NovelToon NovelToon
Istri Misterius Sang Jenderal

Istri Misterius Sang Jenderal

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Dijodohkan Orang Tua / Fantasi Wanita / Nikah Kontrak / Kerajaan
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mapple_Aurora

Arina Volans dipaksa menikah dengan Jenderal Orion Wezen, pria yang seharusnya menjadi suami adik tirinya. Di mata semua orang, Arina hanyalah wanita pendiam dan berwajah dingin yang tak pernah diinginkan siapa pun.

Namun, di balik wajah tanpa ekspresinya, Arina menyimpan rahasia yang tak boleh diketahui siapa pun. Saat malam tiba, ia menjalankan rencana-rencana berbahaya yang bahkan tak mampu ditebak oleh Orion.

Ketika identitas Arina perlahan terungkap, sebuah rahasia yang telah terkubur selama puluhan tahun mulai mengguncang kerajaan dan menyeret mereka ke dalam pusaran konspirasi, pengkhianatan, dan perang.

Mampukah seorang jenderal mempercayai istri yang paling misterius di seluruh kerajaan?

*

Cerita murni karangan penulis dan tidak ada hubungannya dengan kehidupan nyata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mapple_Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Setelah Rigel pergi, Orion kembali membuka mulut untuk memarahi Arina.

“Penjara itu—”

“Oh, astaga! Jadi kalian ada di sini.”

Namun, sebelum sempat melanjutkan ucapannya, sebuah suara ceria terdengar dari belakang.

Orion segera menoleh. Begitu melihat siapa yang datang, raut wajahnya langsung berubah muram.

Kenapa orang bodoh ini datang hari ini? batin Orion kesal.

Menyadari identitas tamu tersebut, Arina segera membungkukkan badan memberi hormat.

“Salam, Yang Mulia Putra Mahkota.”

Pria yang baru datang itu mengenakan pakaian kebesaran keluarga kerajaan dengan sebuah mahkota yang bertengger anggun di atas kepalanya. Dialah Hadar Fomalhaut, Putra Mahkota Kerajaan Elarion sekaligus sahabat dekat Orion.

Sepasang mata hijau zamrudnya merupakan ciri khas keturunan keluarga kerajaan, Fomalhaut. Wajahnya tampan, tetapi memiliki garis-garis lembut yang membuatnya tampak lebih manis daripada garang.

Melihat tingkahnya yang ceria dan tanpa beban, sulit membayangkan bahwa pria itu adalah calon penerus takhta.

“Tak heran banyak pejabat kerajaan ingin menyingkirkannya,” batin Arina.

“Lady Arina, sudah lama kita tidak bertemu.” Hadar tersenyum hangat kepadanya.

“Apa yang kau lakukan di sini, Hadar? Bukankah seharusnya kau masih melakukan kunjungan ke kerajaan lain?” tanya Orion. Demi menghormati sang putra mahkota, ia terpaksa menahan amarahnya kepada Arina untuk sementara.

“Oh, ayolah, Orion. Jangan terlalu kaku. Tugas itu membosankan. Jadi, aku bergegas pulang agar kita bisa pergi berburu,” ujar Hadar dengan nada riang, seolah tidak memiliki beban apa pun.

Namun, di balik kepribadiannya yang ceria, Hadar adalah lawan duel yang sepadan bagi Orion. Sejak kecil, mereka sama-sama ditempa di akademi militer kerajaan. Di medan perang, putra mahkota berwajah lembut itu mampu menebas kepala musuh tanpa sedikit pun ragu.

“Berburu?” Orion mendengus.

Mereka berjalan berdampingan menuju sayap barat manor, tempat Orion biasa menerima tamu-tamu penting. Arina mengikuti beberapa langkah di belakang mereka.

“Salah satu desa dibakar tadi malam,” lanjut Orion. “Aku harus menuntaskan kasus ini terlebih dahulu.”

“Siapa pelakunya?”

“Aku belum tahu. Masih dalam penyelidikan, tetapi mereka tetap bungkam.”

Arina mengamati sekeliling dengan tenang, seolah tidak memedulikan percakapan mereka. Padahal, telinganya menangkap setiap kata. Ia tidak ingin melewatkan informasi sekecil apa pun.

“Kau tidak menggunakan cara yang biasa?” tanya Hadar.

“Sudah. Tetap saja mereka tidak mau bicara.”

Tak lama kemudian, mereka tiba di sayap barat. Para penjaga segera membukakan pintu, sementara para pelayan bergegas menyiapkan jamuan untuk sang putra mahkota.

“Arina, kembalilah ke kamarmu. Aku perlu berdiskusi dengan Yang Mulia,” ujar Orion yang jelas tidak menginginkan Arina berada di sana.

“Hei, jangan panggil aku Yang Mulia!” Hadar protes. Ia tidak suka saat Orion memanggilnya dengan sebutan itu, selain pada situasi formal. Baginya, saat Orion memanggilnya seperti itu, ia merasa seperti baru saja kehilangan sahabatnya.

Orion tampak tidak peduli. Hadar terlalu santai untuk seseorang yang akan menjadi pewaris tahta.

Arina mengangguk patuh.

“Baik. Saya permisi, Yang Mulia.”

“Silakan, Lady Arina,” balas Hadar sambil mengangguk ramah.

Namun, Arina tidak kembali ke kamarnya. Ia justru berjalan menuju kebun tanaman obat yang berada di sudut manor. Hanya ada seorang penjaga kebun tua di sana, sehingga tidak sulit baginya untuk mengalihkan perhatian pria itu.

“Bunga Lunaria...”

Arina menyentuh lembut bunga berkelopak tujuh berwarna putih kebiruan dengan benang sari keperakan yang berkilau diterpa cahaya.

Beberapa kuntum telah gugur ke tanah. Arina berjongkok dan memungutnya dengan hati-hati.

Dari buku pengobatan yang pernah dipelajarinya, serbuk benang sari Bunga Lunaria dapat membuat seseorang tertidur selama beberapa menit.

Pelayan akan mengantarkan minuman malam sekitar dua puluh menit sebelum tengah malam. Aku akan memanfaatkan kesempatan itu, batin Arin.

Dengan gerakan tenang, ia menyimpan bunga-bunga tersebut ke balik pakaiannya.

Setelah itu, Arina memetik beberapa kuntum Bunga Asteria. Sebelumnya, penjaga kebun tua telah mengatakan bahwa bunga itu boleh dipetik secukupnya. Arina mengambil beberapa tangkai, cukup untuk dirangkai menjadi sebuah buket kecil.

“Cantik sekali,” gumamnya pelan sambil menghirup aroma bunga yang lembut dan menyegarkan.

Setelah selesai dengan keperluannya, Arina segera meninggalkan kebun tanaman obat dan kembali ke kamarnya.

Tidak banyak yang bisa Arina lakukan di kamarnya. Seperti biasa, ia hanya duduk di dekat jendela sambil menatap ke kejauhan. Hingga tidak terasa sore berganti jadi malam.

“Asosiasi Telaga Hitam...” gumamnya pelan. Jemarinya mengetuk-ngetuk permukaan kaca jendela dengan ritme pelan. “Mereka pasti mengetahui sesuatu. Seharusnya begitu.”

Tok... tok... tok...

Di tengah lamunannya, terdengar tiga ketukan di pintu. Tak lama kemudian, suara seorang pelayan menyusul dari balik pintu.

“Makan malam sudah siap, Nona. Tuan meminta Anda segera bergabung di ruang makan.”

“Aku akan segera ke sana,” jawab Arina.

Ia bangkit, lalu berganti pakaian dengan gaun panjang berwarna hitam. Setelah itu, ia menyisir rambut ungunya dan membiarkannya tergerai hingga punggung.

Perpaduan gaun hitam dan rambut ungu membuat penampilannya tampak anggun sekaligus menyimpan aura misterius.

Arina membuka pintu kamarnya, lalu melangkah menyusuri lorong manor yang diterangi deretan lampu dinding. Beberapa pelayan yang berpapasan dengannya segera menepi dan memberi hormat singkat. Meski begitu, sebagian dari mereka diam-diam meliriknya dengan tatapan merendahkan.

Arin mengabaikan semua tatapan itu. Langkahnya tetap tenang hingga akhirnya ia tiba di depan ruang makan.

Seorang pelayan membukakan pintu untuknya.

“Silakan, Nona.”

Arina mengangguk pelan sebelum melangkah masuk.

Di dalam, meja makan panjang telah dipenuhi berbagai hidangan. Orion duduk di salah satu ujung meja dengan wajah yang masih tampak garang, sedangkan Hadar duduk di sisi kirinya sambil menikmati secangkir teh. Begitu Arina masuk, kedua pria itu serempak mengalihkan pandangan kepadanya.

Orion menatap Arina cukup lama, bahkan lebih lama dari yang seharusnya. Sementara itu, Hadar sama sekali tidak berusaha menyembunyikan kekagumannya.

“Kau cantik sekali malam ini, Lady,” puji Hadar dengan tulus. Nada bicaranya begitu santai, seolah mereka bukan putra mahkota dan bangsawan, melainkan teman lama yang baru bertemu kembali.

“Terima kasih, Yang Mulia,” ucap Arina sambil mengambil tempat duduk di samping Orion.

Makan malam pun dimulai.

Suasana meja makan terasa hangat berkat percakapan ringan antara Hadar dan Orion. Sesekali terdengar tawa Hadar yang memenuhi ruangan. Sementara itu, Arina lebih banyak diam. Ia menikmati makan malamnya sambil menyimak pembicaraan mereka.

Setelah selesai makan, ketiganya berpindah ke pendopo depan untuk menikmati angin malam.

“Jadi, benar kau yang pertama kali mengetahui siapa pelaku pembakaran desa itu?” tanya Hadar begitu mereka duduk.

“Hanya kebetulan, Yang Mulia,” jawab Arina singkat.

“Meski begitu, kau sudah membantu kerajaan menangkap kedua pelaku.”

“Kau terlalu memujinya,” dengus Orion. “Itu bukan sesuatu yang pantas dibanggakan.”

“Hei, kenapa kau selalu bersikap seperti itu?” Hadar menepuk lengan Orion cukup keras.

Orion mendengus pelan.

“Karena dia membosankan. Wajahnya selalu datar, nyaris tanpa ekspresi. Tidak akan ada pria yang tertarik pada wanita seperti itu.”

“Jangan bicara seperti itu.” Hadar menoleh kepada Arina dengan raut bersalah. “Maafkan dia, Lady. Mulutnya memang terlalu tajam.”

“Orion benar, Yang Mulia,” jawab Arina dengan tenang. Ucapan Orion sama sekali tidak memengaruhi perasaannya.

Ia mengangkat wajah, memandang langit malam yang dipenuhi bintang. Tanpa terasa, malam semakin larut.

“Kalau begitu, saya permisi kembali ke kamar.”

“Tentu, Lady. Selamat beristirahat,” balas Hadar sambil tersenyum ramah.

“Terima kasih.”

Sebelum pergi, Arina menoleh kepada Orion yang masih memasang wajah garang.

“Jangan tidur terlalu larut, Orion.”

Orion hanya mendengus pelan dan tidak memberikan jawaban.

Arina pun berbalik, lalu berjalan meninggalkan pendopo dengan langkah tenang.

...***...

...Like, komen dan vote ...

1
Nda
kayanya Orion mulai cemburu nggak sh🤭
Nda
novelmu selalu menarik thor😍😍
ociii
🥰🥰
ociii
cerita'y bagus...♥️♥️
Mila Sari
Thor jgn setengah 2 ceritanya,, yg bnyk updatenya
Mila Sari: ditunggu ya Thor,, semangat berkarya
total 2 replies
Mila Sari
ceritanya smkin seru,, Thor yg bnyk updetnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!