NovelToon NovelToon
KIDUNG KINANTI UNTUK PANGLIMA KABUT

KIDUNG KINANTI UNTUK PANGLIMA KABUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Misteri
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Kirana Paramitha terbangun dari Peti Kaca Rembulan menghadapi Hukum Sumpah Sejiwa: wanita berusia dua puluh tahun wajib bersuami. Saat tunangannya kabur demi adik angkatnya, Kirana menjumpai Rangga Adinata, Panglima Kabut yang dilanda Krisis Api Darah. Dengan kidung dan ramuan ia menenangkannya, lalu bersumpah sejiwa. Tersembunyi sebagai penyanyi "Kinanti", Kirana membangun rumah tangga, melahirkan tiga anak bertalenta naga, dan bersama Rangga menyatukan ras-ras Cakrawala dalam Majelis Sejagat.

note : support para pembaca sangat berarti bagi penulis untuk tetap berkarya dan upload minimal 3 bab per hari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20 - PANGLIMA RANGGA BERBOHONG PADA ISTRINYA?

Guruh mengelilingi meja kerja tuannya berulang kali, tidak bisa menahan gerutuan di dalam hatinya. Tuan Panglima, orang yang hampir tidak pernah berbohong selama hidupnya, baru saja mengucapkan beberapa kebohongan dalam satu percakapan yang sama, padahal biasanya ia adalah orang yang paling sulit diminta mengucapkan sepatah kata palsu pun, bahkan di hadapan Baginda sekalipun.

Dan yang paling parah, kebohongan itu diucapkannya dengan lancar di hadapan istrinya sendiri, yang sama sekali tidak tahu apa-apa dan bahkan menaruh kepercayaan penuh kepadanya.

Rangga yang sedang menandatangani dokumen menundukkan mata, lalu berkata pelan, "Dia takut padaku sekarang. Jika kujujuri siapa aku sebenarnya, dia tidak akan mau mengobrol denganku selama itu. Aku lebih suka mendengar suaranya berbincang riang daripada melihat wajahnya membeku karena ketakutan." Sesaat jemarinya berhenti di ujung pena, seolah kata-kata itu terasa asing bagi mulutnya sendiri.

Guruh memeriksa catatan waktu percakapan pada jalur gema itu dengan teliti, menaksir menit demi menit, lalu berseru, "Tsk, dua puluh delapan menit, sungguh lama sekali. Bahkan rapat bersama para jenderal saja tidak pernah selama itu."

"Nyonya sanggup mengobrol dua puluh delapan menit lamanya dengan orang asing, tetapi enggan membalas pesan Tuan meski hanya sepatah kata pun. Aku mulai merasa sedikit kasihan kepada Tuan." Guruh bergumam sambil menggeleng-gelengkan kepalanya penuh iba. Padahal seharusnya akulah yang paling mengerti betapa rumitnya perasaan seorang panglima, batinnya menambahkan.

"Tuan, mengapa dahulu Tuan menolong keluarga Wijaya? Itu sudah bertahun-tahun yang lalu, bahkan ketika Nyonya masih bersekolah. Dan aku yakin bukan karena Tuan menyukai hidangan mereka, karena Tuan adalah orang yang bahkan enggan menenggak ramuan dasar untuk sekadar bertahan hidup."

Rangga mengangkat dokumen di depannya dan membacanya dengan saksama, sama sekali tidak menggubris celoteh Guruh yang terus mengoceh.

Guruh menghela napas panjang lalu menyusup kembali ke dalam Gelang Lentera. Ia berharap suatu hari bisa menikmati sepiring hidangan dari rumah makan itu, meskipun tuannya tidak pernah mengizinkannya.

 

Di vila keluarga Wijaya, Kirana bergegas menghadap Ki Ageng di ruang belajarnya untuk melaporkan kabar baik yang baru saja ia peroleh sore ini.

"Kakek, dengan bantuan Tuan Senja, kita tidak perlu lagi khawatir dengan segala ulah keluarga Prasaja yang sedang menyusahkan kita. Dia berjanji akan menjaga jalur pasokan kita tetap aman."

Ki Ageng bertanya seperti apa Tuan Senja itu sebenarnya. Kirana berpikir sejenak, menata ingatannya, lalu menjawab, "Dia tidak menyalakan cermin gema, jadi aku tidak melihat wajahnya sama sekali. Tetapi dari suaranya, usianya kira-kira tiga puluhan hingga empat puluhan, dan kesannya sangat lembut serta menenangkan. Kurasa dia pegawai istana biasa yang sederhana, bukan orang penting."

"Katanya dia menyukai hidangan keluarga kita. Nanti kalau cabang di Kedaton sudah beroperasi, aku akan memasakkan hidangan terbaik untuknya sendiri, sebagai tanda terima kasih!" Mata Kirana berbinar penuh semangat membayangkannya.

Ki Ageng tersenyum baik hati sambil mengelus-elus janggutnya, "Kau sendiri bisa memasak. Jangan sampai nanti Kakek yang justru masak untukmu."

"Kakek pasti meremehkan aku. Dua tahun ini aku sudah banyak belajar. Bagaimana kalau hari ini aku masakkan dua hidangan untuk Kakek?" Kirana tersenyum manja, menggoyangkan lengan sang kakek.

Agar masuk akal bahwa ia bisa memasak, selama dua tahun sejak terbangun Kirana mencurahkan perhatiannya untuk belajar memasak sambil memulihkan tubuhnya, sekaligus untuk menyembunyikan pengetahuan Alam Kuna yang ia miliki dari mata orang lain, karena mustahil ia tiba-tiba menguasai hal yang tidak pernah ia pelajari sebelumnya. Setiap hari ia menghabiskan waktu di dapur bersama para peracik ramu, berlatih hingga tangannya hafal setiap takaran.

Ki Ageng menggeleng, "Hari ini sudah terlalu larut dan perut Kakek masih penuh. Masaklah besok saja, Kakek pasti memakannya sampai habis."

"Baik, Kakek." Kirana menyahut gembira.

Begitu keluar dari ruang belajar kakek, Kirana bermaksud menuju dapur untuk mengambil bahan-bahan, tetapi ia berpapasan dengan Ratih yang sedang memotong sayur di dapur.

Meskipun kini banyak keluarga menggunakan pelayan sihir untuk urusan rumah tangga, anggota keluarga Wijaya tetap senang memasak dan menyiapkan hidangan sendiri di dapur mereka.

Ratih memotong sayur dengan pisau dapur yang berkilau; di sampingnya berdiri Sekar dengan mata sembab dan wajah yang tampak penuh tekad, seperti sedang menahan sesuatu yang menyakitkan di dalam tubuhnya.

Dengan suara terisak, Sekar berkata, "Bu, aku benar-benar tidak sengaja mengalami kecelakaan itu. Aku juga tidak menyangka panggilan yang kulakukan dalam kepanikan itu tersambung ke kakak Danendra, sungguh aku tidak sengaja. Jangan marah kepadaku, ya?"

Ratih memotong wortel dengan suara berdebam-debam, memotongnya hingga halus-halus seolah-olah wortel itu adalah kepala seseorang, lalu mencibir, "Panikmu ternyata sangat tertata rapi. Siapa pun tidak kauhubungi, kok justru calon pengantinnya yang kauhubungi? Sekarang Danendra tidak jadi menikahi Rara, kau senang, bukan? Jawab dengan jujur."

"Bu, aku tidak... aku benar-benar tidak..." Sekar menggigit bibir, air matanya semakin deras.

"Aku bukan ibumu! Jangan berteriak!"

Kirana yang berada di dekat situ segera maju untuk memisahkan keduanya, sebelum pertengkaran itu semakin menjadi-jadi. Ia berdiri di antara ibunya dan Sekar, membentangkan tangan sebagai pembatas.

Hatinya perih melihat ibunya terluka seperti ini. Sejak insiden pernikahan itu, Ratih tampak semakin mudah tersulut amarah dan semakin sering menangis diam-diam, seolah menanggung beban yang sangat berat.

Kirana teringat malam-malam Ratih menangis di kamarnya, menahan sakit hati yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun di rumah, menangis sampai suaranya serak lalu tertidur kelelahan.

Pandangannya beralih ke Sekar, gadis yang selalu tampil sebagai korban, selalu punya alasan, dan selalu berhasil membuat orang lain terpancing marah.

Ia memilih untuk menuntun Sekar menjauh sebelum pertengkaran itu semakin panas dan menyakitkan hati ibunya.

Namun di dalam hatinya, sebuah pikiran dingin menetap: kecelakaan, lagi-lagi kecelakaan. Entah yang ke berapa kali ia mendengar kata itu keluar dari mulut Sekar, dan setiap kali selalu berakhir dengan amarah yang salah sasaran.

 

Malam harinya, di dalam kamar, Kirana berbisik kepada Kunang, "Awasi Sekar. Jika ia berniat macam-macam lagi, kabari aku secepatnya."

Kunang mengangguk patuh, "Baik, Nyonya. Aku akan menjaga dengan sepenuh hati."

Sementara itu di istana, Rangga yang masih duduk di mejanya membuka kembali catatan percakapan sore itu, membiarkan suara Kirana bergema pelan di ruangan yang sepi dan redup, seraya jemarinya menelusuri kata-kata yang barusan diucapkannya, seolah ingin menghafalnya sampai larut malam.

Guruh menggerutu lirih, "Tuan, bukankah itu perempuan yang sama yang Tuan janjikan untuk dilindungi dengan sepenuh jiwa?" Rangga tidak menjawab. Di luar jendela, rembulan purnama menggantung tenang, dan untuk sementara rahasia itu akan tetap ia simpan di antara mereka berdua.

1
falea sezi
ini kisah kayak saranjana kuno modern jd satu bner gak🤭
Kartika Candrabuwana: novel saya yang berjudul putri malam untuk panglima senja juga cukup menghibur
total 2 replies
Indriyati
novel sungguh bagus untuk pembaca wanita. penuh drama dan seru. semangat thor. kutunggu bab bab berikutnya
Kartika Candrabuwana: terima kasih atas votenya. supportnya sangat berarti bagi penulis
total 1 replies
falea sezi
lanjut
Kartika Candrabuwana: makasih. sudah siap 3 bab per hari terjadwal. supportnya sungguh berarti🙏
total 1 replies
falea sezi
rangga ini aneh g bertanggung jawab bingung aq novel gendre apaan inj😒
Kartika Candrabuwana: agar ada permainan emosi disini. makasih banyak komennya😍
total 1 replies
falea sezi
q bingung ini kisah apa di bilang dr jaman masa depan tp kayak kuno bgt baju dan dll tp ada dokter ada hape ada pesawat atau di sebut kapal terbang 🤣🤣 ini jaman apa thor jelasin klo. kerajaan mahh meski jaman dlu aja rakyat bebas makan buah sayur kali ahh🤣
Kartika Candrabuwana: iya untuk zaman saya buat unik agar bawa nuansa baru. makasih banyak komennya👍
total 1 replies
falea sezi
ini cerita fantasi kahh🤣 kok aneh bgt ada dokter tp kisahnya kayak kuno
Kartika Candrabuwana: ini cerita fantasi, sengaja biar unik. makasih komennya.
total 1 replies
falea sezi
baru nemu
Kartika Candrabuwana: semoga bisa menghibur
total 1 replies
prameswari azka salsabil
sekali membaca novel ini, saya langsung penasaran untuk membaca terus sampai akhir. luar biasa novel ini
Kartika Candrabuwana: terima kasih banyak atas votenya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!