NovelToon NovelToon
The Captain's Discarded Siri Wife

The Captain's Discarded Siri Wife

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Romantis / Kapten / Tamat
Popularitas:7.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mira K.

Dulu kopilot yang satu kokpit dengannya. Lalu istri siri yang dibuang dengan selembar talak. Tapi Anindya kembali—terbang lagi ke maskapai sang Kapten yang mencampakkannya, sambil menyimpan rahasia: dia pemilik Klub Enggar dan pewaris Grup Wicaksana. Ibunya dibunuh ibu tiri dan saudari tirinya. Amara cuma pramugari di kabin; hanya Anindya yang duduk di kokpit. Kini sang Kapten berlutut, menyesal… terlambat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4

Bab 4

Dua Nama dan Pintu Rumah yang Tertutup

Lima hari kemudian, Anindya berdiri di depan pagar rumah masa kecilnya sambil membawa nampan bunga untuk mendiang Laras.

Pintu pagar di Menteng itu tetap tertutup.

“Maaf, Bu Anindya.” Penjaga rumah menunduk tanpa berani menatap matanya. “Bu Sri sedang menerima tamu. Saya diminta tidak membiarkan siapa pun masuk tanpa izin.”

“Hari ini haul ibu saya.”

“Saya tahu, Bu.”

“Tahlilan diadakan di dalam rumah saya, untuk ibu saya, dan saya disebut siapa pun?”

Pria itu makin menunduk. Dari balik pagar, suara bacaan doa baru saja selesai. Sejumlah mobil mewah terparkir di halaman. Alasan tentang tamu bukan kebohongan. Hanya orang yang dilarang masuk memang khusus Anindya.

Sepatu hak mendekat dari sisi dalam.

“Buka sedikit. Biar aku bicara dengannya.”

Amara muncul dalam gamis krem dengan kerudung yang disematkan rapi. Wajahnya lembut, cocok untuk foto keluarga yang berduka. Hanya matanya yang tampak terlalu puas.

“Kak Anindya, kenapa datang tanpa kabar?”

“Sejak kapan anak harus membuat janji untuk mendoakan ibunya sendiri?”

“Ibu sedang menjaga suasana. Banyak keluarga besar datang.” Amara merendahkan suara. “Setelah keributanmu di maskapai, semua orang membicarakan kita. Lebih baik kamu pulang dulu.”

“Buka pintunya.”

“Jangan keras kepala.”

Seorang perempuan berusia lima puluhan muncul di belakang Amara. Sri Wahyuni mengenakan kebaya gelap dan kerudung senada. Ia menangkupkan tangan di depan dada, wajahnya menyimpan kesedihan yang telah dilatih.

“Anindya, Ibu mengerti kamu ingin datang.”

Anindya menatapnya. “Kalau mengerti, buka pintu.”

“Jangan membuat keributan di hari doa untuk Laras.” Sri Wahyuni melirik para tamu yang mulai keluar ke teras. “Kami sedang menjaga nama baik keluarga. Kamu baru saja ditalak, lalu masuk ke perusahaan calon suami adikmu. Orang-orang bisa salah paham.”

“Orang-orang salah paham karena Amara sibuk memberi mereka cerita.”

Amara menyentuh dada. “Aku?”

“Siapa lagi yang mengundang infotainment ke acara pindahan apartemen?”

Bisik-bisik terdengar dari teras. Senyum Amara menegang.

Sri Wahyuni melangkah mendekati celah pagar. “Cukup. Sejak kecil kamu selalu membawa kesulitan. Ibumu sakit setelah melahirkanmu. Sekarang rumah tanggamu juga gagal. Jangan bawa nasib burukmu ke dalam rumah ini.”

Jari Anindya menekan tepi nampan sampai anyaman bambunya menusuk kulit.

“Ulangi di depan foto Ibu Laras,” katanya. “Kalau berani, katakan saya pembawa sial sambil melihat wajah perempuan yang rumah dan suaminya kamu ambil.”

Wajah Sri Wahyuni memucat.

“Kurang ajar!”

Suara berat memotong dari belakang para tamu.

Pak Yahya berjalan menuruni tangga dengan tongkat kayu di tangan. Usianya membuat langkahnya lambat, tetapi para pengusaha yang mengikutinya otomatis memberi jalan.

“Yang kurang ajar bukan anak ini,” katanya. “Yang kurang ajar adalah orang yang memakai acara doa untuk mengusir putri kandung almarhumah.”

“Pak Yahya, ini masalah keluarga,” ujar Sri Wahyuni cepat.

“Laras pernah menyelamatkan usaha saya ketika semua orang menjauh. Saya datang karena menghormatinya.” Pak Yahya menunjuk pagar dengan ujung tongkat. “Kalau anaknya sendiri tidak boleh masuk, doa macam apa yang kalian adakan?”

Bramantya akhirnya terlihat di ambang pintu utama. Rambutnya lebih banyak memutih daripada terakhir kali Anindya melihatnya. Ia membuka mulut, tetapi Sri Wahyuni lebih dulu menoleh.

“Pak, katakan sesuatu. Jangan biarkan dia mempermalukan kita di depan tamu.”

Bramantya memandang Anindya melalui pagar. Tatapannya turun pada bunga di tangannya, lalu berpindah ke para tamu.

“Nindya,” suaranya serak. “Pulanglah dulu. Kita bicara lain waktu.”

Sesuatu yang lebih tajam daripada hinaan Sri Wahyuni menekan dada Anindya.

Ayahnya masih memilih pintu tertutup itu.

Pak Yahya mengangguk pelan, seolah baru menerima jawaban atas keraguan lama.

“Mulai besok, perusahaan saya menghentikan semua pembicaraan kerja sama dengan Grup Wicaksana.”

Bramantya terkejut. “Pak Yahya, jangan campur urusan bisnis dengan...”

“Nama baik keluarga, bukan?” Pak Yahya berbalik. “Saya tidak mau nama perusahaan saya berada di samping keluarga yang memperlakukan anak almarhumah seperti pengemis di depan pagar.”

Dua tamu lain ikut turun. Seorang perempuan paruh baya menyerahkan kartu nama kepada Anindya sebelum masuk ke mobil. Yang lain hanya menggeleng kepada Bramantya.

Dalam beberapa menit, halaman yang tadi penuh mulai kosong.

Sri Wahyuni menyuruh penjaga membuka pagar setelah wartawan dan sebagian besar tamu pergi. Bukan untuk menerima Anindya, melainkan agar Bramantya bisa menariknya ke sisi halaman yang tak terlihat dari jalan.

“Kamu puas?” bentak Bramantya. “Satu kerja sama batal karena kamu!”

“Karena saya?” Anindya menyodorkan nampan bunga. “Saya datang untuk mendoakan Ibu. Kalian yang menjadikan pagar ini panggung penghinaan.”

“Jangan bicara seperti itu kepada papamu,” Sri Wahyuni menyela.

“Dia berhenti menjadi Papa ketika membiarkan makam dan doa ibu saya dikuasai orang yang membencinya.”

Bramantya mengangkat tangan, lalu ragu. Keraguan itu hanya berlangsung sesaat. Telapak tangannya mengenai pipi Anindya.

Nampan bunga jatuh. Kelopak melati dan mawar putih berserakan di batu halaman.

Amara tersenyum kecil sebelum cepat-cepat memasang wajah cemas.

“Papa, jangan...”

Bramantya menatap tangannya sendiri, seolah tak percaya ia baru menggunakannya. “Nindya, aku...”

“Jangan.”

Rasa logam memenuhi mulut Anindya. Ia menyentuh sudut bibir, melihat darah tipis di jarinya, lalu menatap ayahnya.

“Sepuluh tahun lalu, Ibu Laras meninggal di rumah ini. Hari ini, putrinya dipukul karena ingin membacakan doa untuknya.”

“Kamu yang memancing emosi Papa,” kata Amara.

Anindya menoleh. “Nikmati rumah, apartemen, dan laki-laki yang kamu ambil selama masih bisa.”

Senyum Amara benar-benar hilang.

Anindya membungkuk, mengambil satu kuntum melati yang belum terinjak, lalu berdiri kembali.

“Aku akan kembali.”

Malam itu, pintu lain terbuka untuknya.

Di ruang intelijen Klub Enggar, Sisi menampilkan dua salinan catatan gawat darurat di layar. Waktu panggilan ambulans berbeda empat puluh tujuh menit. Dalam laporan awal, ada satu petugas rumah yang menyebut Laras sudah kesulitan bernapas sebelum jatuh. Kesaksian itu hilang dari berkas berikutnya.

Enggar meletakkan map fisik di depan Anindya. “Mantan asisten rumah tangga yang membuat pernyataan awal bersedia bicara. Selama ini dia takut.”

“Siapa yang menekannya?”

Sisi memperbesar jejak pembayaran lama. “Uangnya melewati tiga rekening. Rekening terakhir terhubung ke orang kepercayaan Bu Sri.”

“Dan nama yang dihapus?”

“Amara.”

Ruangan menjadi sunyi.

Anindya mengeluarkan kuntum melati yang ia bawa dari rumah Menteng. Kelopaknya sudah layu dan ternoda setitik darah dari bibirnya. Ia meletakkannya di atas dua nama pada halaman pertama.

Sri Wahyuni.

Amara Wicaksana.

“Simpan salinan di tiga tempat. Lindungi saksi. Jangan bergerak sebelum rantainya lengkap.”

“Baik, Bos,” jawab Sisi.

Anindya menutup map kematian ibunya. Di balik kaca gedung, sebuah pesawat melintas di antara lampu Jakarta.

“Mulai hari ini,” katanya, “orang-orang yang membunuh Ibu saya akan membayar semuanya.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!