NovelToon NovelToon
Dihina di Depan Umum, Bangkit Jadi Pengacara Terkuat

Dihina di Depan Umum, Bangkit Jadi Pengacara Terkuat

Status: sedang berlangsung
Genre:Perubahan Hidup
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Galaxy

Alexander Wijaya hanyalah pengacara magang berpenghasilan pas-pasan, menanggung uang kos dan biaya kuliah adiknya sendirian — sampai malam ia dipermalukan habis-habisan oleh mantan kekasihnya, Priscilla Salim, di depan umum. Amarah dan keterhinaan itu justru membangunkan Sistem Pengacara Terkuat: panel status rahasia, kemampuan membaca pikiran, dan analisis bukti secepat kilat yang hanya bisa dilihat olehnya sendiri.

Sejak saat itu, setiap lawan yang meremehkannya berakhir mati sosial di ruang sidang. Namun di balik kebangkitannya, tersimpan luka lama: kematian ayahnya 27 tahun silam yang penuh kejanggalan, dan sebilah golok berdarah warisan keluarga yang menyimpan rahasia kelam.

Ketika seorang profesor dijatuhi vonis mati atas tuduhan yang tidak pernah ia lakukan, dan waktu eksekusi tinggal menghitung hari, Alexander harus membuktikan satu hal yang bisa mengubah segalanya — bahwa keadilan yang tak terlihat, lebih berharga untuk diperjuangkan daripada nyawanya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galaxy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7

Bab 7: Nama yang Mulai Dibisikkan

Besok paginya, Alexander Wijaya tidak duduk di kursi belakang ruang sidang.

Gunawan Kusuma meletakkan map Kafe Lavanta di depannya tepat sebelum majelis masuk. "Kau yang bicara."

Alexander menatap map itu. "Saya?"

"Aku tidak membawa orang magang untuk menjadi hiasan."

Di meja lawan, seorang pengacara berambut klimis tersenyum kecil. Ia sudah mendengar bisik-bisik soal anak baru dari Kantor Hukum Adiwangsa. Mantan terlapor, tersebar dalam gosip kantor hukum, masuk karena belas kasihan Gunawan. Begitulah cerita yang beredar dari mulut ke mulut. Tidak perlu media apa pun untuk membuat rumor punya kaki.

Hakim tunggal memasuki ruang sidang Pengadilan Negeri Kota Cahaya.

"Sidang gugatan sederhana perkara Kafe Lavanta melawan Raka Interior dibuka."

Alexander berdiri bersama Gunawan. Jasnya masih jas lama, tetapi kartu identitas KH Adiwangsa di dadanya membuat beberapa pengacara di bangku belakang menoleh.

Hakim memeriksa kehadiran. "Pihak penggugat?"

Alexander menjawab, "Hadir, Yang Mulia. Alexander Wijaya, S.H., Advokat Magang pada Kantor Hukum Adiwangsa, mendampingi kuasa penggugat."

Pengacara lawan tertawa pelan. "Yang Mulia, kami keberatan jika perkara ini dijalankan oleh advokat magang yang baru kemarin belajar membuat somasi."

Beberapa orang di belakang tersenyum.

Gunawan tidak bergerak.

Hakim menatap Alexander. "Saudara memahami batas peran Saudara?"

"Memahami, Yang Mulia. Saya menyampaikan uraian di bawah tanggung jawab dan pendampingan kuasa utama, Pak Gunawan Kusuma. Dokumen kuasa dan surat tugas sudah kami lampirkan."

Alexander membuka halaman pertama, menggeser satu lembar ke depan.

Tidak terburu-buru. Tidak membela diri berlebihan.

Hakim membaca sekilas, lalu mengangguk. "Keberatan dicatat. Sidang dilanjutkan."

Senyum pengacara lawan menipis.

Panel Status berkedip di sudut pandangan Alexander.

Debat Persidangan aktif.

Teori Hukum aktif.

Argumentasi Hukum aktif.

Hakim memberi kesempatan penggugat menjelaskan pokok perkara.

Alexander berdiri. "Yang Mulia, perkara ini sederhana. Penggugat menyelesaikan pekerjaan desain interior sesuai kontrak tanggal 4 Mei. Tergugat membayar uang muka tiga puluh persen, menerima hasil revisi final, membuka kafe dengan desain tersebut, tetapi menolak membayar sisa tagihan dengan alasan hasil tidak pernah disetujui. Bukti kami ada tiga kelompok: kontrak, bukti penerimaan hasil, dan bukti penggunaan hasil."

Ia tidak membaca panjang. Ia meletakkan tiga bundel kecil di meja.

"P-1 kontrak dan invoice. P-2 rangkaian pesan persetujuan revisi final. P-3 foto pembukaan Kafe Lavanta yang menggunakan desain sesuai file final."

Hakim mengambil bundel itu.

Pengacara lawan berdiri. "Yang Mulia, foto pembukaan bukan bukti utang. Klien kami hanya memakai konsep umum, bukan desain penggugat. Lagipula pesan yang disebut persetujuan itu hanya percakapan kasual."

Alexander menunggu sampai kalimat lawan selesai.

"Yang Mulia, izinkan saya menunjuk halaman empat P-2."

Hakim membuka halaman itu.

"Di sana, tergugat menulis, 'Final ini sudah oke, tinggal eksekusi.' Kalimat itu dikirim setelah penggugat mengirim file desain bernama Lavanta_Final_Rev3. Dua hari kemudian, tergugat meminta vendor memulai pekerjaan dengan file yang sama. Nama file dan timestamp-nya cocok dengan lampiran P-3."

Pengacara lawan mengibaskan tangan. "Timestamp bisa dibuat."

"Bisa," jawab Alexander. "Karena itu kami tidak berdiri hanya di timestamp. Di foto pembukaan, terlihat mural dinding dengan pola tiga garis patah. Pola itu tidak ada di konsep umum kafe mana pun. Pola itu muncul pertama kali di sketsa penggugat halaman dua belas. Tergugat tidak mungkin memakai pola itu tanpa menerima hasil kerja."

Ruang sidang menjadi sunyi.

Hakim membandingkan dua gambar. Alisnya bergerak sedikit.

Gunawan duduk diam, tetapi ujung pulpennya berhenti mengetuk.

Pengacara lawan mencoba masuk lagi. "Klien kami keberatan membayar karena pekerjaan terlambat."

"Terlambat dua hari," kata Alexander, langsung membuka halaman lain. "Dan keterlambatan itu terjadi karena tergugat meminta revisi tambahan di luar scope awal. Di pesan halaman tujuh, tergugat menulis, 'Tidak masalah mundur asal lampu bar dibuat lebih mewah.' Jadi keterlambatan itu disetujui."

Hakim menatap pengacara lawan. "Ada bukti penolakan tertulis sebelum pekerjaan dipakai?"

Pengacara lawan membuka mapnya. Tangannya bergerak cepat. Terlalu cepat.

Tidak ada.

Yang ada hanya satu email keberatan yang dikirim tiga minggu setelah kafe buka.

Alexander melihatnya dari jarak meja. "Yang Mulia, keberatan pertama tergugat baru dikirim setelah invoice pelunasan jatuh tempo. Sebelum itu, semua pesan menunjukkan penerimaan hasil."

Pengacara lawan menoleh tajam. "Saudara jangan menyimpulkan dari dokumen yang belum dibacakan lengkap."

"Saya tidak menyimpulkan dari udara. Saya menyimpulkan dari dokumen yang Saudara sendiri bawa."

Beberapa pengacara di bangku belakang menahan suara.

Hakim mengetuk meja. "Cukup. Pengadilan sudah membaca bukti para pihak."

Sidang berjalan lebih cepat setelah itu. Gugatan sederhana memang dirancang untuk perkara dengan nilai terbatas dan pembuktian ringkas. Lawan datang mengira cukup menekan anak baru. Mereka tidak siap ketika anak baru itu memotong setiap kabut menjadi urutan bukti yang bisa dibaca hakim.

Setelah musyawarah singkat, hakim kembali ke kursinya.

"Mengadili. Mengabulkan gugatan penggugat untuk sebagian. Menyatakan tergugat wanprestasi. Menghukum tergugat membayar sisa tagihan jasa desain sebagaimana tercantum dalam invoice, dikurangi biaya revisi tambahan yang tidak terbukti disepakati secara tertulis."

Klien Kafe Lavanta yang duduk di belakang menutup mulutnya. Matanya basah, tetapi ia tidak bersuara.

Pengacara lawan berdiri kaku.

Alexander menundukkan kepala. "Terima kasih, Yang Mulia."

Panitera mencatat amar putusan, lalu meminta para pihak menunggu salinan resmi sesuai prosedur.

Panel Status muncul.

Ting! Tugas profesional selesai.

Debat Persidangan menunjukkan progres awal.

Reputasi profesional lokal meningkat.

Alexander tidak tersenyum lebar. Ia hanya merapikan berkas.

Di luar ruang sidang, klien Kafe Lavanta membungkuk berkali-kali kepada Gunawan, lalu kepada Alexander.

"Pak Alexander, terima kasih. Saya pikir uang itu hilang."

"Putusannya belum berarti uang langsung cair," kata Alexander. "Tapi sekarang Bapak punya dasar eksekusi yang jelas. Tim kami akan bantu langkah berikutnya."

Gunawan meliriknya. Tidak memuji. Tidak perlu.

Di sisi lorong, dua pengacara senior yang sejak tadi menonton berjalan pelan.

"Itu anak baru Gunawan?"

"Yang kasus Anthony Wongso itu?"

"Namanya Alexander Wijaya, kan?"

Bisik-bisik itu tidak keras. Justru karena tidak keras, ia terasa lebih tahan lama.

Pengacara lawan melewati Alexander dengan wajah kaku. "Hari ini kau beruntung."

Alexander menatapnya. "Kalau bukti tersusun rapi, keberuntungan tidak perlu bekerja terlalu keras."

Gunawan akhirnya tertawa pendek.

"Jangan terlalu puas," katanya ketika mereka keluar dari gedung pengadilan. "Satu sidang kecil tidak membuatmu besar."

"Saya tahu, Pak."

"Tapi cukup untuk membuat orang mulai mengingat namamu."

Alexander menoleh ke halaman PN Kota Cahaya. Matahari pagi memantul di kaca gedung pengadilan. Di saku bagian dalam, Lencana Advokat Herman Wijaya terasa tenang.

Hari itu, nama Alexander Wijaya mulai lepas dari bayang-bayang skandal.

Nama itu mulai dibisikkan karena kemenangan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!