NovelToon NovelToon
Penulis Terakhir Langit Yang Retak

Penulis Terakhir Langit Yang Retak

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi Timur
Popularitas:196
Nilai: 5
Nama Author: Tubagus Abidin

Di Kekaisaran Xuan-Mo, realitas adalah tinta, dan kekuasaan adalah keindahan goresan. Mereka yang bisa menulis hukum alam dengan kuas emas diperlakukan sebagai dewa, sementara mereka yang gagal hanyalah noda yang harus dihapus.
Ren Zexian lahir dengan kutukan "Mata Void"—ia tidak bisa melihat keindahan ilusi dunia, hanya kerangka rapuh di baliknya. Dianggap sampah oleh klan kaligrafer elit, ia bekerja sebagai penghapus buku terlarang, hidup dalam diam hingga suatu hari ia menemukan sebuah halaman kosong yang berdarah.
Saat "The Fade" mulai menelan desa asalnya, mengubah manusia menjadi hampa tanpa ingatan, Ren menyadari bahwa kekacauan ini bukanlah bencana alam, melainkan suntingan yang disengaja oleh Dewan Langit. Dengan kuas patah dan teknik terlarang yang memungkinkan ia "menghapus" keberadaan musuh, Ren memulai perjalanan berbahaya mendaki 9 Provinsi Mengambang.
Ia bukan pahlawan yang akan melukis dunia baru. Ia adalah editor yang akan memotong bagian-bagian busuk dari cerita ini,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tubagus Abidin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Fajar yang Retak

Tiga hari.

Bagi dunia luar, tiga hari hanyalah putaran bumi yang biasa, pergeseran bayangan dari timur ke barat. Namun bagi Ren Zexian, tiga hari itu adalah abad yang dijalani dalam satu ruangan pengap yang berbau obat pahit dan keringat dingin. Ia tidak tidur. Ia tidak makan. Ia hanya duduk di tepi bak batu, tangannya terkunci erat dengan tangan Lin, menjadi jangkar tunggal gadis kecil itu di tengah lautan rasa sakit yang tak terbayangkan.

Proses Elixir Kebalikan bukanlah penyembuhan yang lembut. Itu adalah perang saudara di dalam tubuh Lin. Cairan perak itu bertarung melawan Tinta Inti hitam, merobek dan membangun kembali meridian Lin secara bersamaan. Setiap jam, suhu tubuh Lin berfluktuasi drastis—membeku seperti es kutub, lalu membakar seperti bara api. Kulitnya retak, mengeluarkan darah hitam pekat yang menguap menjadi asap beracun, lalu menyembuh kembali dengan bekas luka berwarna perak yang berkilau samar.

Dokter Mo bekerja tanpa henti, jarum-jarum peraknya menari di udara, menusuk titik-titik vital untuk mengalihkan aliran energi yang kacau. Wajah pria tua itu penuh konsentrasi, keringat mengalir di pelipisnya, tapi matanya tidak pernah meninggalkan tubuh Lin.

"Stabilkan napasmu, Ren," tegur Mo pada malam kedua, saat Ren hampir pingsan karena kelelahan mental. "Jika kau runtuh, dia akan kehilangan penunjuk arahnya. Jiwa anak ini tersesat di antara dua kutub energi. Kau adalah kompasnya."

Ren mengangguk lemah, memaksakan matanya tetap terbuka. Ia menggunakan teknik pernapasan dasar yang diajarkan Master Wei, menarik Qi tipis dari udara lembap ruangan untuk menjaga kesadarannya. Tapi fokus utamanya bukan pada dirinya sendiri. Ia memproyeksikan ketenangannya melalui genggaman tangan mereka. Ia membayangkan sebuah jembatan putih yang kokoh, menghubungkan kesadaran Lin yang hancur lebur kembali ke realitas.

"Kakak di sini," bisik Ren berulang-ulang, suaranya serak hingga nyaris hilang. "Kakak tidak akan pergi."

Dan perlahan, sangat perlahan, badai di dalam tubuh Lin mulai reda.

Pada pagi hari keempat, sinar matahari pertama menerobos masuk melalui celah atap pondok, menyinari debu-debu yang melayang di udara. Hening. Tidak ada lagi desisan uap dari bak. Tidak ada lagi erangan kesakitan.

Lin terbaring diam di dalam bak yang kini berisi cairan bening. Garis-garis hitam di tubuhnya telah menghilang sepenuhnya. Sebagai gantinya, terdapat pola rumit berwarna perak pucat yang membentuk jaringan halus di seluruh kulitnya, seperti urat nadi cahaya. Pola itu berdenyut pelan, selaras dengan detak jantungnya.

Ren melepaskan genggamannya dengan hati-hati, jari-jarinya kaku dan mati rasa. Ia menyentuh pipi Lin. Dingin, tapi hidup. Napasnya teratur, dalam, dan damai.

Dokter Mo meletakkan baskom berisi air hangat di samping bak. Ia tampak jauh lebih tua dari tiga hari sebelumnya, kerutan di wajahnya bertambah dalam, tapi ada kepuasan aneh di matanya.

"Ia selamat," kata Mo singkat. "Lebih dari itu. Ia berevolusi."

Ren menelan ludah, tenggorokannya kering. "Apa artinya?"

"Artinya, Tinta Inti itu tidak lagi parasit," jelas Mo sambil membersihkan jarum-jarumnya. "Itu telah menjadi bagian dari sistem energinya. Meridiannya yang terbalik sekarang berfungsi sebagai sirkuit tertutup yang sempurna. Dia tidak lagi rentan terhadap The Fade. Sebaliknya... dia bisa menyerap energi kepudaran dan mengubahnya menjadi kekuatan."

Mo menatap Ren dengan tatapan serius. "Dia sekarang adalah anomali, Ren. Sebuah paradoks hidup. Jika Klan Naga tahu tentang ini, mereka tidak akan mencoba membunuhnya lagi. Mereka akan ingin menculiknya kembali, kali ini untuk menjadikannya senjata perang. Senjata yang bisa memakan realitas musuh."

Jantung Ren berdegup kencang. Mereka berhasil menyelamatkan nyawa Lin, tapi mereka baru saja menciptakan target yang jauh lebih besar.

"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Ren.

"Pergi," jawab Mo tegas. "Segera. Aku sudah mendengar kabar dari burung posku. Pasukan pencari Klan Naga telah memasuki batas Lembah Pengasingan. Mereka dipimpin oleh Elder Penjaga yang kau lukai di perpustakaan. Mereka membawa anjing pelacak tingkat tinggi. Waktu kalian habis."

Ren segera membangunkan Lin. Gadis kecil itu membuka matanya perlahan. Iris matanya yang dulu cokelat kini memiliki cincin perak tipis di sekeliling pupilnya, memberikan kesan misterius dan sedikit menakutkan. Tapi senyumnya masih sama. Lembut. Manusiawi.

"Kakak?" panggil Lin, suaranya jernih, tanpa serak. "Aku... aku merasa ringan. Seperti aku bisa terbang."

Ren tersenyum, air mata kebahagiaan akhirnya menetes. "Syukurlah, Lin. Syukurlah."

Ia membantu Lin keluar dari bak, membungkusnya dengan selimut tebal yang disediakan Mo. Sementara itu, Ren mengenakan kembali jubah lusuhnya, memeriksa kuas patahnya, dan memastikan buku catatan curian itu aman di dalam bajunya.

"Dokter Mo," kata Ren, berlutut hormat di hadapan pria tua itu. "Terima kasih. Saya tidak punya apa-apa untuk membalas budi Anda selain janji. Suatu hari, jika dunia ini telah diperbaiki, saya akan kembali. Dan saya akan membawa bahan-bahan yang Anda minta."

Mo tertawa pendek, melambaikan tangannya dengan acuh tak acuh. "Simpan janjimu. Hiduplah dulu. Mati nanti saja kalau perlu. Sekarang, keluar lewat pintu belakang. Ada jalur rahasia menuju Tebing Angin. Dari sana, kau bisa turun ke Sungai Bawah Tanah yang mengarah ke Provinsi Tetangga. Jangan kembali ke Kota Tengah."

Ren mengangguk. Ia menggandeng tangan Lin, dan bersama-sama mereka berlari keluar dari pondok, menembus kebun tanaman aneh, dan masuk ke dalam hutan lebat di belakang rumah Dokter Mo.

Hutan di belakang pondok berbeda dari Hutan Bayangan. Pohon-pohonnya hijau subur, akarnya kuat mencengkeram tanah. Tapi suasana genting tetap terasa. Di kejauhan, terdengar suara lolongan anjing dan teriakan para penjaga yang semakin dekat.

"Mereka sudah di sini," gumam Ren, mempercepat langkahnya.

Mereka berlari menyusuri jalur setapak sempit yang licin karena lumut. Cabang-cabang pohon mencambuk wajah mereka, duri-duri merobek pakaian, tapi mereka tidak berhenti. Insting bertahan hidup Ren tajam, menuntun mereka menghindari area terbuka.

Setelah setengah jam berlari napas-napasan, mereka mencapai tepi tebing curam. Di bawahnya, terdengar gemuruh air sungai bawah tanah yang deras. Jembatan tali tua yang rapuh melintasi jurang, bergoyang diterpa angin kencang.

"Ini jalannya," kata Ren, menunjuk jembatan itu.

Tiba-tiba, sebuah panah qi melesat dari balik pepohonan, menancap di pohon tepat di sebelah kepala Ren. Serpihan kayu beterbangan.

"Berhenti!" teriak suara yang familiar. Long Wei.

Dari balik semak-semak, muncul sekelompok penjaga Klan Naga, dipimpin oleh Long Wei yang wajahnya penuh bekas luka baru dan kemarahan murni. Di belakangnya, berdiri seorang pria berjubah merah darah—Elder Penjaga yang pernah dihadapi Ren di perpustakaan. Wajahnya dingin, matanya menatap Lin dengan nafsu kepemilikan yang mengerikan.

"Serahkan gadis itu, Zexian," kata Elder itu, suaranya bergema dengan tekanan Qi yang berat. "Kau tidak bisa lari dariku. Kau tidak bisa melindungi anomali itu selamanya."

Ren mendorong Lin ke belakangnya, melindungi tubuh kecil itu dengan tubuhnya sendiri. Ia menarik kuas patahnya. Tangannya gemetar, bukan karena takut, tapi karena adrenalin. Ia lelah. Luka-lukanya belum sembuh. Energinya hampir habis. Tapi ia tidak akan menyerahkan Lin.

"Dia bukan anomali," kata Ren, suaranya rendah namun tajam seperti pisau. "Dia adalah adikku. Dan dia bukan milik kalian."

Elder itu tersenyum sinis. "Kalimat yang manis. Tapi sia-sia."

Ia mengangkat tangannya, menyiapkan serangan mematikan. Para penjaga di sekitarnya juga bersiap, tombak-tombak qi mereka bersinar terang.

Ren menutup matanya sejenak. Ia merasakan kehadiran Lin di belakangnya. Ia merasakan denyut perak di tubuh gadis itu. Dan tiba-tiba, ia menyadari sesuatu. Koneksi mereka. Karena Lin sekarang memiliki energi yang stabil, Ren bisa meminjam sedikit dari kekuatannya. Bukan banyak. Hanya cukup untuk satu goresan.

Ren membuka matanya. Mata Void-nya aktif, tapi kali ini, ia tidak melihat struktur dunia. Ia melihat struktur dirinya sendiri yang terhubung dengan Lin.

"Elder," kata Ren, tersenyum tipis. "Kau tahu kelemahan terbesar dari kaligrafi yang terlalu sempurna?"

Elder itu mengerutkan kening. "Apa?"

"Itu kaku," jawab Ren.

Ren mengayunkan kuasnya. Tapi ia tidak menulis karakter serangan. Ia menulis karakter "Retak" (Lie) di udara, dan mengarahkannya bukan ke Elder, tapi ke ruang di antara mereka.

Bersamaan dengan itu, Lin, yang memahami insting kakaknya, melepaskan gelombang kecil energi perak dari telapak tangannya. Energi itu bertemu dengan goresan Ren.

KRAKK!

Udara di depan mereka pecah seperti kaca. Gelombang kejut tak terlihat menghantam para penjaga, membuat mereka terhuyung mundur, keseimbangan mereka hancur. Jembatan tali di depan mereka putus, jatuh ke dalam jurang.

Satu-satunya jalan keluar tertutup.

Tapi Ren tidak panik. Ia memandang ke atas, ke arah tebing tinggi di sisi lain jurang. Dengan sisa tenaganya, ia menggunakan teknik Jembatan Hampa, menginjak udara yang retak itu, melompat tinggi membawa Lin di punggungnya.

"Tangkap mereka!" teriak Elder, suaranya dipenuhi kemarahan.

Panah-panah qi melesat mengejar mereka di udara. Ren memutar tubuh, menggunakan kuasnya untuk menepis sebagian besar serangan, tapi beberapa berhasil mengenai bahunya, merobek daging dan tulang. Darah menyembur, tapi ia tidak menjatuhkan Lin.

Mereka mendarat kasar di sisi lain tebing, terguling-guling di atas rumput basah. Ren bangkit dengan susah payah, tubuhnya penuh luka baru. Tapi mereka berhasil menyeberang.

Di seberang jurang, Elder itu berdiri di tepi tebing, menatap mereka dengan tatapan dingin. Ia tidak mengejar. Jembatan sudah putus, dan tebing itu terlalu curam untuk didaki tanpa peralatan.

"Kau mungkin lolos hari ini, Ren Zexian," teriak Elder itu, suaranya terbawa angin. "Tapi kau telah menyatakan perang pada Dewan Langit. Kami akan menemukanmu. Dan ketika kami menemukanmu, kami akan menghapus setiap jejak keberadaanmu dari sejarah."

Ren menatap balik, dadanya naik turun. Ia tidak menjawab. Ia hanya mengangkat kuas patahnya, menunjukkannya ke arah Elder itu sebagai tanda tantangan.

Lalu, ia berbalik, menggandeng Lin, dan menghilang ke dalam hutan lebat di sisi lain jurang.

Mereka selamat. Untuk saat ini. Tapi Ren tahu, Elder itu benar. Ini bukan lagi sekadar pelarian. Ini adalah perang. Dan Ren Zexian, si pemulung dari Lembah Abbu, baru saja melemparkan sarung tangan pertama ke wajah kekaisaran.

Di dalam hatinya, rasa takut telah lenyap. Yang tersisa hanyalah tekad baja. Ia akan melindungi Lin. Ia akan mencari kebenaran. Dan ia akan menulis ulang dunia ini, goresan demi goresan, hingga tinta terakhir kering.

Angin berhembus kencang, membawa aroma hujan yang akan datang. Badai sesungguhnya baru saja dimulai.

1
Anime aikō-kā
..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!