiritual yang kini memenuhi seluruh penjuru ruangan. Sebagai satu-satunya pewaris ingatan Kaisar Abadi di era modern tahun 2042 ini, Arkana tidak hanya mewarisi kekuatan mentah, melainkan juga kebijaksanaan berabad-abad tentang bagaimana sebuah faksi besar dibangun dari nol.
"Tahun 2042... dunia mengira mereka mengendalikan segalanya dengan teknologi siber dan modifikasi genetik," batin Arkana, jemarinya mengusap permukaan cincin warisan kakeknya. "Mereka tidak tahu bahwa mesin-mesin itu hanyalah mainan dangkal jika dibandingkan dengan keagungan hukum semesta yang sesungguhnya."
Di sudut seberang aula, suara ketukan keyboard mekanis terdengar seperti rentetan tembakan senapan mesin. Dani, dengan kacamata siber berbingkai neon biru yang terpasang di wajahnya, sedang tenggelam dalam lautan data. Refleksi baris-baris kode biner berkilat di bola matanya. Kulitnya yang kini memiliki rona tembaga sehat akibat penempaan Pil Jantung Api Murni tampak berkeringat, bukan karena kelelahan fisik, melainkan karena konsentrasi mental yang luar biasa tajam.
"Arka, gua udah masuk ke jaringan terdalam Shadow Net regional Asia Tenggara," ujar Dani tanpa mengalihkan pandangannya dari layar holografik mengambang. Suaranya terdengar lebih berat dan berwibawa, sebuah efek samping positif dari ranah Body Tempering Tingkat Dua yang berhasil dicapainya. "Sesuai perintah lo, gua gak menyentuh rekening bank konvensional ataupun aset milik pemerintah. Itu terlalu gampang dilacak oleh AI kepresidenan. Sebagai gantinya, gua mengalihkan dana dari tiga puluh dua akun kripto terlarang milik kartel siber internasional yang statusnya dormant atau hangus karena pemiliknya dieksekusi Biro Keamanan Khusus bulan lalu."
Jari Dani menekan tombol Enter virtual dengan sentakan kuat.
"Bum. Total seratus dua puluh miliar rupiah dalam bentuk obligasi digital cair dan aset anonim berhasil dialihkan ke dalam tujuh yayasan cangkang yang gua buat atas nama samaran. Militer gak akan pernah bisa melacak aliran dana ini kembali ke Jakarta Barat," lanjut Dani dengan seringai bangga di wajahnya.
Lisa, yang sejak tadi duduk bermediasi di dekat pilar batu kuno, perlahan membuka matanya. Gelombang energi hijau lembut berdesir di sekitar tubuhnya, membuat debu-debu di lantai aula melayang seolah-olah kehilangan gravitasi. Transformasi Lisa sebagai pengguna elemen kayu murni berjalan jauh lebih halus dibandingkan Dani. Kulitnya tampak seputih pualam, dan aura batinnya memancarkan keheningan hutan purba yang kontras dengan atmosfer mekanis kota metropolitan di atas mereka.
"Dana sudah siap," ucap Lisa, suaranya jernih dan bergetar lembut. "Gua juga sudah mulai menyisir jaringan panti asuhan mandiri dan komunitas pinggiran di sepanjang pinggiran Bogor dan Sukabumi melalui program beasiswa yayasan cangkang kita. Ada banyak anak muda berbakat yang memiliki anomali biologis—yang oleh rumah sakit modern didiagnosis sebagai penyakit saraf langka, padahal sebenarnya itu adalah meridian mereka yang tersumbat karena tidak mampu menampung ledakan energi spiritual alam di tahun 2042 ini. Mereka disingkirkan oleh masyarakat fana. Mereka adalah benih-benih terbaik untuk faksi kita."
Arkana mengangguk puas. Rasa bangga mengalir di dadanya melihat kedua sahabatnya tidak hanya menerima takdir baru ini, tetapi juga bergerak dengan efisiensi yang luar biasa. "Kerja bagus, kalian berdua. Dani, gunakan sebagian dana itu untuk membeli sebidang tanah terisolasi di kawasan lembah Gunung Salak. Cari area yang dikelilingi oleh tebing curam alami. Tempat itu harus memiliki akses air bawah tanah yang bersih dan jauh dari jalur patroli udara drone militer."
"Siap, Bos. Anggap aja udah beres," jawab Dani, langsung membuka peta topografi tiga dimensi wilayah Jawa Barat di layarnya.
Alkimia Massal: Pil Pengumpul Bakat
Arkana bangkit berdiri dari altar batu. Langkah kakinya seringan kapas, tidak mengeluarkan suara sedikit pun saat berjalan menuju sudut aula tempat tumpukan bahan herbal spiritual diletakkan. Bahan-bahan itu adalah hasil rampasan dari makam purba Sentul serta beberapa tumbuhan liar berenergi tinggi yang dikumpulkan oleh Lisa dari hutan-hutan sekitar pinggiran Jakarta dalam beberapa hari terakhir.
Ada Akar Rumput Sembilan Jiwa yang batangnya berwarna ungu tua, Bunga Embun perak yang kelopaknya terus memancarkan uap dingin, dan belasan kantong berisi bubuk kristal esensi alam. Di dunia luar, bahan-bahan ini mungkin akan dianggap sebagai komoditas biologis ilegal yang bernilai miliaran rupiah di pasar gelap korporasi siber. Namun di tangan Arkana, bahan-bahan ini akan menjadi kunci pembuka gerbang kultivasi bagi orang-orang biasa.
"Meracik satu pil untuk kalian berdua kemarin adalah hal yang mudah karena gua bisa mendedikasikan seluruh energi batin gua," kata Arkana, menatap tumpukan herbal tersebut. "Tapi untuk melatih sebuah pasukan, gua gak bisa mengolahnya satu per satu. Gua harus menggunakan metode Alkimia Multi-Inti yang diwariskan oleh Kaisar Abadi."
Arkana kembali duduk bersila di tengah aula. Kali ini, ia tidak menggunakan tungku fisik. Bagi seorang kultivator sejati di ranah Spirit Gathering Tingkat Tiga, udara di sekitarnya bisa diubah menjadi tungku spiritual itu sendiri melalui manipulasi Qi yang presisi.
WUUUUSSS!
Arkana menghentakkan kedua telapak tangannya ke depan. Seketika, pusaran angin spiritual berwarna perak keemasan tercipta di udara kosong, berputar dengan kecepatan tinggi membentuk bola energi transparan setinggi satu meter. Aura panas yang luar biasa pekat mulai memancar dari pusat pusaran tersebut, namun Arkana dengan cepat menarik untai energi dingin dari Cincin Kaisar Abadi untuk mengisolasi panas tersebut agar tidak merusak struktur bangunan aula.
"Dani, Lisa, perhatikan baik-baik," perintah Arkana tanpa membuka mata. "Ini adalah teknik pengendalian elemen tingkat lanjut. Alkimia bukan sekadar membakar tanaman, melainkan berdialog dengan jiwa dari setiap helai herbal untuk memisahkan racun duniawi dari esensi murni langit dan bumi."
Dengan lambaian tangan kirinya, puluhan tanaman herbal melayang masuk ke dalam pusaran energi perak tersebut secara bersamaan. Proses pemurnian massal dimulai. Di bawah tatapan takjub Dani dan Lisa, mereka bisa melihat bagaimana tanaman-tanaman itu hancur secara instan, berubah menjadi tetesan-tetesan cairan berwarna-warni yang mengambang terpisah di dalam bola energi. Tetesan hijau dari akar rumput, tetesan biru dari bunga embun, dan pendaran merah dari kristal esensi.
Keringat mulai mengalir deras dari pelipis Arkana. Mengendalikan lebih dari tiga puluh untai energi cair secara bersamaan di ranah Spirit Gathering adalah tindakan yang sangat menguras kekuatan mental. Setiap tetes cairan harus dipanaskan dengan suhu Qi yang berbeda; meleset satu derajat saja akan menyebabkan seluruh batch alkimia ini meledak menjadi abu tak berguna.
Satu jam berlalu dalam keheningan yang menegangkan. Wajah Arkana perlahan menjadi pucat, namun sepasang mata peraknya tetap memancarkan tekad yang tak tergoyahkan. Di dalam Dantian-nya, tiga tetes cairan Qi Primordial berputar hingga batas maksimal, memeras setiap tetes kekuatan spiritual yang tersisa untuk menyelesaikan proses pengentalan pil.
"Satu Hati, Seribu Jiwa: Memadat!"
Arkana berteriak rendah, kedua tangannya mengatup dengan keras di depan dada.
BOOOM!
Sebuah gelombang kejut energi yang sangat murni menyembur keluar dari pusat pusaran, menciptakan angin kencang yang membuat jubah Dani dan Lisa berkibar hebat. Di udara tengah aula, bola energi perak itu perlahan memudar, menyisakan pemandangan yang membuat napas Dani dan Lisa tercekat.
Tepat di udara, melayang dengan anggun tiga puluh butir pil bulat sempurna berwarna hijau giok dengan gumpalan uap perak tipis yang menyelimuti permukaannya. Pil Pengumpul Bakat tingkat rendah berhasil diselesaikan dalam satu kali proses alkimia massal.
Arkana menarik napas dalam-dalam, menstabilkan kembali energinya yang sempat terkuras hingga menyisakan dua puluh persen. Ia mengibaskan tangannya, dan ketiga puluh pil tersebut meluncur dengan manis ke dalam tiga botol giok kecil yang sudah disiapkan di atas altar.
"Tiga puluh pil ini... akan menjadi fondasi awal dari tiga puluh prajurit pertama kita," kata Arkana, suaranya terdengar sedikit lelah namun dipenuhi oleh kepuasan yang mendalam. "Lisa, begitu Dani menyelesaikan akuisisi tanah di Gunung Salak, bawa anak-anak muda yang sudah lo seleksi ke sana. Berikan mereka masing-masing satu pil ini untuk membuka gerbang meridian mereka menuju ranah Body Tempering."
Pergerakan di Permukaan: Penyelidikan Kampus
Sementara itu, di bawah terik matahari pagi yang mulai menembus polusi udara kota Jakarta, suasana di Universitas Nusantara—salah satu kampus teknologi terbesar di Jakarta Barat—tampak berjalan seperti biasa. Mahasiswa berlalu-lalang dengan gawai siber mereka, berdiskusi tentang tugas kuliah atau tren modifikasi implan terbaru di tahun 2042.
Namun, di balik aktivitas akademis yang normal tersebut, sepasang mata tajam sedang mengawasi dari dalam sebuah mobil sedan hitam bertenaga hidrogen yang terparkir di bawah pohon rindang dekat gedung rektorat.
Di dalam mobil, dua orang pria mengenakan setelan jas hitam rapi tanpa emblem militer duduk dengan tegak. Di tangan pria yang duduk di kursi penumpang, sebuah sabak digital holografik menampilkan data pribadi seorang mahasiswa: Arkana Wijaya, Umur 20 Tahun, Fakultas Teknik Informatika, Status: Yatim Piatu.
"Bagaimana hasil penyisiran data?" tanya pria yang memegang kemudi, suaranya terdengar dingin dan mekanis.
"Sangat mencurigakan," jawab pria di sampingnya, jarinya menggeser layar untuk menampilkan log absensi Arkana. "Mahasiswa bernama Arkana Wijaya ini memiliki catatan kehadiran yang sempurna selama tiga semester pertama. Namun, tepat tiga minggu lalu—bersamaan dengan malam terjadinya anomali energi spiritual pertama di Jakarta—ia mulai sering bolos kuliah dengan alasan sakit yang tidak menyertakan surat keterangan medis resmi dari rumah sakit siber pusat."
Pria itu memperbesar sebuah rekaman video buram yang diambil dari kamera dasbor sebuah taksi terbang seminggu lalu. Video itu memperlihatkan sosok Arkana berjalan santai di kawasan Puri Indah beberapa jam sebelum insiden kehancuran unit siber militer di sana.
"Kapten, kita tidak punya bukti fisik bahwa mahasiswa ini adalah Silver Flash," kata pria kedua. "Aura energinya saat kami pindai dari kejauhan menggunakan sensor pasif juga tampak seperti manusia fana biasa. Tidak ada fluktuasi Qi atau modifikasi siber di tubuhnya."
Pria yang dipanggil Kapten itu menyipitkan matanya, menatap lurus ke arah gerbang masuk gedung fakultas tempat Arkana biasa berkuliah. "Itu justru yang paling mencurigakan. Di era tahun 2042 ini, semua manusia fana setidaknya memiliki sepuluh hingga lima belas persen radiasi energi laten di tubuh mereka akibat kebocoran partikel global. Jika tubuh pemuda ini benar-benar 'bersih' tanpa radiasi sedikit pun, itu artinya dia sengaja menyembunyikannya menggunakan teknik manipulasi tingkat tinggi, atau dia dilindungi oleh sesuatu yang berada di luar jangkauan sensor kuantum kita."
Kapten itu mengetuk kemudi mobilnya dengan ritme yang teratur. "Jenderal Besar telah mengeluarkan perintah mutlak. Siapa pun yang memiliki keterkaitan sekecil apa pun dengan insiden Sentul dan Kota Tua harus diselidiki hingga ke akarnya. Jangan bergerak secara terang-terangan di lingkungan kampus; kita tidak ingin memicu kepanikan massal atau menarik perhatian klan kuno saingan yang juga sedang mengintai di bayang-bayang."
"Lalu apa rencana kita, Kapten?"
"Aktifkan agen tidur kita di dalam organisasi kemahasiswaan. Biarkan mereka mendekati Arkana Wijaya secara personal. Jika dia benar-benar 'tikus' yang kita cari, dia pasti akan menunjukkan celah sekecil apa pun saat berada di bawah tekanan sosial," perintah Kapten itu dengan senyuman dingin. "Dan jika dia mencoba melawan... pastikan unit penembak jitu siber kita di atas gedung rektorat sudah siap mengunci koordinat kepalanya dengan peluru pelebur jiwa."
Mobil sedan hitam itu perlahan melaju meninggalkan area kampus, meninggalkan seuntai benih kehancuran baru yang kini mulai merayap mendekati kehidupan luar dari sang pewaris tunggal Kaisar Abadi. Di bawah tanah, Arkana yang baru saja menyelesaikan pemulihan energinya mendadak merasakan firasat buruk yang tajam menusuk batinnya—sebuah peringatan alami dari semesta bahwa badai berikutnya telah resmi mengunci namanya sebagai target utama perburuan.