NovelToon NovelToon
The Last Survivors

The Last Survivors

Status: sedang berlangsung
Genre:Zombie / Hari Kiamat / Horor
Popularitas:122
Nilai: 5
Nama Author: Pineapple banana

Wabah misterius meluluhlantakkan peradaban dalam semalam, mengubah manusia menjadi makhluk haus darah yang tak kenal lelah. Di tengah kota yang sunyi dan penuh mayat hidup, sekelompok orang yang tak saling kenal terpaksa bersatu. Mereka bukan hanya harus bertahan dari serangan para mayat hidup, tapi juga menghadapi pengkhianatan, kelaparan, dan kenyataan pahit bahwa mereka mungkin adalah sisa-sisa manusia terakhir di muka bumi. Antara harapan dan keputusasaan, mereka harus memilih: bertahan hidup sendiri, atau mati bersama sebagai satu-satunya harapan umat manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pineapple banana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4. Persimpangan Nasib

Mata Natalia tak lepas dari deretan kendaraan yang terparkir sembarangan di halaman rumah sakit—beberapa berplat polisi, ada juga kendaraan militer yang catnya sudah kusam berlumuran debu dan noda gelap yang mengering. Ia melirik Mega di sebelahnya, lalu memberi isyarat tangan pelan: Ikut aku, hati-hati.

Keduanya turun perlahan, jari telunjuk sudah berada di dekat pelatuk senapan yang sempat mereka temukan di pos penjaga pom bensin tadi. Langkah mereka mengendap, tak bersuara, setiap jengkal bergerak penuh kewaspadaan. Saat melewati mobil yang kacanya retak, mereka mengintip sekilas—kosong, namun ada bekas cakaran yang dalam di permukaan kaca.

"Ada jejak orang yang baru saja lewat," bisik Mega, matanya menyapu sekeliling dengan tegang.

"Aku rasa juga begitu. Mari kita cek bagian dalam," sahut Natalia pelan namun tegas, lalu mengajak Mega melangkah menuju pintu utama yang terbuka sebagian.

Keheningan yang mencekam menyambut mereka, hingga tiba-tiba rentetan suara tembakan meledak dari dalam gedung, memecah sunyi yang menyesakkan. Keduanya seketika berhenti melangkah, saling bertatapan dengan dahi berkerut.

"Bisa jadi itu bukan mereka yang butuh pertolongan... bisa jadi orang-orang yang berniat jahat," bisik Mega kembali, tangannya mencengkeram senjata lebih erat.

Natalia mengangguk pelan, namun tatapannya tak berubah mantap. "Kita lihat dulu. Jangan bertindak gegabah."

Mereka kembali melangkah, lebih perlahan, menyusuri lorong lobi yang berantakan—kursi antrean terbalik, berkas-berkas berserakan, dan noda darah yang mengering di lantai keramik putih. Sesampainya di persimpangan lorong, Mega menahan napas saat melihat belasan sosok mayat hidup berkerumun tak jauh dari sana, sementara suara tembakan masih terdengar bersahut-sahutan dari balik kerumunan itu.

"Di sana... ada orang yang terkepung," ucap Natalia pelan, lalu ia melangkah maju tanpa ragu.

"Natalia! Ini gila, terlalu banyak jumlahnya!" cegah Mega berusaha menahan.

"Aku tahu. Tapi kita tidak bisa membiarkan mereka mati sia-sia," jawabnya singkat, lalu ia mulai membidik dengan tenang.

Satu tembakan melesat—tepat di kening makhluk yang paling depan. Tubuhnya ambruk seketika. Tembakan kedua, ketiga, keempat... setiap peluru yang dilepaskan selalu menemukan sasaran tepat di kepala. Perlahan namun pasti, kerumunan itu mulai menipis. Makhluk-makhluk itu mulai berbalik arah menatap Natalia, namun ia tak mundur sedikit pun, terus menarik pelatuk hingga makhluk terakhir tumbang tak bergerak.

Mega yang terpaku sejenak, akhirnya memberanikan diri maju berdiri sejajar dengan Natalia. Napas mereka sedikit memburu, namun kini pandangan mereka tertuju pada sekelompok orang yang masih berdiri di ujung lorong—seorang tentara, seorang polisi, dokter, dan tiga warga sipil, semuanya menatap keduanya dengan campuran rasa syok dan tak percaya.

Di antara mereka, ada pria bertubuh gempal yang terengah-engah sambil menatap Natalia dan Mega tak berkedip.

"Kalian... kalian bukan mimpi kan?" tanyanya parau.

Natalia menurunkan sedikit senapannya, namun tetap waspada. "Kalian terluka? apakah ada yang terinfeksi di sini?"

Tentara yang memimpin kelompok itu melangkah maju sedikit, matanya meneliti Natalia dan Mega dari ujung kepala hingga kaki. "Kami selamat... berkat kalian. Saya Aldo. Dan ini rekan-rekan saya."

Di tengah lorong yang penuh jejak pertempuran itu, takdir seolah mempertemukan mereka bukan secara kebetulan. Satu per satu penyintas yang terpisah kini mulai berkumpul, menyadari bahwa bertahan hidup sendirian jauh lebih mustahil dibandingkan jika mereka bersatu.

Mereka lalu memilih keluar dari gedung itu , karena takut nya akan ada zombie yg datang ke arah mereka , karena suara tembakan itu bisa saja memancing keberadaan para mayat.

Natalia dan Mega keluar di ikuti, Danu, Aldo, dokter Rizal dengan beberapa rekan dan keempat warga yg mereka tolong.

"hei apa kalian akan ikut kami..." tanya Aldo.

Natalia lalu menghentikan langkah nya dan menoleh ke arah Aldo, "aku tidak tau.." ucap nya sambil melirik Mega.

Mega yg di lirik pun memberi isyarat untuk berhati-hati.

"gimana.." tanya Aldo menatap Natalia.

Natalia menghembuskan nafas nya dan ia terpaksa menganggukkan kepala nya, namun berbeda dengan Mega. Mega justru mengeratkan cengkeraman pada senapan di tangannya, menatap tajam ke arah Aldo dan kelompoknya.

"Kita belum saling kenal, belum tahu siapa kalian sebenarnya," ucap Mega tegas, suaranya rendah namun penuh kewaspadaan. "Di dunia yang sudah gila begini, kepercayaan itu barang yang paling mahal dan berbahaya sekaligus."

Danu melangkah maju sedikit, tangannya terangkat perlahan seolah menenangkan. "Kami paham kekhawatiran kalian. Kami juga baru saja melihat orang yang kami kenal berubah menjadi makhluk yang ingin memangsa kami. Tapi percayalah, saat ini yang kita butuhkan bukanlah saling curiga, melainkan saling menjaga. Kalian sudah menyelamatkan nyawa kami... dan mungkin kami bisa menyelamatkan nyawa kalian kelak."

Natalia menghela napas panjang, menatap sekeliling yang mulai terdengar suara geraman samar dari kejauhan—tanda bahwa suara tembakan tadi benar-benar memanggil bahaya datang lebih cepat.

"Mega..." bisik Natalia pelan. "Kita tidak bisa sendirian. Lihat keadaan kita, persediaan kita sedikit, dan kita tidak tahu jalan mana yang lebih aman."

Mega terdiam, menatap Natalia, lalu menatap kembali ke arah kelompok itu. Ia tahu temannya benar, namun rasa takut dikhianati masih membayangi. Akhirnya ia mengangguk pelan. "Baiklah. Tapi ingat satu hal... sekalipun kalian berniat buruk, kami tidak akan segan-segan melawan."

Aldo tersenyum tipis, rasa lega terlihat di wajahnya. "Sepakat. Kita bertahan hidup bersama, atau jatuh bersama."

Mereka pun segera bergerak menuju kendaraan masing-masing dengan tergesa-gesa. Danu memerintahkan untuk mematikan lampu kendaraan dan berjalan pelan agar tidak menarik perhatian. Natalia mengemudikan mobilnya, diikuti mobil milik kelompok Danu, meninggalkan rumah sakit yang kini perlahan dipenuhi oleh bayangan-bayangan haus darah yang semakin mendekat.

Di dalam mobil, Mega menatap ke luar jendela yang gelap. "Kita lihat saja nanti apakah keputusan ini benar atau salah, Nat."

Natalia menggenggam setir erat, matanya menatap lurus ke jalanan yang sepi dan hancur. "Kita tidak punya pilihan lain, Mega. Semoga Tuhan melindungi kita semua."

Bersambung

1
Abyyasdemons
keren
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!