Arga Bayu Pratama, mantan prajurit Kopassus, terbangun di kamar kosnya yang sempit.
Tanggal di ponselnya: 10 November 2040 — dua hari sebelum kiamat.
Di kehidupan sebelumnya, ia bertahan selama enam tahun di dunia yang hancur. Ia menyaksikan hujan api menghujani kota, zombie berkeliaran di jalanan, dan manusia saling membunuh demi segenggam beras. Ia mati sendirian, tanpa apa-apa, tanpa siapa-siapa.
Tapi sekarang ia kembali. Dengan seluruh ingatan masa depan di kepalanya. Dan satu kekuatan baru yang membuatnya bisa mendengar pikiran setiap orang di sekitarnya.
"Kali ini, aku tidak akan menjadi yang paling lemah."
Sambil membeli puluhan karung beras, air mineral, dan gas elpiji sebelum dunia runtuh, Arga mulai menyusun rencana: membangun tim terkuat, menguasai kota, dan mencari tahu siapa — atau apa — yang sebenarnya menyebabkan kiamat ini.
Karena kiamat bukan kebetulan. Seseorang sedang menonton dari atas sana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Bab 025: Markas Baru
Wilayah utara Kota Harapan lebih buruk dari yang terlihat di peta.
Dua puluh ribu meter persegi.
Angka itu terdengar besar.
Di depan mata, angka itu berubah menjadi tembok retak, rumput liar, puing beton, pagar besi miring, selokan tersumbat, dan tiga bangunan besar yang dulu mungkin milik keluarga kaya.
Satu rumah utama.
Dua vila kecil di samping.
Kolam kering.
Taman mati.
Garasi kosong.
Bagus.
Arga berdiri di depan gerbang berkarat dan menilai semuanya dalam lima detik.
Tembok luar bisa diperkuat.
Bangunan rendah.
Halaman luas.
Dekat pagar luar Kota Harapan.
Jauh dari pusat politik.
Dekat jalur keluar untuk berburu Zombie.
Dan jika gempa besar datang seperti kehidupan sebelumnya, area ini akan menerima kerusakan jauh lebih kecil daripada pusat kota yang dipenuhi bangunan tinggi.
"Kita ambil rumah utama," kata Arga.
Dara menatap vila kiri.
"Aku ambil yang dekat gerbang."
Nadira langsung menjawab, "Tidak. Gerbang bukan kamar pribadi. Itu pos tempur."
"Aku bisa tidur di pos tempur."
"Justru itu masalahnya."
Kiara melihat rumah utama, lalu melihat dua vila.
"Orang inti di rumah utama?"
"Ya," kata Arga. "Rapat, komando, stok cepat, dan ruang medis sementara di sana."
Nadira sudah membuka peta kosong.
"Saya bagi wilayah. Satu: zona tinggal internal. Dua: zona latihan. Tiga: gudang dan dapur umum. Empat: area perdagangan luar. Lima: lahan tanam."
Meiling langsung menambahkan, "Area perdagangan harus dekat gerbang luar, bukan dekat rumah utama. Kalau pedagang luar masuk terlalu dalam, risiko mata-mata naik."
Meilan berkata lebih lembut, "Dapur umum jangan terlalu dekat gudang. Kalau kebakaran, stok habis."
Nadira menulis tanpa debat.
Arga menunjuk sisi utara.
"Tidak ada bangunan tinggi."
Meiling mengangkat kepala.
"Karena Zombie?"
"Karena runtuh."
Nadira menatapnya.
Jawaban itu terlalu spesifik.
Arga tidak menjelaskan.
"Bangunan baru rendah. Maksimal dua lantai. Gudang utama setengah tertanam jika memungkinkan."
"Butuh orang yang bisa mengawasi pekerjaan harian," kata Nadira. "Saya tidak bisa memegang semua."
Arga melihat ke belakang.
Di antara anggota baru, seorang gadis bertubuh kecil berdiri dengan papan kayu di tangan. Tingginya tidak sampai bahu Dara. Wajahnya polos, rambutnya diikat pendek, tetapi sejak masuk wilayah ia sudah mencatat lubang pagar, jumlah paku yang dibutuhkan, dan siapa saja yang hanya pura-pura mengangkat barang.
"Yuni," panggil Arga.
Gadis kecil itu tersentak.
"Saya, Bos?"
"Kamu yang mengawasi pekerjaan pembangunan."
Beberapa anggota menoleh.
Dara juga.
"Si Mungil itu?"
Yuni memerah, tetapi tidak membantah.
Arga berkata, "Dia melihat lebih banyak dari kalian."
Yuni menggenggam papan kayunya.
"Saya belum pernah memimpin orang sebanyak ini."
"Mulai sekarang pernah."
Nadira menyerahkan daftar pekerja.
"Laporkan langsung ke saya. Kalau ada yang malas, catat nama. Kalau ada yang mencuri bahan, panggil Dara."
Dara tersenyum.
"Akhirnya tugasku jelas."
Yuni menelan ludah.
"Baik."
Dalam dua jam, Si Mungil membuktikan kenapa Arga memilihnya.
Ia tidak berteriak.
Ia tidak mengancam.
Ia hanya berdiri dengan papan, menunjuk titik kerja, dan mengulang instruksi sampai orang yang malas merasa lebih lelah pura-pura bekerja daripada benar-benar bekerja.
"Tali ke gudang, bukan ke dapur."
"Batu bata yang retak jangan dipakai untuk pondasi."
"Kak, kalau angkat karung pakai dua orang. Kalau punggungmu cedera, kita kehilangan tenaga tiga hari."
"Yang selesai di pagar barat pindah ke selokan."
Meilan mengatur makanan untuk pekerja.
Meiling membuat sistem tanda: merah untuk bahan kritis, kuning untuk bahan perlu hitung ulang, putih untuk bahan bebas pakai.
Nadira menggambar rencana wilayah.
Arga berdiri di atap rumah utama dan melihat sebuah kelompok pengungsi berubah menjadi organisasi.
Ini awal markas.
Bukan hotel pinjaman.
Bukan tenda sementara.
Tempat ini bisa tumbuh.
Siang lewat ketika Arga meninggalkan wilayah dengan Kiara dan Dara untuk melihat bagian dalam Kota Harapan.
Nadira tetap di markas baru.
"Kalau Anda pergi terlalu lama, saya akan menganggap keputusan desain menjadi milik saya," katanya.
"Memang milikmu."
"Saya suka jawaban itu."
Di dalam Kota Harapan, kehidupan bergerak kasar.
Ada pasar barter.
Ada pos obat.
Ada regu bersenjata memakai pita merah di lengan.
Ada orang yang tertawa terlalu keras karena baru mendapat semangkuk bubur.
Ada yang menangis karena namanya tidak masuk daftar kerja.
Di tengah jalan dekat pos latihan, seorang pemuda sedang memimpin belasan orang menebas boneka kayu.
Punggungnya lebih tegap daripada beberapa hari lalu.
Tas ojek online sudah tidak ada.
Di pinggangnya tergantung Belati Hi-Tech.
Galang.
Ia menoleh seolah merasakan tatapan.
Begitu melihat Arga, seluruh wajahnya berubah.
"Bang Arga!"
Ia hampir berlari dan berlutut.
Arga mengangkat tangan.
"Jangan."
Galang berhenti tepat sebelum lututnya turun.
Beberapa bawahannya menatap bingung.
Pemimpin regu muda mereka, yang biasanya keras dan hemat bicara, sekarang berdiri seperti anak yang menemukan keluarganya.
"Bang, Ibu saya sehat. Dia bisa makan. Bisa jalan sedikit. Saya... saya tidak tahu harus bilang apa."
"Tunjukkan."
Galang langsung membawa mereka ke sebuah rumah kecil di area tim Surya.
Bu Saputra duduk di dalam, sedang memotong sayur untuk dapur regu. Wajahnya belum sepenuhnya pulih, tetapi matanya sudah hidup.
Ketika melihat Arga, ia berdiri terlalu cepat.
"Nak Arga..."
"Pelan," kata Arga.
Bu Saputra menggenggam tangannya dengan dua tangan.
"Kalau bukan karena kamu, saya sudah mati. Galang tidak akan punya siapa-siapa."
Arga jarang membiarkan orang tua memegang tangannya lama.
Kali ini ia tidak menarik.
"Galang yang membawa saya ke sana."
"Dia anak baik."
"Saya tahu."
Galang menunduk.
Di meja, makan siang sederhana sudah disiapkan. Nasi, sayur bening, sedikit ikan asin. Bu Saputra memaksa mereka duduk.
Dara mengambil mangkuk tanpa malu.
"Saya tidak bisa menolak ibu-ibu."
Kiara duduk diam, tetapi ekspresinya melunak.
Selama makan, Galang bercerita cepat.
Setelah pergi dari hotel, ia mengikuti rute Arga. Ia hampir tertangkap kelompok kecil di dekat bengkel, tetapi berhasil melewati gang sempit karena hafal jalan dari masa ojek online. Ia menemukan pos Surya sore hari itu. Dengan Belati Hi-Tech dan keberanian keluar mencari barang, ia cepat ditempatkan di regu pencari.
Lalu segalanya bergerak cepat.
Satu pertempuran di gudang air.
Satu Airdrop Box yang jatuh terlalu dekat dengan gerombolan Zombie.
Galang mengambil risiko, merebut kotak itu, dan mendapatkan Serum Evolusi serta beberapa Kristal.
Surya melihatnya.
Sekarang Galang memimpin satu regu kecil.
"Tingkat?" tanya Arga.
Galang menelan ludah.
"Tingkat 2."
Dara hampir tersedak.
"Secepat itu?"
Galang mengangguk gugup.
"Saya juga... kadang kalau sangat terdesak, tubuh saya seperti panas. Kekuatan saya naik sebentar. Tapi setelah itu lemas."
Arga menatapnya.
Amukan.
Belum penuh.
Tetapi benihnya sudah ada.
Lebih cepat dari kehidupan sebelumnya.
Lagi-lagi lebih cepat.
"Jangan pakai sembarangan," kata Arga. "Kalau tubuhmu belum siap, kamu bisa merusak organ sendiri."
Galang langsung mengangguk.
"Saya dengar, Bang."
"Surya?"
"Pak Surya memimpin ketat. Ada sekitar tiga ribu orang sekarang. Dia membuat daftar kerja, pos jaga, pembagian air. Orang yang mencuri dihukum di depan umum. Banyak yang tidak suka, tapi kalau bukan dia, tempat ini sudah jadi pasar manusia."
"Kelompok Serigala?"
Wajah Galang mengeras.
"Masalah terbesar. Mereka punya banyak orang dan tidak mau tunduk penuh. Pak Surya belum menghancurkan mereka karena butuh stabilitas. Tapi semua orang tahu suatu hari mereka akan bentrok."
Arga mengangguk.
Sama seperti kehidupan sebelumnya.
Hanya lebih awal.
Galang merendahkan suara.
"Bang, saya dengar kemarin Anda berhadapan dengan Serigala."
"Ya."
"Hati-hati. Dia sedang mencari sesuatu. Orang-orangnya bicara soal gudang lama, senjata, amunisi. Saya belum tahu di mana."
Arga menyimpan informasi itu.
"Jangan cari sendiri."
"Tapi kalau saya bisa membantu..."
"Tugasmu sekarang naik pelan, masuk struktur Surya, dan jangan biarkan orang tahu hubungan kita."
Galang tampak ingin membantah.
Arga menatapnya.
"Masa depanmu lebih besar dari yang kamu pikirkan. Jangan bakar terlalu cepat."
Galang diam.
Lalu mengangguk.
"Saya mengerti, Bang Arga."
Telepati menangkap hatinya.
Aku tidak mengerti semua.
Tapi aku percaya dia.
Kalau Bang Arga bilang diam, aku diam.
Kalau suatu hari dia panggil, aku datang.
Arga puas.
Benih itu tumbuh lebih cepat dari perkiraan.
Sore hari, Arga kembali ke wilayah utara.
Dalam beberapa jam saja, gerbang sudah diperkuat dengan besi bekas. Gudang sementara memakai garasi utama. Dapur umum mulai mengepul. Yuni berdiri di atas kursi kecil agar bisa terlihat saat memberi instruksi.
"Karung beras tidak di lantai. Pakai papan. Tikus dan air lebih rajin dari kalian."
Dara tertawa.
"Si Mungil galak juga."
Yuni menoleh panik.
"Maaf, Kak Dara."
"Jangan minta maaf. Lanjutkan."
Nadira datang membawa peta baru.
"Tiga hari untuk fasilitas dasar. Satu minggu untuk area dagang kecil. Kalau Meiling menyelesaikan sistem sewa, kita bisa mulai menarik Kristal dari pedagang luar."
Meiling, yang kebetulan lewat, berkata, "Saya sudah menyelesaikan rancangan tarif."
Meilan menambahkan, "Dan daftar pedagang yang layak masuk tanpa membuat kekacauan."
Nadira melihat Arga.
"Markas ini bisa hidup."
"Harus."
Malam turun di Kota Harapan.
Arga berdiri di atap rumah utama.
Utara adalah pagar luar, reruntuhan gelap, dan suara Zombie yang tidak pernah benar-benar hilang.
Selatan adalah lampu Kota Harapan, kecil tetapi keras kepala.
Nadira naik membawa laporan.
"Tiga hari, fasilitas dasar selesai. Satu minggu, area dagang bisa dibuka. Yuni bekerja lebih baik dari perkiraan. Meilan membuat dapur tidak kacau. Meiling sudah menutup dua potensi kebocoran stok."
"Bagus."
"Galang?"
"Lebih cepat dari perkiraanku."
"Semua lebih cepat dari perkiraanmu, bukan?"
Arga tidak menjawab.
Nadira berdiri di sampingnya.
Angin malam membawa bau tanah basah, asap dapur, dan darah lama.
"Berdasarkan... premonisi Anda," kata Nadira pelan, sengaja memilih kata yang aman, "berapa banyak waktu yang kita punya?"
Arga menatap utara.
Telepati menyapu gelap di luar pagar.
Pikiran Zombie biasanya pecah, lapar, sederhana.
Malam ini, ada sesuatu yang lebih rapat.
Lebih banyak.
Lebih berat.
Seperti kabut merah yang bergerak dalam jarak jauh.
Mereka berkumpul.
Lebih cepat.
"Tidak banyak."
Nadira tidak bertanya lagi.
Arga melihat titik-titik merah samar di antara reruntuhan jauh.
"Gelombang kedua akan datang."
Ia berhenti.
Suara di utara semakin padat.
"Dan kali ini, bukan Tingkat 1."