NovelToon NovelToon
Doa Yang Sama Di Altar Yang Berbeda

Doa Yang Sama Di Altar Yang Berbeda

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Diam-Diam Cinta / Idola sekolah
Popularitas:145
Nilai: 5
Nama Author: canny***

Menumpahkan es kopi ke baju Kenzo—si cowok genius anak pemilik yayasan—di hari pertama sekolah adalah awal dari bencana bagi Callista. Apalagi setelah mereka dipaksa jadi ketua dan sekretaris kelas. Perang dingin pun pecah, namun percikan benci perlahan berubah jadi cinta.
Sayangnya, realitas menghantam keras. Kenzo adalah seorang Kristen taat, sementara Callista beragama Buddha. Mereka sadar, sekuat apa pun perasaan itu, ada tembok keyakinan yang mustahil diseberangi.
Di saat hubungan itu mulai retak, ada Sean. Sahabat masa kecil Callista yang diam-diam memendam rasa, yang selalu menemaninya ke Vihara, dan memegang kunci dari doa yang sama di altar yang sama.
Ketika melangkah maju hanya menabrak dinding, akankah Callista tetap bertahan pada Kenzo, atau berbalik arah pada sahabat yang selama ini selalu berjalan seiringan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon canny***, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sabtu Sore dan Halaman Buku yang Terbuka

Sabtu sore, perpustakaan kota terlihat cukup ramai namun tetap memancarkan suasana hening yang menenangkan. Bau khas kertas tua berpadu dengan udara ber-AC yang dingin, menciptakan atmosfer yang pas untuk belajar.

Callista melangkah masuk ke area membaca lantai dua dengan menyandang tas ransel hitamnya. Di sampingnya, Sean berjalan santai sambil membawa laptop dan satu botol minuman dingin.

"Tuh, si Kenzo udah duduk di sana," tunjuk Sean dengan dagunya ke arah meja panjang di dekat jendela besar yang menghadap ke taman kota.

Callista menajamkan pandangannya. Di sana, Kenzo sudah duduk rapi dengan kemeja kasual berwarna putih polos yang digulung sampai siku. Di depannya sudah tertata rapi dua buku tebal Biologi, sebuah laptop yang menyala, dan beberapa lembar kertas catatan. Wajahnya terlihat sangat serius saat membaca.

 "Yaudah, Sean. Lo mau duduk di mana?" tanya Callista menoleh pada sahabatnya.

"Gue di meja sebelah sana aja, rada pojokan biar gak ngeganggu kelompok lo," jawab Sean santai. Dia menepuk pelan puncak kepala Callista. "Semangat ya, Cal. Kalau dia mulai resek atau sok mengatur lagi, panggil gue aja."

Callista terkekeh pelan. "Siap, Bos!"

Setelah Sean berlalu ke mejanya, Callista menarik napas panjang, merapikan kaus terusan longgar dan cardigan krem yang ia kenakan, lalu berjalan mendekati meja Kenzo. Rian, anggota ketiga mereka, ternyata sudah duduk di sana sambil sibuk membaca artikel di ponselnya.

 "Sore," sapa Callista canggung sambil menarik kursi di seberang Kenzo.

Kenzo mendongak dari bukunya. Tatapan matanya yang tajam sempat meneliti penampilan Callista sejenak sebelum ia mengangguk pelan. "Sore. Pas jam dua tepat. Bagus."

Ternyata dia masih hitung-hitungan waktu, batin Callista sambil memutar bola matanya halus. Ia langsung mengeluarkan buku sketsa dan alat tulisnya dari tas.

 "Rian udah nemu lima artikel tentang struktur sel tumbuhan dan dinding sel," kata Kenzo membuka diskusi tanpa basa-basi. "Gue udah bikin garis besar analisis data dan perbandingannya. Tugas lo sekarang, Callista, gambar diagram sel hewan dan sel tumbuhan secara mendetail di buku laporan ini, lalu ketik rangkuman yang udah gue susun."

Kenzo menggeser selembar kertas berisi tulisan tangannya yang sangat rapi ke arah Callista.

Callista menerima kertas itu dan terpana sejenak. Tulisan tangan Kenzo sangat teratur, dengan poin-poin analisis yang begitu jelas dan sistematis. Harus ia akui, cowok di depannya ini memang sangat cerdas dan terstruktur dalam bekerja.

"Oke, gambar dulu apa ngetik dulu?" tanya Callista, mencoba kooperatif agar tugas cepat selesai.

"Gambar dulu aja, biar nanti keterangannya bisa langsung disesuaikan sama ketikan laporan," jawab Kenzo.

Callista mengangguk. Ia mulai mengambil pensil dan menggambar garis luar sel tumbuhan di atas kertas khusus. Ketika sedang fokus menggambar, keheningan menyelimuti meja mereka. Hanya terdengar gesekan pensil Callista, ketikan jari Rian di ponsel, dan helaan napas halus Kenzo yang sibuk memilah data di laptopnya.

Dua puluh menit berlalu. Callista sangat serius menggoreskan pensilnya. Kemampuannya dalam menggambar memang tidak perlu diragukan lagi. Detail dinding sel, vakuola, hingga kloroplas ia lukis dengan sangat teliti dan rapi.

Tanpa Callista sadari, Kenzo perlahan menghentikan ketikannya. Cowok itu memperhatikan bagaimana jemari Callista bergerak lincah di atas kertas. Raut wajah Callista yang biasanya galak dan penuh kejengkelan saat di kelas, kini berubah menjadi sangat tenang dan fokus. Beberapa helai rambut halus yang lolos dari jepitannya jatuh menyapu pipinya yang kemerahan.

Kenzo tertegun beberapa detik sebelum cepat-cepat mengalihkan pandangannya kembali ke layar laptop. Ada getaran asing yang aneh di dadanya, namun ia buru-buru menepisnya.

"Nih, gambarnya udah jadi setengah. Menurut lo gimana?" tanya Callista tiba-tiba sambil menyodorkan buku sketsanya ke arah Kenzo.

Kenzo menerima buku itu dan memperhatikannya. Matanya membelalak pelan. Gambar Callista sangat proporsional, bersih, dan indah, jauh melebihi ekspektasinya.

"Ini... bagus banget," puji Kenzo polos, lupa dengan sikap gengsinya. "Detail kloroplasnya dapet banget. Rapi."

Callista tersenyum lebar, matanya membinar gembira mendapatkan pujian yang tulus.

  "Tuh kan! Gue bilang juga apa, gue gak cuma bisa bikin rusuh atau numpahin kopi!"

Melihat senyuman lepas Callista yang begitu hangat, sudut bibir Kenzo terangkat tipis. Lengkungan senyumnya kali ini sama sekali tidak mengandung nada ejekan. "Iya, gue akuin lo jago."

Suasana kaku di antara mereka perlahan mencair. Rian yang melihat keakraban itu tersenyum geli. Selama dua jam berikutnya, mereka bertiga bekerja dengan sangat kompak. Diskusi mengalir lebih santai, bahkan beberapa kali Kenzo melontarkan lelucon sarkastik tipis yang membuat Callista tertawa pelan meski pura-pura sebal.

Sekitar pukul empat sore, Rian pamit lebih dulu karena ada acara keluarga. Kini tinggal Kenzo dan Callista yang menyelesaikan tahap akhir perapian laporan.

Saat Callista sedang mengemas alat tulisnya, sebuah pembatas buku terjatuh dari dalam tasnya ke lantai. Pembatas buku itu terbuat dari kain merah sutra dengan sulaman benang emas berbentuk simbol Swastika dan relief Buddha kecil yang sangat indah.

Kenzo membungkuk untuk memungutnya. Ia memperhatikan gambar di pembatas buku itu sejenak sebelum menyerahkannya kembali pada Callista.

"Punya lo," kata Kenzo pelan.

"Ah, makasih!" Callista mengambil pembatas buku itu dengan hati-hati dan mengelusnya lembut. "Ini pembatas buku kesayangan gue. Dikasih sama Mama pas kita ibadah ke vihara besar waktu liburan kemarin."

Kenzo menatap pembatas buku itu, lalu menatap Callista. Ekspresi matanya kembali berubah menjadi tenang dan dalam.

"Lo... emang rajin ya ibadah ke Vihara?" tanya Kenzo ragu-ragu, sebuah pertanyaan yang jarang sekali keluar dari mulut cowok tertutup seperti dirinya.

Callista agak terkejut mendengar pertanyaan Kenzo, namun ia mengangguk ramah. "Lumayan. Tiap Sabtu pagi biasanya gue sama Sean ke Vihara dekat rumah. Di sana ada kelas sekolah minggu juga, seru bisa ngumpul sama teman-teman sekeyakinan. Kalau lo gimana? Katanya lo juga aktif di gereja?"

Kenzo menyandarkan punggungnya ke kursi, pandangannya menerawang ke luar jendela perpustakaan yang menampilkan langit sore keemasan.

   "Iya. Minggu pagi gue rutin ke gereja sama keluarga. Papi gue cukup tegas soal itu. Setiap minggu malam juga ada pemahaman Alkitab di rumah."

"Wah, disiplin banget ya," gumam Callista pelan.

"Harus," jawab Kenzo pendek, ada nada kelelahan yang tersirat dari suaranya. "Di keluarga gue, iman dan kebiasaan ibadah itu nomor satu. Enggak ada kompromi."

Callista menatap Kenzo lekat-lekat. Untuk pertama kalinya, ia melihat sisi lain dari seorang Kenzo. Bukan lagi ketua kelas yang dingin atau anak pemilik yayasan yang sombong, melainkan seorang anak laki-laki yang membawa beban ekspektasi keluarga yang begitu besar di pundaknya.

Di tengah keheningan yang sarat makna itu, sebuah bayangan muncul di samping meja mereka.

"Cal, udah selesai belum? Udah mau jam lima nih," suara Sean memecah suasana.

Sean berdiri di sana, menatap Kenzo dan Callista bergantian. Tatapan matanya yang tajam sempat tertuju pada pembatas buku Vihara di tangan Callista, lalu beralih menatap Kenzo dengan intonasi yang datar.

"Oh, udah kok! Ini tinggal masukin laptop aja," jawab Callista buru-buru merapikan sisa barangnya. Ia lalu menoleh pada Kenzo sambil tersenyum tipis.

  "Kenzo, makasih ya buat hari ini. Laporannya beres kan?"

Kenzo berdiri, merapikan kemejanya. Ia menatap Callista, lalu melirik Sean sekilas sebelum menganggukkan kepala.

"Sama-sama. Makasih juga buat gambarnya. Sampai ketemu hari Senin di sekolah."

"Yuk, Cal," ajak Sean lembut sambil membawakan tas ransel Callista yang agak berat.

"Eh, Sean, bisa sendiri kok!" protes Callista pelan, namun Sean hanya tersenyum dan tetap membawakan tas sahabatnya itu sambil berjalan mendahului.

Callista melambaikan tangan singkat pada Kenzo sebelum berjalan menyusul Sean menuju lantai bawah.

Dari balik jendela lantai dua, Kenzo berdiri mematung memperhatikan langkah Callista dan Sean yang berjalan berdampingan menyeberangi halaman perpustakaan. Ada perasaan ganjil yang mengusik benak Kenzo—sebuah kenyataan hangat sekaligus menyakitkan bahwa Callista dan Sean melangkah dalam dunia yang sama, sementara dirinya berdiri di kesejukan tempat yang berbeda.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!