Ribuan tahun sebelum dunia belum mengenal sekte atau Aliran Putih. Era ini adalah Zaman Kekacauan Primordial, di mana dunia dikuasai oleh ras "Keturunan Dewa" tiran yang memperbudak manusia biasa.
Ye Cangtian, seorang budak rendahan yang terlahir dengan meridian cacat bawaan, secara tidak sengaja menemukan inti meteorit purba di tambang kematian. Alih-alih tunduk pada nasib, ia mematahkan aturan langit. Ia menciptakan sistem kultivasi dari nol untuk umat manusia, memimpin pemberontakan terbesar dalam sejarah, dan berperang untuk menyatukan benua.
Namun, perjalanannya tidak berujung pada kebahagiaan abadi. Ia harus menghadapi pengkhianatan sahabatnya sendiri yang kelak melahirkan kutukan "Bayangan Gerhana", serta menciptakan sebuah makam rahasia dan pusaka "Mahkota Kehampaan" sebagai jaminan bagi generasi ribuan tahun di masa depan. Ini adalah kisah tentang bagaimana manusia pertama menjadi Dewa, dan dewa itu mati demi manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 : Badai Kematian Tak Kasat Mata
Udara di Kota Fajar dipenuhi aroma daging panggang dan arak. Pasukan Pembelah Langit merayakan kemenangan atas Jenderal Bintang Tie. Di alun-alun kota, para prajurit menceritakan kembali momen sang jenderal raksasa kehilangan kepalanya, memicu tawa dan sorakan yang membelah malam.
Tapi di dalam gubuk medis yang sunyi di ujung akademi, suasananya berbanding terbalik.
"Kau beruntung lengan kananmu tidak meledak dari bahumu," omel Su Ling'er dengan nada dinginnya.
Su Ling'er menekan beberapa titik akupunktur di lengan kanan Cangtian dengan jarum kayu nya. Tiap kali jarum itu masuk, otot Cangtian berkedut hebat.
Cangtian duduk bertelanjang dada di ranjang bambu, membiarkan Ling'er mengoleskan salep berbau menyengat ke lengannya. Garis-garis memar keunguan menjalar dari pergelangan tangan hingga ke lehernya.
"Teknik getaran tinggi itu... itu sama dengan bunuh diri." Ling'er melanjutkan, matanya berkaca-kaca menahan marah sekaligus cemas. "Meridian di lenganmu mengalami retakan kecil di ribuan titik. Pusaran Emas di Dantianmu memompa tenaga terlalu kuat, dan pembuluh darahmu belum cukup kuat untuk menahannya."
"Kalau aku tidak memaksakannya, Jendral Bintang itu sudah meratakan seluruh Divisi Pertama dengan pilar batunya," jawab Cangtian tenang, meski wajahnya pucat pasi.
"Aku tidak peduli!" Ling'er membanting mangkuk salepnya ke meja. "Dengar baik-baik. Kalau kau paksakan aliran Qi tingkat tinggi lagi dalam satu bulan ke depan, lengan kananmu akan hancur selamanya. Kau tidak akan pernah bisa memegang pedang lagi. Mengerti?"
Cangtian menatap mata Ling'er yang penuh permohonan. Ia menghela napas panjang, mengangguk pelan. "Aku mengerti. Aku akan fokus pada pemulihan."
Sayangnya, perang tidak pernah peduli pada jadwal pemulihan manusia.
Tiga hari kemudian, pada siang yang anehnya sangat terik, seluruh angin di Lembah Fajar mendadak mati. Kincir air di sungai berhenti berputar.
Bendera hitam bergambar pedang kembar milik akademi jatuh terkulai di tiangnya. Keheningan yang menekan telinga menyelimuti seluruh kota.
Bruk! Bruk! Bruk!
Tiga benda berat jatuh dari langit, menghantam atap batu balai kota sebelum berguling ke tengah alun-alun.
Para prajurit yang sedang berlatih terdiam. Xing Yun, yang sedang memeriksa logistik, segera berlari menghampiri benda-benda itu. Saat ia membalikkan salah satunya, wajahnya kehilangan seluruh warna.
Mayat tiga pengintai terbaik dari Divisi Bayangannya. Tubuh mereka utuh, zirah mereka tidak hancur, tapi kalau diperhatikan lebih dekat, ada ratusan sayatan setipis rambut di seluruh kulit mereka. Mereka mati kehabisan darah.
"Semuanya, angkat perisai! Formasi Bertahan!" raung Xing Yun.
Tapi terlambat.
Dari atas awan merah yang menggantung di langit, sesosok pria melayang turun dengan keanggunan mengerikan. Zirah perak tipisnya berkibar seperti kain sutra. Tidak ada kereta perang. Tidak ada pasukan emas. Ia datang sendirian.
Jenderal Bintang Lu tersenyum menatap kepanikan di bawah sana.
"Tie selalu membual soal otot batunya." Suara Lu terdengar sangat pelan, tapi terdengar di telinga setiap penduduk Kota Fajar. "Dia lupa, gunung sebesar apa pun pada akhirnya akan terkikis oleh angin yang tak terlihat."
Tanpa peringatan, tanpa rapalan mantra, Jendral Lu hanya menjentikkan jari telunjuknya.
Udara di atas alun-alun kota mendadak berdesing. Long Zhan, yang bereaksi paling cepat, meraung dan mengangkat perisai menara raksasanya, menutupi puluhan prajurit Divisi Kedua di belakangnya. "Tahaan!"
Sraaat! Sraaat! Sraaat!
Bilah-bilah angin tak kasat mata menghujani alun-alun seperti badai pisau. Berbeda dari hantaman fisik Jendral Tie yang bisa ditahan dengan otot, serangan Jendral Lu adalah teror murni. Bilah angin itu membelok, meliuk melewati celah-celah perisai menara Long Zhan.
"Argghhh!"
Jeritan kesakitan pecah di mana-mana. Zirah baja fana terpotong. Ratusan prajurit, dari Divisi Pertama maupun Kedua, roboh bersimbah darah. Mereka bahkan tidak tahu dari arah mana serangan itu datang.
"Keparat!" Long Zhan melempar perisainya yang kini compang-camping, melontarkan tombaknya ke langit dengan seluruh kekuatan Qi Tingkat 3-nya.
Tombak seberat ratusan kilogram itu melesat seperti peluru. Jendral Lu bahkan tidak berkedip. Saat tombak berjarak satu meter dari wajahnya, angin di sekitarnya berputar membentuk pusaran kecil. Tombak Long Zhan tiba-tiba membelok tajam ke kiri, melesat jauh ke luar lembah.
"Kalian tidak bisa memukul apa yang tidak bisa kalian sentuh, semut," kekeh Jendral Lu. Ia mengangkat kedua tangannya, bersiap melepaskan badai bilah angin yang seratus kali lebih padat.
Kubah energi emas raksasa meletus dari tengah reruntuhan akademi, meluas dengan kecepatan luar biasa, menutupi seluruh alun-alun kota. Ribuan bilah angin Jendral Lu menghantam kubah itu, memercikkan ribuan api, tapi gagal menembusnya.
Dari pintu gubuk medis yang hancur, Ye Cangtian berjalan keluar. Wajahnya bersimbah keringat dingin.
Lengan kanannya masih diperban, bergetar hebat saat menggenggam Pedang Pemutus Surga. Di belakangnya, Su Ling'er menangis sambil memegangi pintu.
Jenderal Lu menunduk, menatap sang Kaisar Bela Diri. Senyum arogannya melebar.
"Ah, sang pembunuh dewa." Jenderal Lu menyapa sopan. Mata peraknya memindai tubuh Cangtian dalam hitungan detik.
"Tebasan presisi yang membunuh Jenderal Tie itu, teknik yang jenius untuk seekor monyet. Sayangnya, memusatkan energi padat ke titik sekecil itu butuh waktu persiapan setidaknya setengah detik."
Mata Cangtian melebar seketika.
"Dan bagiku, setengah detik..." Jenderal Lu tiba-tiba menghilang dari pandangan. "...adalah keabadian."
Suara Jenderal Lu tidak lagi datang dari langit, melainkan berbisik tepat di belakang telinga Cangtian.
BAM!
Tendangan yang dibungkus angin bertekanan tinggi menghantam punggung Cangtian. Kecepatannya jauh melampaui kemampuan mata Master Bela Diri.
Kubah perlindungan emas di atas alun-alun hancur berkeping-keping. Cangtian terpental ke depan. Sebelum tubuhnya menyentuh tanah, Jenderal Lu sudah berada di lintasan jatuhnya.
BAM! Tendangan kedua menghantam rahang Cangtian, melontarkannya tinggi ke udara.
Para prajurit Pembelah Langit hanya bisa menatap dalam kengerian. Sang Kaisar Bela Diri, pahlawan tak terkalahkan mereka, dipermainkan di udara seperti bola yang ditendang dari berbagai arah oleh hantu yang tak terlihat.
"Di mana tebasan presisimu itu, Kaisar?!" Tawa Jenderal Lu bergema dari segala penjuru, serangannya mengalir tanpa henti.
Lengan kanan Cangtian menjerit. Meridiannya yang retak kini benar-benar mulai hancur akibat benturan beruntun. Ia mencoba memusatkan Niat Pedang, tapi Jenderal Lu bergerak terlalu cepat. Setiap kali Cangtian mulai mengompresi Qi di pedangnya, Jenderal Lu memukul titik butanya, menggagalkan fokus itu.
"Cukup!"
Dengan sisa tenaganya, Cangtian melepaskan seluruh Qi di Dantiannya dalam ledakan aura 360 derajat tanpa arah, murni untuk menciptakan jarak.
Jenderal Lu terdorong mundur sepuluh meter. Ia melayang santai, merapikan zirah peraknya yang bahkan tidak tergores.
Di depannya, Cangtian jatuh berlutut, memakai pedangnya sebagai penyangga agar tidak ambruk. Darah mengalir deras dari hidung dan mulutnya. Napasnya terengah-engah, lengan kanannya kini terkulai lemas tanpa tenaga.
"Sungguh mengecewakan." Jenderal Lu mendesah. " Tie mati bukan karena kau kuat, tapi karena dia terlalu bodoh. Mari kita akhiri drama ini."
Ia mengangkat kedua tangan ke atas. Langit seketika gelap gulita. Awan badai berputar dengan kecepatan gila, menyatu membentuk corong raksasa yang turun perlahan ke arah Kota Fajar.
Tornado itu bukan angin biasa, melainkan pusaran bilah-bilah hitam yang menyedot pohon, batu, dan atap rumah, merobeknya jadi serbuk gergaji dalam hitungan detik.
"Ini Otoritas Anginku: Pusaran Kehampaan," ucap Jenderal Lu dingin. "Aku akan menghancurkan seluruh kota menjijikkan ini beserta kelima puluh ribu penduduknya jadi debu."
Tornado hitam itu membesar, menutupi seluruh pandangan. Gemuruhnya menenggelamkan jeritan panik warga.
Long Zhan meraung putus asa. Xing Yun memejamkan mata, menyadari semua taktik di dunia ini tidak ada gunanya melawan kekuatan mutlak ini.
Ye Cangtian, dengan lengan kanan yang hancur dan tubuh yang remuk, perlahan memaksa lututnya berdiri kembali. Matanya yang keemasan menatap badai kematian di depannya, menolak untuk padam.
Kalau ia tidak bisa mengalahkan kecepatan dengan presisi, ia harus mencari cara lain.