Bagi dunia luar, Justin Devano Ardiansyah adalah perwujudan dari malaikat maut. Sebagai pemimpin tertinggi The Ardiansyah Syndicate, dia adalah pria berdarah dingin yang menguasai dunia bawah tanah ibu kota dengan tangan besi. Hidupnya penuh dengan darah, pengkhianatan, dan kemewahan yang hampa. Namun, sebuah konspirasi besar dan pengkhianatan anak buahnya membuat Justin terdesak, terluka parah, dan terdampar di sebuah desa terpencil yang jauh dari peradaban kota.
Di sanalah ia merangkak ke sebuah gubuk bambu milik Kimberly seorang gadis desa yatim piatu yang hidup sederhana sebagai penjual jamu tradisional keliling.
Kimberly tidak tahu siapa pria bertato naga yang sekarat di dapurnya. Yang dia tahu, pria itu membutuhkan pertolongan. Dengan ketulusan dan keberanian yang murni, Kimberly merawat sang mafia, menjahit lukanya dengan alat seadanya, dan memberikan ketenangan yang belum pernah Justin rasakan sepanjang hidupnya. Mata polos dan ketulusan Kimberly berhasil mencairkan gunun
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vinna naa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21. Rapat Direksi
Setelah kehadiran Pakde Darmo yang membawa warisan berharga berupa formula penawar racun alami, posisi Kimberly di mata The Ardiansyah Syndicate tidak lagi sekadar sebagai istri dari sang Tuan Besar.
Di kalangan petinggi distrik, sang Nyonya Besar kini dihormati bagai jimat keberuntungan yang membawa berkah perlindungan.
Namun bagi Kimberly, status baru itu tidak mengubah rutinitas paginya.
Hari Senin kembali bergulir, dan Justin harus memimpin rapat pleno triwulan bersama seluruh dewan direksi perusahaan legal serta para kepala distrik bawah tanah di gedung pencakar langit pusat kota.
Sejak subuh, Justin sudah rapi dengan setelan jas tiga potong berwarna hitam legam, dasi sutra, dan sepatu pantofel yang mengilap sempurna. Aura dingin dan intimidatifnya telah kembali seratus persen.
Saat Justin sedang memakai jam tangan kronografnya di ruang tengah, Kimberly datang setengah berlari dari arah dapur sambil membawa sebuah tas kain bermotif anyaman bambu warna-warni yang tampak sangat mencolok.
"Mas Justin, tunggu dulu!" panggil Kimberly, Justin berbalik, menatap tas anyaman itu dengan alis bertaut.
"Ada apa, Kim? Aku harus berangkat sekarang agar tidak terjebak macet di Sudirman." Kimberly menyodorkan tas tersebut ke tangan kekar Justin.
"Ini bekal makan siang untuk Mas, Marco, dan para kepala distrik yang ikut rapat nanti. Di dalam ada nasi megono khas Pekalongan, lengkap dengan cumi hitam dan tumis kacang panjang. Kemarin Bi Minah dapat kiriman nangka muda segar, jadi langsung aku olah."
Justin menatap tas anyaman di tangannya, lalu melirik Marco yang berdiri di belakangnya, wajah kaku Marco tampak sedikit berkedut, membayangkan reaksi para bos mafia distrik jika melihat pemimpin tertinggi mereka datang membawa tas anyaman bambu ke ruang rapat VIP.
"Kim, ini rapat formal dewan direksi. Semua orang membawa koper kulit buatan Swiss," ucap Justin mencoba memberi pengertian dengan nada selembut mungkin.
"Memangnya kenapa kalau rapat bawa nasi megono, Mas?" Kimberly melipat kedua tangannya di dada, mata bulatnya menatap Justin dengan pandangan menuntut.
"Katering rapat di hotel atau kantor itu biasanya dingin dan bikin perut kembung kalau rapatnya lama. Mas Justin kan baru saja sembuh dari masuk angin kemarin. Pokoknya harus dibawa, dibagikan ke teman-teman kerjamu juga ya."
Justin mengembus napas pasrah. Kata 'teman kerja' yang digunakan Kimberly untuk menyebut para bos penjahat berdarah dingin di luar sana selalu berhasil menggelitik hatinya.
"Baiklah. Aku bawa," ucap Justin patuh, dia menggandeng tas anyaman itu di tangan kanannya, sementara tangan kirinya membawa koper dokumen hitamnya.
"Marco, masukkan ke dalam mobil."
"Siap, Mas," jawab Marco tanggap, menerima tas anyaman tersebut dengan ekspresi sekhidmat mungkin seolah sedang memegang barang bukti kasus internasional.
Pukul sepuluh siang, suasana di ruang rapat utama lantai 45 Ardiansyah Tower terasa sangat mencekam.
Ruangan berukuran besar dengan meja oval berbahan kayu mahoni itu diisi oleh dua belas orang pria berjas mahal.
Di sisi kiri duduk para direktur keuangan legal, sedangkan di sisi kanan duduk para kepala distrik dunia bawah tanah, termasuk Leon dari distrik barat dan Gavin dari distrik selatan.
Justin duduk di kursi kebesaran di ujung meja, wajahnya sedatar es, matanya yang tajam menatap presentasi grafik keuntungan jalur logistik di layar besar.
Rapat telah berlangsung selama tiga jam tanpa henti, dan suasana ruangan mulai terasa jenuh serta menegangkan karena perdebatan tipis mengenai pembagian wilayah baru.
Kruuuk...
Suara perut keroncongan tiba-kira terdengar cukup keras dari arah Leon, pria bertubuh kekar dengan bekas luka di pipinya itu langsung berdeham canggung, mencoba memperbaiki posisi duduknya.
Justin melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul satu siang, dia menutup berkas di depannya dengan ketukan pelan yang seketika menghentikan seluruh pembicaraan di ruangan.
"Rapat kita skors selama empat puluh lima menit untuk makan siang," ucap Justin datar.
Seorang sekretaris bersiap menekan tombol interkom untuk memesan menu katering steak premium dari restoran bintang lima di bawah gedung.
Namun sebelum jemari sekretaris itu menyentuh tombol, Justin memberi isyarat pada Marco yang berdiri di sudut ruangan.
Marco melangkah maju, membawa tas anyaman bambu warna-warni milik Kimberly ke atas meja mahoni yang mewah.
Tindakan itu langsung membuat dua belas pasang mata petinggi organisasi melotot heran.
"Tuan Besar... apakah itu... perangkat pengacau sinyal jenis baru?" tanya Kael dari divisi finansial dengan nada sangat serius.
Justin tidak menjawab. Dia membuka tas anyaman tersebut dan mengeluarkan empat buah kotak makan tingkat berbahan ramah lingkungan.
Begitu tutup kotak pertama dibuka, aroma harum nangka muda yang dikukus bersama parutan kelapa berbumbu, aroma cumi tumis hitam yang gurih pekat, serta wangi daun salam langsung menyeruak memenuhi seluruh ruang rapat yang kedap udara tersebut.
Bau harum tradisional itu seketika mengalahkan aroma parfum mahal dan wangi kopi arabika yang memenuhi ruangan sejak pagi.
"Ini bekal dari istriku," ucap Justin tenang, menyendok nasi megono ke piringnya sendiri.
"Dia bilang, makanan katering kantor membuat perut kembung. Gavin, Leon, Kael... ambil piring kalian. Istriku sengaja memasak porsi besar untuk kalian."
Mendengar kata 'bekal dari Nyonya Besar', wajah para bos mafia yang biasanya sangar dan tanpa ampun itu mendadak berubah berbinar-binar.
Tanpa perlu diperintah dua kali, Leon dan Gavin langsung berebut mengambil piring kosong yang disiapkan Marco.
"Demi Tuhan, aroma nangka mudanya harum sekali!" seru Gavin antusias, menyendok cumi hitam dalam porsi besar.
"Nyonya Besar memang yang terbaik. Saya sudah bosan makan daging setengah matang setiap kali rapat di gedung ini."
"Betul! Ini rasanya persis seperti masakan di warung langgananku dulu sebelum aku masuk ke organisasi," timbrung Leon sambil mengunyah dengan lahap, wajah sangarnya meleleh digantikan kepuasan hakiki.
Suasana ruang rapat yang tadinya kaku dan dipenuhi ketegangan perebutan wilayah, dalam sekejap berubah menjadi ruang makan keluarga yang ramai.
Para direktur legal dan kepala distrik bawah tanah duduk membaur, menikmati nasi megono hangat sambil sesekali memuji keahlian memasak Kimberly.
Justin memperhatikan anak-anak buahnya yang makan dengan lahap dari ujung meja, sebuah senyuman tipis yang sangat samar terukir di wajah tampannya.
Efek dari masakan Kimberly ternyata tidak hanya menjinakkan dirinya di dalam mansion, tetapi juga mampu menyatukan ego para serigala di organisasi ini dalam satu meja makan yang damai.
Sore harinya, sekitar pukul lima sore, limosin hitam Justin kembali memasuki pekarangan mansion.
Rapat triwulan yang biasanya berakhir dengan ketegangan dan kepala pening, hari ini selesai lebih cepat dengan hasil kesepakatan yang memuaskan semua pihak tanpa ada perdebatan berarti.
Begitu pintu depan terbuka, Kimberly yang baru selesai menyiram tanaman di halaman depan langsung menyambut suaminya.
Dia melihat Marco membawa kembali tas anyaman bambu yang kini sudah terasa sangat ringan.
"Bagaimana, Mas? Bekalnya dimakan tidak?" tanya Kimberly penasaran, mengambil alih koper dokumen Justin.
Justin melonggarkan dasinya, lalu langsung menarik Kimberly ke dalam dekapan hangatnya di lobi utama, mengabaikan tatapan para pelayan yang tersenyum kecil.
Pria itu menenggelamkan wajahnya di leher istrinya yang wangi bedak dingin tradisional.
"Habis tanpa sisa, Kim," bisik Justin rendah, suaranya dipenuhi rasa puas.
"Gavin dan Leon bahkan hampir bertengkar memperebutkan sisa cumi hitam buatanmu. Rapat hari ini berjalan sangat lancar karena perut semua orang kenyang dengan nasi megonomu." Kimberly tertawa renyah, menepuk-nepuk punggung bidang suaminya dengan sayang.
"Nah, benar kan kataku? Orang kalau mau ambil keputusan penting itu perutnya tidak boleh lapar atau stres karena makanan yang aneh-aneh. Minggunya diisi dengan es kunyit, Seninnya diawali dengan nasi hangat."
Justin melepaskan pelukannya sedikit, menatap lurus ke dalam mata bulat Kimberly yang memancarkan ketulusan murni.
Pria itu mengecup kening istrinya lama, menyerap kedamaian yang selalu disediakan rumah ini untuknya.
Di luar dinding mansion, dia mungkin harus tetap menjadi singa pemangsa yang menjaga kekaisaran bisnisnya dari ancaman musuh.
Namun di dalam sini, di bawah aturan sendok sayur dan kasih sayang sederhana dari sang istri, Justin tahu dia telah menemukan tempat perlindungan paling aman yang tidak akan pernah bisa direbut oleh siapa pun.
Rumah tangga mereka yang unik, kontras, namun penuh tawa ini siap melangkah menuju hari esok dengan kehangatan yang kian tak tergoyahkan.