Raffi adalah anak di luar nikah dari Mahesa Pratama, Presiden Direktur Pratama Group Hotel, hasil hubungannya dengan Maya Indira. Meski lahir tanpa status yang diakui keluarga, Raffi mewarisi kecerdasan, bakat kepemimpinan, dan naluri bisnis yang membuat Mahesa diam-diam berniat menjadikannya penerus kerajaan bisnisnya.
Namun, keputusan itu memicu amarah istri sah Mahesa. Demi memastikan putra kandungnya, Julian, menjadi satu-satunya pewaris Pratama Group Hotel, ia menyusun berbagai rencana licik untuk menyingkirkan Raffi. Berbagai fitnah, pengkhianatan, hingga perebutan hak waris membuat Raffi kehilangan segalanya dan dipaksa memulai hidup dari nol.
Dengan tekad yang tak pernah padam, Raffi membangun kembali kariernya dari bawah. Ia berjuang membuktikan bahwa kesuksesan bukan ditentukan oleh status kelahiran, melainkan kerja keras, kemampuan, dan keteguhan hati. Langkah demi langkah, ia bangkit untuk merebut kembali tempat yang seharusnya menjadi miliknya dan cintanya dengan dewi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velin Agustiningtias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salah Mengenali Cinta
Mahesa memarkir mobil tepat di depan vila yang berdiri megah di tengah hamparan pepohonan pinus. Udara pegunungan yang sejuk langsung menyambut mereka begitu pintu mobil terbuka. Maya turun sambil menggenggam tas berisi pakaian secukupnya untuk tiga hari. Tatapannya menyapu bangunan bergaya klasik itu dengan rasa kagum sekaligus canggung. Ini adalah pertama kalinya ia menginap di vila milik keluarga Pratama.
Sementara Mahesa menjelaskan beberapa hal seperlunya, Maya hanya mengangguk pelan. Ia tahu dirinya datang bukan untuk berlibur, melainkan bekerja. Setelah membawa barang-barangnya ke kamar yang disiapkan untuknya, ia segera menggulung lengan baju dan mulai membersihkan setiap sudut vila. Debu tipis di meja, jendela yang sedikit kusam, hingga lantai yang harus dipel berkali-kali, semuanya ia kerjakan tanpa mengeluh.
Tak hanya bagian dalam, Maya juga merapikan halaman. Ia menyapu daun-daun kering yang berguguran, menyiram tanaman bunga yang mulai layu, dan membersihkan teras agar terlihat lebih rapi. Keringat mulai membasahi pelipisnya, tetapi wajahnya tetap tenang. Di tengah kesunyian vila, hanya terdengar suara sapu yang bergesekan dengan batu dan embusan angin yang menggoyangkan dedaunan.
Mahesa yang telah berganti pakaian formal bersiap meninggalkan vila. Sebelum pergi, ia hanya berpesan bahwa dirinya harus menemui seorang klien penting dan kemungkinan baru akan kembali larut malam. Maya mengangguk hormat, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya setelah mobil Mahesa menghilang di tikungan jalan pegunungan.
Suasana vila berubah sangat sunyi. Kesunyian itu justru membuat Maya semakin tenggelam dalam pikirannya. Ia masih sulit percaya bagaimana hidupnya berubah begitu cepat. Dari seorang karyawan hotel biasa, kini ia dipercaya membantu di kediaman keluarga Pratama. Di balik rasa syukur, ada sedikit kegelisahan yang terus mengusik hatinya. Ia berharap tiga hari di vila ini dapat dilalui dengan tenang tanpa menimbulkan kesalahpahaman, terutama ketika Nyonya Naura nanti datang menyusul.
Sore perlahan berganti senja. Cahaya matahari yang hangat memantul di balik jendela vila, menciptakan suasana damai yang jarang Maya rasakan. Setelah semua pekerjaan selesai, ia berdiri sejenak di teras, menikmati semilir angin pegunungan. Namun, entah mengapa, ada firasat aneh yang membuat dadanya terasa sesak, seolah ketenangan hari itu hanyalah awal dari sesuatu yang jauh lebih rumit.
.............
Sore itu, Naura tengah menikmati perawatan wajah di sebuah klinik kecantikan langganannya. Musik yang lembut dan aroma terapi biasanya mampu membuat pikirannya rileks. Namun, entah mengapa hari ini tubuhnya terasa berbeda. Baru beberapa menit menjalani perawatan, perutnya mendadak bergolak. Rasa mual datang begitu saja hingga ia terpaksa meminta terapis menghentikan perawatan sejenak.
Naura meneguk air putih perlahan. Keningnya berkerut, berusaha mengingat apakah ada makanan yang salah ia konsumsi. "Mungkin hanya masuk angin," gumamnya pelan, mencoba mengabaikan rasa tidak nyaman yang terus muncul. Meski mual itu perlahan mereda, suasana hatinya terlanjur memburuk.
Di sisi lain, Setyo berkali-kali menatap layar ponselnya. Ia menunggu pesan dari Naura dengan senyum penuh harap. Malam itu seharusnya menjadi awal dari dua hari yang telah mereka rencanakan bersama. Ia bahkan sudah membayangkan menghabiskan waktu tanpa perlu khawatir Mahesa mengetahui hubungan terlarang mereka.
Tak lama kemudian, ponsel Naura berdering. Sebuah pesan dari Mahesa membuat wajahnya langsung berubah masam. Mahesa mengabarkan bahwa ada beberapa berkas penting yang tertinggal di rumah dan meminta Naura membawakannya ke vila keesokan pagi. Permintaan itu membuat seluruh rencananya berantakan.
Naura mengembuskan napas panjang sambil mengepalkan ponselnya. Kekesalan memenuhi dadanya. Seharusnya ia memiliki waktu dua hari bersama Setyo, tetapi kini semuanya harus dipersingkat menjadi semalam saja. Baginya, permintaan Mahesa terasa begitu mengganggu, seolah suaminya selalu hadir di saat ia ingin menikmati kebebasan bersama pria lain.
Dengan perasaan jengkel, Naura akhirnya mengirim pesan kepada Setyo, memberi tahu perubahan rencana mereka. Setyo yang membaca pesan itu hanya bisa menghela napas kecewa. Meski demikian, ia berusaha menyembunyikan rasa kesalnya dan memilih menikmati waktu yang masih tersisa bersama Naura malam nanti.
Sementara itu, Naura kembali memegang perutnya yang sesekali masih terasa mual. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa perubahan kecil pada tubuhnya bisa menjadi pertanda sesuatu yang jauh lebih besar, sementara pikirannya masih dipenuhi kekesalan karena rencana indahnya bersama Setyo tidak berjalan seperti yang diinginkan.
................
Mahesa menghabiskan hampir seluruh harinya berpindah dari satu pertemuan ke pertemuan berikutnya. Sebagai Presiden Direktur Grup Hotel Pratama, ia tak hanya membahas proyek renovasi beberapa rumah mewah milik klien, tetapi juga diam-diam menemui calon investor yang tertarik membeli salah satu vila milik keluarganya. Semua dilakukan secara rahasia, tanpa sepengetahuan Bu Ratih.
Bagi Mahesa, keputusan itu bukan tanpa alasan. Ia memiliki mimpi besar yang belum pernah ia ceritakan kepada siapa pun. Jika vila itu berhasil terjual dengan harga yang sesuai, seluruh dana tersebut akan ia gunakan untuk membangun lapangan golf terbesar di kota, sebuah proyek ambisius yang diyakininya mampu membawa perusahaan keluarga ke tingkat yang lebih tinggi. Ia sadar sang ibu pasti akan menentang keras rencana menjual aset keluarga, sehingga untuk sementara ia memilih menyimpan semuanya sendiri.
Sejak siang hingga malam, Mahesa nyaris tidak memiliki waktu untuk beristirahat. Berkas demi berkas berpindah tangan, negosiasi berlangsung alot, dan setiap keputusan menuntut pikirannya bekerja tanpa henti. Senyum profesional terus menghiasi wajahnya di depan para klien, meski rasa lelah mulai terlihat dari sorot matanya.
Menjelang larut malam, salah seorang klien mengajaknya merayakan kesepakatan yang hampir tercapai. Gelas demi gelas minuman beralkohol terangkat dalam suasana penuh tawa. Mahesa yang biasanya mampu mengendalikan diri perlahan kehilangan batas. Beban pekerjaan, tekanan dari keluarga, dan tanggung jawab yang terus menumpuk membuatnya memilih menenggelamkan penat dalam minuman itu.
Ketika acara berakhir, langkah Mahesa sudah tidak lagi setegap biasanya. Wajahnya memerah, pandangannya sedikit kabur, sementara kepalanya terasa berat. Meski demikian, pikirannya masih dipenuhi bayangan proyek lapangan golf yang ingin segera diwujudkan. Ia percaya semua pengorbanan yang dilakukan hari ini akan membuahkan hasil besar di masa depan.
Di sisi lain, vila yang kini ditempati Maya tetap sunyi. Lampu teras masih menyala menunggu kepulangan Mahesa, sementara udara pegunungan semakin dingin. Tanpa disadari siapa pun, malam itu menjadi awal dari rangkaian peristiwa yang akan mengubah kehidupan mereka satu per satu.
Mahesa baru tiba di vila ketika malam telah larut. Mobil berhenti perlahan di depan teras, sementara sang sopir bergegas turun untuk membukakan pintu. Begitu pintu terbuka, tubuh Mahesa tampak limbung. Aroma alkohol begitu kuat hingga memenuhi udara di sekitarnya.
Maya yang sedang merapikan ruang tamu langsung menghentikan pekerjaannya. Wajahnya dipenuhi keterkejutan melihat Mahesa dalam keadaan seperti itu. Selama mengenalnya, pria tersebut selalu terlihat tenang, berwibawa, dan mampu mengendalikan diri. Pemandangan malam itu benar-benar di luar bayangannya.
"Pak Mahesa..." ucap Maya pelan sambil menghampiri.
Mahesa mengangkat wajahnya perlahan. Pandangannya tampak kosong, sulit memfokuskan mata. Dalam kesadarannya yang telah dipengaruhi alkohol, bayangan Maya seolah berubah menjadi Naura. Senyum tipis muncul di wajahnya.
"Naura... kamu datang juga..." gumamnya lirih. "Aku ingin semuanya sempurna... ulang tahunmu tahun depan... lapangan golf itu pasti akan selesai. Aku janji... apa pun akan kulakukan untuk membuatmu bahagia."
Maya terdiam. Dadanya terasa sesak mendengar kalimat-kalimat itu. Ia baru menyadari betapa besar perhatian Mahesa kepada istrinya. Bahkan dalam keadaan mabuk sekalipun, yang memenuhi pikirannya hanyalah keinginan membahagiakan Naura.
Mahesa berusaha melangkah mendekat, tetapi tubuhnya kehilangan keseimbangan. Hampir saja ia terjatuh jika Maya tidak sigap menopang lengannya.
"Hati-hati, Pak. Mari saya antar ke kamar," ujar Maya dengan suara lembut.
Dengan susah payah, Maya membantu Mahesa menaiki anak tangga menuju kamar. Setiap langkah terasa berat karena Mahesa beberapa kali kehilangan keseimbangan. Sesampainya di dalam kamar, Maya membimbingnya duduk di tepi ranjang sebelum membantunya melepas jas yang masih dikenakan agar ia bisa beristirahat lebih nyaman.
Namun, saat Maya hendak berbalik untuk mengambil segelas air, Mahesa tanpa sadar menggenggam pergelangan tangannya. Mata pria itu masih terpejam, seolah belum benar-benar menyadari siapa yang berada di hadapannya.
"Jangan pergi... Naura..." bisiknya lemah.
Mahesa tetap memejamkan mata, masih tenggelam dalam kesadaran yang kacau. "Kita... sudah lama tidak punya waktu seperti ini," ucapnya dengan suara berat. "Aku ingin kita bulan madu lagi... mungkin setelah itu... kita bisa segera punya anak. Ibu juga pasti akan bahagia."
Ucapan itu membuat hati Maya terasa sesak. Ia dapat merasakan kerinduan dan tekanan yang selama ini dipendam Mahesa terhadap rumah tangganya. Namun, ia juga sadar bahwa semua yang diucapkan pria itu bukan ditujukan kepadanya.
Dengan hati-hati, Maya berusaha melepaskan genggaman Mahesa. "Pak... saya Maya," bisiknya pelan. "Bapak sedang tidak sadar. Sebaiknya Bapak istirahat."
Mahesa tidak menjawab. Napasnya mulai teratur, sementara genggamannya perlahan mengendur. Kelelahan dan pengaruh alkohol akhirnya membuatnya terlelap, meninggalkan Maya yang masih duduk di sisi ranjang dengan jantung berdegup kencang. Malam itu terasa begitu panjang, dan Maya hanya berharap ketika pagi tiba, Mahesa tidak mengingat kekeliruan yang baru saja terjadi.
Jantung Maya berdegup semakin cepat. Ia membeku beberapa saat, bingung harus berbuat apa. Dengan hati-hati ia mencoba melepaskan genggaman itu tanpa membangunkan Mahesa. Setelah beberapa detik, jemari Mahesa akhirnya terlepas dengan sendirinya ketika pria itu benar-benar tertidur karena kelelahan dan pengaruh alkohol.
Maya mengembuskan napas panjang. Perasaan campur aduk memenuhi dadanya—terkejut, cemas, sekaligus iba melihat keadaan Mahesa. Ia menarik selimut hingga menutupi tubuh pria itu, lalu keluar dari kamar sambil menutup pintu perlahan. Malam terasa semakin sunyi, tetapi hati Maya justru dipenuhi kegelisahan, seolah kejadian malam itu menjadi pertanda bahwa hari-hari berikutnya tidak akan berjalan dengan mudah.
....
Malam mulai turun ketika suasana di kediaman Bu Ratih berubah begitu hening. Di sebuah ruangan khusus yang hanya dimasuki orang-orang tertentu, sang cenayang duduk bersila di depan sebuah altar sederhana. Beberapa lilin menyala membentuk lingkaran, sementara dupa perlahan mengeluarkan kepulan asap yang memenuhi ruangan. Aroma rempah dan kayu cendana bercampur menjadi satu, menciptakan suasana yang terasa begitu mistis.
Dengan mata terpejam, sang cenayang mulai melantunkan doa-doa dan mantra menurut kepercayaan yang dianutnya. Tangannya bergerak perlahan di atas nyala lilin, seolah sedang merasakan aliran energi yang tak kasatmata. Nyala api yang semula tenang tiba-tiba bergoyang meski tidak ada embusan angin sedikit pun.
"Perempuan itu memiliki aura keibuan yang sangat kuat," gumam sang cenayang dengan suara berat. "Takdirnya berkaitan dengan garis keturunan keluarga Pratama. Jika jalan ini terus terbuka, benih penerus keluarga akan segera hadir."
Bu Ratih yang duduk tak jauh dari sana menatap penuh harap. Selama bertahun-tahun ia mendambakan seorang cucu laki-laki yang kelak dapat meneruskan nama besar keluarga. Mendengar ucapan sang cenayang, wajahnya perlahan menunjukkan secercah keyakinan.
Sang cenayang kemudian mengangkat sebuah lilin berwarna putih dan memusatkan pandangannya pada nyala api yang perlahan membesar. Menurut ritual yang dijalankannya, cahaya lilin itu dipercaya mampu menarik dan memperkuat kecocokan batin antara dua orang yang telah ditakdirkan bertemu. Baginya, aura Maya diyakini akan semakin terpancar sehingga hubungan antara Maya dan Mahesa akan mengarah pada takdir yang disebutkannya.
Namun, semua itu masih sebatas keyakinan sang cenayang. Di luar ruangan, angin malam berembus pelan, membuat nyala lilin sesekali bergoyang. Bu Ratih menggenggam kedua tangannya erat, berharap ramalan tersebut benar-benar menjadi kenyataan, tanpa menyadari bahwa takdir sering kali berjalan dengan caranya sendiri dan tidak selalu mengikuti rencana manusia.