"Arya Suryanegara — menantu miskin yang diusir dari rumah mertua tanpa sepeser pun. Dicaci, dihinakan, diperlakukan bagai sampah selama tiga tahun.
Tapi semua orang salah besar.
Arya adalah pewaris tunggal Keluarga Suryanegara, konglomerat terkuat di Indonesia dengan aset ratusan triliun. Perusahaan terbesar di kota itu? Miliknya. Mantan Kapten Kopassus dengan kemampuan bela diri mematikan? Itu dia. Otak bisnis jenius yang bisa menghancurkan perusahaan saingan dengan satu telepon? Juga dia.
Sekarang penyamarannya berakhir. Yang pernah menghinanya akan berlutut. Yang berani menyentuh orang-orangnya akan hancur — secara bisnis, secara hukum, secara total.
Menantu miskin? Tidak. Pewaris triliunan yang kembali untuk mengambil tahtanya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Bab 030: Menyelamatkan Nayla
Arya tidak berteriak.
Ia tidak membanting ponsel, tidak memaki, tidak memberi ancaman kedua. Setelah panggilan Rahmat terputus, ia hanya berdiri di koridor hotel, diam selama tiga detik.
Pak Satria tahu tiga detik itu berbahaya.
Orang yang panik membuat kesalahan.
Arya sedang menghapus semua ruang untuk kesalahan.
"Lokasi," katanya.
Pak Satria langsung membuka tablet. "Ponsel Nona Nayla sempat mengirim sinyal terakhir di lobi belakang. Setelah itu mati. Tapi tombol panggilan aktif selama empat puluh detik. Saya menangkap suara mesin, kemungkinan mobil diesel tua. Dari kamera gang, ada van putih keluar ke arah dermaga barat."
"Geng Macan Hitam punya gudang di sana?"
"Tiga kemungkinan. Yang paling sering dipakai: gudang bekas pendingin ikan, dekat jalur kontainer lama."
Arya mengambil jaket gelap, sarung tangan tipis, dan earpiece.
Pak Satria berkata, "Saya ikut."
"Tidak."
"Tuan Muda..."
"Kamu koordinasikan polisi yang masih bersih, tim medis, dan Alice. Kita butuh perang ini selesai dalam dua jalur. Aku ambil Nayla. Alice mulai umpan Herman."
"Sendirian terlalu berisiko."
Arya menatapnya.
"Kalau aku membawa banyak orang, mereka panik dan memakai Nayla sebagai tameng. Kalau aku masuk sendiri, mereka akan percaya diri."
Pak Satria menggenggam tablet lebih kuat.
"Setidaknya pakai backup jarak jauh."
"Lima menit setelah aku masuk, kamu putus listrik blok gudang. Tujuh menit, kirim gangguan ke kamera mereka. Sepuluh menit, polisi bergerak dari sisi jalan utama, bukan dermaga."
"Dan jika Anda terluka?"
"Dokter siap di titik keluar."
Pak Satria menunduk. "Perintah diterima."
Di gudang bekas pendingin ikan, Nayla diikat di sebuah kursi besi.
Mulutnya tidak ditutup lagi. Rahmat ingin ia bicara, ingin ia takut, ingin ia mengerti bahwa nama Wicaksana tidak banyak berarti di ruang berbau garam, oli, dan kayu lapuk itu.
Tetapi Nayla menatapnya dengan mata menyala.
"Kamu sadar menculik cucu Soedirman Wicaksana adalah ide bodoh?"
Rahmat duduk di atas peti kayu, tertawa. "Aku sadar menculikmu membuat Arya Suryanegara datang."
"Kamu pikir dia akan pergi?"
"Semua laki-laki punya batas. Ada yang batasnya uang, ada yang nama baik, ada yang perempuan."
"Kalau kamu menjadikan aku batasnya, kamu salah hitung."
Rahmat mendekat. Tubuhnya tinggi dan besar, hampir menutup lampu di belakangnya.
"Aku sudah melihat banyak orang keras berubah lunak saat orang yang mereka lindungi mulai menangis."
"Kalau begitu kamu belum pernah melihat Arya marah."
Salah satu anak buah Rahmat tertawa. "Nona ini percaya sekali."
Nayla menatapnya. "Kalian sebaiknya mulai berdoa."
Pintu gudang berderit pelan.
Semua kepala menoleh.
Seorang penjaga masuk dari sisi samping. "Bos, listrik di blok utara mati."
Rahmat mengerutkan kening. "Cek panel."
Dua orang keluar.
Mereka tidak kembali.
Lima menit kemudian, lampu utama berkedip.
Gudang itu punya tiga pintu, satu kantor kecil di lantai atas, tumpukan kontainer kosong, dan jalur sempit di antara rak besi. Arya sudah melihat semuanya dari rekaman drone murah yang diterbangkan Pak Satria tiga menit sebelum listrik diputus.
Ia masuk bukan dari pintu.
Ia masuk dari ventilasi servis di sisi belakang, turun ke atas kontainer, lalu bergerak di bayangan rak.
Orang pertama berdiri di bawahnya, memegang pipa besi. Arya turun tanpa suara, menutup mulutnya, menekan titik leher seperlunya sampai pria itu lemas, lalu menurunkannya ke lantai.
Orang kedua melihat bayangan bergerak.
Terlambat.
Arya melempar baut kecil ke sisi kiri. Saat pria itu menoleh, Arya sudah berada di sisi kanan. Satu hantaman pendek ke perut, satu kuncian siku, pria itu jatuh tanpa sempat berteriak.
Di tengah gudang, Rahmat mulai sadar.
"Cari dia!" teriaknya.
Belasan orang bergerak.
Mereka membawa pipa, pisau lipat, tongkat kayu, dan beberapa senjata listrik ilegal. Mereka terbiasa membuat pemilik toko ketakutan, bukan menghadapi seseorang yang menghitung jarak seperti membaca laporan keuangan.
Arya tidak melawan semuanya sekaligus.
Ia mematikan lampu kecil di satu lorong, memancing tiga orang masuk, lalu menjatuhkan rak kosong untuk memecah barisan. Satu orang terpeleset. Satu orang menabrak temannya. Arya masuk di antara mereka, menyerang tangan yang memegang senjata, lutut yang menopang tubuh, dan rahang yang terlalu terbuka.
Cepat.
Efisien.
Tidak ada gerakan indah.
Hanya keputusan.
Nayla mendengar suara tubuh jatuh satu per satu.
Ia tidak bisa melihat semuanya, tetapi ia tahu.
Arya datang.
Rahmat menarik pisau panjang dari pinggangnya. "Tunjukkan dirimu!"
Arya muncul dari balik kontainer.
Jaket hitamnya terkena debu. Napasnya teratur. Di belakangnya, empat orang terbaring mengerang.
Nayla menatapnya.
Untuk sesaat, seluruh rasa takut yang ia tahan berubah menjadi marah.
"Kamu lama."
Arya menatapnya sebentar. "Macet."
Dalam situasi lain, Nayla mungkin tertawa.
Rahmat justru menggeram. "Sombong sekali datang sendirian."
"Kamu menculik orang yang salah."
"Aku menculik orang yang tepat. Buktinya kamu datang."
"Benar."
Arya maju satu langkah.
"Sekarang lepaskan dia."
Rahmat tertawa dan memberi isyarat. Enam orang menyerang dari dua sisi.
Pertarungan berikutnya berlangsung kasar.
Seorang pria mengayunkan tongkat kayu ke kepala Arya. Arya menunduk, masuk ke bawah garis serangan, dan memukul iga. Pria itu terlipat. Orang lain mencoba menusuk dari samping. Arya menangkap pergelangan, memutar keluar, membuat pisau jatuh, lalu menendang senjata itu jauh.
Satu tongkat mengenai bahu Arya.
Suara benturan membuat Nayla tersentak.
Arya hanya bergerak setengah langkah, lalu membalas dengan siku ke dada penyerang.
Orang ketiga melompat dari belakang.
Arya membiarkannya mendekat, lalu menjatuhkan tubuh ke samping dan memakai momentum pria itu untuk membantingnya ke lantai beton. Tidak keras untuk membunuh. Cukup keras untuk membuatnya tidak bangun dalam waktu dekat.
Rahmat menunggu sampai anak buahnya membuka celah.
Ia bergerak cepat untuk tubuh sebesar itu.
Pisau di tangannya mengarah ke sisi Arya.
Arya menghindar, tetapi seorang anak buah Rahmat yang belum jatuh bergerak ke arah Nayla dengan pisau kecil, mengancam lehernya.
Arya berubah arah.
Itu memberi Rahmat kesempatan.
Pisau panjang menyayat sisi kiri tubuh Arya.
Kain jaket robek.
Darah muncul.
"Arya!" teriak Nayla.
Arya tidak berhenti.
Ia mencapai pria yang mendekati Nayla, memukul pergelangan tangannya sampai pisau jatuh, lalu menendang lututnya. Setelah itu ia menarik kursi Nayla mundur satu meter, cukup jauh dari jangkauan.
Baru kemudian ia menyentuh sisi tubuhnya.
Darah membasahi sarung tangan.
Rahmat tersenyum. "Akhirnya berdarah juga."
Arya menatap darah itu.
Lalu menatap Rahmat.
"Sekarang giliranku."
Rahmat menyerang dengan tenaga penuh. Ia mengandalkan ukuran tubuh, pisau, dan kebiasaan lawan takut pada reputasinya. Arya tidak melawannya dengan tenaga.
Ia masuk ke samping.
Mengunci pergelangan.
Mendorong siku ke arah berlawanan.
Rahmat berusaha menarik, tetapi berat badannya sendiri menjadi musuh. Arya memutar pinggul, menendang titik keseimbangan, dan menjatuhkannya ke lantai.
Pisau terlepas.
Rahmat masih mencoba bangun.
Arya menginjak pisau itu menjauh, lalu menangkap kedua pergelangan Rahmat ketika pria besar itu menyerang lagi dengan tangan kosong.
Satu putaran.
Satu tekanan.
Suara retak pendek terdengar dari pergelangan kanan Rahmat.
Rahmat berteriak.
Arya tidak selesai.
Pergelangan kiri menyusul, ditekan tepat sampai tulang dan sendi kehilangan hak untuk memukul orang lain dalam waktu lama.
Gudang menjadi sunyi.
Anak buah Geng Macan Hitam yang masih sadar mundur.
Arya berdiri di atas Rahmat, napasnya tetap teratur meski darah menetes dari sisi tubuhnya.
"Tangan yang dipakai menculik perempuan dan memukul orang lemah," katanya, "tidak perlu bekerja untuk sementara."
Rahmat menggertakkan gigi, wajahnya penuh keringat.
"Kamu pikir ini selesai?"
"Tidak. Ini baru bagian mudah."
Di kejauhan, sirene polisi mulai terdengar.
Pak Satria masuk lewat pintu samping bersama dua petugas bersenjata dan seorang dokter lapangan. "Tuan Muda!"
"Nayla dulu."
Pak Satria segera memotong ikatan Nayla.
Begitu bebas, Nayla berdiri dengan kaki agak goyah. Ia melihat darah di tubuh Arya, lalu wajahnya berubah.
"Kamu terluka."
"Sedikit."
"Jangan bilang sedikit kalau bajumu berdarah."
"Baik. Tidak terlalu sedikit."
Nayla memukul bahunya pelan, lalu langsung menyesal karena Arya meringis.
"Dasar..." Suaranya pecah. "Kamu bodoh."
"Aku diberi tahu itu cukup sering hari ini."
Nayla tidak tahan lagi. Ia memeluknya.
Tidak peduli gudang, polisi, anak buah geng yang terbaring, atau Pak Satria yang langsung melihat ke arah lain.
Tubuhnya gemetar, tetapi pelukannya kuat.
"Aku bilang aku bisa menjaga diri," bisiknya.
"Kamu memang bisa."
"Tapi kamu tetap datang."
"Karena bisa menjaga diri bukan berarti harus sendirian."
Nayla memejamkan mata.
Dokter mendekat dan memeriksa luka Arya. "Perlu jahitan, Pak. Tidak mengenai organ dalam, tapi cukup dalam."
Pak Satria sudah menghubungi tim medis privat. "Mobil medis tiga menit lagi."
Nayla melepaskan pelukan, tetapi tetap berdiri di dekat Arya seolah takut ia akan jatuh jika dibiarkan sendiri.
Rahmat diborgol oleh polisi. Sebelum dibawa keluar, ia menatap Arya dengan kebencian yang bercampur takut.
"Herman tidak akan diam."
Arya duduk di peti kayu, membiarkan dokter menekan perban sementara.
"Bagus," katanya. "Aku juga belum selesai."
Ponselnya bergetar.
Pesan dari Alice.
Umpan sudah dilepas. Herman Santoso meminta data proyek dan jadwal presentasi. Dia menggigit lebih cepat dari perkiraanku.
Arya membaca pesan itu, lalu menyerahkan ponsel kepada Pak Satria.
"Balas: mulai tahap dua."
Nayla menatapnya tidak percaya. "Kamu baru saja ditusuk dan masih mengurus bisnis?"
"Kota Selatan punya dua penyakit. Geng dan uang kotor. Satu baru diberi obat."
"Dan yang satu?"
Arya melihat pintu gudang yang terbuka ke arah lampu pelabuhan.
Di luar, malam Kota Selatan masih bergerak. Namun untuk pertama kalinya, suara sirene lebih keras daripada suara geng.
"Besok," katanya, "kita mulai operasi."