NovelToon NovelToon
Mendapatkan Sistem 271 Triliun

Mendapatkan Sistem 271 Triliun

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Action / Mafia
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Tri Wahyuni92

"Cukup, Repan! Aku sudah benar-benar muak menghadapi situasi ini! Hubungan kita selesai!" Sasa melemparkan tatapan penuh rasa jijik ke arah pemuda di hadapannya.

Repan menetap di Kota Bogor.

Kota hujan ini menyuguhkan panorama alam yang sejuk dan asri di permukaan, namun menyimpan sisi kelam yang pekat di sudut-sudut tersembunyinya.

Di balik rimbunnya pepohonan dan kabut tipis, kota ini juga menjadi rumah bagi menjamurnya organisasi massa liar, kelompok kriminal jalanan, hingga oknum-oknum berseragam yang kerap memanfaatkan hukum demi keuntungan pribadi.

Bagaimana kelanjutannya..?

"Cerita ini sepenuhnya fiksi. Nama, tokoh, tempat, dan kejadian adalah karangan penulis."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20

Kerumunan siswa kian menyemut memadati area kantin SMA 09 Cimanggu.

Semua pasang mata tertuju lurus pada dua sosok yang berdiri saling berhadapan: Repan, siswa bernasib biasa yang selama ini jarang dilirik siapa pun, melawan Dendi, anak seorang perwira polisi berpengaruh yang terkenal arogan dan tak mau kalah.

"Lihat tuh! Si Dendi mau adu jotos sama Repan!"

"Dia emosi berat gara-gara Vina malah lebih milih jalan bareng Repan."

"Bakal kalah telak sih si Repan. Sekali pukul paling langsung KO."

"Iya jelaslah! Dendi kan anak Pak Sambo. Si Repan bukan siapa-siapa di sekolah ini."

Namun desas-desus itu mendadak terhenti saat sebuah suara celetukan mencuat dari tengah kerumunan.

"Eh, kalian pernah dengar desas-desus nggak? Ada yang bilang, Repan itu yang ngebantai rombongan Geng GBA hari Minggu kemarin!"

"Ah masa, sih?! Yang bener aja? Si Repan kan cuma murid biasa."

"Gue juga ragu sih... Tapi katanya rekaman videonya sempat ramai, cuma emang muka pelakunya kurang jelas."

Sementara bisik-bisik warga sekolah makin riuh, Repan masih mencengkeram erat pergelangan tangan Dendi, membuat cowok itu meringis menahan sakit yang luar biasa.

"Sialan! Lepasin tangan gue, Bangsat!" raung Dendi murka, sebelum melayangkan ayunan tangan kirinya mengincar wajah Repan.

Wushhh!

Repan dengan tenang memiringkan kepalanya sedikit, menghindar tanpa ada sedikit pun kepanikan.

Dalam gerakan yang sangat presisi, ia memutar posisi dan membalikkan kaitan lengan Dendi ke arah belakang tubuhnya.

"AAAHH! ANJING!" teriak Dendi melengking.

Wajahnya memerah padam menanggung perih. Punggungnya tertekuk tak berdaya.

"SIALAN! SAKIT BANGET, BANGSAT!!"

"Lo cuma modal berisik. Tapi pada kenyataannya, lo itu lemah," bisik Repan dingin tepat di samping telinganya, sebelum melayangkan satu tendangan keras ke arah tubuh Dendi.

BRUK!

Dendi tersungkur bebas ke lantai kantin, wajahnya langsung mencium permukaan ubin.

Sorakan kaget langsung bergema dari para penonton.

"GILA! Repan bikin anak perwira nyium lantai!"

Dendi buru-buru bangkit berdiri dengan raut wajah penuh amarah dan pias menanggung malu. Sepasang matanya melotot tajam.

"Bantai dia sekarang! Jangan kasih ampun!" teriak Dendi kalap ke arah tiga orang pengawal pribadi yang berdiri tak jauh dari posisinya.

Tiga cowok berbadan tegap itu langsung melangkah maju mengepung.

"Kita seret dia ke area belakang sekolah aja," cetus anak buah pertama, menimbang bakal lebih bebas menghajar Repan tanpa ada saksi mata.

"Pukulin di sini dulu beberapa kali biar mukanya hancur," sahut yang kedua seraya meremas kepalan tangannya.

"Kunci kedua tangannya, biar gue yang meretakkan tulang wajahnya," tambah yang ketiga seraya menyunggingkan seringai kejam.

Di belakang mereka, Dendi tersenyum sinis. 'Mati lo hari ini, Repan. Tiga orang ini atlet karate berprestasi. Gue bayar mahal mereka khusus buat menjaga gengsi gue kalau sampai ada murid yang nekat cari gara-gara!'

Sementara itu, Vina berdiri ketakutan di belakang. Situasi ini benar-benar berjalan di luar kendalinya.

"Vina, mundur," instruksi Repan seraya pasang badan di depan cewek itu, menatap dingin tiga petarung yang siap melesat. "Gue yang bakal beresin mereka bertiga."

"Pan... Mereka bertiga itu atlet... Mending kita kabur terus laporin ke ruang guru aja," bisik Vina panik seraya menarik-narik ujung seragam Repan.

"Nggak usah. Mereka nggak bakal berhenti sebelum gue bikin mereka benar-benar lumpuh," Repan menatap lurus mata Vina. "Percaya sama gue."

Vina menggigit bibir bawahnya. Ada keraguan dan rasa takut di dalam hatinya, namun sorot mata Repan memancarkan keyakinan yang membuat Vina akhirnya mengangguk.

Sorak-sorai kerumunan kembali riuh memanas.

"Bakal pecah nih! Tiga lawan satu!"

"Cepat rekam, Woi! Ini fix bakal viral!"

"Repan pasti babak belur. Tiga atlet karate dilawan sendirian."

"Hajar! Hajar! Hajar!"

Namun di tengah keriuhan suara dan tatapan ratusan pasang mata, Repan tetap berdiri tegap. Matanya tajam, tubuhnya rileks, tanpa sedikit pun memperlihatkan gestur gentar.

Tiga lawannya mulai merangsek maju mengurung posisi Repan.

Repan justru menyunggingkan senyuman tipis. Bagi dirinya... tiga orang di depannya ini hanyalah mangsa empuk.

Tensi di kantin SMA 09 Cimanggu menyentuh titik puncak.

Tiga pria kekar yang dikenal sebagai atlet karate tingkat provinsi itu melangkah maju serentak.

Wush! Wush! Wush!

Kombinasi pukulan dan tendangan mereka meluncur kilat mengincar titik vital Repan, menghantam udara dan beberapa meja kantin di sekelilingnya.

BRAAK! BRAAAK!

Dua meja kayu hancur berantakan. Kursi-kursi terlempar di udara. Jika saja Repan terlambat sepersekian detik untuk menghindar, bisa dipastikan tulang-tulangnya sudah retak.

'Mereka bukan petarung jalanan ecek-ecek. Pergerakannya presisi dan penuh tenaga. Jelas terlatih,' batin Repan menganalisis dengan kepala dingin.

[Analisis Sistem Aktif...]

[Pria 1 - Kekuatan: 35]

[Pria 2 - Kekuatan: 37]

[Pria 3 - Kekuatan: 38]

Teks transparan melayang di atas kepala mereka masing-masing. Repan menyunggingkan senyum tipis. 'Gak sekuat yang gue bayangkan.'

"Bangsat lo! Hadapi kami langsung! Jangan cuma bisa menghindar kayak banci!" teriak pria kedua penuh emosi.

Wushhh!

Ia melompat ke atas meja, lalu melesat menerjang Repan bagaikan pemangsa lapar.

BRAAAK!

Meja yang dijadikan pijakan hancur berantakan, serpihan kayunya beterbangan ke mana-mana.

"Kalau gue biarkan kalian terus merusak fasilitas begini, bisa-bisa besok kita semua makan di atas lantai," pukas Repan dingin.

"Maka dari itu berhenti menghindar, BANGSAT!" raung pria pertama seraya melayangkan tinju lurus dengan kecepatan tinggi.

TAK!

Namun kali ini Repan sama sekali tak menggeser posisinya.

Ia maju satu langkah, menahan hantaman keras pria itu hanya menggunakan telapak tangan kirinya.

Lalu, dengan dua jari yang dikeraskan sekeras baja, Repan melepaskan tusukan kilat tepat mengincar area tenggorokan lawan.

CRAK!

"UHHHKKK! OHOK! OHOK!"

Pria pertama langsung limbung ke belakang, terbatuk-batuk hebat sambil mencengkeram lehernya sendiri dengan wajah membiru.

"BERANI LO?!" Pria kedua yang baru saja mendarat kembali langsung menyerbu brutal, melayangkan hujan pukulan beruntun.

TAK! TAK! TAK!

Repan membendung seluruh gelombang serangan itu. Teknik Wing Chun mengalir sempurna melalui pergerakan tangannya—cepat, efisien, dan luwes. Poros tubuhnya berputar cepat, lalu...

BUUUUK!!

Satu tendangan melingkar khas Kick Boxing mendarat telak di bagian dada lawan.

BRAAAAK!

Tubuh pria kedua terpental jauh, meluncur menghantam barisan meja di belakangnya hingga hancur berantakan.

"Sialan! Tinggal gue sekarang!" raung pria ketiga.

Dengan sisa amarah yang membara, ia merangsek maju secara kalap.

WUSH! WUSH! WUSH!

Ayunkan tendangan dan pukulan bertenaga dilancarkan membabi buta.

Namun Repan tetap tenang. Ia tidak terburu-buru membalas—ia bergerak lincah menari mengitari serangan lawan, memanfaatkan teknik refleksnya untuk meloloskan diri.

BUUK! DUAK!

Begitu celah terbuka, Repan melayangkan pukulan kombinasi mengincar ulu hati dan rusuk lawan. Namun pria ketiga itu masih sanggup bertahan dan mencoba membalas dengan tinju penuh tenaga.

Repan dengan sigap mengunci pergelangan tangan tersebut. Dalam sepersekian detik, ia memanfaatkan momentum dorongan lawan lalu memutar tubuhnya.

WUUUSSSHH!

Tubuh pria berotot itu terangkat ke udara, terlempar deras bagaikan dihantam angin topan.

Braaakkk!

Ia mendarat sangat keras di atas lantai keramik, menimbulkan bunyi benturan yang menggema. Tubuhnya tergolek lemas tak sadarkan diri.

Hening.

Tiga atlet karate tumbang tak berdaya. Hanya oleh satu orang murid. Repan Kusuma.

Para siswa yang menonton mematung tak percaya. Beberapa di antaranya masih memegang ponsel dengan tangan gemetaran. Mulut mereka menganga lebar.

"G-Gila... itu tadi... nyata?!"

"Repan ngebantai mereka semua sendirian?!"

"Dia belajar ilmu bela diri dari mana coba?!"

Vina berdiri gemetaran di tempatnya. Namun kali ini bukan karena rasa takut—melainkan rasa takjub yang luar biasa. 'L-luar biasa! Repan ternyata sejago ini bertarung?!'

Repan berdiri tegap di tengah medan yang porak-poranda. Hembusan napasnya masih sangat stabil, sorot matanya tajam. Seulas senyuman dingin terpatri di bibirnya—penanda kemenangan mutlak.

Di sisi lain, Dendi berdiri membeku. Sepasang matanya menatap tak percaya ke arah tiga pengawal bayarannya yang kini terkapar mengenaskan di lantai kantin.

'Nggak mungkin! Ini benar-benar mustahil!' batin Dendi mengamuk hebat. 'Mereka bertiga itu atlet karate! Gue bayar mahal mereka demi menjaga gengsi gue! Tapi mereka bertiga malah diratakan dalam hitungan detik sama... cowok miskin ini?!'

Kerumunan siswa mulai bersuara riuh, membicarakan keajaiban pertarungan tersebut.

Dendi mengepalkan tangannya kuat-kuat. 'Meski anak buah gue kalah... gue nggak boleh sampai kehilangan harga diri di depan semua orang!'

1
Ahmad Wela
dua duanya aja biar seru.
aldo
lanjut author 🙏🙏🙏🙏
Hary
cerita anjing... skip and out
aldo
lanjut author 🙏🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!