NovelToon NovelToon
ISTRI PENGGANTI

ISTRI PENGGANTI

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Anak Genius / Penyesalan Suami
Popularitas:9.8k
Nilai: 5
Nama Author: Binar jingga08

ADELIA YHOSEP yang memiliki wajah yang sangat mirip dengan kakanya ADELIN YHOSEP yang seorang model papan atas. Wajah mereka bak pinang dibelah dua tapi nasip mereka berdua sangatlah jauh berbeda bagaikan langit dan bumi, Adelia selalu jadi nomor dua. Semua orang hanya memuji kakaknya, Adelin—padahal Adelin yang jahat dan sering bikin masalah, tapi Adelia yang harus menanggung salahnya. Saat hari pernikahan Adelin dengan Gyantara—pria paling tampan, kaya, dan terkenal sangat mencintai kakaknya—Adelin malah kabur. Agar keluarga tidak malu, Adelia dipaksa menggantikan posisi kakaknya. Dia harus menikah dengan pria yang hatinya milik orang lain. Bisakah dia menyembunyikan kebenaran selamanya? Dan mungkinkah hati Gyantara yang dingin perlahan berubah pada dirinya? ---

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Binar jingga08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

.

Sisa malam itu berjalan seperti mimpi buruk yang tak berujung. Adelia tak berani kembali ke ruang makan utama. Ia memilih duduk di kursi kayu yang keras di ruang istirahat kecil itu, memeluk lututnya erat sambil menunggu semua tamu pulang. Tubuhnya terasa kaku, dadanya masih sesak, dan ingatan tentang tatapan dingin namun penuh selidik Gyantara Raharja terus berputar di kepalanya tanpa henti. Ia tahu, satu kesalahan kecil saja tadi sudah cukup untuk membuka celah rahasia yang selama ini dikunci rapat, dan itu berarti ia harus menanggung segala konsekuensinya.

Jam dinding di ruangan itu berdetak pelan, seolah memperlama waktu yang berat ini. Hingga akhirnya suara mobil tamu terakhir terdengar menjauh, dan keheningan menyelimuti seluruh rumah besar milik keluarga Yhosep. Adelia menghela napas panjang, berniat segera kembali ke kamarnya dan bersembunyi di balik selimut—satu-satunya tempat di mana ia merasa sedikit lebih aman. Namun baru saja ia berdiri dan melangkah menuju pintu, pintu itu terbuka dengan keras.

Bukan pelayan yang muncul, melainkan Belinda Yhosep dengan wajah merah padam menahan amarah, diikuti Adelin Yhosep yang berjalan di belakangnya dengan senyum tipis yang penuh kemenangan, serta Adam Yhosep yang menatapnya dengan tatapan kecewa sekaligus jijik. Udara di ruangan sempit itu seketika terasa menyesakkan, seolah oksigen di dalamnya tiba-tiba tersedot habis.

"Kamu pikir kamu bisa melakukan apa saja di sini?" bentak Belinda tanpa aba-aba, menunjuk wajah Adelia dengan gemetar. "Kamu sengaja kan? Kamu sengaja memancing perhatian Gyantara, sengaja berdiri di tempat yang bisa dia lihat, dan sengaja memakai gaun ini supaya dia bingung!"

Adelia mundur selangkah, kakinya terasa lemas. "Tidak, Bu... aku tidak bermaksud begitu. Aku hanya berdiri di sudut seperti yang Ibu perintahkan. Aku tidak berani mendekat..."

"Berbohong!" potong Adelin cepat, maju selangkah dan menatap tajam ke arah adiknya. "Aku tahu kamu iri padaku, Del. Kamu iri karena Gyantara mencintaiku, iri karena aku yang akan menikah dengannya, iri karena semua orang memujiku. Jadi kamu berusaha mengganggu kan? Kamu berusaha membuatnya bingung dan ragu padaku dengan wajahmu yang mirip ini!"

"Itu tidak benar, Kak!" suara Adelia mulai bergetar, matanya memanas. "Aku tidak pernah berpikir seperti itu. Aku hanya ingin hidup tenang, aku tidak ingin merebut apa pun yang jadi milikmu..."

"Kamu tidak perlu berusaha terlihat polos di depan kami!" Adam Yhosep akhirnya bersuara, suaranya berat dan dingin, menusuk tepat ke ulu hati Adelia. "Tadi Gyantara bertanya tentangmu. Dia bertanya kenapa ada kemiripan yang sangat mencolok, kenapa kami menyembunyikanmu. Kalau dia mulai curiga, kalau dia tahu kami menipunya soal identitas keluarga kami, nama baik Yhosep Group bisa hancur seketika! Dan semua itu karena kamu!"

"Aku tidak melakukan apa-apa, Yah... percayalah padaku..." Adelia meraih lengan ayahnya dengan tangan gemetar, berharap ada sedikit saja rasa kasihan yang tersisa di hati pria itu. Tapi Adam dengan kasar menepis tangannya, hingga tubuh Adelia terhuyung ke belakang dan punggungnya menghantam sudut meja kayu keras.

Rasa sakit yang tajam langsung menjalar dari punggung hingga ke seluruh tubuhnya. Adelia meringis pelan, tangannya menekan bagian yang terbentur, napasnya tiba-tiba terasa berat dan sesak. Ia merasakan dadanya seperti diikat tali yang kencang, membuatnya sulit mengambil udara. Ia tahu penyakit asma-nya sedang kambuh lagi karena syok dan ketakutan, tapi orang tuanya tak sedikit pun peduli melihat wajahnya yang mulai pucat pasi.

"Jangan cari alasan lagi!" Belinda mendekat, menunjuk wajah Adelia dengan kasar. "Kamu memang selalu jadi sumber masalah. Dulu kamu menuduh Adelin yang salah, sekarang kamu berusaha merebut perhatian calon menantu kami. Kamu anak yang tidak tahu berterima kasih! Sudah kami beri tempat tinggal dan makan, tapi kamu malah ingin menghancurkan kebahagiaan kakakmu dan nama baik keluarga!"

"Saya tidak... saya tidak..." Adelia mencoba menjelaskan, tapi setiap kata yang keluar terasa seperti ada benda berat yang menekan tenggorokannya. Ia batuk-batuk pelan, matanya mulai kabur, keringat dingin mulai membasahi keningnya. Ia meraba saku gaunnya dengan tangan gemetar, berusaha mencari inhaler yang selalu ia bawa. Tapi saat tangannya menyentuh benda itu, Adelin tiba-tiba menendang kakinya hingga Adelia jatuh berlutut di lantai keramik yang dingin.

"Sudah cukup!" seru Adelin. "Kamu memang harus diberi pelajaran supaya tidak berani berbuat macam-macam lagi. Jangan pikir karena kamu mirip denganku, kamu bisa menggantikanku di mana saja. Kamu tidak akan pernah bisa sepertiku, apalagi memilikinya!"

Adelin lalu menunduk, mengambil inhaler yang terjatuh dari tangan Adelia, lalu mengangkatnya tinggi-tinggi seolah itu adalah benda kotor. "Ini alat kesayanganmu ya? Kalau kamu sakit dan mati, siapa yang akan merawatmu? Tidak ada. Jadi lebih baik kamu belajar menurut saja."

Dengan sengaja, Adelin melempar inhaler itu ke sudut ruangan yang gelap, hingga berbenturan dengan dinding dan berguling ke bawah lemari tempat barang-barang jarang dipakai tersimpan. Adelia melihatnya dengan mata terbelalak, rasa sakit di punggungnya tak terasa lagi dibandingkan ketakutan kehilangan satu-satunya penyelamatnya saat serangan asma datang.

"Tolong... kembalikan... itu obatku..." rintihnya lirih, air matanya akhirnya jatuh membasahi pipi. Ia merangkak perlahan ke arah lemari itu, tapi Belinda segera menendang kakinya lagi, membuatnya terjatuh menyamping.

"Pergilah ke kamarmu!" bentak ibunya tanpa rasa belas kasihan sedikit pun. "Bersihkan dirimu, dan jangan berani keluar sampai kami izinkan. Kamu tidak layak mendapatkan apa pun dari kami, bahkan obat sekalipun! Kalau kamu sakit, itu karena kamu yang memancing amarah kami!"

Ketiga orang itu akhirnya berbalik dan pergi meninggalkan ruangan, menutup pintu dengan keras hingga Adelia terperangkap di dalam kegelapan dan kesunyian yang mencekam. Tidak ada yang menolongnya, tidak ada yang bertanya apakah ia terluka, tidak ada yang peduli apakah ia bisa bernapas dengan baik atau tidak.

Adelia mencoba merangkak menuju sudut lemari itu, setiap gerakannya terasa menyakitkan. Punggungnya terasa perih, lututnya tergores hingga berdarah, dan dadanya semakin lama semakin sesak seolah ada batu besar yang menindihnya. Ia batuk hebat, tubuhnya berguncang, dan pandangannya semakin gelap. Ia menyusuri lantai dengan tangan gemetar, menyentuh debu dan kotoran, berharap jari-jarinya bisa menyentuh benda kecil yang menyelamatkan nyawanya itu.

Berapa lama ia merangkak di sana, ia tak tahu. Rasanya seperti berjam-jam yang panjang dan menyiksa. Hingga akhirnya ujung jarinya menyentuh benda dingin dan halus. Ia meraihnya dengan sisa tenaga yang ada, lalu menekannya berulang kali ke mulutnya. Udara segar perlahan masuk ke paru-parunya, meski masih terasa berat, setidaknya rasa sesak yang mengancam nyawanya itu mulai sedikit berkurang.

Adelia berbaring telentang di lantai yang keras dan dingin, menatap langit-langit ruangan yang remang-remang. Air matanya tak berhenti mengalir, membasahi lantai di samping pipinya. Ia tidak mengerti, mengapa ia harus menanggung tuduhan tanpa bukti yang begitu kejam? Mengapa kesalahan yang tidak ia perbuat harus menjadi alasan untuk menyakiti tubuh dan hatinya? Mengapa di rumah ini, darah yang sama mengalir di tubuh mereka, tapi rasa sayang adalah hal yang paling mustahil ia dapatkan?

Punggungnya masih terasa nyeri hebat, lututnya perih, dan hatinya hancur berkeping-keping. Ia merasa begitu kecil, begitu lemah, dan begitu tidak berharga di mata orang-orang yang seharusnya melindunginya. Ia teringat tatapan dingin Gyantara tadi, dan ia sadar satu hal: mungkin benar, dunia ini memang tidak pernah berpihak padanya. Bahkan kebenaran pun tak berani menampakkan wajahnya di hadapan kebohongan yang didukung oleh kekuasaan dan kebencian.

Malam itu, Adelia tertidur di lantai ruangan kecil itu, bukan di tempat tidurnya. Tubuhnya penuh rasa sakit, dan di dalam hatinya tumbuh satu rasa baru: ketakutan bahwa selama ia masih tinggal di rumah ini, ia tak akan pernah berhenti menjadi kambing hitam bagi siapa pun yang ingin menyalahkannya.

Keesokan paginya, saat ia akhirnya bisa bangkit dengan susah payah dan berjalan tertatih menuju kamarnya, ia berpapasan dengan Adelin di lorong. Kakaknya hanya tersenyum tipis, lalu berbisik pelan tanpa menoleh ke arahnya:

"Ingat ya, Del. Tuduhan tanpa bukti dari kami, selalu lebih kuat daripada kebenaran yang kamu bawa. Dan kamu akan selamanya hidup di bawahnya."

Adelia tak menjawab. Ia hanya menunduk, menahan rasa sakit yang kembali menyergap dadanya, dan terus berjalan menuju tempat persembunyiannya—satu-satunya tempat di mana ia bisa menangis tanpa didengar siapa pun.

1
Tere Rere
watak Adelin menurun dari kedua orang tuanya yg otaknya cuman separuh 😡
Tere Rere
bersyukur masih ada Tama dan Julian di saat Adelia terpuruk🥹
Tere Rere
GYANTARA bangke😡
Tere Rere
Adelin jahat banget😡😭
Tere Rere
Adelin sialan😡
Tere Rere
ao ao😍🤭
Binar Jingga
Huhuhu 🥹
Tere Rere
yg pengen nangis cuslah baca ISTRI PENGGANTI karya Binar jingga. nyesek banget jadi Adelia🥹
Binar Jingga: Wah terimakasih kak atas supportnya🥹🤗
total 1 replies
Tere Rere
Adelia🥹
Hasbia n Hasbia nn
pusing bcanya😮‍💨
Binar Jingga: Pusing kenapa kak?🙏🏻
total 1 replies
Tere Rere
ada orang tua yang sangat jahat seperti si Belinda dan YHOSEP ini/Sleep/
Binar Jingga: Huhuhu jahat yah…. Semoga ini terjadi cuman d dalam novel saajaa
total 1 replies
tia
jangan banyak omong suami durhaka 😁
Binar Jingga: Mohon bersabar😂🤣🤣🤣
total 1 replies
tia
jgn mao kembali dulu Adelia ,,,biarkan di hukum penyelan 😁
tia
kapok suami durhaka 😁
tia
keluar gila banget
tia: siap thor
total 5 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!