NovelToon NovelToon
Jerat Istri Pengganti Sang Mafia

Jerat Istri Pengganti Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Pengantin Pengganti
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Liza Navy

Ara Milano tidak pernah menyangka satu malam akan mengubah seluruh hidupnya.

Ketika kakaknya menghilang sebelum pernikahan, keluarga Milano tidak memiliki pilihan lain. Demi menjaga perjanjian antara dua keluarga, Ara dipaksa mengenakan gaun pengantin dan menggantikan posisi kakaknya.

Pria yang menunggunya di altar adalah Dante Theo, pewaris keluarga mafia paling berkuasa, yang terkenal dingin, keras, dan tidak mengenal kata kompromi.

Dante tentu tahu wanita yang berdiri di hadapannya bukanlah pengantin yang seharusnya.

Sementara Ara merasa terjerat dalam pernikahan pengganti ini. Bahkan sejak di malam pernikahan, ia berulang kali mencoba kabur. Meskipun pada akhirnya usahanya seperti usaha menjaring angin.

Lama kelamaan keduanya terbiasa dengan kehadiran lainnya. Bagi Dante, gadis itu telah menjadi bagian dari perjanjian yang tidak boleh dilepaskan. Sekalipun harus ia akui, Ara bukan wanita yang mudah dikendalikan. Sayangnya ia juga tidak pernah sanggup kehilangannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liza Navy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 Melarikan Diri Dari Wanita Tua

Pagi itu, Ara sudah menyusun rencana buat kabur bahkan sebelum turun dari tempat tidur. Ia tahu instruktur wanita itu akan datang pukul sembilan. Tidak perlu diingatkan. Tetapi tetap saja Dante membangunkannya dan berbisik menyebut wanita tua itu di telinganya. Seolah itu sudah menjadi hobi baru Dante, suka membuat anak orang menderita.

Masalahnya, bagaimana caranya ia bisa kabur tanpa mempengaruhi suaminya. Tentu alasannya bukan karena ia peduli, melainkan ia tidak mau dihukum lagi. Suaminya ini sangat pandai mencari-cari kesalahan dirinya. Mungkin itu juga sebabnya Dante bisa menjadi pemimpin mafia. Ara bergidik dan segera bangun. Ia mengabaikan olok-olok Dante yang menyindirnya memakai nama wanita tua itu.

Ia mendahului Dante ke kamar mandi. Biarkan suaminya itu menunggu. Salah siapa, pagi-pagi ia sudah dibikin kesal.

Dante sama sekali tak terganggu dengan tingkah Ara. Melihat Ara masuk kamar mandi, dengan santai ia menyalakan tabletnya dan memeriksa pergerakan saham.

Usai mandi, Ara yang keluar dengan piyama mendapat kernyitan dari Dante. Pria itu berdiri mengambilkan setelan blouse dan jeans, menyerahkan ke Ara. "Ganti!"

Ara mendengus. Ia menatap masam ke arah Dante, tetapi ia tidak membantah. Ia masuk lagi ke kamar mandi dan mengganti bajunya.

Berikutnya giliran Dante yang masuk. Ia juga perlu menyegarkan badan dan pikiran.

Sementara Ara bergegas turun ke lantai bawah. Ia menunggu Dante di meja makan yang masih kosong. Ia membawa buku novelnya untuk dibaca.

Ia sengaja turun lebih dulu. Ia tidak ingin mendengar Dante menyebut nama wanita tua itu lagi. Juga ia tidak ingin melihat suaminya berkeliaran di kamar hanya memakai handuk.

Begitu melihat Dante turun, para pelayan mulai menyajikan sarapan lengkap—telur setengah matang, roti panggang, buah potong, dan segelas susu. Dante duduk di seberang meja. Kemeja hitamnya rapi, satu tangan memegang cangkir kopi, sementara matanya membaca laporan yang terbuka di samping piring.

"Kenapa kau buru-buru turun dan tidak menungguku?"

Ara mengangkat kepala dan menaruh novelnya ke bantalan kursi yang ada di sebelahnya.

"Aku tidak mau mengganggu rutinitas pagimu," jawab Ara tanpa berpikir panjang.

Dante menaikkan salah satu alisnya. "Rutinitas yang mana?"

Ara tersenyum simpul. "Tentu saja rutinitas jalan-jalan pagimu dari kamar mandi ke walking closet."

Pelayan yang kebetulan mendengarnya ikut shock. Ia tidak menyangka nyonyanya begitu clear mengatakan hal yang seharusnya hanya tuan dan nyonya yang tahu. Pelayan itu cukup tahu diri. Ia segera mundur kembali ke dapur setelah buah potong terakhir disajikan.

Dante memicingkan mata tajam. Tanpa Ara sadari sebenarnya barusan ia sudah memancing keributan. Hanya saja Dante memilih tak menggubrisnya.

Suasana meja makan kembali tenang hingga bunyi pisau Ara menyentuh piring terdengar jelas. Ia memasukkan potongan roti ke mulut. Beberapa kali ia melirik jam.

Dante menurunkan laporan. Ia memanggil Luca untuk meletakkan laporannya di mobil.

Ia mengambil telur setengah matang dan roti panggang.

“Kau sedang menghitung apa?”

Ara mengambil sepotong roti lagi. Ia meletakkan di atas piringnya.

“Aku sedang makan. Tidak menghitung seperti katamu." Ara membantah. Ia memotong roti kotak-kotak kecil. Dari kecil, ia hampir selalu melakukan hal sama saat sedang gelisah. Apapun yang ada di tangannya entah itu roti atau kertas bakal dipotongnya kecil-kecil. Bukan potongan abstrak, tetapi potongan yang benar-benar rapi.

"Kau tahu tatapan matamu mengatakan sebaliknya. Kau bohong. Akui saja. Katakan apa lagi rencanamu kali ini?" desak Dante menyudutkan.

Ara memasang wajah polos. Ia menggigit rotinya. "Aku benar-benar tidak paham maksudmu."

Dante tidak bertanya lagi. Ia hanya akan menunggu dan melihat.

Tak lama suara mesin mobil terdengar dari halaman depan. Ara langsung menoleh. Ia mendengar suara mesin mobil itu yang berhenti. Pintu gerbang mansion dibuka.

Jantung Ara seperti jatuh ke perut. Dia datang. Instruktur itu.

Ara perlahan meletakkan garpu. “Aku sudah selesai.”

Dante menatap piringnya. Masih tersisa banyak potongan-potongan kecil roti.

“Apakah perlu aku menyuapi istriku?"

Ara melotot tak senang. “Aku sudah kenyang.”

“Habiskan!” tutur Dante tak ingin dibantah.

Ara menatap dengan memohon. Tapi hati Dante tidak luluh sama sekali.

“Aku tidak akan memintamu untuk kedua kali Ara.”

Ara mengendurkan kedua bahunya. Ia menutup erat mulutnya.

"Makan atau tidak?" ujar Wayne menegaskan. Itu bukan pertanyaan. Ara yakin jika ia menjawab tidak, Dante tidak segan-segan menyuapkan roti itu ke dalam mulutnya. Jadi apapun pilihannya sebenarnya jawabannya cuma satu.

"Makan," jawab Ara dengan bibir sedikit gemetar. Ia terpaksa menahan diri. Ia menelan satu per satu potongan kecil rotinya sampai habis.

Dante mengawasinya sampai piring itu benar-benar kosong. Ia melihat suapan demi suapan masuk ke mulut Ara.

Ara meletakkan garpu agak keras. “Sudah.”

Dante melirik piring. “Sekarang kau boleh pergi.”

Ara melangkah meninggalkan meja makan. Begitu sampai di koridor, senyum licik muncul di wajahnya. Ia sengaja berbelok menuju tangga belakang. Ia menuruni tangga dengan cepat.

Ara mempercepat langkah. Ia bergerak menuju pintu belakang yang terbuka. Udara pagi di sekitar halaman menyentuh wajahnya.

Halaman belakang selalu sepi. Ia jarang melihat pelayan atau pengawal kemari.

Ara tersenyum lega. Ia kira ia telah berhasil kabur dari instruktur wanita itu. Ia mulai berlari kecil melewati taman. Namun baru beberapa meter—ia mendengar sebuah suara menyapanya.

“Nyonya Ara.”

Langkah Ara berhenti. Matanya terpejam. Ia berbalik. Instruktur wanita itu berdiri di belakangnya.

Wanita tua itu baru saja turun dari mobil ketika ia melihat sekilas siluet Ara. Tatapannya terkunci. Tidak ada kemarahan di wajahnya. Hanya ketenangan yang justru terasa mengancam.

Ara tersenyum kaku. “Pagi Madam. Kebetulan sekali Anda ada disini.”

“Nyonya mau kemana?" tegur instruktur wanita tua.

Ara menunjuk taman. "Saya akan pergi menemui Madam lima menit lagi." Ia berhenti bicara dan langsung berlari melewati koridor.

"Berhenti! “Instruksi saya mengatakan pukul sembilan Anda seharusnya berada di dapur," seru wanita tua itu. Tapi mana mau Ara mendengarnya.

Bag Ara, setidaknya ia tinggal di rumah ini. Tentu ia lebih tahu jalan mansion lebih baik daripada wanita itu.

Ia melewati ruang keluarga, perpustakaan, lalu naik beberapa anak tangga. Ia berbelok ke koridor timur. Tiba-tiba ia mendengar langkah kaki cepat dan teratur di belakangnya.

Ara mempercepat langkah. Ia membuka pintu sebuah ruangan. Ia bersembunyi di balik tirai.

Beberapa detik kemudian, langkah kaki berhenti di depan pintu. Ara menahan napas. Pintu terbuka. Benar seperti dugaannya, yang mengejarnya adalah instruktur wanita yang ia benci.

Ara menutup mulutnya sendiri. Wanita itu berdiri diam. Matanya menyapu ruangan. Ia berjalan mendekati tirai.

Ara memejamkan mata. Sepertinya aku akan ketahuan--batinnya pasrah.

Tirai dibuka. Inspektur wanita itu menatap Ara dengan garang. "Nyonya kembalilah dengan saya."

Ara tersenyum hambar. "Sepertinya saya harus pergi ke kamar mandi." Ia melangkah mundur dan kembali berlari.

Instruktur mengejarnya. Ara keluar dari ruangan. Ia menuruni tangga lagi. Namun kali ini langkahnya berhenti ketika melihat seseorang berdiri di ujung koridor.

Dante. Pria itu berdiri dengan kedua tangan di saku celana. Tatapannya dingin.

Luca berada beberapa langkah di belakangnya.

Dante menatap Ara. Ia melihat instruktur yang muncul di belakang Ara.

Hening. Ara tersenyum kaku. "Kenapa kau ada disini?"

Dante tidak menjawab. Tatapannya turun pada sepatu Ara. Kemudian kembali ke wajahnya.

"Kau sedang apa?" tegur Dante mengerutkan kening.

Ara berpikir cepat. "Olahraga."

Dante mengangkat alis. "Di dalam mansion?"

"Iya."

"Aku baru tahu kalau melarikan diri dari instruktur termasuk olahraga?"

Ara terdiam. Ia tidak dapat berkata-kata.

Dante menghela napas pelan. Pandangannya beralih ke instruktur. "Berapa kali dua kabur?"

Instruktur wanita itu menjawab tanpa ekspresi, "Tiga kali."

Dante menatap Ara. "Tiga?" ulangnya memastikan.

Ara tidak berani mengakuinya. Ia mengangkat satu jari. Tapi melihat tatapan Dante yang seakan mau memakannya, ia berubah pikiran.

"Dua setengah," beritahunya. Karena yang ketiga kali, ketahuan dan ketangkap Dante, jadi ia menghitung setengah. Sudah ada niat, tapi tidak ada jalan untuk dieksekusi.

Dante hampir tersenyum. Untungnya ia berhasil menahan diri. Ia tetap mempertahankan ekspresinya yang dingin.

"Segera pergi ke dapur!" perintahnya.

Ara mengerutkan wajah. "Tapi—"

Dante menatapnya.

Ara langsung menciut. Ada sesuatu dalam tatapan Dante yang membuatnya tahu pria itu benar-benar tidak akan ditentang terang-terangan. Ia mengurungkan niatnya. Ia ingat Dante tidak suka dibantah.

Instruktur berdiri di sampingnya.

Ara berjalan menuju dapur dengan wajah muram.

"Langkahmu, jangan diseret!" tegur Dante.

“Aku tahu.”Ara memperbaiki langkahnya.

Dante mengawasi Ara sampai menghilang di balik pintu.

Luca juga sebenarnya menahan senyum melihat tingkah laku nyonya nya. "Tuan, sepertinya nyonya sangat tidak menyukai instruktur wanita itu."

"Aku tahu."

"Apakah Tuan akan menambah jadwal nyonya dengan instruktur itu?"

Dante diam beberapa detik. "Tidak."

Luca tampak terkejut.

Dante berbalik. "Pagi ini nyonya sudah cukup membuat instruktur itu gila. Aku tak ingin melihat ada Tom and Jerry di mansion ini." Ada sedikit nada geli dalam suaranya.

"Tapi jangan beri tahu nyonya."

Luca mengangguk. "Baik, Tuan."

Sekalipun Ara berusaha melarikan diri dari instruktur. Setidaknya ia tidak berusaha melarikan diri dari mansion. Bagi Dante, itu sebuah kemajuan kecil.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!