Setiap malam, Alena selalu memimpikan seorang pria. Seorang raja tampan yang kejam kepada semua orang, tetapi mencintainya dengan gila-gilaan.
Dalam mimpi itu, Alena adalah tunangannya. Mereka tinggal di sebuah kerajaan yang tidak pernah ia kenal. Sang raja selalu memeluknya, mencium keningnya, bahkan berjanji akan menjadikannya permaisuri.
Alena selalu mengira semua itu hanya mimpi. Sampai suatu pagi, setelah sang raja menciumnya dalam mimpinya, ia menemukan bekas kemerahan di lehernya.
Bekas itu nyata. Sejak saat itu, Alena mulai bertanya-tanya... Apakah ia benar-benar sedang bermimpi?
Sampai seorang pria baru datang ke tempat kerjanya sebagai bos baru. Begitu melihat wajahnya, Alena langsung membeku. Pria itu memiliki wajah yang sama persis dengan raja dalam mimpinya.
Namun sebelum Alena sempat melarikan diri, pria itu justru menghampirinya dan memeluknya erat.
“Kau... masih hidup?”
Alena panik dan segera mendorongnya. “Maaf, Pak. Apa kita pernah bertemu?”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R251Aje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 Insiden di Pantry
Suasana langsung bergerak. Semua orang bergegas kembali ke meja masing-masing. Hanya Tina yang masih duduk kaku, bibirnya mengatup rapat, matanya penuh perlawanan yang tertahan.
Raka berjalan kembali ke arah Alena. Saat melewatinya, ia berbisik pelan, hanya untuk didengar gadis itu. “Masuk. Kita belum selesai bicara."
Alena mengangguk pelan, mengikuti Raka masuk kembali ke ruangan. Pintu tertutup sekali lagi. Di luar, keheningan masih menggantung. Tapi di meja Tina, jari-jari gadis itu mencengkeram mouse begitu kuat sampai buku-bukunya memutih. Dan di grup kantor yang sempat sepi… pesan-pesan baru mulai muncul lagi, kali ini lebih hati-hati, tapi tetap penuh spekulasi.
Waktu istirahat siang tiba. Suasana di area kerja sedikit lebih longgar, meski masih ada ketegangan sisa dari kejadian pagi tadi.
Alena berjalan menuju pantry bersama Mira untuk mengambil air minum. Ia mencoba terlihat biasa saja, meski masih merasakan beberapa tatapan yang tidak nyaman. Dari arah berlawanan, Tina muncul membawa nampan berisi semangkuk sup panas. Ia berjalan dengan wajah datar, seolah tidak melihat siapa pun.
Tepat saat berpapasan dengan Alena, Tina sengaja sedikit memiringkan nampan.
“Akh—!”
Sup kental yang masih mengepul tumpah langsung ke arah Alena. Cairan panas itu mengenai lengan dan sisi baju Alena. Untungnya tidak mengenai wajah atau bagian tubuh yang lebih sensitif. Alena langsung mundur, mengibaskan tangan karena rasa panas.
“Alena!” Mira panik, langsung meraih lengan temannya.
Tina berdiri diam, menatap kejadian itu dengan wajah tidak bersalah. Bahkan sudut bibirnya sedikit terangkat.
“Ups,” katanya datar. “Tidak sengaja.”
Mira langsung berbalik, marah besar. “Tidak sengaja? Kau jelas-jelas sengaja menumpahkannya! Minta maaf sekarang!”
Tina mendengus. “Minta maaf? Untuk apa? Dia yang tidak hati-hati. Berdiri di tengah jalan seperti tidak punya mata.”
“Kau yang menumpahkan!” Mira naik pitam. “Baju Alena basah kuyup, tangannya kena panas, dan kau masih berani bilang begitu?”
Tina melangkah mendekat, menatap Alena dari atas ke bawah dengan sinis. “Memang kenapa? Orang seperti dia sudah terbiasa kotor. Aku hanya sedikit memberinya pelajaran biar dia sadar diri.”
Alena yang selama ini diam akhirnya mengangkat wajah. Ia mengusap lengan yang terkena sup dengan tisu yang diberikan Mira, lalu menatap Tina dengan tenang.
“Tidak apa-apa, Mira,” katanya pelan. “Biarkan saja.”
Sikap tenang Alena justru membuat Tina semakin kesal hingga wajahnya memerah. “Lihat, sombong sekali. Sudah dijatuhkan masih pura-pura tenang. Dasar—”
Belum sempat Tina menyelesaikan makiannya, Alena sudah melangkah pergi, dan saat itulah Tina sengaja menggerakkan kaki, menjegal pergelangan kaki Alena yang sedang berbalik.
Alena kehilangan keseimbangan. Tubuhnya tersungkur ke depan. Mira berteriak panik, tapi tidak sempat menangkap. Tepat sebelum Alena jatuh ke lantai, sepasang lengan kuat menangkapnya. Lengan itu melingkari pinggang Alena dengan cepat, menahan tubuh gadis itu agar tidak membentur lantai. Alena terhenti di dada Raka, napasnya tersengal.
Ruangan pantry dan sekitarnya langsung hening. Raka menatap Alena sebentar, memastikan gadis itu tidak terluka, lalu mengalihkan pandangan ke Tina. Matanya gelap, sangat berbahaya.
“Kau,” katanya dengan suara rendah yang membuat semua orang menahan napas, “baru saja membuat kesalahan besar.”
Tina memucat. Nampan di tangannya gemetar. Raka masih memegang Alena, satu tangan di pinggangnya, seolah melindungi. Dia menatap Tina tanpa berkedip. “Sengaja menumpahkan makanan panas, mempermalukan rekan kerja di depan banyak orang dan sengaja membuat keributan di pantry.” Suaranya semakin dingin. “Kau pikir aku tidak melihat?”
Tina membuka mulut, ingin membela diri, tapi Raka sudah lebih dulu berbicara. “Ke ruanganku. Sekarang. Bawa HRD.”
Beberapa karyawan di sekitar langsung bergidik. Mira menatap Tina dengan wajah marah campur puas. Raka menunduk sedikit ke arah Alena, suaranya berubah lembut hanya untuknya. “Kau tidak apa-apa?”
Alena mengangguk pelan, masih sedikit syok. “Aku… baik-baik saja.”
Raka mengusap pelan punggung Alena sekali, lalu melepaskannya dengan enggan. Dia menatap Tina sekali lagi. “Aku tidak suka mengulang perintah.”
Tina akhirnya bergerak, wajahnya pucat pasi, diikuti oleh salah satu staf HRD yang sudah dipanggil. Mereka masuk ke ruang Raka.
Sementara itu, Alena berdiri di tempat, baju basah dan lengannya masih sedikit perih. Mira segera menariknya ke sisi. “Astaga, Alena… dia gila. Untung Pak Raka cepat datang.”
Alena menghela napas panjang, menatap pintu ruang Raka yang sudah tertutup. Dia tahu, Tina baru saja membuat masalah yang jauh lebih besar dari sekadar tumpahan sup. Dan Raka… sepertinya sudah tidak akan tinggal diam lagi.
Di dalam ruang Raka, suasana sangat tegang. Tina berdiri di depan meja dengan wajah pucat, di dampingi staf HRD. Raka duduk di kursinya, jari-jari saling bertaut di atas meja, matanya menatap Tina tanpa ampun.
“Jelaskan,” katanya datar. “Kenapa kau menumpahkan sup panas ke arah Alena, lalu dengan sengaja menjegalnya.”
Tina menggigit bibir. “Saya… tidak sengaja, Pak. Tadi nampannya licin, lalu—”
“Jangan bohong di depan saya.” Suara Raka memotong tajam. “Aku melihat semuanya. Dari cara kau memiringkan nampan sampai gerakan kakimu yang jelas-jelas disengaja.”
Staf HRD menunduk, mencatat dengan cepat. Tina akhirnya menunduk. Suaranya bergetar, campur marah dan takut. “Dia… dia membuat semuanya kacau. Sejak dia dekat dengan Bapak, semua orang jadi membicarakannya. Saya hanya… kesal.”
Raka menatapnya lama. Lalu menghela napas dingin. “Kesal bukan alasan untuk mencelakai rekan kerja. Apalagi dengan cara yang membahayakan. Sup panas bisa menyebabkan luka bakar. Menjegal di lantai keras bisa membuatnya cedera serius.”
Dia menoleh ke staf HRD. “Buat surat peringatan kedua. Dan mulai hari ini, Tina dipindah ke divisi administrasi di lantai bawah. Jauh dari area kerja Alena. Kalau ada ulah lagi… pemecatan langsung.”
Tina mengangkat wajah, mata memerah. “Pak, itu tidak adil—”
“Sudah keputusan final,” potong Raka. “Keluar. Sekarang.”
Tina akhirnya keluar dengan langkah gontai, diikuti staf HRD. Pintu tertutup. Raka menyandarkan punggung ke kursi, menutup mata sejenak. Rahangnya masih mengeras. Ia mengambil ponsel, mengetik singkat ke Dito:
Pastikan Tina tidak mendekati Alena lagi. Dan cek CCTV pantry. Simpan rekamannya. Sementara itu, di luar, Mira sudah menarik Alena menjauh dari kerumunan. “Ayo ke ruang kesehatan,” kata Mira tegas, memegang lengan Alena yang masih basah oleh sisa sup. “Tangannya kemerahan. Jangan ditunda.”
Alena mengangguk pelan. Ia masih sedikit gemetar, baik karena rasa perih maupun karena kejutan tadi. Mereka berjalan menuju ruang kesehatan di ujung koridor. Beberapa karyawan masih melirik, tapi tidak ada yang berani berkomentar keras setelah melihat Raka marah tadi.
Sesampainya di ruang kesehatan, petugas segera memeriksa lengan Alena. Kulitnya memerah di beberapa bagian karena terkena sup panas, tapi untungnya tidak sampai melepuh. Ada juga sedikit lecet di lutut karena hampir terjatuh.
“Hanya luka ringan,” kata petugas sambil membersihkan area yang terkena. “Saya oleskan obat penurun panas dan anti-inflamasi. Hindari terkena air terlalu lama hari ini.”