"Aku butuh seorang istri. Hanya selama satu tahun."
Nadira Pramesti tak pernah membayangkan akan menerima tawaran seaneh itu. Namun, demi menyelamatkan toko buku peninggalan ayahnya, ia menyetujui pernikahan kontrak dengan Arga Wijaya, pewaris Wijaya Group yang harus menikah untuk memenuhi syarat dalam surat wasiat keluarganya. Mereka sepakat untuk tidak saling mencintai dan berencana berpisah setelah kontrak berakhir.
Ketika sebuah buku catatan peninggalan ayah Nadira justru membuka jalan menuju rahasia lama yang selama dua puluh lima tahun disembunyikan keluarga Wijaya. Di tengah ancaman, kebohongan, dan seseorang yang rela melakukan apa saja demi menutup kebenaran, Arga dan Nadira mulai mempertanyakan satu hal: apakah hati mereka masih sanggup berpegang pada isi kontrak ketika cinta datang lebih dulu?
Karena terkadang, yang paling sulit bukanlah menikah dengan orang asing, melainkan berpisah dengan seseorang yang telah menjadi rumah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosealyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7. Pilihan Terakhir
Langit Jakarta masih berwarna jingga ketika Nadira memutar papan kecil di pintu Toko Buku Senja, menutup layanan tokonya setelah seharian bekerja.
Suara kunci yang beradu dengan gagang pintu terdengar pelan di tengah jalan yang mulai lengang. Beberapa kendaraan masih melintas, tetapi tidak banyak orang yang singgah ke toko hari itu.
Nadira mematikan lampu satu per satu. Rak-rak buku kembali tenggelam dalam cahaya temaram. Aroma kopi yang sejak pagi memenuhi ruangan perlahan bercampur dengan wangi kertas-kertas tua yang selalu membuatnya merasa tenang.
Dahulu suasana seperti ini membuat Nadira nyaman, akan tetapi sekarang aroma itu justru membuat dadanya semakin sesak. Ia kembali ke meja kasir. Laci kecil di depannya dibuka perlahan.
Beberapa lembar uang tersusun rapi sesuai pecahannya. Seratus ribu. Lima puluh ribu. Dua puluh ribu. Belasan lembar uang receh. Nadira menghitungnya sekali lalu sekali lagi. Hasilnya tetap sama. Tak sampai satu juta rupiah.
Nadira mengambil buku kas yang sampul birunya mulai kusam karena terlalu sering dibuka. Dengan teliti ia mencocokkan pemasukan hari itu. Dua buku novel. Satu buku pelajaran. Empat gelas kopi.
Pendapatan satu hari bahkan belum cukup untuk menutup biaya operasional toko. Nadira mengembuskan napas pelan sebelum menuliskan angka terakhir. Di sana tertulis nominal minus lagi, bahkan sudah tiga bulan berturut-turut. Tangannya bergerak membuka amplop putih dari bank yang sedari tadi ia simpan di bawah buku kas.
Tenggat pembayaran semakin dekat. Kalau sampai tenggat waktu berakhir tanpa pembayaran, pihak bank berhak mengambil langkah sesuai perjanjian kredit.
Nadira melipat kembali surat itu dengan hati-hati. Seolah-olah jika ia melipatnya lebih rapi, isi surat itu juga akan berubah. Nyatanya tidak.
Rumah yang ditempatinya bersama sang ibu hanya berjarak sekitar lima belas menit dari toko. Rumah sederhana bercat putih yang mulai memudar dimakan usia. Cat pagar hijaunya bahkan sudah banyak yang mengelupas.
Begitu membuka pintu, aroma tumisan sayur menyambutnya. Ibunya sedang duduk di ruang tengah sambil melipat pakaian.
"Kamu udah makan?" tanya wanita itu.
"Belum."
"Ayo makan dulu."
Nadira mengangguk kecil.
Di meja makan hanya tersedia semangkuk sayur bening, telur dadar yang dipotong kecil-kecil, dan sepiring nasi. Menu sederhana yang cukup untuk mengganjal perut.
Belakangan ini memang hampir setiap hari begitu. Bukan karena mereka bosan memasak menu lain. Melainkan karena memang hanya itu yang sanggup dibeli. Ibunya berkali-kali mengambil potongan telur lalu meletakkannya ke piring Nadira.
"Buat Ibu aja,." tolak Nadira.
"Ibu masih kenyang."
Padahal Nadira tahu itu bohong. Sudah beberapa kali ia memergoki ibunya hanya minum teh sore tanpa makan apa pun.
"Nanti besok aku belanja."
Ibunya tersenyum. "Iya."
Tidak ada lagi yang dibicarakan. Mereka sama-sama tahu uang belanja minggu ini tinggal sedikit. Selesai makan, Nadira masuk ke kamarnya. Ruangan itu tidak besar.
Di sudut terdapat meja kayu peninggalan ayahnya yang mulai dipenuhi buku catatan keuangan toko. Ia membuka lemari pakaian. Isinya tidak banyak. Hanya beberapa kemeja kerja, dua cardigan, dan celana kain.
Cardigan krem favoritnya mulai berbulu di bagian lengan. Ada jahitan kecil di dekat pergelangan tangan yang ia perbaiki sendiri beberapa bulan lalu.
Sebenarnya Nadira ingin membeli yang baru. Namun setiap kali memiliki uang lebih, selalu ada kebutuhan lain yang lebih mendesak,seperti membayar listrik, membeli stok kopi, mengganti lampu toko, maupun membayar cicilan.
Dirinya selalu berada di urutan terakhir. Nadira mengambil dompet dari dalam tas, menuangkan seluruh isinya ke atas meja.
Ada dua lembar lima puluh ribuan, tiga lembar dua puluh ribuan, beberapa keping uang perak dengan nominal berbeda. Nadira menghitung perlahan. Seratus delapan puluh tujuh ribu rupiah. Jumlah yang bahkan tidak cukup jika besok tiba-tiba ada kebutuhan mendadak.
Nadira memijat pelipisnya. Untuk pertama kalinya sejak mengambil alih Toko Buku Senja, ia benar-benar merasa kehabisan jalan. Ponselnya berdering pelan. Notifikasi dari grup alumni kuliah, sseorang membagikan foto liburan, yang lain mengunggah kabar kenaikan jabatan.
Nadira hanya tersenyum kecil. Ia ikut bahagia melihat teman-temannya berkembang. Hanya saja, malam ini pikirannya sedang terlalu penuh, maka dia menutup grup itu. Jarinya berhenti pada satu nama.
Raina, sahabatnya. Orang yang selalu menjadi tempatnya bercerita sejak masa kuliah.
Nadira membuka ruang obrolan mereka. Foto profil Raina kini berganti menjadi foto bersama suaminya saat resepsi. Senyum perempuan itu terlihat begitu bahagia. Tanpa sadar, Nadira ikut tersenyum. Baru beberapa hari lalu mereka merayakan pernikahan bersama.
Haruskah ia menghubungi Raina sekarang?
Jarinya mulai mengetik. "Rain, kamu lagi sibuk?"
Kalimat itu selesai tapi tidak pernah terkirim. Nadira menghapusnya. Raina baru memulai kehidupan barunya. Masih banyak hal yang harus dipikirkan. Ia tidak ingin datang hanya membawa masalah. Beberapa detik kemudian ia kembali mengetik.
"Aku sebenarnya lagi butuh bantuan..."
Lagi-lagi ia berhenti. Kata-kata itu terasa terlalu berat. Bagaimana kalau Raina merasa terbebani? Bagaimana kalau suaminya jadi ikut tidak enak?
Nadira menggeleng pelan. Semakin dipikirkan, semakin ia tidak tega. Semua huruf di layar kembali menghilang. Ia meletakkan ponsel di samping bantal.
"Aku pasti bisa cari cara lain." Kalimat itu terdengar lebih seperti doa daripada keyakinan.
Keesokan harinya toko kembali dibuka. Hari itu sedikit lebih ramai daripada kemarin. Meski begitu, ramai bukan berarti banyak yang membeli. Beberapa pelanggan hanya membaca buku di sudut ruangan. Ada yang memesan kopi, ada pula yang sekadar bertanya harga lalu pergi.
Menjelang siang, Maya menghampiri meja kasir. "Mbak, stok kopi tinggal sedikit."
"Iya, aku tahu."
"Sekalian pesan buku baru juga?"
Nadira tersenyum tipis. "Nanti dulu."
Maya mengangguk, tidak bertanya lagi. Belakangan ini ia juga mulai memahami kondisi toko.
Siang itu telepon dari bank kembali datang. "Selamat siang, Bu Nadira. Kami ingin menanyakan tindak lanjut pembayaran."
Nadira memejamkan mata sesaat. "Saya masih mengusahakannya."
"Kami berharap secepatnya ada kepastian."
"Iya, Pak."
Telepon berakhir. Nadira menurunkan ponselnya perlahan. Tangannya terasa dingin. Ia menatap seluruh isi toko. Rak-rak kayu, meja baca, tanaman kecil yang mulai menguning karena pupuknya belum sempat dibeli, ditambah oto ayah yang tersenyum dari balik bingkai.
Kalau toko ini sampai diambil bank, Nadir a bahkan tidak sanggup membayangkannya.
Sore menjelang. Toko kembali sepi. Nadira duduk sendiri sambil menatap hujan tipis yang mulai turun di luar. Tanpa sadar, satu nama kembali muncul di kepalanya.
Arga.
Nadira masih ingat bagaimana laki-laki itu diam-diam membayar biaya servis motornya. Bagaimana Arga bersikeras mengantarnya pulang malam itu serta caranya mendengarkan setiap ucapannya tanpa terlihat tergesa-gesa.
Nadira menggeleng pelan. "Tidak."
Mereka baru bertemu lagi setelah bertahun-tahun. Tidak mungkin ia datang hanya karena sedang membutuhkan bantuan. Ia tidak ingin Arga berpikir bahwa dirinya sengaja mendekat karena uang. Harga dirinya masih terlalu tinggi untuk melakukan itu.
Namun semakin ia berusaha mengusir pikiran tersebut, semakin jelas wajah Arga muncul di benaknya.
Laki-laki itu pernah berkata bahwa jika membutuhkan bantuan, ia tidak perlu sungkan. Atau... apakah Nadira hanya salah mengartikannya? Ia menghela napas panjang.
Kalau semua jalan sudah dicoba dan benar-benar tidak ada lagi yang bisa dilakukan...
Mungkin...
Hanya mungkin...
Arga adalah satu-satunya orang yang bisa ia mintai pertolongan.
Bukan untuk langsung meminjam uang. Setidaknya meminta saran sehingga ada jalan yang keluar yang belum ia pikirkan. Bertukar pendapat tidak ada salahnya.
Nadira memandang ponselnya yang tergeletak di atas meja. Nama Arga masih tersimpan di daftar panggilan terakhir. Jarinya nyaris menyentuh layar kembali berhenti. Dia belum siap. Malam ini ia ingin memikirkan semuanya sekali lagi. Karena ia tahu, begitu memutuskan menghubungi Arga, kemungkinan hidupnya akan mulai berubah ke arah yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan.