Kegelapan dan Cinta sangat cocok untuk menggambarkan cerita ini. Karakter utamanya adalah seorang pemuda bernama Hayakawa Yugioh.
Ia bertemu dengan tiga gadis cantik di tempat yang berbeda-beda. Kuroyuki Yukino (Stasiun Kereta), Minazuki Reina (Klub Voli), dan Hanamori Airi (Hujan Badai).
Yugioh membantu semuanya untuk menyelesaikan masalah hidup masing-masing. Seiring berjalannya waktu, ketiganya mulai jatuh cinta padanya.
Dimulai dengan mengancamnya menggunakan benda tajam, menguntitnya ke manapun ia pergi, dan paling parah mengajaknya mati bersama.
Diakhir... Mereka mengajukan pertanyaan yang intinya: 'Siapa yang akan ia pilih untuk menjadi istrinya?.'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A Giraldin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1.7: Stasiun Tokyo
Dengan tatapan malaikat lewat senyumannya itu, ia menjawab: “Boleh kok! Yang nggak boleh cuman Hayakawa-kun seorang, hehehe.”
Mendengar hal tersebut, ia mengangkat wajahnya dan melirik ke arah Yukino dengan raut bingung.
Apa yang sedang direncanakan oleh Kuroyuki-san? Apakah dia mau mempermalukan semua keluargaku yang ada di sini karena tawarannya yang sangat menggiurkan?
Jika demikian, rencanamu berjalan dengan lancar. Hanya tinggal menunggu waktu yang sangat lama hingga selesai.
Tapi... jika ada tujuan lain, kira-kira apa? Dan... kenapa aku tidak masuk ke dalam hal tersebut?
Yahh... jawabanku pastinya menolak sih, tapi ada kemungkinan dia akan memaksa. Kalau hal tersebut terjadi, mau nggak mau harga diriku harus dikorbankan.
Asalkan keluargaku tidak menanggungnya, mungkin itulah yang bakal ku katakan kalau diawali dariku.
Untuk sekarang, lebih baik aku memperhatikannya saja dulu. Semoga saja, keluargaku sadar serta memilih berhenti dari mencoreng harga diri masing-masing.
Tanpa ku sadari, sepertinya kecintaanku masih ada di keluarga yang membenciku. Hahaha, kenapa ya...?
Mungkin karena alasannya seperti mama masih mau menjemputku pulang dari stasiun ke rumah walau kemauannya uang serta sepertinya sirna begitu mendengar tawarannya serta lagi melakukan perintahnya.
Lalu, alasan lainnya adalah walau aku dibenci, diriku tetap masih diberi tempat tinggal yang layak setelah pulang dari asrama, membuatku harus tetap mencintainya.
Mungkin bisa dibilang juga, apapun yang ku lakukan bisa disebut belum ada tujuan pasti.
Tujuan hidup saja aku tidak punya. Hahaha, itu adalah hal yang wajar. Membayar semua hutang keluarga pada Aoyama-san dan Bos papa, sudah lebih dari cukup untukku berbakti.
Setelah itu, yang ku yakini adalah mereka akan menerimaku dengan lebih baik. Yahh... semisal tidak pun, keluarga tetaplah keluarga.
Seburuk apapun mereka, aku harus menerimanya dengan lapang dada.
“Hah! Hah! Hah...!” desahan pelan keluar dari ketiga orang yang sedang menjilat sisi kiri dan kanan sepatu Yukino.
Desahan tersebut membuat mereka kelelahan, padahal baru 5 menit dan satu detik pun berlalu.
“Baiklah, kalian bertiga kehabisan waktunya. Oh benar! Bisa mengulanginya beberapa kali kok! Konsekuensinya, ditanggung masing-masing oke!”
Entah apa yang ada di sepatunya, Honoka, Eisuke, dan Goroichi kelihatan sangat senang selayaknya anak anjing yang butuh pakan serta belaian dari majikannya.
“Ba-baikk...”
Ketika mereka mau mulai lagi, tiba-tiba...
Suara langkah pelan terdengar. Bunyinya hampir tiada, tapi membuat semua orang ketakutan.
Seseorang sedang menuju ke sini lewat jalan yang sama yang dilalui oleh mobilnya Honoka saat berkendara memasuki kediaman.
Ketakutan dari langkah kakinya, membuat Honoka, Eisuke, Goroichi, Akagi, dan Yui langsung duduk di tempat dengan sangat sopan.
Bahkan, Yugioh sekalipun melakukan hal sama. di sini, Keluarga Hayakawa secara serentak, jantung mereka berdetak sangat kencang seperti mau putus.
Napas tak bisa lagi diatur dan bulu kuduk merinding terus menyebar hingga membuat lampu ruangan nyala-mati untuk beberapa saat.
Yukino tidak merasakan apa-apa yang membuatnya berbeda dari para Keluarga Hayakawa lainnya.
Ia justru malah kelihatan bingung serta masih bisa tersenyum konyol sambil menggerakkan tubuhnya ke kiri maupun kanan secara harmonis.
Yugioh dengan cepat menarik lengan bajunya ke kiri dan membuat Yukino agak kaget.
Ia pun berbisik: “To-tolong jadi seperti kami, Ku-kuroyuki-san! Pa-papa sangat menakutkan ketika marah soalnya.”
Mendengar itu, tanpa berkata apa-apa, ia melepaskan tangan kanannya dari lengan bajunya. Yukino melirik sebentar ke belakang dan menatap kaget.
Jenggot dan kumis tipis serta mata hitam kejam serta pakaiannya bergaya musik sekali. sosok para musisi legendaris rock tergambar jelas di kaosnya.
Begitu dia berada di depan Yukino, mata kejamnya luluh dan mundur cepat sedikit sampai memutuskan sujud padanya.
“Ah! Su-sungguh kehormatan besar bisa bertemu dengan anda. Na-nama saya Hayakawa Kenta, 52 tahun. Te-terimakasih banyak sudah menyempatkan diri datang ke tempat ini. A-ayah anda... m-maksud saya, O-owner-san bilang... ‘Pulang’.”
“Pulang ya...! Baiklah. sepertinya waktuku sudah habis. Aku tidak menyangka, paman ternyata ayah Hayakawa-kun.”
Ia berdiri tegak dan perlahan berjalan turun dan menginjaki punggungnya. “Papa bilang apa lagi, Budak #372?”
Yugioh dengan cepat berdiri dan dengan suara lantang bertanya: “Se-sebenarnya siapa dirimu, Kuroyuki-san? A-aku kira kau orang baik, tapi... a-apa yang kau lakukan pada papaku?”
Pertanyaan Yugioh diabaikan dan memilih menatap tajam ke arah Honoka. “Tante cantik cuman tahu aku seorang artis saja. Ini kesalahan besar lho, Budak #372! Harusnya kau katakan pada keluargamu identitas selama tiga bulan mengabdi pada Keluarga Kuroyuki!”
“Ma-maafkan saya!” ia langsung mengangkat kepalanya dan melirik ke arah keluarganya yang menatapnya aneh dalam posisi berdiri.
“Se-sebenarnya... Papa adalah Budak Keluarga Kuroyuki tiga bulan lalu. A-alasannya adalah, Owner-san... atau kita kenal dengan nama... ‘Poison-sama’... Me-membeliku.”
Semua mata begitu mendengar ‘Poison-sama’ disebut langsung kaget sampai terbelalak. Honoka langsung jatuh cepat hingga mundur dengan kedua tangan juga kakinya ke belakang saking ketakutannya.
Hal tersebut pun terjadi kepada Akagi, Yui, Eisuke, dan Goroichi, kecuali Yugioh.
Di sini, Yugioh turun dengan cepat walaupun kakinya gemetaran juga ketakutan luar biasa menyertai kakinya.
“A-aaa__ ma-maaf karena aku banyak mengabaikanmu saat di stasiun, Ku-ku-ku-kuroyuki-san!”
Ia berlutut sambil menundukkan kepalanya. Yukino malah bahagia dan menggerakkan kedua tangannya juga terlihat agak panik.
“Ha-hayakawa-kun tak perlu sampai sujud padaku! Ya-yang harusnya melakukannya adalah orang-orang bodoh di belakangmu.”
Selesai mengatakannya, tatapan jadi datar juga tatapan matanya mati. “Kalian jahat pada Hayakawa-kun dan tidak hormat padaku.”
“Kira-kira, hukuman seperti apa yang pantas untuk kalian? Eksekusi gantung, siksaan air__”
Belum selesai mengatakan semua siksaan yang bisa dipikirkannya, mereka yang di belakang Yugioh mengompol.
Baunya ke mana-mana dan bukan itu yang menjadi fokus Yugioh maupun Yukino.
Sebagai seorang pria, ia langsung sujud dan benar-benar tepat di depan papanya. “Se-sebagai anak paling kecil di Keluarga Hayakawa, a-aku meminta maaf menggantikan mereka semua.”
Ia melirik ke atas sedikit. “To-tolong ampuni mereka, Ku-kuroyuki-sama! Bi-bisakah Papaku tidak menjadi budakmu! K-ku mohon!"
Awawawa... H-hayakawa-kun sujud di depanku!! Ti-tidak boleh! D-dia ini cowok favoritku. Se-sebagai penghormatan karena perlakuan sopan padaku, ma-maka... Itu aja deh.
“Ba-baiklah! T-tapi angkat kepalamu dulu oke! A-aku akan memaafkan mereka semua dan membebaskan papamu atau tidak jadi budak lagi. Sy-syaratnya cuman satu.”