NovelToon NovelToon
MAHKOTA Yang Retak Dan Mawar Beduri

MAHKOTA Yang Retak Dan Mawar Beduri

Status: tamat
Genre:Kerajaan / Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Cinta Istana/Kuno / Tamat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Anggi Septianti

Putri Aurelia dari Kerajaan Oakhaven menghabiskan seluruh hidupnya seperti burung di dalam sangkar emas, terisolasi di menara kaca istana yang megah. Namun, kedamaian semu itu berakhir ketika ia menginjak usia dua puluh satu tahun. Demi menyelamatkan kerajaannya yang mulai runtuh dan menghentikan perang tiga dekade yang berdarah, Aurelia terpaksa menjadi tumbal politik. Ia harus bertunangan dengan Pangeran Cassian dari Kerajaan Valenica di Utara—seorang panglima perang yang dikenal kejam, dingin, dan dijuluki "monster medan perang."
Pertemuan pertama mereka di Aula Agung langsung memicu percikan ketegangan. Alih-alih tunduk pada intimidasi sang Pangeran yang memiliki tatapan sepekat badai, Aurelia justru menyambutnya dengan keberanian dan lidah yang tajam. Keteguhan hati Aurelia justru memikat rasa ingin tahu Cassian, yang terbiasa menghadapi kepatuhan yang membosankan.
Di balik kemegahan rencana pernikahan mereka, bahaya besar sedang mengintai. Aurelia tidak hanya harus beradaptasi dengan calon suaminya yang penuh teka-teki, tetapi ia juga harus belajar bertahan hidup di tengah dinding istana yang dipenuhi intrik politik, racun, dan pengkhianatan. Ini adalah kisah tentang dua jiwa dari dunia yang bertolak belakang, yang harus memilih antara saling menghancurkan atau bersatu demi menyelamatkan sebuah kekaisaran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggi Septianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAb 30 ;’d Fajar diufuk Keabadian

Keheningan yang mencekam menyelimuti reruntuhan benteng. Debu-debu astral masih berhamburan di udara, berkilauan seperti salju yang tertimpa cahaya fajar. Cassian berdiri terpaku, terperangkap dalam sisa-sisa jaring sihir pelindung yang kini perlahan memudar. Ketika ikatan sihir itu akhirnya pecah, ia jatuh berlutut, napasnya tersengal—bukan karena kelelahan, melainkan karena rasa hampa yang menghujam jantungnya. Baginya, dunia kehilangan warnanya saat cahaya mawar emas itu meredup.

Pandangannya nanar menatap titik di mana Gerbang Jurang Maut pernah menganga. Tidak ada apa-apa lagi di sana, hanya kehampaan yang damai. Namun, di antara sisa-sisa reruntuhan, ia melihat sesuatu yang berpendar samar. Sebuah kelopak mawar emas yang masih bersinar hangat, tergeletak di atas batu hitam yang retak.

Dengan tangan gemetar, Cassian memungut kelopak itu. Saat jemarinya menyentuh benda tersebut, sebuah keajaiban terjadi. Kelopak itu tidak layu, melainkan berdenyut seirama dengan detak jantungnya sendiri. Tiba-tiba, gelombang cahaya keemasan meluap, tidak lagi tajam atau menyakitkan, melainkan lembut seperti pelukan ibu.

Di tengah pusaran cahaya itu, sosok Aurelia bermanifestasi kembali—bukan sebagai entitas fana yang utuh, melainkan sebagai gema jiwa yang terikat oleh tekad kuatnya sendiri. "Cassian..." suaranya terdengar seperti lonceng angin di tengah badai yang telah reda.

"Aurelia!" Cassian terisak, memeluk bayangan itu meski tangannya hanya menembus cahaya hangat. "Jangan pergi lagi. Dunia ini tidak memiliki arti tanpamu."

"Segel itu... menghabiskan ragaku, tapi tidak bisa memadamkan jiwaku yang terikat padamu," bisiknya dengan senyum yang menenangkan. "Mawar Emas tidak hanya segel, ia adalah janji kehidupan. Selama kau tetap hidup, aku akan selalu ada."

Dengan sisa energi Mawar Emas yang ia simpan sebagai segel terakhir, Aurelia memusatkan seluruh sisa sihirnya untuk menarik kembali ruhnya ke dalam raga fana yang telah ia korbankan. Cahaya itu meredup, menyisakan sesosok wanita yang terbaring lemah di atas tanah berbatu. Cassian segera mendekap tubuh hangat Aurelia yang akhirnya kembali nyata, memeluknya begitu erat seolah takut jika ia melepaskannya, sang putri akan kembali menjadi debu cahaya. Ia menyalurkan sisa sihir esnya untuk menenangkan detak jantung Aurelia yang kembali berdenyut. Di tengah kehancuran benteng yang bisu, dunia seolah berhenti; mereka akhirnya kembali satu sama lain.

Pemulihan di Bawah Naungan Oakhevene

Kabar kemenangan segera mengguncang benua, namun kedamaian datang dengan harga yang mahal. Di istana Oakhevene, Raja Alistair terbaring dalam kondisi yang mengkhawatirkan. Racun Kutukan Bayang-Bayang yang ditanamkan saudaranya sendiri—seorang pangeran pengkhianat yang haus akan tahta dan bersekutu dengan kegelapan Malakor—masih menggerogoti nadinya.

Aurelia, meskipun masih dalam proses pemulihan setelah melakukan pengorbanan segel terlarang, menolak untuk beristirahat. Ia menghabiskan hari-harinya di sisi sang ayah, menyalurkan sihir murni Mawar Emas untuk mengusir sisa kegelapan yang menolak pergi. Proses ini adalah siksaan yang panjang; setiap kali Aurelia menarik keluar racun itu, tubuhnya sendiri merasa seolah-olah ditusuk ribuan jarum es.

Cassian tidak pernah jauh dari sisinya. Ia berdiri di balik pintu, menjaga ketenangan, atau sesekali masuk membawa secangkir teh herbal, menatap Aurelia dengan tatapan penuh kekaguman dan rasa sakit melihat wanita yang dicintainya berkorban begitu banyak. Ia merasa tidak berdaya melihat wanita yang ia cintai membagi sisa vitalitasnya sendiri untuk menyelamatkan sang ayah.

"Aku akan memulihkan Ayah, Cassian," bisik Aurelia suatu malam, suaranya parau karena kelelahan. "Aku tidak bisa membiarkan pengkhianatan saudaramu atau saudaraku menghancurkan apa yang kita cintai."

"Kau sudah menyelamatkan dunia, Aurelia," jawab Cassian lembut seraya membelai rambut Aurelia yang kini tampak lebih rapuh. "Jangan bebani dirimu lagi. Ayahmu adalah raja yang kuat, dia akan bertahan karena dia tahu kau menunggunya."

Setelah berminggu-minggu perjuangan yang sunyi, warna kulit Alistair yang kelabu akhirnya kembali kemerahan. Saat mata sang Raja terbuka dan menatap putrinya dengan penuh kasih, barulah beban di pundak Aurelia terangkat. Alistair, dengan suara yang lemah namun berwibawa, menggenggam tangan Aurelia dan Cassian. "Dunia ini milik kalian sekarang. Aku telah melihat pengkhianatan, namun kalian menunjukkan padaku bahwa loyalitas dan cinta adalah satu-satunya sihir yang tak bisa dikalahkan."

Malam Pertama di Istana Musim Panas

Setelah kondisi sang Raja stabil, Cassian membawa Aurelia pergi ke sebuah paviliun terpencil milik kerajaan di puncak bukit yang menghadap ke laut selatan. Tempat itu tenang, jauh dari hiruk-pikuk politik, beban tahta, dan sisa-sisa trauma perang.

Malam itu, paviliun itu diterangi oleh cahaya lilin yang temaram, memantulkan bayangan mereka di dinding marmer putih. Udara malam yang hangat membawa aroma bunga melati dan laut, menciptakan suasana yang jauh berbeda dari kedinginan es Valencia maupun panasnya medan tempur. Aurelia berdiri di balkon, memandang bulan yang memantul di permukaan laut. Ia masih merasa asing dengan tubuhnya sendiri yang kini sepenuhnya fana, terbebas dari beban sihir kuno yang selama ini menjadi takdirnya.

Langkah kaki Cassian terdengar pelan di belakangnya sebelum dua lengan yang kuat melingkar di pinggangnya, memberikan kehangatan yang kontras dengan embusan angin malam.

"Kau melamun lagi," bisik Cassian, dagunya bersandar di bahu Aurelia, menghirup aroma rambut istrinya yang tenang.

Aurelia membalikkan tubuhnya, menatap mata biru es yang kini tampak teduh, tidak lagi membawa hawa dingin medan perang. "Aku hanya... takut ini semua adalah mimpi. Bahwa aku masih di dalam gerbang itu, terjebak dalam kesepian, dan ini semua hanyalah ilusi dari jiwaku yang rindu padamu."

"Lihat aku," pinta Cassian, jemarinya menyentuh wajah Aurelia dengan sangat lembut, menelusuri garis rahangnya yang halus. "Kau nyata. Hangat. Dan kau milikku, sebagaimana aku milikmu. Kita tidak lagi harus bertarung untuk dunia. Malam ini, di tempat ini, kita hanya harus menjadi diri kita sendiri."

Ciuman mereka dimulai dengan keraguan yang perlahan meleleh menjadi kerinduan yang mendalam. Selama ini, cinta mereka hanya diungkapkan melalui pedang yang bersilang, kata-kata perintah, dan mantra sihir yang menyatu untuk menghancurkan musuh. Namun sekarang, dalam kesunyian paviliun yang luas, cinta itu murni, tanpa beban takdir yang membelenggu.

Setiap sentuhan adalah sebuah penjelajahan. Cassian melepaskan jubah kebesarannya, membiarkannya jatuh ke lantai dengan suara yang halus, sementara Aurelia melepaskan mahkota bunga mawar emasnya, membiarkan rambutnya tergerai bebas. Mereka saling mengenali raga satu sama lain dalam cahaya lilin yang menari. Tidak ada lagi rasa takut akan kematian yang mengintai di balik pintu, tidak ada lagi bayang-bayang Raja Iblis, hanya detak jantung yang beradu dalam irama yang sama.

Di malam itu, mereka memadu kasih dengan segala kelembutan yang selama ini tertahan oleh tuntutan perang. Itu bukan sekadar penyatuan fisik, melainkan ikatan jiwa yang selama berbulan-bulan hanya bisa berkomunikasi melalui resonansi sihir. Cassian mencintai setiap inci dari Aurelia—kemanusiaannya, kekuatannya, dan luka-luka yang ia simpan dalam diam. Sementara Aurelia menemukan perlindungan dalam pelukan Cassian, tempat di mana ia bisa melepaskan tanggung jawabnya sebagai sang Penjaga dan sekadar menjadi seorang wanita yang dicintai sepenuhnya oleh pria yang telah bersumpah untuk melindunginya dengan nyawa.

Saat mereka terbaring bersama, menatap langit malam melalui jendela besar yang terbuka, Aurelia menyandarkan kepalanya di dada Cassian, mendengarkan detak jantungnya yang stabil. "Kau tahu, Cassian? Dulu aku berpikir bahwa takdirku adalah untuk menjadi persembahan bagi kedamaian kerajaan. Aku tidak pernah membayangkan ada kehidupan setelah ini."

Cassian mengeratkan pelukannya, mencium puncak kepala Aurelia. "Takdirmu bukan untuk menjadi persembahan, Aurelia. Takdirmu adalah untuk hidup, mencintai, dan membangun sesuatu yang melampaui kekuasaan. Kita adalah fondasi baru dari dua kerajaan yang pernah terpisah."

Malam itu menjadi saksi dua jiwa yang akhirnya benar-benar bersatu, merayakan kehidupan yang sempat nyaris direnggut oleh kegelapan. Di tengah wangi bunga melati yang terbawa angin malam, mereka menjanjikan masa depan yang dibangun di atas keheningan yang damai, jauh dari sejarah gelap yang pernah mencoba memisahkan mereka.

Malam itu adalah awal dari keabadian mereka, sebuah bab yang ditulis bukan lagi dengan tinta perang, melainkan dengan napas dan cinta yang hangat. Mereka tahu bahwa ketika fajar tiba, mereka akan terbangun dengan tanggung jawab baru sebagai pemimpin, namun untuk saat ini, di bawah perlindungan rembulan, mereka hanyalah sepasang kekasih yang merayakan kemenangan cinta atas kehancuran. Kebahagiaan ini adalah janji, bahwa selama mereka memiliki satu sama lain, tidak akan ada lagi badai yang mampu memisahkan mereka.

*•*

*•*

*•*

*•*

*•*

1
Ita Xiaomi
Kena dah👍
Ita Xiaomi
Ntar kaget lihat keahlian Aurelia😁
Anisa Nur Afifah
haii kak baguss bngett sukaaa ceritanyaaa,

ehh iya kalo ada waktuu mampir jugaa yaa ke novel kuu "Tak Semua Tangis Memiliki suara"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!