NovelToon NovelToon
Kelas Abadi

Kelas Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Mengubah Takdir
Popularitas:512
Nilai: 5
Nama Author: TEMOLLA

Reuni kelas yang seharusnya menjadi malam penuh tawa berubah menjadi titik balik kehidupan.
Di hadapan murid-muridnya, Mo Yuan mengungkapkan rahasia yang terdengar mustahil—ia berasal dari dunia kultivasi dan akan segera kembali ke sana. Tak seorang pun mempercayainya, hingga semuanya benar-benar terjadi.
Dalam sekejap, Qin Shang dan seluruh teman sekelasnya terlempar ke dunia yang dipenuhi para kultivator, iblis, dan berbagai bahaya yang belum pernah mereka bayangkan.
Di dunia tempat kekuatan menentukan segalanya, mereka harus memulai kehidupan baru dan menapaki jalan kultivasi dari titik nol. Namun, semakin jauh melangkah, semakin banyak rahasia yang tersembunyi di balik perpindahan mereka ke dunia ini.
Akankah Qin Shang mampu mengubah takdirnya, atau justru tenggelam di tengah kerasnya persaingan menuju keabadian?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TEMOLLA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

“Siapa namamu?”

“Qin Shang.”

Lin Yan bertanya, “Kondisi fisikmu cukup bagus. Apa sebelumnya kamu pernah berlatih kebugaran tubuh?”

“Pernah, tapi hanya beberapa waktu.” Qin Shang mengangguk.

“Bagus. Teruslah berlatih. Inti dari bela diri memang menempa fisik. Hanya saja, gerakanmu masih belum sepenuhnya benar. Kalau ada yang tidak kamu pahami, langsung tanyakan saja.”

“Terima kasih, Senior Lin.”

Qin Shang segera mengucapkan terima kasih, lalu kembali berlatih.

“Lumayan juga, Qin Shang! Sepertinya kamu benar-benar punya peluang menjadi ahli bela diri!”

Begitu Lin Yan pergi, Lu Chen langsung menyeringai kepadanya.

Qin Shang tampak bersemangat. Sambil menggenggam liontin yang tergantung di lehernya, ia bergumam dalam hati,

"Kakek, liontin Cacing Lapar ini adalah peninggalanmu. Rahasia apa sebenarnya yang tersembunyi di dalamnya? Atau... mungkinkah asal-usulmu sendiri tidak sesederhana yang selama ini kukira?"

Benar.

Alasan kondisi fisik Qin Shang jauh melampaui orang biasa adalah liontin Cacing Lapar yang selalu dikenakannya.

Setelah sang kakek meninggal dunia, Qin Shang menemukan sebuah liontin ambar yang sangat aneh saat membereskan barang-barang peninggalannya.

Di dalam ambar itu terdapat seekor serangga misterius.

Sejak hari itu, ia selalu mengenakan liontin tersebut.

Tak lama kemudian, ia mulai terserang rasa lapar yang luar biasa.

Kurang dari satu jam sekali, ia harus makan dalam porsi besar. Jika tidak, ia akan mengalami gejala hipoglikemia yang sangat parah.

Ia sudah berkali-kali memeriksakan diri ke rumah sakit, bahkan ke beberapa rumah sakit yang berbeda.

Namun, hasilnya selalu sama.

Tidak ditemukan kelainan apa pun.

Pada akhirnya, Qin Shang terpaksa putus sekolah dan bekerja serabutan demi mendapatkan uang untuk membeli makanan.

Barulah setelah sekian lama, ia menyadari bahwa penyebab semua itu adalah liontin ambar tersebut.

Setiap kali liontin itu dilepas, rasa laparnya akan hilang.

Sayangnya, saat itu Qin Shang sudah terikat kontrak dengan sebuah perusahaan siaran langsung dan menjadi seorang streamer mukbang profesional.

Kontrak tersebut memiliki denda pelanggaran yang sangat besar.

Karena itulah, ia tidak punya pilihan selain terus mengenakan liontin ambar itu dan menjalani hidup sebagai streamer mukbang.

Serangga di dalam liontin itu kemudian ia beri nama Cacing Lapar.

Seiring ia terus mengonsumsi makanan dalam jumlah besar, Qin Shang juga menyadari bahwa kondisi fisiknya jauh melampaui orang biasa.

Sejak saat itu, ia memilih tetap mengenakan liontin ambar tersebut dan makan sebanyak mungkin.

“Hah? Cacing Lapar di dalamnya... hilang? Gawat!”

Tiba-tiba Qin Shang menyadari bahwa Cacing Lapar di dalam liontin ambar itu telah lenyap.

Wajahnya langsung berubah.

Itulah sumber utama kekuatannya.

“Jangan-jangan... ini ada hubungannya dengan Dunia Xuanwu?”

Qin Shang diam-diam merasa kebingungan.

Ia segera memeriksa seluruh tubuhnya, tetapi tetap tidak menemukan jejak Cacing Lapar.

Sementara itu, liontin ambar tersebut masih utuh tanpa sedikit pun mengalami kerusakan.

“Sudahlah. Untuk saat ini, hadapi saja semuanya selangkah demi selangkah.”

Qin Shang menepis segala pikiran yang mengganggu, lalu kembali berlatih dengan sungguh-sungguh.

Satu jam kemudian, pada dasarnya semua orang sudah berhasil menghafal kesembilan gerakan tersebut.

Tentu saja, mereka baru sebatas meniru bentuk luarnya.

Lin Yan kemudian menyuruh semua orang naik ke atas tiang.

Tinggi tiang itu sekitar dua meter.

Meski sempat kesulitan, pada akhirnya semua orang berhasil memanjat ke atas.

Namun, melakukan gerakan di atas tiang ternyata jauh lebih sulit.

Beberapa orang kehilangan keseimbangan lalu terjatuh. Wajah mereka lebam dan memar sambil terus meringis kesakitan.

“Delapan tahun yang lalu, aku juga sama seperti kalian. Bersama dua teman sekelasku, kami memasuki Dunia Xuanwu melalui Menara Chengfeng milik Pak Mo.”

“Kami bertiga datang ke Gunung Tianyuan bersama-sama.”

Lin Yan berdiri di bawah tiang dengan kedua tangan di belakang punggung sambil berbicara.

“Namun, hanya aku yang berhasil menguasai Teknik Tiang Yuyang dalam waktu satu bulan dan memperoleh pekerjaan yang lebih baik. Dua orang lainnya gagal.”

“Kedua teman sekelasku itu terdiri dari seorang laki-laki dan seorang perempuan.”

“Teman perempuanku, demi menghindari kerja paksa dan karena tidak memiliki keterampilan apa pun, akhirnya hanya bisa bergantung pada seorang tokoh berpengaruh di Gunung Tianyuan hingga dijadikan mainan.”

“Pada akhirnya, ia tertular penyakit kelamin. Seluruh tubuhnya dipenuhi luka bernanah... lalu meninggal.”

Saat mengucapkan kata-kata itu, sorot mata Lin Yan tampak rumit.

Entah mengapa, seolah-olah dulu ia pernah menyimpan perasaan terhadap teman perempuan tersebut.

“Sedangkan temanku yang satu lagi ditempatkan di bagian logistik dan menjadi kuli angkut demi menyambung hidup.”

“Lima tahun kemudian, ia meninggal karena kelelahan.”

“Itulah nasib orang-orang yang gagal menguasai ilmu bela diri.”

Ucapan Lin Yan bagaikan jarum yang menusuk hati setiap orang.

Tak seorang pun lagi berani bermalas-malasan.

Lin Yan menyaksikan mereka yang sebelumnya terjatuh menggertakkan gigi, memanjat kembali ke atas tiang, lalu melanjutkan latihan.

Akhirnya, seorang siswi angkat bicara.

“Senior Lin, kalau begitu kenapa mereka tidak pulang? Delapan tahun lalu Pak Mo seharusnya masih bisa kembali ke Bumi, bukan? Kalau tidak, beliau tidak mungkin masih mengajar di SMA No.3 Beicheng.”

“Pulang?”

Lin Yan mendengus sinis.

“Kamu terlalu naif. Menurutmu, Pak Mo akan membiarkan mereka kembali?”

“Kenapa tidak?”

Siswi itu masih belum mengerti dan kembali bertanya.

Namun, Lin Yan tidak menjawab lagi.

Sementara itu, Lu Chen masih berusaha mempertahankan keseimbangan di atas tiang sambil bertanya kepada Qin Shang di sampingnya,

“Qin Shang, apa maksud perkataan Senior Lin tadi? Kenapa Pak Mo tidak membiarkan mereka pulang?”

Qin Shang menjawab pelan,

“Karena kalau mereka kembali, besar kemungkinan mereka akan membocorkan fakta bahwa Pak Mo bisa berpindah antara dua dunia.”

“Kalau kabar itu sampai tersebar, Pak Mo tidak akan pernah bisa hidup tenang lagi di Bumi.”

Lu Chen pun langsung memahami maksudnya.

Lalu ia berkata,

“Qin Shang, menurutmu jangan-jangan Pak Mo sebenarnya berbohong kepada kita? Mungkin sebenarnya dia masih bisa kembali ke Bumi.”

Qin Shang terdiam sejenak sebelum menjawab,

“Kalaupun dia memang berbohong, tetap saja kamu tidak bisa berbuat apa-apa. Kecuali suatu hari nanti tinjumu lebih kuat daripada tinjunya.”

Lu Chen menggertakkan gigi dan berkata penuh tekad,

“Tahun ini aku baru delapan belas tahun, sedangkan dia sudah lebih dari enam puluh. Mana mungkin dia masih hidup puluhan tahun lagi? Kecuali kalau dia benar-benar berhasil menjadi kultivator.”

Qin Shang hanya terdiam.

Semula ia mengira Lu Chen akan bertekad berlatih hingga melampaui Mo Yuan.

Siapa sangka, yang dipikirkannya justru menunggu Mo Yuan meninggal karena usia tua.

“Aduh!”

Tiba-tiba Lu Chen kehilangan keseimbangan dan terjatuh dari atas tiang.

Pantatnya menghantam tanah lebih dulu hingga ia meringis kesakitan dan lama tak mampu bangkit.

Belum sampai setengah jam berlalu, dari delapan belas siswa yang berlatih, selain Qin Shang dan seorang siswa berambut cepak, enam belas orang lainnya sudah pernah terjatuh dari tiang.

Sementara itu, siswa berambut cepak tersebut terus memperhatikan Qin Shang.

“Qin Shang, si Wen Ren itu terus melirik ke arahmu. Sepertinya dia sedang bersaing denganmu!”

1
TEMOLLA
Mohon dukungannya🙏🏻😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!