NovelToon NovelToon
Diary Zia

Diary Zia

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Pengkhianatan
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Emma Alhabsyi

Zia Clarissa Humaira, seorang santriwati cerdas dan cantik, setia pada janji perjodohan yang diatur oleh sang kiai dengan seorang santri senior kepercayaan pesantren. Zia percaya perjodohan ini akan berakhir indah. Namun, janji itu runtuh saat ia mendapati sang lelaki diam-diam mencintai wanita lain yang ternyata sahabat dekatnya sendiri. Tanpa pernah ada kata selesai, Zia dibuang dalam keheningan dan digantung tanpa kepastian.

Saat ia mengira dunianya telah usai, takdir menuntunnya pada sosok yang tak pernah ia perhitungkan sebelumnya. Seorang lelaki yang selama ini memendam rasa dalam senyap, kini maju memasang badan untuk membalut luka Zia.

Akankah kehadiran lelaki misterius ini mampu meruntuhkan trauma masa lalu Zia dan mengembalikan senyumnya yang sempat hilang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emma Alhabsyi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DZ~12

Zia kaget melihat Salsa terluka. Naluri kebaikannya langsung bangkit. Ia segera menghampiri Salsa dan memintanya untuk duduk di kursi terdekat.

"Mbak Salsa kenapa? Sebentar ya, aku ambilin air putih dulu biar agak tenang," ucap Zia dengan nada yang luar biasa khawatir, lalu bergegas menuangkan air.

Sementara Zia sibuk, Suasana di sudut dapur lain mendadak berubah dingin. Ratna, Rara, dan Sindi hanya terdiam dengan tatapan mata yang sulit diartikan. Sejujurnya, mereka semua sudah kehilangan respek kepada senior mereka ini karena konflik-konflik sebelumnya.

Suasana menjadi sangat canggung dan kaku, sampai akhirnya Sinta yang merasa tidak enak harus menyenggol keras lengan Ratna agar mencairkan keadaan, atau setidaknya menunjukkan basa-basi sopan santun. "Hust, buruan tanya," bisik Sinta setengah mendesak, tidak ingin suasana dapur berubah menjadi medan perang dingin yang semakin keruh.

Ratna menghela napas panjang yang terdengar sangat berat. Setelah melawan egonya sendiri di dalam hati, ia akhirnya terpaksa membuka suara demi menghargai Sinta dan Zia. "Ada apa, Mbak? Kok tangannya bisa sampai diperban begitu?" tanyanya datar, mencoba terdengar biasa saja.

"Iya, ini diminum dulu, Mbak," potong Zia yang kembali dengan segelas air, menatap Salsa dengan pandangan tulus tanpa curiga sedikit pun.

Di sisi lain, Sinta yang berdiri di dekat mereka justru sedang didera kebingungan dan ketakutan. Keringat dingin hampir menetes di pelipisnya. "Aduh, gimana cara jelasin kronologi sebenarnya ke Zia, ya? Kalau aku jujur kalau ini ulah Mas Charis, aku takut Zia bakal cemburu atau salah paham... Tapi kalau bohong, nanti malah jadi fitnah," batin panik di dalam hati, terjebak dalam dilema yang amat sangat tegang.

Di saat kegundahan Sinta untuk menjelaskan, justru Salsa yang lebih dulu membuka suara dengan nada yang terkesan terlalu santai, seolah tanpa beban.

"Jadi tadi itu aku sama Mas Charis lagi potong semangka karena terlalu besar, dan jumlahnya terlalu sedikit nggak cukup untuk semua yang kerja bakti di sana. Nah, di saat aku mau ambil pisaunya, malah gini deh jadinya. Kebetulan Mas Charis sigap banget tadi langsung menepis pisaunya tapi udah terlanjur berdarah juga," jelas Salsa, menyunggingkan senyum tipis yang entah sengaja atau tidak, justru menyulut api tersembunyi.

Zia terdiam seketika. Detak jantungnya serasa berhenti satu ketukan. Ada perasaan sakit yang tiba-tiba berkecamuk hebat, mencabik-cabik hatinya tanpa ampun.

"Ya Allah, kenapa mendengar hal ini rasanya sakit sekali? Kenapa nama Mas Charis harus disebut dengan begitu lekat dari bibirnya?" batin Zia lirih. Dadanya mendadak sesak, ada gemuruh cemburu yang berusaha ia tekan kuat-kuat sebelum air matanya runtuh.

"Astaghfirullahalazim, Zia, enggak boleh seperti ini, ia mencoba menenangkan diri, meremas ujung jilbabnya. Ia tak ingin bersuara sumbang atau bersuuzon, padahal ia tak tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka berdua.

"Astaghfirullah, kok bisa gitu sih, Mbak?" ucap Zia akhirnya. Ia memaksa seulas senyum terukir di wajahnya, mencoba membalikkan topeng murungnya yang ternyata sudah sempat terbaca oleh teman-temannya.

Sinta yang menyadari perubahan raut wajah Zia dan melihat sekilas drama di halaman tadi, hanya bisa menggelengkan kepala dalam hati. Ia merasa Mbak Salsa terlalu kekanak-kanakan dan tidak peka untuk hal sesensitif ini.

"Mbak, Mbak, kenapa harus diceritakan detailnya sih? Kasihan Zia, kan! batin Sinta kesal, menatap Salsa dengan pandangan memperingatkan.

Sementara ketiga sahabatnya yang lain yaitu Sindi, Ratna, dan Rara juga tak kalah sengit menanggapi penjelasan Salsa. Suasana dapur mendadak mencekam. Mereka bertiga hanya saling tatap, mengernyitkan dahi dalam-dalam, dan kompak menghela napas berat. Suasana ruangan itu mendadak dipenuhi ketegangan.

"Untung ada P3K-nya. Eh, tapi kan obat luka punya kita habis, belum beli lagi kan?" tanya Zia, dengan hati yang berharap tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan kan tentang Salsa dan Mas Charis.

"Iya, jadi ta—"

Salsa masih ingin melanjutkan penjelasannya dengan menggebu-gebu, sampai akhirnya ucapannya terputus paksa karena Sinta langsung memotong jalur bicaranya.

"Eehh iya, Zi! Tadi itu aku khawatir banget, kan? Jadi aku langsung lari minta kotak P3K yang di kantor putra gitu, terus aku sendiri kok yang bantu pasangin perbannya ke Mbak Salsa," jelas Sinta cepat-cepat. Ia sengaja mengaburkan fakta keterlibatan Charis sebelum 'huru-hara' batin Zia benar-benar meledak menjadi perang dunia.

"Maafin aku, Zia, terpaksa berbohong. Aku takut terjadi Perang Dunia ketiga di sini. Aku belum nikah, enggak mau mati muda karena stres!" batin Sinta menjerit panik.

Salsa yang menyadari pengalihan pembicaraan dan pembohongan fakta tersebut hanya mengedikkan alis. Ia melirik sinis ke arah Sinta di depannya, merasa tak suka alurnya dipotong. Ia sama sekali tidak berpikir atau mungkin tidak peduli bahwa setiap kalimatnya tadi telah menancapkan duri yang sangat menyakitkan di hati Zia.

"Oh ya udah, ayo ke kamar aja, Mbak Sal. Kamu istirahat dulu, enggak usah bantu di dapur dulu ya," ajak Sinta setengah menyeret lengan Salsa agar menjauh.

"Iya bener, ayo aku antar ke kamar," tawar Zia polos, masih mencoba bersikap baik sebagai tuan rumah yang ramah, meski hatinya sudah remuk.

Namun, tawaran itu langsung ditepis dengan gerakan cepat oleh Sindi. "Ah, enggak usah, Mbak Zi! Kamu di sini aja. Biar Mbak Salsa diantar sama Mbak Sinta. Ini banyak banget pekerjaanmu yang belum kelar, tahu!" Alih Sindi dengan nada yang sedikit ditinggikan.

Padahal, sebenarnya semua tugas dapur sudah selesai bersih. Itu hanya alasan fiktif Sindi agar Zia tidak berduaan dengan Salsa. Sindi tahu betul tabiat Salsa yang gemar berbicara tanpa sensor, dan ia tidak mau sahabatnya itu terluka lebih dalam lagi. Beruntung, kode mata dari Sindi langsung ditangkap cepat oleh yang lain. Mereka pun kompak mencegah Zia.

"Iyalah, betul banget tuh, Mbak Zi! Mending kamu di sini aja bantuin kita," Rara menimpali dengan tawa yang dipaksakan.

"Ya sudah ya, kita ke kamar dulu." Sinta pamit sembari menuntun Salsa yang tampak cemberut. Sebelum melangkah kembali ke kamar, Sinta sempat menoleh ke belakang, memberikan kode acungan jempol sembunyi-sembunyi kepada ketiga sahabatnya. Isyarat bahwa misi penyelamatan pertama sukses.

Sepeninggal Sinta dan Salsa, keheningan yang canggung sempat menyelimuti dapur. Sindi, Ratna, dan Rara segera merapatkan barisan, mencoba mencairkan suasana yang terlanjur beku. Mereka melanjutkan perbincangan mereka yang sempat tertunda, ditemani gelas-gelas es teh yang mulai berembun dan sepiring mendoan hangat yang tadi belum sempat dihabiskan.

Sambil mengunyah mendoannya dengan perlahan, tiba-tiba gerakan tangan Zia terhenti. Matanya melirik ke kanan dan ke kiri, menatap lekat-lekat setiap sudut ruangan dapur yang tampak bersih.

"Kenapa, Mbak?" tanya Rara heran, cemas jika topeng tegar Zia mulai retak.

"Katanya tadi masih ada pekerjaan? Tapi perasaan aku... semua tugas dapur udah beres dan rapi deh dari satu jam yang lalu," ucap Zia heran, menatap Sindi dengan tatapan menyelidik yang polos namun menuntut jawaban jujur.

"E.. E.. Ehh..." Sindi mendadak gugup, hampir tersedak mendoan di mulutnya. Otaknya berputar cepat mencari alasan logis.

"Ya... maksudnya tugasnya tuh habisin mendoan ini loh, Mbak! Sayang kan kalau mubazir. Iya, kan? Iya dong?" Sindi menyenggol lengan Ratna dan Rara secara bergantian, menuntut konfirmasi instan agar rencana dadakan mereka tidak terbongkar.

"Ah... iya! Betul banget! Perut kita kan harus tetap diisi, Mbak. Itu tugas paling mulia sekarang," sahut Ratna cepat, meski tawanya terdengar garing di telinga.

Zia menghela napas panjang, senyum tipis kembali terukir di wajahnya yang masih sedikit pucat. "Ternyata... aku kira beneran masih ada tugas dapur yang belum selesai," gumamnya pelan, lalu ikut mengambil sepotong mendoan.

Meskipun mulutnya ikut mengunyah dan matanya menatap candaan sahabat-sahabatnya, pikiran Zia justru terbang jauh ke halaman depan. Bayangan Mas Charis yang mengobati luka Salsa kembali terlintas, memicu rasa ngilu yang aneh di dadanya. Zia tahu, ia harus mengubur perasaan itu dalam-dalam sebelum segalanya menjadi lebih rumit dari yang ia bayangkan.

1
ken darsihk
Aq mampir
Ini buku pertama author Emma Alhabsy yng aq baca
Emma Alhabsyi
ih boleh banget kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!