Di dunia di mana status ditentukan oleh kekuatan roh bela diri, Lin Xiao dianggap sebagai sampah tak berguna karena hanya memiliki roh berupa sebuah makam kuno yang hancur.
Dikhianati oleh klannya sendiri, dirundung habis-habisan oleh sepupunya, dan secara terbuka dihina oleh tunangannya yang sombong, Lin Xiao mencapai titik terendah.
Namun, di saat kematian mendekat, rahasia makam itu bangkit. Alih-alih sebuah sampah, makam itu ternyata adalah Makam Para Raja, gudang tersembunyi yang menyimpan sisa-sisa jiwa, ingatan, dan teknik tak terkalahkan dari ratusan kaisar dan raja bela diri kuno yang pernah mendominasi dunia.
Didorong oleh dendam membara, Lin Xiao berlatih secara diam-diam menggunakan warisan terlarang tersebut.
Dari pemuda yang diremehkan, dia tumbuh menjadi sosok dingin yang kejam terhadap musuh, siap menghadapi seluruh klan dan sekte demi melindungi ayahnya yang lemah, serta mendaki puncak kekuatan bela diri sebagai Pewaris Makam Para Raja yang sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Lin Xiao menoleh sedikit dan melihat tiga orang pria berbadan besar dengan tato serigala di lengan mereka.
Mereka adalah preman pasar hitam, lintah darat yang biasa memeras pengunjung yang terlihat lemah.
Pria yang berdiri di depan, yang menepuk pundak Lin Xiao, memamerkan giginya yang kuning.
"Jika kau ingin berbelanja di sini, kau harus membayar biaya keamanan kepada kami."
"Serahkan seluruh uang di kantongmu, dan kami akan membiarkanmu pergi dengan kedua kakimu masih utuh." ancam preman itu sambil menyentuh gagang parang di pinggangnya.
Para pedagang di sekitar lapak itu langsung menundukkan kepala mereka dan pura-pura tidak melihat.
Mereka tahu bahwa kelompok preman ini dipimpin oleh kultivator tahap Pembentukan Dasar tingkat pertama yang sangat kejam.
Lin Xiao menatap preman di depannya dengan tatapan yang sangat datar dari balik tudungnya.
'Hanya sampah tahap awal Pembentukan Dasar.' batin Lin Xiao dengan meremehkan.
"Singkirkan tangan kotormu dari pundakku." ucap Lin Xiao dengan suara yang sedingin es di puncak gunung.
Preman itu tertegun sejenak mendengar nada bicara Lin Xiao, lalu tertawa terbahak-bahak bersama teman-temannya.
"Hahaha! Bocah ini sepertinya sudah bosan hidup!"
"Kau pikir kau siapa berani menyuruhku menyingkirkan..."
Brak.
Ucapan preman itu terputus secara tiba-tiba.
Tangan Lin Xiao bergerak dengan kecepatan kilat, menangkap pergelangan tangan preman yang berada di pundaknya.
Krak.
Suara tulang patah terdengar sangat nyaring dan jelas di tengah kebisingan pasar hitam.
Lin Xiao memuntir tangan preman itu hingga berputar ke arah yang tidak wajar.
Aaaargh.
Preman itu menjerit histeris sambil jatuh berlutut memegangi tangannya yang kini lumpuh.
Kedua temannya terbelalak kaget melihat ketua mereka dilumpuhkan hanya dalam satu gerakan.
"Mati kau, keparat!" teriak salah satu preman sambil mencabut parangnya dan menebas ke arah kepala Lin Xiao.
Sring.
Lin Xiao tidak mundur sedikit pun, dia justru melangkah maju menyambut tebasan itu.
Energi merah darah dari Teknik Penguasa Darah mengalir deras ke tangan kanannya.
Bugh.
Lin Xiao meninju dada preman itu sebelum parangnya sempat menyentuh tudung kepalanya.
Kekuatan pukulan itu setara dengan batu raksasa yang dijatuhkan dari atas tebing.
Preman itu terlempar sejauh lima meter ke belakang dan menabrak tumpukan tong kayu hingga hancur berantakan.
Darah segar menyembur dari mulutnya dan dia langsung pingsan tak sadarkan diri.
Preman ketiga yang melihat kejadian itu langsung gemetar hebat hingga menjatuhkan senjatanya.
Kakinya lemas dan dia jatuh terduduk di tanah dengan wajah pucat pasi.
"Ampun, Tuan! Tolong ampuni nyawa anjing murahan ini!" rengek preman ketiga sambil bersujud berkali-kali.
Lin Xiao menatap mereka bertiga dengan pandangan tanpa emosi.
Dia tidak menggunakan teknik bela diri apa pun, hanya mengandalkan kekuatan fisik murni dari tubuhnya yang telah dibersihkan.
'Kekuatan Teknik Penguasa Darah benar-benar luar biasa.' batin Lin Xiao merasa puas dengan hasil latihannya.
Dia lalu menoleh kembali ke arah pria tua bermata satu penjual darah monster tadi.
Pria tua itu kini sedang bersembunyi di bawah mejanya dengan tubuh gemetar ketakutan.
Lin Xiao melemparkan dua keping koin perak ke atas meja lapak tersebut.
"Aku ambil tiga botol darah Serigala Bertaring Besi ini sesuai kesepakatan kita tadi."
Tangan Lin Xiao mengambil tiga botol kaca kusam itu dan memasukkannya ke dalam bajunya.
Dia lalu berbalik dan berjalan pergi meninggalkan lapak itu seolah tidak terjadi apa-apa.
"Te-terima kasih, Tuan Besar!" teriak pria bermata satu itu dari bawah meja dengan suara bergetar.
Langkah Lin Xiao terus menyusuri pasar hitam tanpa ada satu pun orang yang berani menghalanginya lagi.
Para preman dan pedagang hanya bisa menatap punggung berjubah hitam itu dengan rasa takut yang mendalam.
'Dengan tiga botol darah ini, aku bisa berlatih Teknik Penguasa Darah tahap pertama secara maksimal.' batin Lin Xiao sambil memegang botol di balik bajunya.
'Lin Jian, Kepala Tetua, tunggu saja.'
'Aku akan meremukkan kalian semua di arena turnamen nanti dengan kedua tanganku sendiri.'
Angin pasar hitam kembali berhembus, menyembunyikan senyum kejam yang terukir di wajah Lin Xiao di balik tudung gelapnya.