Ajo dan Elsa dipertemukan dalam proyek film yang sama. Ajo sebagai produser dan Elsa sebagai pemeran utama. Sejak awal pertemuan, ketertarikan satu sama lain sudah terasa. Namun, status mereka yang berbeda – Ajo sebagai duda dan Elsa sebagai aktris yang sedang di puncak popularitas – menjadi penghalang bagi mereka untuk mengekspresikan perasaan mereka.
Ketegangan semakin meningkat ketika skandal masa lalu Ajo terungkap. Hal ini mengancam reputasi dan karir mereka berdua. Mereka harus berjuang melawan tekanan publik, gosip media, dan juga konflik batin mereka sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizaidhan Luthfian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Api di Kaki Salak dan Kembalinya Tiga Jenderal
Keheningan malam di kaki Gunung Salak mendadak berubah mencekam. Bau asap menyengat bercampur aroma cengkeh terbakar merayap menembus celah jendela rumah tua.
Ajo, yang sedang berdiskusi di meja makan bersama Adam dan Jimi, seketika menegakkan tubuhnya. Pria itu menyipitkan mata, menyadari ada pendar merah yang abnormal bergetar di balik kegelapan kebun cengkeh milik keluarganya.
"Kebun!" pekik Juli dari arah dapur, berlari keluar dengan napas tersengal dan wajah pucat pasi. "Ajo! Kebun cengkeh bagian barat dibakar orang!"
Tanpa membuang waktu satu detik pun, Ajo menerobos pintu depan. Adam dan Jimi melompat mengekor di belakangnya.
Di tengah ladang cengkeh yang riuh oleh kobaran api, puluhan batang pohon cengkeh tua—warisan terakhir almarhum ayah Ajo—tengah dilalap si jago merah. Di balik gumpalan asap hitam, tampak Rober berdiri bersama belasan anak buahnya yang memegang jeriken bensin dan obor. Rober tersenyum culas, menikmati kehancuran di depannya.
Rober tidak hanya ingin membalas dendam karena bisnis lintah daratnya hancur oleh aksi sosial Ajo dulu. Lewat jaringan gelapnya, Rober punya koneksi langsung dengan salah satu orang kepercayaan Maya di Jakarta. Rober tahu, jika ia berhasil menghancurkan aset terakhir Ajo di desa dan menyerahkan tanah ini pada Maya, ia akan mendapatkan imbalan miliaran rupiah dari sang penguasa baru perfilman tersebut.
"Rober!" teriak Ajo, suaranya menggelegar membelah derak kayu terbakar. Matanya menyala oleh amarah liar—amarah seorang pria yang melihat kenangan terakhir orang tuanya diinjak-injak secara keji.
Rober terkekeh dingin, melangkah maju sambil mengayunkan tongkat kayunya. "Selamat malam, Ajo si produser bangkrut! Kau pikir kau bisa bersembunyi di tanah ini? Maya sudah tahu keberadaanmu. Tanah ini akan jadi milikku dan Maya, dan kau... cuma sampah yang menumpang di desaku!"
Dua anak buah Rober maju mengayunkan balok kayu ke arah Ajo. Namun sebelum kayu itu menyentuh Ajo, sesosok tubuh tegap menerobos dari samping.
BUK!
Satu pukulan keras menghantam rahang anak buah Rober hingga tersungkur ke tanah. Jimi berdiri di sana, matanya tajam bagai elang, mengusap buku jari tangannya yang memerah.
"Jangan sentuh sahabatku," desis Jimi rendah.
Di sisi lain, seorang pria dengan kemeja gulung menerobos kepulan asap, melemparkan jeriken air ke arah api yang berkobar, lalu berdiri melobi dua anak buah Rober lainnya dengan tatapan yang tak lagi kenal takut.
Adam.
Mantan bos arogan itu kini berdiri bahu-membahu di samping Ajo. Tidak ada lagi keraguan, tidak ada lagi gengsi. Sepuluh tahun lalu, ego dan rasa iri yang diumpani oleh fitnah Maya telah menceraiberaikan mereka. Namun malam ini, di tanah yang terancam hancur, "Tiga Jenderal" berdiri sejajar di garis depan untuk pertama kalinya setelah satu dekade terpisah.
"Adam... Jimi..." Ajo menatap dua sahabatnya dengan mata yang berkaca-kaca di antara pendar cahaya api.
Adam menoleh, menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan keteguhan dan rasa bersalah yang telah terbayar. "Sepuluh tahun lalu aku membiarkan wanita iblis itu memecah kita, Jo. Tapi malam ini... tidak ada satu pun penjahat pasar gelap atau wanita licik yang bisa menghancurkan kita lagi!"
"Tiga Jenderal tidak pernah kalah kalau berdiri bersama," tambah Jimi dengan gema suara yang bergetar penuh emosi.
Darah Ajo mendidih oleh gelombang persahabatan yang kembali utuh. Dengan ketegasan seorang pemimpin sejati, Ajo menerjang maju bersama Adam dan Jimi. Bertiga, mereka menghadapi anak buah Rober dalam pertarungan mentah yang sarat akan luapan emosi, membanting dan melumpuhkan para preman itu satu per satu di bawah guyuran hujan gerimis yang mulai turun dari langit Salak.
Warga desa yang dipimpin oleh Juli berbondong-bondong datang memadamkan sisa api dengan ember dan pompa air. Rober yang melihat anak buahnya tersungkur dan warga mulai mengepung, mendadak gemetar hebat. Keangkuhannya runtuh seketika saat Ajo melangkah mendekat, mencengkeram kerah bajunya, dan menatapnya lurus dengan pandangan membunuh.
"Beri tahu Maya," bisik Ajo, suaranya dingin, berat, dan menusuk langsung ke tulang hitam Rober. "Permainan di desa ini sudah selesai. Dan besok pagi, Tiga Jenderal datang ke Jakarta untuk merebut kembali seluruh hidup kami."
Rober terkulai lemas di tanah, ketakutan setengah mati saat warga desa menyeretnya untuk diserahkan ke pihak berwajib.
Hujan deras akhirnya turun membilas sisa-sisa jelaga dan asap di kebun cengkeh. Di bawah guyuran air langit yang dingin, Ajo, Adam, dan Jimi berdiri merapat. Ketiganya basah kuyup, memar di beberapa bagian wajah, namun saling merangkul bahu satu sama lain dengan eratan yang tak akan pernah bisa dipatahkan lagi oleh konspirasi apa pun.
Luka sepuluh tahun itu akhirnya basuh sepenuhnya oleh air hujan dan ketulusan. Masa lalu telah selesai; kini, badai sesungguhnya akan mereka bawa kembali ke ibu kota.