NovelToon NovelToon
Jalan Pedang Tanpa Bakat

Jalan Pedang Tanpa Bakat

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Mengubah Takdir / Action
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Di Benua Awan Merah, bakat surgawi, garis keturunan, dan dukungan klan besar adalah segalanya. Awan tidak memiliki satupun dari hal itu. Lahir dengan meridian sempit sebagai anak seorang pandai besi miskin, dunia telah menakdirkannya untuk hidup dan mati sebagai manusia fana.
​Namun, Awan menolak bertekuk lutut pada takdir. Tanpa bantuan artefak dewa purba, tanpa roh guru sakti, dan tanpa pil mujarab, ia menempuh jalan kultivasi melalui siksaan fisik yang ekstrem. Saat para jenius menyerap energi alam dengan mudah sambil duduk bermeditasi, Awan mengayunkan pedang besinya puluhan ribu kali di bawah terik matahari dan badai hujan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35: Menelan Gunung dan Runtuhnya Gerbang Utama

​Di tengah danau bawah tanah yang kini diwarnai darah hitam sang Wyrm Besi, Awan duduk bersila di atas altar batu teratai.

​Di telapak tangannya, Batu Jantung Naga Tanah berdenyut memancarkan cahaya cokelat keemasan. Beban batu seukuran kepalan tangan ini sangat tidak masuk akal, beratnya menembus ratusan kilogram. Bagi kultivator spiritual, menyerap esensi batu ini membutuhkan waktu berbulan-bulan menggunakan tungku alkimia untuk memisahkan energi Yin bumi dari racun mineralnya.

​Awan tidak punya waktu berbulan-bulan, dan ia tidak peduli pada racun. Metabolisme fananya yang disokong oleh Esensi Darah Fana Purba adalah tungku alkimia paling brutal di dunia.

​"Jika aku tidak bisa mengolahnya di luar..." Awan menatap batu itu dengan sorot mata liar. "...maka aku akan menggilasnya di dalam perutku!"

​Otot di lengan kanan Awan mengembang. Ia menggenggam Batu Jantung Naga Tanah itu erat-erat dan meremasnya dengan seluruh tenaga fisiknya.

​KRAAAK!

​Batu yang lebih keras dari berlian itu retak di bawah tekanan otot purba Awan. Saat cangkang luarnya hancur, sebuah cairan kental berwarna emas gelap yang bersinar terang tumpah ke telapak tangannya. Itu adalah Sumsum Bumi, inti murni dari batu tersebut.

​Tanpa ragu sedetik pun, Awan menenggak cairan kental itu langsung ke tenggorokannya.

​DHUUUM!

​Ledakan energi Yin yang luar biasa berat langsung menghantam lambungnya. Berbeda dengan Teratai Magma yang membakar atau Darah Siluman Angin yang membekukan, Sumsum Bumi ini membawa atribut Gravitasi dan Kepadatan.

​Seketika, Awan merasa seolah ia baru saja menelan sebuah gunung raksasa.

​"Arrrgh!" Awan jatuh telungkup, kedua tangannya mencengkeram lantai altar batu hingga hancur.

​Darah di dalam pembuluhnya yang sudah seberat air raksa, kini dipaksa menyerap kepadatan bumi. Otot-ototnya menjerit saat serat-seratnya dipaksa merapat hingga tidak ada lagi ruang kosong di tingkat sel. Yang paling mengerikan adalah perubahan pada kerangkanya. Tulang-tulangnya berderak nyaring, warnanya perlahan berubah dari putih gading menjadi abu-abu gelap dengan kilauan metalik, persis seperti bintang besi (star-iron).

​Pulau batu kecil di bawahnya mulai retak dan tenggelam ke dalam danau secara perlahan akibat bobot tubuh Awan yang terus bertambah secara eksponensial. Awan tidak bertambah besar, posturnya tetap sama, namun massa tubuhnya kini benar-benar melampaui nalar.

​Satu jam. Dua jam. Enam jam berlalu dalam siksaan yang meremukkan kewarasan.

​Awan terus mempraktikkan teknik pernapasan Seni Pedang Dasar Angin Jatuh, menjadikan organ dalamnya sebagai palu untuk menempa tulangnya sendiri. Setiap hembusan napasnya menciptakan riak gelombang kejut di permukaan danau hitam.

​Ketika cahaya keemasan di sekujur tubuhnya perlahan meredup, Awan membuka matanya.

​Ia perlahan bangkit berdiri.

​KRAK.

​Hanya dengan berdiri, ubin altar batu alam di bawah kakinya hancur berantakan menjadi debu. Awan menatap telapak tangannya. Kulitnya kini tidak lagi memancarkan warna perunggu kemerahan, melainkan warna tanah liat gelap yang tenang, menyerap segala cahaya yang jatuh ke atasnya.

​"Berat tubuhku..." gumam Awan. Ia tidak tahu pasti, tapi ia yakin berat fisiknya kini setidaknya mencapai satu ton.

​Ia mengambil pedang Bumi Pijar seberat tiga ratus kilogram dari tanah. Jika sebelumnya pedang ini terasa pas, kini pedang itu terasa seringan ranting rapuh di tangannya.

​Awan tersenyum dingin. "Tulang Besi Bintang. Tubuh Gunung. Kepadatanku sekarang cukup untuk menahan hantaman langsung dari meteorit."

​Ia melompat ringan dari sisa pulau batu tersebut menuju tepi danau.

​BHOOM!

​Dinding gua bergetar hebat saat ia mendarat, menciptakan kawah. Awan harus melatih kembali kontrol kakinya dengan hati-hati. Kekuatan tolakannya kini terlalu mengerikan. Jika ia menggunakan Langkah Besi Jatuh dengan kekuatan penuh sekarang, ia tidak hanya akan menghancurkan lantai, tetapi mungkin meruntuhkan seluruh gua ini.

​Awan berjalan keluar dari kedalaman tambang. Ia memungut cincin tata ruang milik para elit pembunuh dan kultivator iblis di alun-alun desa, membuang mayat mereka ke dalam tambang agar dimakan oleh sisa-sisa siluman, lalu berjalan menembus malam kembali ke Sekte Daun Angin.

​Sudah waktunya para tetua melihat hasil dari misi bunuh diri yang mereka berikan.

​Tiga hari kemudian.

​Aula Utama Sekte Daun Angin dipenuhi ketegangan. Matahari tepat berada di atas kepala. Di dalam aula yang megah dan dipenuhi pilar-pilar batu giok ukiran naga, para Tetua Inti sedang melangsungkan rapat darurat.

​Pemimpin Sekte, Feng Wuji, duduk di singgasana utama dengan raut wajah datar yang tak terbaca.

​Di tengah ruangan, Tetua Wu sedang berdiri menyampaikan laporannya dengan suara lantang yang dipenuhi kepura-puraan sedih dan amarah.

​"Pemimpin Sekte!" seru Tetua Wu, menangkupkan tangannya. "Laporan dari mata-mata kita di Kota Perbatasan Batu Merah telah masuk. Desa Tambang Besi Hitam telah musnah! Tidak ada satu pun penduduk desa yang selamat. Semuanya tewas dijadikan tumbal oleh kultivator iblis!"

​Bisik-bisik keterkejutan dan kemarahan menggema di antara para tetua sekte luar dan dalam yang hadir.

​Tetua Zhao segera bangkit, menunjuk ke arah Penatua Kuang yang duduk diam dengan mata terpejam. "Ini semua karena kelalaian Misi Tingkat Merah yang dipaksakan! Murid Langsung Awan, yang dikirim ke sana sebagai pemimpin, gagal total melindungi desa! Parahnya lagi, menurut laporan, Awan telah membelot! Ia bekerja sama dengan kultivator iblis, dan sekarang melarikan diri tanpa jejak!"

​"Fitnah yang luar biasa menjijikkan," suara Penatua Kuang mengalun pelan, matanya perlahan terbuka. "Cucumu lumpuh karena keangkuhannya, dan kini kau menuangkan air kotor ke atas kepala muridku tanpa bukti, Zhao?"

​"Tanpa bukti?!" Tetua Wu menggebrak meja kayunya. "Desa itu hancur! Ratusan nyawa fana melayang! Dan murid fanamu itu menghilang! Bukankah sudah jelas dia menggunakan kekuatan yang tak wajar di Arena Bintang Jatuh karena dia berlatih ilmu iblis?!"

​Tetua Wu menoleh ke arah Pemimpin Sekte. "Saya menuntut agar gelar Murid Langsung Awan dicabut secara anumerta, dan Penatua Kuang dihukum karena melindungi seorang pengkhianat faksi iblis! Kita harus mengeluarkan Surat Perintah Penangkapan Tingkat Hitam. Siapa pun yang melihat Awan di dunia luar, berhak membunuhnya di tempat!"

​Mayoritas tetua yang telah disuap atau beraliansi dengan faksi Wu dan Zhao mulai mengangguk setuju. Tekanan politik di ruangan itu sangat besar. Bahkan Pemimpin Sekte Feng Wuji tampak memejamkan mata, menimbang-nimbang keputusan yang akan ia ambil.

​Jika Awan tidak kembali, maka cerita akan ditulis oleh mereka yang menang, batin Pemimpin Sekte.

​"Pemimpin Sekte!" Tetua Wu mendesak, merasa di atas angin. "Keadilan untuk sekte kita harus ditegakkan hari ini juga! Keluarkan perintahnya!"

​Pemimpin Sekte Feng menarik napas panjang. Ia membuka matanya, bersiap untuk bersuara.

​Namun, sebelum sepatah kata pun keluar dari mulutnya...

​DHUUUUUUM!

​Seluruh bangunan Aula Utama yang disokong oleh puluhan formasi pertahanan bergetar hebat. Debu jatuh dari langit-langit. Gelas-gelas teh di atas meja para tetua pecah serentak.

​Suara itu terdengar seperti lonceng raksasa yang dihantam menggunakan meriam, berasal dari arah Gerbang Utama sekte!

​"A-Apa itu?!" Tetua Zhao memucat, nyaris terjatuh dari kursinya. "Serangan musuh?! Apakah sekte lain berani menyerang kita terang-terangan?!"

​Belum sempat kepanikan mereda, suara langkah kaki yang sangat berat terdengar mengalun menaiki tangga batu menuju Aula Utama.

​TAP... TAP... TAP...

​Setiap langkahnya seirama dengan detak jantung bumi, menekan udara di sekitar aula hingga para tetua dengan kultivasi di bawah Tingkat Delapan kesulitan bernapas. Hawa membunuh yang sangat murni, dingin, dan tanpa setitik pun fluktuasi Qi spiritual menyapu masuk melalui pintu ganda aula yang terbuka lebar.

​Cahaya matahari yang masuk dari luar terhalang oleh sesosok tubuh tegap.

​Pemuda itu mengenakan jubah biru sekte luar yang berlumuran debu dan darah hitam yang sudah mengering. Rambutnya berantakan tertiup angin gunung. Pedang besi berkarat yang luar biasa besar bersandar di bahunya dengan santai.

​Ia melangkah melintasi ambang pintu. Ubin giok putih tingkat tinggi di bawah kakinya langsung retak menjalar layaknya jaring laba-laba hanya karena ia berdiri di atasnya.

​Seluruh aula jatuh ke dalam keheningan yang mencekik tenggorokan.

​Tetua Wu dan Tetua Zhao melebarkan mata mereka, rahang mereka nyaris lepas menatap sosok yang seharusnya sudah hancur menjadi daging giling di desa perbatasan itu.

​"A-Awan..." desis Tetua Wu, tanpa sadar mundur selangkah.

​Awan tidak melihat ke arah para tetua lainnya. Pandangannya lurus mengunci Tetua Wu dan Tetua Zhao. Ia merogoh ke dalam Kantong Penyimpanan di pinggangnya, lalu melempar beberapa benda bulat berlumuran darah ke tengah aula, tepat di depan kaki Tetua Wu.

​Klotak! Klotak! Klotak!

​Itu adalah empat belas kepala manusia.

​Satu kepala pucat milik pemimpin kultivator iblis Sekte Darah Hitam.

Dan tiga belas kepala lainnya... yang masing-masing masih mengenakan topeng elit pembunuh bayaran sekte, lengkap dengan ukiran token rahasia Klan Wu dan Zhao di kerah baju mereka yang terkoyak.

​Melihat kepala-kepala itu bergulir, wajah Tetua Wu dan Tetua Zhao berubah seketika menjadi seputih kertas. Keringat dingin sebesar biji jagung mengalir dari dahi mereka.

​Awan mengangkat pandangannya menatap Pemimpin Sekte Feng Wuji.

​"Murid Langsung Awan, melapor," suara Awan tenang, namun resonansinya menggetarkan pilar-pilar aula. "Misi Tingkat Merah selesai. Seluruh warga Desa Tambang Besi Hitam selamat dan telah dievakuasi."

​Awan kemudian menendang santai salah satu kepala elit pembunuh sekte itu hingga menggelinding menyentuh sepatu bot Tetua Wu.

​"Dan saya juga menangkap beberapa tikus selokan yang mencoba menyamar menjadi pembunuh, bekerja sama dengan iblis untuk mengorbankan fana," Awan tersenyum dingin, senyum seorang predator yang akhirnya menemukan mangsa aslinya. "Luar biasa sekali... ternyata tikus-tikus ini membawa lencana rahasia keluarga Tetua Wu dan Zhao."

​Ruang Aula Utama seolah baru saja disambar petir. Bisik-bisik kaget meledak. Bukti berupa lencana dan wajah para elit bayangan itu tak bisa dibantah. Pengkhianatan bekerja sama dengan kultivator iblis adalah kejahatan paling tak terampuni di sekte ortodoks!

​"F-FITNAH!" Tetua Wu meraung histeris, menutupi kepanikannya dengan amarah meledak-ledak. Ia menunjuk Awan. "Kau membunuh murid-murid sekte kita lalu memalsukan bukti ini! Berani-beraninya kau menyebar racun di depan Pemimpin Sekte!"

​Qi dari Alam Inti Emas Awal meledak dari tubuh Tetua Wu. Lantai di sekitarnya hangus terbakar. Pedang spiritual berwarna merah menyala melesat keluar dari lengan jubahnya. Ia tidak lagi memedulikan argumen politik; jika ia tidak membunuh Awan sekarang, kehancuran klannya sudah pasti.

​"Aku akan mengeksekusimu atas nama sekte!" raung Tetua Wu. Ia melesat menerjang Awan, mengayunkan pedang apinya yang membawa kekuatan untuk meratakan gunung. Ini bukan ilusi, ini adalah kekuatan murni seorang Tetua Inti!

​Beberapa tetua menjerit, sementara Penatua Kuang menyipitkan matanya namun anehnya sama sekali tidak bergerak untuk membantu muridnya.

​Di hadapan pedang api Inti Emas yang membelah ruang menuju kepalanya, Awan tidak menghindar, tidak mundur, bahkan tidak menggunakan Seni Penyamaran Bayangan.

​Mata hitamnya memancarkan kedinginan mutlak.

​Ia memfokuskan Zirah Niat setebal satu milimeter di kulitnya, menahan panas api tersebut agar tidak membakar jubahnya. Lalu, tanpa repot-repot menggunakan pedangnya, Awan menggeser kaki kanannya ke belakang dan menarik kepalan tangan kanannya.

​"Kau bukan lagi langit bagiku," bisik Awan.

​Langkah Besi Jatuh: Palu Penghancur Bintang.

​Awan melepaskan pukulan lurus ke depan, menghantam tepat bilah pedang spiritual tingkat tinggi milik Tetua Wu dengan tangan kosongnya.

​TANGGGGGGGGG! KRAAAAK!

​Suara ledakan logam yang mengerikan merobek gendang telinga semua orang di aula.

​Di bawah tatapan horor puluhan pasang mata, pedang spiritual tingkat tinggi yang dilapisi Qi Inti Emas itu... hancur lebur menjadi ratusan kepingan besi rongsokan saat berbenturan dengan buku jari perunggu Awan!

​Tulang Awan yang kini memiliki kepadatan Tulang Besi Bintang sama sekali tidak tergores. Momentum pukulan Awan menembus pecahan pedang itu, meledakkan udara menjadi ruang hampa, dan menghantam telak tulang dada Tetua Wu.

​DUAAGH!

​"Ughhhaaak!"

​Dada ahli Inti Emas itu melesak seketika ke dalam. Darah bercampur pecahan organ dalam menyembur dari mulutnya. Tubuh Tetua Wu terpental bagaikan bola meriam yang ditembakkan mundur, menabrak tiga pilar giok raksasa berturut-turut sebelum akhirnya terhenti, tertanam di dinding aula dengan posisi hancur berantakan.

​Aula Utama sunyi senyap layaknya kuburan.

​Hanya terdengar suara napas terengah-engah dari para tetua yang ketakutan. Ahli Alam Inti Emas... petinggi Sekte Dalam... baru saja dibuat cacat permanen hanya dengan satu pukulan tangan kosong dari seorang pemuda tanpa Qi.

​Awan menarik kembali tinjunya yang mengepulkan uap panas. Ia menoleh perlahan ke arah Tetua Zhao yang kini jatuh terduduk di lantai, mengompol ketakutan.

​"Satu lalat sudah kubasmi," ucap Awan, mengangkat pedang Bumi Pijar-nya dengan satu tangan. Ujung berkaratnya mengarah lurus ke dahi Tetua Zhao. "Sekarang, giliranmu."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!