Pernikahan Aurora dengan Jonathan Carser—menjadi neraka saat ia menjadi korban pengkhianatan dan manipulasi.
Puncaknya, ia dipaksa menghadapi keraguan sang suami atas bayi laki-laki nya yang terlahir dengan paras begitu mirip dengan mantan kekasih masa lalunya, Braxley Valerio-Desmon.
Ketika kebenaran mulai terkuak dan Jonathan semakin brutal meluapkan amarahnya, Siapkah Aurora menghadapi kenyataan pahit, menerima kebenaran?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
007
Udara di ruang makan Mansion Carser masih terasa membeku akibat pertengkaran hebat yang baru saja mereda. Aurora berdiri mematung di tengah ruangan, memeluk erat tubuh Draco yang kian membara.
Napas bayi itu terdengar berat, terkadang terengah-engah lembut yang membuat dadanya yang kecil naik turun secara tidak wajar. Setiap detak jantung Aurora bagaikan pukulan palu di dalam dadanya; keputusasaan dan rasa bersalah mencabik-cabik pikirannya.
Tiba-tiba, suara langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar menggesek lantai marmer dari arah pintu utama.
Kepala pelayan mansion mengiringi seorang wanita berparaskan tegas, mengenakan pakaian rapi dengan tas medis berlogo khusus di tangannya.
Itu adalah Dr. Eleanor, dokter spesialis anak berdedikasi tinggi yang semalam sempat datang merawat Draco—seorang dokter terkemuka yang dikirim secara rahasia oleh utusan khusus Desmon Group.
Langkah kaki sang dokter seketika memecahkan atmosfer tegang di ruang makan.
Jonathan yang baru saja hendak menyalakan nikotin mendadak menghentikan gerakannya. Matanya yang tajam dan dipenuhi amarah terlempar ke arah dokter wanita tersebut. Kerutan di dahinya dalam, dan urat-urat di lehernya mencuat tegang.
"Siapa yang memanggil dokter kemari?!" teriak Jonathan menggelegar, suaranya menggema memantul di dinding-dinding tinggi mansion. Ia menatap Dr. Eleanor dengan tatapan membunuh, menyadari bahwa dokter ini sama sekali bukan anggota tim medis pribadi keluarga Carser.
"Siapa kau?! Berani-beraninya masuk ke rumahku tanpa izin!"
Marisa, yang masih duduk di ujung meja dengan wajah memerah, ikut melontarkan tatapan jijik. "Dasar tidak sopan! Pengawal! Bagaimana bisa wanita asing ini lolos masuk ke dalam?!"
Namun, sebelum pengawal sempat bergerak, suara Aurora meluncur menyela. Suaranya tidak lagi bergetar oleh tangisan; nada suaranya berubah begitu dingin, tenang, dan tajam bagaikan bilah belati yang baru diasah.
"Ayahnya putraku yang mengirimkannya," ucap Aurora pelan, namun sanggup membungkam ruangan.
Jonathan tersentak. Matanya melebar penuh rasa tidak percaya saat memandang wanita yang selama berbulan-bulan ini selalu menunduk dan menerima setiap makian darinya.
Aurora menatap Jonathan lurus-lurus, tanpa sedikit pun keraguan atau ketakutan yang biasanya menyelimuti manik matanya. "Kenapa? Kau bahkan terganggu dengan kedatangan seorang dokter? Kau takut rahasia kejammu terbongkar, Jonathan?"
Keheningan sesaat menusuk ruangan itu. Wajah Jonathan membiru oleh amarah yang tertahan, lalu sebuah tawa sumbang meluncur dari tenggorokannya.
Prok...prok....prok...
Jonathan bertepuk tangan pelan, melangkah maju dua tindak dengan senyuman mengejek yang terukir di bibirnya. "Luar biasa. Luar biasa sekali... Rupanya wanita sepertimu sudah mulai mengeluarkan taring, hm? Kau berani membawa nama 'ayah dari anak harammu' di rumahku sendiri?!"
Dr. Eleanor tidak menghiraukan intrik gila keluarga Carser. Sebagai profesional medis, perhatian utamanya langsung tertuju pada kondisi Draco.
Tanpa meminta izin pada Jonathan, ia melangkah cepat mendekati Aurora dan menempelkan stetoskop serta pemindai suhu digital ke dahi bayi itu.
Layar pemindai berbunyi bip nyaring dan menunjukkan angka merah yang mengerikan: 40,2°C.
Wajah Dr. Eleanor berubah sangat serius. "Nona Aurora, demamnya terlalu tinggi dan dia mulai mengalami dehidrasi ringan. Kita tidak bisa menanganinya hanya dengan kompres di sini. Sebaiknya Tuan Draco segera dibawa ke rumah sakit sekarang juga!"
Kata-kata dokter itu bekerja bagai panggilan darurat bagi Aurora. Seluruh dunia di sekitarnya mendadak kabur.
Hinaan Jonathan, tatapan benci Marisa, dan ancaman panti asuhan runtuh menjadi debu yang tak berharga. Yang tersisa di pikiran Aurora hanyalah keselamatan bayi di dalam pelukannya.
Mengabaikan pria tak manusiawi yang masih berdiri menatapnya dengan kemarahan meledak-ledak, Aurora langsung memutar tubuhnya.
"Aurora! Jika kau melangkah keluar dari pintu itu hari ini, jangan pernah bermimpi untuk balik lagi!" seru Jonathan penuh ancaman dari belakang.
Aurora tidak membalas. Ia bahkan tidak memalingkan wajahnya sedikit pun. Dengan langkah pasti dan dada yang bergemuruh, ia mengikut langkah Dr. Eleanor keluar menembus pintu gerbang mansion, meninggalkan tempat beracun yang selama ini memenjarakan hidupnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sebuah mobil SUV medis berwarna hitam mengkilap membawa mereka melaju membelah jalanan Los Angeles dengan kecepatan tinggi. Di sepanjang perjalanan, Aurora terus mengecup dahi Draco yang membara, membiarkan air matanya menetes tanpa henti di atas selimut tipis putranya.
"Bertahanlah, sayang... Mommy di sini. Tolong bertahanlah untuk Mommy..." bisiknya tiada henti.
Mobil itu akhirnya berhenti di pelataran khusus pintu darurat St. Jude Private Medical Center—rumah sakit paling terkemuka dan eksklusif di kota itu.
Begitu pintu mobil dibuka, beberapa perawat dengan brankar bayi sudah bersiap di luar. Namun, pandangan Aurora langsung terkunci pada sosok pria yang berdiri tegak di tengah atrium rumah sakit yang sepi.
Di sana, di balik pilar-pilar granit yang dingin, berdiri Braxley Valerio-Desmon.
Pria itu mengenakan kemeja hitam yang gulungan lengannya tersingkap hingga siku, tanpa jas eksekutif yang biasa membalut tubuhnya.
Di sampingnya, Clark—asisten pribadinya yang selalu sigap—berdiri memegang dokumen penting. Aura dominan dan intimidatif yang memancar dari tubuh Braxley seolah menguasai seluruh isi ruangan, namun ada sesuatu yang berbeda dari matanya pagi ini.
Matanya tidak lagi sepenuhnya dingin. Ada kilatan kepanikan, kecemasan yang liar, dan kemarahan yang tertahan di balik manik mata elang milik sang taipan.
Saat mata Braxley menangkap keberadaan Aurora dan tubuh mungil Draco yang lemah, pria itu melangkah lebar menyeberangi lantai marmer. Langkah kakinya cepat, kentara sekali menahan dorongan untuk berlari.
Perawat dengan cepat memindahkan Draco ke atas brankar khusus pediatric dan membawanya menuju ruang perawatan intensif. Aurora hendak berlari menyusul, namun sebuah tangan berurat tegap dengan cengkeraman kokoh menangkap pergelangan tangannya, menahannya di tempat.
Aurora menoleh terkejut. Sentuhan itu... hangat, asing, namun membawa guncangan hebat dalam ingatannya.
Braxley berdiri hanya beberapa inci di depannya. Pria itu bernapas memburu, matanya menatap Aurora tajam, dipenuhi badai emosi yang sangat kompleks—antara kerinduan mendalam, rasa sakit, dan amarah yang meluap.
"Kenapa kau baru membawanya sekarang?!" bentak Braxley. Suaranya berat, dalam, dan bergetar hebat oleh rasa khawatir yang luar biasa.
Aurora tersentak, matanya melebar karena terkejut atas omelan yang tiba-tiba itu.
"Bayi itu sudah demam sejak semalam, Aurora!" lanjut Braxley tanpa menurunkan intonasi suaranya, memarahi wanita di hadapannya tanpa ampun. Tangannya yang menahan lengan Aurora gemetar tipis. "Kenapa kau tidak membawanya ke rumah sakit dengan cepat?! Kau sengaja membiarkannya menderita di rumah itu?! Kau ingin membunuh putra kita?!"
Deg.
Dunia Aurora serasa berhenti berputar di detik itu juga.
Kalimat itu terlempar bagaikan bom atom yang menghancurkan seluruh syaraf dalam kepalanya. Kata-kata "putra kita" bergaung berulang-ulang di dalam gendang telinganya, memekakkan, dan membakar kesadarannya.
Aurora membeku. Matanya yang sembap dan memerah menatap Braxley dengan tatapan penuh ketidakpercayaan. Seluruh tubuhnya mendadak lemas, lidahnya terasa kelu.
Apa maksud Braxley...? jerit batin Aurora hysteris. Putra kita? Apa dia gila?! Apa dia datang hanya untuk membawa beban baru dan kegilaan lain dalam hidupku yang sudah hancur ini?!
Braxley yang menyadari perubahan ekspresi Aurora tidak menarik kembali kata-katanya. Cengkeramannya pada lengan Aurora perlahan mengendur, namun matanya tetap mengunci pandangan wanita itu dengan kejam dan penuh obsesi.
"Clark," panggil Braxley tanpa mengalihkan pandangannya dari Aurora.
"Saya, Tuan," sahut Clark cepat, melangkah maju dan menyerahkan sebuah lembaran map medis bersampul hitam berlogo laboratorium genetik independen.
Braxley mengambil map itu, lalu membukanya secara kasar di depan dada Aurora. Di lembar paling bawah, tertera angka tebal berwarna merah yang mencolok: Kesesuaian Genetik (Paternitas): 99,99%.
"Jangan berpura-pura buta, Aurora," bisik Braxley dengan nada suara yang begitu dingin, namun di dalamnya terkandung luka mendalam yang sangat pekat. "Draco bukan anak bajingan itu. Dia darah dagingku. Pria yang kau sebut suami itu membencinya karena dia tahu anak itu adalah cerminan dari diriku!"
Aurora menggelengkan kepalanya panik, melangkah mundur satu tindak hingga punggungnya menabrak dinding dingin rumah sakit. "Tidak... Tidak mungkin... Kau bohong! Kau pasti memanipulasi tes ini! kita sudah selesai, Braxley! Kau tidak pernah menyentuhku lagi!"
Mendengar ucapan itu, sebuah senyuman pahit dan gelap terukir di bibir Braxley. Pria itu mendekatkan wajahnya, memangkas jarak di antara mereka hingga Aurora dapat merasakan helaan napas hangat Braxley yang beraroma whisky dan mint.
"Kau pikir kita sudah selesai hanya karena kau meminum pil-pil penunda kehamilan itu?" bisik Braxley tepat di telinga Aurora, membuat bulu kuduk Aurora berdiri tegak karena rasa takut dan guncangan hebat. "Kau pikir kau bisa lari dariku hanya dengan menelan racun itu dan melompat ke pelukan pria lain?"
Mata Aurora membelalak sempurna. Rasa dingin seketika menjalar dari ujung kakinya menuju puncaknya.
"Dengarkan Aku..." Braxley berbisik dengan nada yang teramat pelan, bagai bisikan iblis yang menuntut balas. "Setiap malam saat kau tertidur pulas dalam kepalsuanmu, aku ada di sana, Aurora. Di kamar apartemenmu. Menjamumu, menyentuhmu, dan memastikan darah dagingku berakar di dalam tubuhmu tanpa pernah kau sadari."
"Kau..." Aurora memegang dadanya yang sesak, napasnya tertahan di tenggorokan. "Kau... kau gila... Kau monster, Braxley!"
"Ya, aku memang gila!" potong Braxley dengan nada tertekan, matanya merah menahan amarah dan kepedihan yang teramat sangat.
"Aku gila karena aku mencintaimu sampai hancur! Dan kau... kau memilih bertahan hidup dengan pria yang merendahkan harga dirimu, mengancammu, dan menganggap anakmu sebagai sampah, daripada datang kembali padaku!"
Braxley menegakkan tubuhnya kembali, merapikan gulungan lengannya dengan ketenangan ganjil yang mengerikan.
"Draco sedang ditangani oleh tim dokter terbaik di kota ini. Dia akan sembuh," kata Braxley datar. "Tapi untukmu... aku tidak akan membiarkan mu kembali ke tangan Jonathan Carser. Mulai detik ini, kehidupanmu dan anak kita berada di bawah kendaliku."
Aurora menyandarkan kepalanya ke dinding marmer yang dingin, Dia terdiam tanpa suara. Di antara suami yang kejam dan mantan kekasih yang menjelma menjadi villain obsesif di hadapannya, Aurora merasa dirinya benar-benar telah jatuh ke dalam neraka yang paling dalam.
😔
makin prokdutif banget thor bulan ini udh baru lgi muncul🥳